
Fragmen-fragmen ini tidak lahir dari peristiwa besar. Ia muncul dari hari-hari yang tampak biasa, tetapi menyimpan beban yang tidak terlihat. Potongan-potongan kecil inilah yang diam-diam membentuk caraku bertahan.
Ada pagi-pagi tertentu ketika membuka mata terasa seperti pekerjaan paling berat. Tubuhku bangun lebih dulu, tetapi jiwaku tertinggal entah di mana. Aku menatap langit-langit kamar, menghitung napas, berharap waktu berjalan lebih cepat. Di luar, dunia sudah ramai. Di dalam, aku masih bernegosiasi dengan diri sendiri: bangun sekarang atau menunggu beberapa menit lagi.
Kadang aku menang. Kadang tidak. Jika aku berhasil duduk di tepi kasur, itu sudah terasa seperti pencapaian kecil. Aku belajar tidak lagi marah pada diriku di pagi-pagi seperti ini. Aku hanya berkata, pelan-pelan saja.
Di tengah keramaian, aku sering merasa paling sendirian. Suara orang-orang bercampur menjadi dengung yang melelahkan. Aku tersenyum seperlunya, menjawab seperlunya, lalu kembali tenggelam dalam pikiranku sendiri. Tidak ada yang salah, tetapi juga tidak ada yang benar-benar terasa baik.
Ada saat-saat ketika aku duduk di antara banyak orang, namun merasa seperti penonton dalam hidupku sendiri. Aku melihat orang lain tertawa, berbicara tentang rencana, tentang masa depan. Aku mendengarkan, tetapi tidak tahu harus masuk ke bagian mana dari percakapan itu.
Menjelang sore, lelah itu datang dengan bentuk yang berbeda. Bukan lelah fisik semata, melainkan lelah karena terlalu banyak menahan. Aku sering pulang dengan langkah pelan, membawa pikiran yang penuh tetapi tanpa kata-kata. Ada rasa ingin berhenti sejenak, tetapi aku tidak tahu harus berhenti di mana.
Kadang aku hanya duduk diam, menatap jalan, menunggu sesuatu yang tidak jelas. Mungkin tenang. Mungkin sekadar rasa aman.
Malam adalah waktu yang paling jujur. Ketika lampu dipadamkan dan suara mereda, pikiranku justru semakin bising. Aku mengulang banyak hal—kata-kata yang seharusnya tidak kuucapkan, kesempatan yang terlewat, dan versi diriku yang tidak pernah benar-benar terwujud.
Ada malam-malam ketika aku memeluk diriku sendiri, seolah tubuh ini bisa menjadi tempat berlindung. Aku berusaha tidur, meski tahu pikiranku belum siap beristirahat. Jika akhirnya aku terlelap, itu bukan karena damai, melainkan karena lelah.
Ada juga hari-hari yang tidak bisa kuberi nama. Tidak terlalu sedih, tidak juga bahagia. Hanya kosong. Di hari-hari seperti itu, aku berjalan tanpa arah yang jelas. Aku melakukan hal-hal kecil sekadar agar waktu bergerak.
Dulu aku membenci kekosongan ini. Sekarang aku mencoba menerimanya sebagai bagian dari proses. Tidak semua hari harus berarti. Tidak semua hari harus dipahami.
Fragmen-fragmen ini mungkin terlihat sepele. Tetapi dari sinilah aku belajar bahwa hidup tidak selalu terdiri dari momen besar. Kadang ia bertahan dalam detik-detik kecil—napas yang ditarik perlahan, langkah yang tidak kembali mundur, dan keputusan sederhana untuk tetap ada.
Fragmen kehidupan inilah yang menyelamatkanku diam-diam.
Di dalam kepalaku, selalu ada percakapan yang tidak pernah benar-benar selesai. Suara-suara itu muncul tanpa diundang, saling bertabrakan, saling menekan, seolah aku adalah ruang sempit yang harus menampung semuanya sekaligus.
Ada suara yang lelah. Ia berkata bahwa aku sudah terlalu lama berjuang. Bahwa tidak apa-apa jika aku berhenti sejenak. Bahwa dunia tidak akan runtuh hanya karena aku menyerah hari ini.
Namun ada juga suara lain yang lebih keras. Ia menuduhku lemah. Ia membandingkanku dengan orang lain yang tampak mampu menjalani hidup dengan baik-baik saja. Ia bertanya mengapa aku tidak bisa seperti mereka. Mengapa aku selalu tertinggal.
Aku sering terjebak di antara dua suara itu. Satu menarikku untuk bertahan. Satu lagi mendorongku untuk menghilang.
Di malam hari, percakapan itu menjadi semakin intens. Saat tubuhku lelah dan lampu dimatikan, pikiranku justru terjaga. Aku berdebat dengan diriku sendiri tentang hal-hal kecil yang terasa besar. Tentang keputusan yang kuambil. Tentang kata-kata yang tidak pernah kuucapkan. Tentang kemungkinan-kemungkinan yang tak pernah terwujud.
Ada suara yang berkata, “Kamu sudah mencoba.” Tapi suara lain segera menyela, “Belum cukup.”
Aku bertanya pada diriku sendiri, apakah semua ini salahku. Apakah aku memang tidak cukup kuat. Apakah aku pantas merasa sesakit ini. Pertanyaan-pertanyaan itu berputar tanpa jawaban, membuat dadaku terasa sesak.
Di saat-saat tertentu, ada keinginan untuk berhenti mendengarkan semuanya. Aku ingin hening. Aku ingin sunyi. Tetapi pikiranku tidak pernah benar-benar memberiku ruang kosong.
Aku mulai menyadari bahwa dialog batin ini bukan tentang benar atau salah. Ia adalah cerminan dari diriku yang sedang terluka. Bagian yang ingin dilindungi. Bagian yang ingin menyerah. Bagian yang masih ingin hidup, meski dengan cara yang sangat pelan.
Aku belajar untuk tidak lagi membungkam suara-suara itu dengan kemarahan. Aku mencoba mendengarkannya satu per satu. Mengakui bahwa semuanya datang dari rasa sakit yang sama.
Ketika suara yang lelah berkata bahwa aku ingin berhenti, aku tidak lagi langsung menolaknya. Aku bertanya, berhenti dari apa? Berhenti menyakiti diri sendiri? Berhenti memaksakan diri? Atau berhenti hidup sepenuhnya?
Dan ketika suara yang keras menuduhku lemah, aku mencoba menjawabnya dengan lebih lembut. Aku berkata bahwa bertahan sejauh ini juga membutuhkan keberanian.
Dialog batin itu masih ada hingga sekarang. Ia tidak pernah benar-benar pergi. Tetapi kini aku tidak lagi membiarkannya menguasai seluruh diriku. Aku belajar menjadi penengah—mendengarkan tanpa larut, memahami tanpa tenggelam.
Di tengah percakapan yang tak kunjung usai itu, aku perlahan menemukan satu suara kecil. Suara yang tidak berteriak. Tidak menuntut. Ia hanya berkata pelan, “Kamu masih di sini.”
Dan untuk saat ini, suara kecil itu cukup untuk membuatku bertahan.
Aku dulu mengira depresi hanya tinggal di pikiran. Kupikir ia hanya soal perasaan sedih, pikiran gelap, atau kelelahan mental yang bisa disembunyikan dengan senyum. Aku tidak siap ketika tubuhku ikut berbicara dengan caranya sendiri.
Tubuhku mulai lelah tanpa alasan yang jelas. Aku bisa tidur berjam-jam, namun bangun dengan rasa letih yang sama. Seolah tidur tidak benar-benar memberiku istirahat. Punggung terasa berat, kepala sering nyeri, dan dadaku sesak tanpa sebab yang bisa kutunjuk.
Ada hari-hari ketika bangun dari tempat tidur terasa seperti mengangkat beban yang terlalu besar. Kakiku melangkah, tetapi rasanya tidak sepenuhnya milikku. Tubuh ini bergerak karena harus, bukan karena ingin.
Aku sering mengabaikan tanda-tanda itu. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku hanya kurang tidur, kurang minum, atau terlalu banyak berpikir. Aku mencoba bertahan seperti biasa, berharap tubuhku akan kembali normal dengan sendirinya.
Namun tubuh tidak bisa dibohongi terlalu lama. Ia menyimpan semua yang kutahan. Semua emosi yang kutekan. Semua tangis yang tidak jadi keluar. Dan suatu hari, ia menuntut untuk didengar.
Nafsu makanku berubah. Ada masa ketika aku tidak ingin makan apa pun, meski perutku kosong. Ada masa lain ketika aku makan tanpa benar-benar merasa kenyang. Semua terasa hambar. Bukan hanya makanan, tetapi hidup itu sendiri.
Dadaku sering terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam. Aku pernah takut itu adalah penyakit fisik yang serius. Tetapi ketika diperiksa, tidak ada apa-apa. Dokter berkata tubuhku baik-baik saja. Aku hanya mengangguk, tanpa tahu bagaimana menjelaskan bahwa yang sakit bukan hanya tubuhku.
Tubuhku menjadi bahasa yang paling jujur. Ia gemetar ketika aku cemas. Ia melemah ketika aku terlalu lama berpura-pura kuat. Ia meminta istirahat ketika pikiranku terus memaksa berjalan.
Ada saat-saat ketika aku merasa marah pada tubuhku sendiri. Mengapa ia tidak bisa diajak bekerja sama. Mengapa ia terasa begitu rapuh. Tetapi perlahan aku belajar bahwa tubuhku tidak sedang mengkhianatiku. Ia sedang melindungiku dengan caranya sendiri.
Aku mulai belajar mendengarkan sinyal-sinyal kecil itu. Rasa lelah yang datang lebih cepat. Napas yang terasa pendek. Ketegangan di bahu dan leher. Aku belajar berhenti sebelum semuanya runtuh.
Kini aku tahu bahwa tubuh dan pikiranku tidak pernah benar-benar terpisah. Ketika jiwaku sakit, tubuhku ikut menanggungnya. Dan ketika tubuhku lelah, itu sering kali karena ia sudah terlalu lama menahan beban yang tidak seharusnya dipikul sendirian.
Merawat diri bagiku bukan lagi soal menjadi produktif. Ia adalah soal memberi tubuh ini izin untuk beristirahat. Makan meski tidak berselera. Tidur tanpa rasa bersalah. Berhenti ketika memang sudah tidak sanggup.
Tubuh yang ikut sakit mengajarkanku satu hal penting: aku tidak bisa sembuh dengan terus mengabaikan diriku sendiri. Aku harus belajar hadir sepenuhnya—bukan hanya di kepala, tetapi juga di tubuhku.
Dan sejak saat itu, aku mulai memperlakukan tubuhku bukan sebagai beban, melainkan sebagai rumah yang juga sedang berusaha bertahan.
Tidak semua hari memiliki cerita yang bisa diceritakan dengan lantang. Sebagian besar justru berlalu tanpa peristiwa apa pun. Tidak ada air mata besar, tidak ada tawa lepas, tidak ada titik balik yang dramatis. Hanya hari-hari yang berjalan pelan, nyaris tak meninggalkan jejak.
Di hari-hari seperti itu, aku bangun, menjalani rutinitas seperlunya, lalu kembali tidur. Aku melakukan hal-hal kecil tanpa antusiasme yang jelas. Menyapu lantai. Menyeduh minum. Menatap layar tanpa benar-benar membaca apa pun. Waktu bergerak, dan aku ikut bergerak bersamanya, meski tanpa arah yang pasti.
Ada rasa bersalah yang sering muncul di sela-sela kebosanan itu. Suara kecil yang bertanya, apa gunanya hari ini? Aku terbiasa mengukur hidup dari hasil dan makna. Ketika tidak ada keduanya, aku merasa gagal.
Namun perlahan aku belajar bahwa hari-hari tanpa klimaks bukanlah hari yang sia-sia. Ia adalah ruang jeda. Tempat tubuh dan pikiran berhenti berlari. Tempat luka-luka diberi waktu untuk tidak disentuh.
Ada ketenangan tipis yang kadang muncul di tengah kebosanan. Bukan bahagia, tetapi cukup untuk bernapas tanpa tergesa. Di hari-hari seperti ini, aku tidak dituntut untuk menjadi apa pun. Aku hanya diminta untuk hadir.
Aku belajar mengizinkan diriku untuk tidak produktif. Untuk tidak punya jawaban. Untuk tidak tahu ke mana arah hidupku selanjutnya. Awalnya ini terasa menakutkan. Tetapi kemudian aku menyadari bahwa memaksa diri untuk selalu berarti justru membuatku semakin lelah.
Hari-hari tanpa klimaks juga mengajarkanku kesabaran. Bahwa pemulihan tidak selalu terasa seperti bergerak maju. Kadang ia terasa seperti diam di tempat. Dan itu tidak apa-apa.
Di sela hari-hari yang datar ini, aku mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dulu terlewat. Cahaya sore yang masuk lewat jendela. Hening yang tidak menekan. Tubuh yang tidak terlalu tegang. Tanda-tanda kecil bahwa aku masih hidup, meski tidak dalam sorotan.
Aku tidak lagi menunggu momen besar untuk merasa sah hidup. Aku mulai menerima bahwa hidup juga berlangsung di antara kejadian-kejadian penting—di ruang kosong yang sering diabaikan.
Hari-hari tanpa klimaks mungkin tidak akan dikenang. Tetapi di sanalah aku belajar bertahan tanpa harus membuktikan apa pun.
Dan di tengah kebiasaan yang sederhana itu, aku perlahan menemukan sesuatu yang selama ini hilang: izin untuk hidup tanpa tuntutan.
Ada masa ketika orang-orang mulai melihatku dengan tatapan khawatir. Mereka bertanya lebih sering, memberi saran, menawarkan jalan keluar. Sebagian melakukannya dengan tulus, sebagian lagi dengan canggung. Mereka ingin aku segera pulih, segera kembali seperti versi diriku yang pernah mereka kenal.
Namun di masa itu, aku justru tidak ingin diselamatkan.
Bukan karena aku menikmati rasa sakit ini, melainkan karena aku sudah terlalu lelah untuk berharap. Harapan terasa seperti janji yang terlalu sering dilanggar. Setiap kali aku percaya bahwa keadaan akan membaik, aku justru jatuh lebih dalam. Maka aku memilih berhenti berharap, sebagai cara bertahan yang paling aman.
Aku tidak ingin ditarik keluar secara paksa dari gelap yang sudah kukenal. Gelap ini menakutkan, tetapi setidaknya ia jujur. Tidak berpura-pura memberi cahaya. Tidak menjanjikan apa pun. Di dalamnya, aku tidak perlu berpura-pura kuat.
Ketika orang-orang berkata, “kamu pasti bisa,” aku hanya tersenyum tipis. Bukan karena aku setuju, tetapi karena aku tidak tahu harus menjelaskan kelelahan yang menumpuk bertahun-tahun. Ada jenis lelah yang tidak bisa disembuhkan dengan semangat atau nasihat.
Aku juga tidak ingin menjadi proyek pemulihan siapa pun. Aku tidak ingin diukur dari kemajuan, dibandingkan dengan kemarin, atau ditanya kenapa hari ini aku mundur lagi. Aku ingin diberi ruang untuk runtuh tanpa harus segera bangkit.
Ada rasa bersalah karena menolak bantuan. Aku tahu niat baik itu nyata. Tetapi di dalam diriku, ada ketakutan yang lebih besar: takut kecewa lagi. Takut merasa gagal karena tidak mampu memenuhi ekspektasi orang lain tentang kesembuhan.
Aku mulai menyadari bahwa keinginanku untuk tidak diselamatkan bukanlah bentuk keputusasaan sepenuhnya. Ia adalah bentuk perlindungan. Aku sedang menjaga diriku dari harapan yang terlalu besar, dari luka yang bisa berulang.
Perlahan aku memahami bahwa sebelum diselamatkan oleh siapa pun, aku perlu berdamai dengan diriku sendiri. Aku perlu mengakui bahwa aku belum siap. Bahwa aku masih ingin tinggal sebentar di titik ini, mengumpulkan sisa-sisa tenaga yang tercecer.
Aku tidak menutup pintu sepenuhnya. Aku hanya menahannya agar tidak dibuka dengan paksa. Karena pemulihan, bagiku, bukan tentang ditarik keluar dari kegelapan, tetapi tentang kapan aku merasa cukup aman untuk melangkah sendiri.
Dan di masa itu, yang paling kubutuhkan bukan tangan yang menarikku ke atas, melainkan seseorang yang mau duduk diam di sampingku—tanpa menyuruhku ke mana-mana.
Aku mulai belajar menerima hidup bukan sebagai sesuatu yang harus segera diperbaiki, tetapi sebagai sesuatu yang sedang berlangsung apa adanya. Tidak ada janji bahwa aku akan sembuh sepenuhnya. Tidak ada kepastian bahwa luka ini akan benar-benar hilang. Dan untuk pertama kalinya, aku mencoba tidak menjadikan itu sebagai ancaman.
Dulu, aku berpikir menerima berarti menyerah. Seolah dengan mengakui keadaanku, aku kalah. Namun ternyata, menerima justru membutuhkan keberanian yang jauh lebih besar. Keberanian untuk berkata jujur pada diri sendiri: bahwa aku masih sakit, masih lelah, dan masih sering jatuh, bahkan ketika aku sudah berusaha berdiri.
Aku berhenti memaksa diriku untuk terlihat kuat. Aku berhenti mengejar versi sembuh yang diceritakan orang lain—yang rapi, optimis, dan penuh semangat. Hidupku tidak berjalan seperti itu. Ada hari-hari ketika aku bangun dengan dada yang masih sesak, pikiran yang masih berat, dan tubuh yang masih enggan bergerak. Dan aku belajar untuk tidak membenci diriku pada hari-hari seperti itu.
Menerima tanpa janji sembuh berarti mengizinkan diriku hidup di tengah ketidaksempurnaan. Aku boleh merasa baik hari ini dan runtuh besok. Aku boleh tertawa tanpa harus menjelaskan bahwa aku masih terluka. Aku boleh diam tanpa merasa bersalah karena tidak produktif. Hidup tidak harus selalu membaik untuk tetap layak dijalani.
Aku juga belajar bahwa menerima bukan berarti berhenti berharap. Aku hanya berhenti memaksa harapan itu datang dengan bentuk tertentu. Aku tidak lagi menuntut diriku untuk bahagia. Cukup bertahan hari ini saja sudah menjadi pencapaian yang nyata.
Di titik ini, aku tidak lagi menunggu keajaiban. Aku menunggu diriku sendiri—pelan-pelan, dengan napas yang masih tersendat, dengan langkah yang masih ragu. Jika suatu hari sembuh itu datang, aku akan menerimanya. Jika tidak, aku tetap akan hidup dengan sebaik yang aku bisa.
Karena ternyata, menerima tanpa janji sembuh bukan akhir dari segalanya. Ia adalah cara baru untuk tetap berjalan, meski jalan itu tidak lurus dan tidak menjanjikan apa pun selain satu hal: aku masih ada.
Aku tidak bangun suatu pagi dengan perasaan menang. Tidak ada cahaya besar yang tiba-tiba membuat segalanya terasa jelas. Yang ada hanyalah satu kesadaran sederhana yang datang perlahan: aku masih bernapas. Dan dari semua hal yang pernah kuragukan tentang diriku, kenyataan itu menjadi yang paling nyata.
Aku masih ada, meski tidak selalu kuat. Aku masih ada, meski sering ragu pada langkahku sendiri. Keberadaanku tidak ditandai oleh pencapaian besar atau perubahan dramatis. Ia hadir dalam hal-hal kecil—napas yang tertarik pelan, mata yang masih mau terbuka, tubuh yang tetap bangkit meski enggan.
Ada hari-hari ketika aku merasa keberadaanku tidak berarti. Dunia tetap berjalan tanpa menungguku, dan aku merasa seperti bayangan yang lewat begitu saja. Namun perlahan aku belajar bahwa ada bukan tentang dilihat atau diakui. Ada adalah tentang bertahan, bahkan ketika tak ada yang menyaksikan perjuangan itu.
Aku masih ada setelah semua malam panjang yang terasa tak berujung. Setelah doa-doa yang tak selalu terjawab. Setelah kelelahan yang membuatku ingin berhenti berharap. Aku masih di sini, membawa luka yang belum sepenuhnya sembuh, membawa ketakutan yang kadang kembali, membawa ingatan yang tidak selalu ramah.
Keberadaanku hari ini tidak sempurna. Aku masih sering goyah, masih mudah lelah, masih belajar memahami diriku yang terus berubah. Tapi aku tidak lagi menghapus diriku sendiri hanya karena aku belum menjadi versi yang kuinginkan. Aku belajar mengakui bahwa bertahan pun adalah bentuk keberanian.
Aku tidak tahu bagaimana masa depan akan membentukku. Aku tidak tahu apakah luka-luka ini akan sepenuhnya pergi. Namun hari ini, aku memilih satu hal yang bisa kupegang: aku masih ada. Dan selama aku masih ada, selalu ada kemungkinan—sekecil apa pun—untuk melangkah lagi.
Aku tidak menjanjikan apa pun pada diriku selain ini: aku tidak akan menyerah pada keberadaanku sendiri. Jika suatu hari aku kembali jatuh, aku akan jatuh sebagai seseorang yang tahu bahwa ia pernah bertahan. Dan itu cukup.
Aku masih ada. Tidak sebagai kemenangan, bukan pula sebagai akhir. Aku masih ada sebagai proses yang terus berjalan, pelan, jujur, dan manusiawi.
Kreator : Citra Rahmawati
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Ketika Aku Depresi (final)
Sorry, comment are closed for this post.