
“Selamat ya, Pak Fik!” ucap Pak Irfan sambil menepuk bahuku ringan. “Wah, kelasnya rame, euy.”
“Terima kasih, Pak.” aku tersenyum. Namun entah mengapa, dadaku terasa mengempis. Keputusan yang diumumkan menjelang penutupan rapat kerja tadi memang tidak disertai tepuk tangan, tidak pula disambut gumam ramai. Nama-nama itu dibacakan satu per satu, seperti daftar yang seharusnya biasa, meski masing-masing menyimpan konsekuensinya sendiri.
Dan ketika namaku disebut sebagai wali kelas, aku hanya bisa menunduk, bukan karena kaget, tetapi karena merasa sedang ditarik masuk ke sebuah ruang yang belum sepenuhnya siap kuhadapi. Di layar proyektor, daftar itu terpampang rapi. Di sana, di antara deretan nama murid dalam kelas yang menjadi amanahku, satu nama langsung menarik perhatianku, Raka.
Aku tidak meragukan kemampuanku mengelola kelas. Melainkan aku merasa, menjadi wali kelas berarti berdiri di persimpangan yang tidak netral. Aku akan berada di antara kebijakan yayasan, harapan orang tua, empati guru, dan mungkin kepentingan siswa yang ditarik ke arah yang bukan pilihannya.
Bahasa pengurus yayasan yang terdengar halus tapi tegas pun semakin menggema di kepalaku. Kalimat-kalimat tentang fleksibilitas, citra sekolah, dan keberlanjutan, membuat nyaris tak ada ruang untuk bertanya. Raker pun berakhir dengan doa penutup dan hanya menyisakan komentar singkat guru-guru yang mulai beranjak. Aku menyadari satu hal yang terasa kian jelas, ruang pendidikan kerap dibentuk oleh siapa yang paling lantang, siapa yang paling berpengaruh, dan boleh jadi siapa yang paling ditakuti untuk ditolak.
…
Rumah masa kecilku berdiri tenang di bawah langit jingga. Dinding hijau pucatnya mulai mengelupas, halaman depan ditumbuhi rumput seadanya, dan pohon mangga di sudut pekarangan berdesir pelan diterpa angin senja. Sepasang kursi kayu di teras saling berhadapan, catnya memudar oleh waktu, disapu cahaya pukul lima sore yang memanjang di atas genting dan tanah.
Aku duduk di salah satu kursi sambil mengamati pemandangan jalan yang lengang. Satu per satu kakak perempuanku berdatangan. Dimulai dari Mbak Farah bersama suami dan dua anaknya yang langsung menguasai ruang tamu. Tak lama berselang Mbak Nabila menyusul, membawa sekotak kue dan anaknya yang masih balita. Mbak Alya datang terakhir, sedikit tergesa, sambil meminta maaf karena jalanan macet.
Alhasil, suasana rumah dengan foto-foto lama di dinding yang menegaskan menjadi tempat pulang itu lebih ramai dari biasanya. Tikar digelar di ruang tengah, piring-piring kecil berisi gorengan tersusun rapi di atas meja rendah. Anak-anak berlarian, saling kejar-kejaran, memenuhi rumah dengan tawa dan teriakan kecil.
“Alhamdulillah, rumah jadi rame lagi, ya,” ujar Amah sambil tersenyum, matanya berbinar melihat cucu-cucunya. Sementara Apah duduk di kursi kayu dekat jendela, menonton semuanya dengan senyum tipis yang jarang berubah.
Obrolan kami mengalir, rasa rindu pun tumpah di antara kami. Mulai dari keadaan sekolah anak-anak, tentang harga sembako, atau rencana liburan singkat sebelum masuk sekolah lagi. Aku ikut tertawa, menimpali seperlunya. Hingga tanpa sadar, arah pembicaraan bergeser.
“Pit, masuk sekolah lagi kapan?” tanya Mbak Farah sambil menuangkan teh ke cangkir suaminya.
“Pekan depan, Mbak,” jawabku.
“Oh,” ia mengangguk. “Berarti liburmu juga sebentar, ya?”
Aku tersenyum kecil. “Iya, Mbak. Guru kan emang begitu.”
“Sekolah sekarang tuntutannya makin banyak ya, Pit?” Mbak Nabila ikut menimpali, nadanya tidak menghakimi, tapi jelas penuh pertimbangan. “Administrasi, rapat, belum lagi orang tua murid.”
“Iya,” jawabku singkat.
Mbak Nabila menatapku sejenak. “Aku cuma kepikiran, kamu nggak capek?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi langsung membuat ruangan terasa sedikit lebih hening. Anak-anak masih ribut, tapi percakapan orang dewasa melambat.
“Capek sih, Mbak,” kataku jujur. “Tapi masih bisa dijalani, kok.”
Mbak Farah tersenyum, lalu berkata pelan, “Mbak percaya dengan pilihanmu. Hanya saja Mbak ingin kamu nggak kehilangan dirimu sendiri di tengah semua tuntutan itu.”
Aku mengangguk. Aku tahu itu bentuk sayang yang paling jujur dari kakak tertua.
“Yang penting, kamu pulang ke rumah dengan hati utuh,” Mbak Alya yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. “Kalau sudah nggak sanggup, jangan dipaksa!” lanjutnya dengan lembut.
Aku tersenyum, “In syaa Allah, Mbak.”
Amah yang sedari tadi mendengarkan, akhirnya duduk di sampingku. Tangannya menyentuh lenganku pelan. “Sebenarnya Amah memang sempat berat waktu kamu milih jalan ini,” katanya lirih. “Apalagi pas melihat kamu pulang malam.”
“Iya, Mah,” sahut Mbak Farah pelan. “Kadang aku juga kepikiran, Pit itu kapan sempat istirahatnya.”
Aku terkekeh kecil. “Istirahatnya nyicil, Mbak.”
Amah tersenyum tipis. “Tapi sekarang Amah lihat, kamu menjalani dengan niat baik. Itu yang Amah pegang.”
Apah mengangguk pelan, seolah menyusun kata-katanya sendiri. “Rezeki orang beda-beda jalannya,” ucapnya singkat. Ia berhenti sebentar, menatap cangkir teh di tangannya. “Asalkan kamu tahu alasanmu untuk bertahan.”
Mbak Nabila menghela napas ringan. “Kalau sudah tahu alasannya, biasanya capeknya bisa ditahan, ya.”
“Yaah, setidaknya itu yang lagi aku coba, Mbak,” kataku sambil tersenyum kecil, bahu sedikit terangkat lalu jatuh lagi, seolah melepas napas yang sejak tadi kutahan.
Anak-anak kembali melewati ruang tengah, tawa mereka memotong percakapan. Mbak Alya berdiri sebentar, menegur dengan setengah bercanda, lalu duduk lagi. Obrolan pun mencair, beralih ke hal-hal kecil yang tak perlu dipikirkan terlalu jauh.
Aku pun terdiam, kalimat Apah tinggal lebih lama di kepalaku. Sementara suara anak-anak yang tertawa, sendok yang beradu dengan piring, dan obrolan kembali mengisi rumah. Aku paham, mereka tidak sepenuhnya tahu dunia yang kujalani. Tapi mereka juga tidak memintaku berhenti. Dan bagiku, yang sedang belajar bertahan di ruang yang tak selalu berpihak, itu sudah lebih dari cukup.
…
Lampu meja menyala redup, menahan bayanganku sendiri di dinding. Jarum jam hampir menunjuk pukul sembilan. Dari luar, suara kendaraan kian jarang lewat, seolah ikut bersiap menutup akhir pekannya. Sesekali angin menyentuh jendela, menggerakkan tirai dengan pelan. Tas kerja sudah tergeletak di dekat pintu dan sepatuku sudah tersusun rapi. Hal-hal kecil ini menandai bahwa esok ritme akan kembali berjalan. Aku merebahkan punggung di tepi ranjang, membiarkan ingatan hari-hariku di sekolah selama sepekan terakhir datang satu per satu. Tahun ajaran baru sudah berjalan sekitar sebulan, namun atmosfer setiap kelas terasa makin riuh.
Aku membuka kembali catatan-catatan yang kutulis dengan tergesa, lembar demi lembar dari hari-hari yang baru saja berlalu. Lalu aku berhenti pada satu nama, Raka. Pagi di salah satu hari pekan itu, ia kembali datang terlambat. Ia berdiri di depan pintu kelas dengan raut canggung. Aku mempersilakannya masuk tanpa teguran berlebih. Ia duduk di bangkunya, menunduk, seperti anak yang sudah terbiasa meminta maaf tanpa suara. Sepanjang pelajaran, ia lebih banyak diam, meski tangannya tetap bergerak, menyalin apa yang ia pelajari.
“Kamu tahu kan syarat dari sekolah yang harus kamu penuhi?” tanyaku di sela jam istirahat, saat aku memanggilnya ke ruang BK.
Ia mengangguk, ragu. “Sedikit, Pak.”
“Kamu siap menjalaninya?” aku memandangnya tenang.
Ia terdiam. Lalu mengangguk lagi, kali ini lebih pelan.
Aku tidak tahu apakah anggukan itu lahir dari kemauan atau kebiasaan menurut. Tapi aku memilih mempercayainya. Meski aku tahu hari-hari sebelumnya berjalan dengan beberapa drama. Namun, Raka hadir lebih sering. Memang tidak selalu tepat waktu seperti pagi itu, tapi kehadirannya kini sudah lebih konsisten. Tugas-tugas pun dilaksanakan walau kadang belum rapi, tapi ia berusaha mengumpulkan.
Perubahan positif apapun yang dilakukan Raka di sekolah selalu aku sampaikan kepada semua pihak yang terkait, terutama Pak Anton. Melalui obrolan singkat di WA, beliau cukup menerima, meskipun ada terselip nada meremehkan. “Anak saya itu kadang ikut saya urusan bisnis. Biar sekalian belajar dunia nyata. Kalau cuma pelajaran sekolah, nanti dia bisa kejar sendiri. Kan yang penting itu pengalaman hidup.” katanya.
Membaca pesannya itu aku hanya tersenyum kaku. Tak ayal kalimat itu menempel jelas di kepalaku hingga kemudian aku berkesempatan untuk bertemu dengan Pak Anton. Sore itu, aku menerima pesan singkat dari nomor yang sudah kusimpan sejak pengumuman nama-nama wali kelas dalam rapat kerja.
“Pak Fikrul, Apakah besok ada waktu sebentar untuk bertemu?” Pesan itu singkat, tanpa emotikon, tanpa basa-basi. Aku sempat membaca ulang sebelum menjawab. Menunda beberapa menit, bukan untuk mencari alasan, melainkan menyiapkan diri.
Kami pun bertemu di ruang tamu sekolah. Bukan ruang kepala sekolah, apalagi ruang guru. Tempat yang netral secara fisik, tapi tidak secara makna. Pak Anton datang tepat waktu sesuai janjinya, mengenakan kemeja rapi, wangi parfumnya samar tapi tegas. Aku sadar betul harus menjaga keseimbangan peran, bukan sebagai guru mata pelajaran, tetapi sebagai wali kelas, posisi yang membuat setiap keputusan kecil terasa politis.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu,” katanya sambil tersenyum. Senyum yang tak sepenuhnya ramah, tapi juga tidak bermusuhan. Ia lalu duduk tegak, tangan terlipat rapi di atas lutut, menunjukkan sikapnya yang terbiasa didengar.
“Sudah menjadi kewajiban saya, Pak. Apalagi jika menyangkut siswa,” jawabku.
“Betul, Pak. Saya ingin bicara soal Raka,” katanya, membuka percakapan.
Aku mengangguk. “Silakan, Pak.”
“Saya menghargai usaha sekolah,” lanjutnya. “Saya tahu Bapak dan guru-guru lain punya niat baik. Tapi saya ingin memastikan satu hal, Raka tidak bisa ditekan terlalu keras.” Nada suaranya tetap datar. Kata ditekan meluncur ringan, seolah beban belajar hanyalah soal kenyamanan.
“Kami justru ingin memastikan Raka mendapat kesempatan yang sama,” kataku. “Kesepakatan yang dibuat bukan hukuman, tapi upaya mengejar ketertinggalannya.”
Pak Anton tersenyum lagi, kali ini lebih tipis.“Kesempatan yang sama itu konsep yang menarik, tapi setiap anak berbeda, Pak. Raka tidak bisa disamakan dengan anak-anak lain yang.., mungkin lebih siap.”
Aku merasakan kalimat itu seperti pagar yang ditarik perlahan. Bukan menolak, tapi membatasi.
“Justru karena berbeda, Pak,” jawabku pelan, “Raka perlu dibimbing dengan konsisten. Kehadirannya di sekolah dan tanggung jawabnya dalam mengerjakan tugas-tugas, itu bagian dari proses.”
Ia mengangguk, bibirnya mengatup sesaat, tatapan matanya menunjukkan tidak sepenuhnya setuju.
“Sepertinya, Pak Fikrul ini orang yang idealis, ya?” katanya kemudian, retorik.
Aku mengubah posisi duduk, mencari tempat yang lebih tegak, “Saya hanya seorang guru, Pak. Selain integritas, mungkin hanya idealisme yang bisa saya ajarkan kepada murid-murid saya.”
“Itu bagus,” Pak Anton menautkan kedua telapak tangannya, nyaris tak bergerak. “Tapi jangan sampai idealisme itu membuat anak kehilangan kenyamanan belajarnya!”
Aku menarik napas, menurunkan pandangan sesaat sebelum kembali menatapnya dengan tersenyum. “Tapi, Pak,” ucapku hati-hati. “Kenyamanan tanpa batas kadang justru membuat anak tidak pernah belajar bertahan.”
Sejenak, Pak Anton terdiam. Lalu ia tertawa kecil, seperti seseorang yang baru saja mendengar pernyataan menarik. Bahunya terangkat tipis, lalu turun kembali. Ia menggeleng pelan, bukan menolak, lebih seperti sedang menimbang. Tatapannya bergeser sesaat ke meja di antara kami, sebelum akhirnya kembali padaku.
“Baik, kita lihat nanti akan seperti apa,” ujarnya kemudian sambil berdiri. “Saya permisi, titip Raka, Pak.”
Pak Anton menjabat tanganku erat. Bahkan terlalu erat untuk sekadar formalitas. Laki-laki paruh baya itu kemudian melangkah pergi. Sementara aku duduk kembali seraya menyadari satu hal, bahwa percakapan itu tidak menghasilkan kesepakatan apapun. Justru memperjelas garis yang sejak awal ada.
Malam ini, semua itu mengendap dalam diam, seperti debu yang perlahan turun setelah ruangan ditinggalkan. Dalam keheningan, aku akhirnya mendengar lelahku sendiri. Menjadi guru, di titik ini, terasa seperti berdiri di tengah arus yang tidak pernah diam. Setiap langkah mengandung kemungkinan salah paham. Setiap keputusan, berpotensi ditafsirkan sebagai keberpihakan.
Di kepala, potongan wajah dan suara murid-murid bergantian muncul setelah bayangan Raka tadi. Datang dan pergi tanpa bisa kuhentikan. Ada tanggung jawab yang tak ikut tertidur bersama malam, menggantung pelan di antara niat, ragu, dan harapan kecil yang terus kupelihara. Aku memejamkan mata sejenak, lalu menutup buku catatan perlahan. Lampu kumatikan, mencoba percaya bahwa esok hari masih menyediakan ruang untuk belajar, bagi mereka, dan juga untukku.
Kreator : Khairul Ismi (Roelis Ril)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Ketika Guru Bersabar Chapter 10
Sorry, comment are closed for this post.