
Udara siang itu terasa gerah, menempel di kulit sejak bel istirahat berdentang. Matahari mulai tegak di atas atap seng, membuat napas terasa lebih berat dari biasanya. Riuh suara siswa pecah di mana-mana. Beberapa berlari menuju kantin, sebagian duduk bergerombol di depan kelas. Hanya segelintir yang memilih bertahan di lapangan, tempat sepatu-sepatu beradu dengan lantai semen yang mulai menyimpan panas siang hari.
Di ruang guru, suasananya tak kalah berbeda. Kipas angin tua berputar lambat, membantu pendingin ruangan yang mulai kehabisan freon untuk mengaduk udara panas yang bercampur aroma kopi dan kertas fotokopian. Aku duduk di belakang meja kerjaku, berusaha memusatkan perhatian pada tumpukan lembar kerja siswa yang belum selesai ku periksa. Namun, telingaku terus menangkap percakapan yang terdengar semakin meninggi dari sudut ruangan.
Nada suara terdengar tajam meski terputus-putus. Sesekali terdengar suara Pak Galih berusaha menenangkan Pak Darma yang terlihat gusar. Wali kelas 9X itu bukanlah tipe guru yang meledak-ledak tanpa alasan. Menurutku, beliau sosok yang penyabar, hampir setipe dengan Pak Hendra. Namun hari ini, sepertinya kesabarannya benar-benar diuji.
“Ini sudah keterlaluan!” sayup-sayup kudengar suara Pak Darma pelan.
“Ini bukan sekali dua kali. Tapi sudah kesekian kalinya,” lanjutnya dengan nada yang bergetar.
Pak Galih tidak menyela, demikian pula dengan para guru yang mendengar percakapan itu. Kami tahu reputasi penghuni 9X. Memang bukan kelas buruk, tapi kerap menjadi pusat masalah kecil yang berulang. Siswa terlambat atau ada yang bolos, baik laki-laki maupun perempuan. Mungkin ini bukan kesalahan yang besar, namun jika dibiarkan, bisa saja akan menggerogoti wibawa sekolah.
Sepenuhnya aku belum sempat memahami apa yang sedang terjadi, lalu tiba-tiba kegaduhan kecil muncul dari halaman belakang. Dari jendela ruang guru, sekilas terlihat sekelompok siswa bergegas menuju gerbang samping sekolah. Langkah mereka cepat, nyaris berlari, berpacu dengan menit-menit yang kian menipis. Sedikit saja terlambat, bel tanda akhir waktu istirahat akan menjadi penghalang mereka masuk ke kelas.
Rupanya Pak Darma juga menangkap apa yang aku lihat. Sejenak kemudian ia menatap Pak Galih, lalu keduanya saling mengangguk. Kedua pria itu pun keluar kantor, bergegas menuju depan kelas 9X untuk menghadang para siswa. Saat itulah aku merasa ada yang tak enak mulai menyelinap, bahwa jam istirahat pertama ini tidak akan berakhir seperti biasanya.
…
Pintu kantor terbuka, Pak Darma melangkah ke dalam.
“Masuk!” serunya singkat ke arah luar. Tidak keras, bahkan nyaris tenggelam di tengah riuh halaman, namun cukup membuat beberapa guru menoleh ke arah pintu. Sementara Pak Galih berada di sisinya tanpa banyak gerak.
Tiga siswa masuk dengan tertunduk, melangkah dalam barisan canggung yang terasa jauh lebih berat daripada hukuman apa pun. Wajah mereka pucat tersiram matahari. Saat melewati para guru, bau asap yang khas ikut bersama mereka. Bukan menyengat, hanya samar, tapi cukup membuat suasana berubah.
Pak Darma berhenti di dekat kursi tamu. Ia menatap ketiga siswa itu beberapa detik, seolah sedang menimbang kata-kata yang ingin diucapkan. Namun yang keluar hanya napas panjang. Di sisi lain, Pak Galih menarik kursi untuk mendekat. Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan itu kemudian mengajak Pak Darma duduk di sofa. Hal yang sama ia lakukan pada ketiga siswa tersebut.
“Ini sudah yang ketiga kalinya, Rendy! Bayu! Ardi!” suara Pak Darma memecah keheningan. “Kalian pikir peraturan sekolah hanya pajangan? Keluar pagar tanpa izin saja sudah pelanggaran berat, apalagi merokok dengan seragam masih melekat di badan!”
“Selain kalian bertiga, siapa lagi tadi yang merokok?” Pak Galih menggali informasi lebih jauh.
“Cuma kami bertiga, Pak,” jawab Rendy. Tatapan matanya masih jatuh ke lantai kantor meski garis tegang di wajahnya perlahan mengendur.
“Tidak usah ditutupi! Mau jadi pahlawan kesiangan kamu?” suara Pak Darma menahan amarah. “Banyak yang melihat, yang keluar area sekolah lebih dari tiga.”
“Benar, Pak. Hanya kami bertiga.” Rendy berusaha mengangkat wajahnya.
Pak Galih menatap wajah Rendy beberapa detik lebih lama, mencoba membaca sesuatu di balik keberaniannya mengangkat kepala.
“Kamu yakin?” tanyanya pelan. “Tidak ada yang ikut nyalain rokok?”
Rendy menggeleng cepat. “Enggak, Pak. Yang lain cuma ikut nongkrong.”
“Siapa yang lain itu?” suara Pak Darma menyela.
“Rizal sama Niko, Pak,” jawab Bayu akhirnya. Sejak tadi ia diam, menunduk dengan kedua tangan saling mengait. “Mereka cuma beli jajanan di luar. Terus ngumpul bentar sama kami.”
“Mereka cuma duduk sebentar, terus balik duluan,” lirih Ardi menambahkan.
Aku yang memilih tetap di tempatku sejak mereka masuk refleks mengangkat kepala ketika dua siswa itu disebut. Percakapan di sudut ruangan itu memang sesekali sampai ke telingaku, terpotong-potong, namun cukup jelas untuk membuatku ikut waspada.
Pak Galih menoleh ke arahku. “Rizal dan Niko itu anak kelas Pak Fik, ya?”
“Iya, Pak. Kelas 9Y,” sahutku.
“Kalau begitu, nanti saya serahkan ke Pak Fik untuk pembinaannya!” instruksi Pak Galih yang kubalas dengan anggukan kepala. “Kita fokus dulu ke yang merokok.”
Pak Darma kembali menatap ketiga siswa di depannya. “Ini sudah kejadian berulang. Teguran lisan sudah, surat peringatan sudah, semuanya sudah pernah kalian terima,” suaranya terdengar lelah. “Kalau hanya dinasihati lagi, kalian akan menganggap ini angin lalu.”
“Benar, Pak. Harus ada sanksi yang lain,” Pak Galih mengangguk pelan, lalu menyerahkan sebuah map kepada Pak Darma. Sebuah isyarat agar Pak Darma yang menyampaikan bentuk sanksi yang harus mereka jalani.
“Kalian akan menjalani pengabdian sosial. Membersihkan kamar mandi siswa selama satu pakan, sepulang jam pelajaran!” nada suara Pak Darma makin terkendali.
Ketiganya saling pandang.
“Ini konsekuensi yang pantas kalian dapatkan!” tegas Pak Darma.
“Iya, Pak,” hampir serempak mereka menjawab.
“Dan, satu lagi. Kalau kejadian ini terulang, saya tidak akan bisa lagi menahan agar kasusnya berhenti di sini,” tegas Pak Galih.
Ketiganya kembali menunduk, dan lebih dalam.
“Silakan kembali ke kelas!” perintah Pak Darma. “Sekali lagi, anggap ini sebagai upaya kalian belajar bertanggung jawab!”
Mereka berdiri, memberi salam pelan, lalu melangkah keluar ruangan dengan langkah yang jauh lebih berat dibanding saat mereka masuk. Sepatu mereka menyeret di lantai, dan pintu tertutup tanpa bunyi keras, seakan tak seorang pun ingin menambah beban suasana yang sudah berat.
Aku menatap punggung mereka hingga menghilang di balik pintu. Di dalam dada, aku merasa ada sesuatu yang melegakan sekaligus membuatku cemas. Lega karena dua anak kelasku tidak terlibat sejauh itu, dan cemas karena aku tahu, masalah seperti ini jarang berhenti pada satu kejadian saja.
…
Udara masih basah oleh embun yang belum sepenuhnya menguap. Jalanan di depan sekolah mulai ramai oleh kendaraan yang saling menyalip. Klakson pendek yang dibunyikan tanpa amarah dan suara siswa yang memanggil nama temannya dari balik helm setengah terangkat menghiasi suasana pagi SMP Cinta. Di antara semua itu, kami selaku guru piket berdiri menjadi semacam penjaga peralihan antara dunia luar dan ruang bernama sekolah.
“Assalamu’alaikum, Pak Fik,” salam kesekian kalinya menyapaku.
“Wa’alaikumussalam.. Semangat pagi,” jawabku dengan ceria. “Eh, apa itu?” aku menunjuk salah satu bagian seragamnya yang belum rapi.
“Siap, Pak. Nanti dibenerin di kelas,” ujarnya ringan. Aura kantuk yang masih menggantung di wajahnya pun lenyap.
Aku hanya menggeleng seraya tersenyum. Buku piket yang terjepit di lengan pun kubuka, lalu mulai menuliskan nama siswa tadi di sebuah kolom. Rutinitas ini tampak sederhana, namun sering kali menjadi penyangga terakhir sebelum kegiatan sekolah benar-benar dimulai.
“Pak Fikrul, itu siapa?” tanya Bu Mira, kolegaku yang bertugas piket hari itu. Perhatiannya tertuju pada sebuah mobil hitam yang berhenti tepat di seberang gerbang.
Seorang perempuan paruh baya turun dari sana dengan langkah tegas. Jilbabnya sederhana, warnanya senada dengan seragam kerja yang dikenakannya. Di dada kiri tersemat logo instansi, dan kartu pegawai menggantung rapi di leher. Penampilannya mencerminkan dunia kantor yang teratur, kontras dengan hiruk-pikuk pagi sekolah yang masih setengah mengantuk.
Aku baru menyadari ketika pandangannya langsung tertuju kepadaku. Ia bukan sedang mencari, tapi memang sudah tahu siapa yang hendak ditemui. Dagunya terangkat tipis seraya tangannya merapikan ujung jilbabnya dengan satu gerakan cepat. Lalu ia melangkah ke arahku, seolah hal ini sudah disiapkannya jauh sebelum pagi benar-benar dimulai.
“Maaf, Pak,” katanya tanpa senyum. “Saya ibunya Rendy.” nada suaranya sopan, tetapi datar.
Aku mengangguk kecil. “Iya, Bu. Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin bertemu Pak Darma,” katanya lugas. “Saya mau menyampaikan keberatan dengan sanksi yang diberikan sekolah kepada anak saya,” lanjutnya seraya menahan sesuatu agar tidak tumpah di depan umum.
“Pak Darma ada di ruang guru, Bu,” balasku sesopan mungkin. “Kalau berkenan, mari saya…”
“Saya tunggu,” potongnya cepat. “Saya tidak ada masalah jika harus berbicara di sini.”
Beberapa siswa yang baru turun dari motor melirik penasaran sebelum akhirnya ditarik temannya masuk kelas. Suasana pagi masih berjalan, tetapi percakapan kami seakan membentuk ruang sendiri. Aku sempat menoleh ke arah Bu Mira dan memberinya isyarat.
“Maaf Bu, sebaiknya kita bicara di kantor,” Bu Mira menyela, seolah mengerti dengan isyaratku. “Mari saya antar.”
Ibunya Rendy menatapku sekilas, lalu pandangannya menyapu area gerbang sekolah. Derap langkah siswa mulai rapat, suara sepatu bercampur dengan tawa pendek dan obrolan khas remaja yang saling bersahutan. Pandangan perempuan itu terus bergerak, menimbang-nimbang, hingga akhirnya singgah kembali ke Bu Mira. Kali ini lebih lama, memastikan bahwa Bu Mira memang sosok yang dapat membantunya.
“Kenapa tidak di situ saja?” ujar ibunya Rendy sambil menunjuk bangku panjang di sisi gerbang, tempat beberapa orang tua biasanya menunggu anaknya pulang sekolah.
Aku mengikuti arah telunjuknya. Bangku itu setengah teduh, dinaungi pohon ketapang yang daunnya mulai menguning. Sebagian siswa sudah bergegas masuk kelas. Hanya tersisa beberapa yang masih berdiri, berbincang singkat dengan orang tuanya sebelum berpamitan.
“Boleh, Bu,” kataku. “Kita bicara sebentar di sana.”
Ia mengangguk singkat, lalu melangkah lebih dulu. Cara jalannya cepat dan terarah, seperti orang yang terbiasa memimpin rapat dan tak ingin waktu terbuang pada hal-hal kecil. Aku menyusul di belakangnya, sementara Bu Mira berjalan menuju kantor, menjemput Pak Darma.
Kami duduk berhadapan, dipisahkan oleh meja kayu yang catnya mulai mengelupas. Meja itu tidak besar, tetapi cukup untuk menciptakan jarak antara kami. Menjadi garis tak kasatmata yang cukup lebar untuk menahan emosi agar tak mudah melompat.
“Begini, Pak,” katanya membuka pembicaraan tanpa menunggu aba-aba. “Saya sudah membaca surat sanksi itu. Terus terang, saya keberatan.”
Aku berusaha tetap tenang dan mendengarkan nada suaranya yang tertata, nyaris seperti menyimak poin-poin laporan. Sementara, sudut mataku menangkap bayangan Pak Darma dan Bu Mira yang semakin mendekat ke tempat kami.
“Rendy memang salah,” lanjutnya. “Saya tidak menyangkal itu. Tapi, membersihkan kamar mandi selama sepekan? Menurut saya itu berlebihan,” lanjutnya.
Aku menarik napas pelan ketika Pak Darma dan Bu Mira sampai di hadapan kami. Setelah basa basi sebentar Bu Mira kembali ke kantor. Sementara, Pak Darma langsung duduk di sampingku setelah mengangguk hormat kepada ibunya Rendy seraya mengucap salam dengan sopan.
“Saya kesini mau klarifikasi, Pak,” ucap ibunya Rendy kepada Pak Darma tanpa basa basi.
“Maaf, Bu Ratna. Apa tidak sebaiknya kita bicara di ruang guru saja?” Pak Darma mencoba mengajak lagi ibunya Rendy.
“Tidak perlu, Pak,” jawab Bu Ratna. “Saya hanya ingin menegaskan, bahwa saya tidak terima anak saya disuruh bersih-bersih kamar mandi. Itu mempermalukan.” Suaranya masih seperti tadi. Tidak tinggi, tidak emosional, namun justru itulah yang membuatnya terasa menekan.
“Sanksi itu sudah sesuai aturan, Bu. Dan, disetujui kesiswaan,” Pak Darma menjawab pelan. “Tujuannya bukan menghukum, tapi memberi efek jera.”
“Anak saya bukan kriminal, Pak. Dia hanya remaja yang salah pergaulan. Kalau sekolah ingin mendidik, seharusnya dengan pendekatan, bukan kerja kasar.” Kali ini nada suaranya naik satu tingkat, cukup untuk membuat udara di antara kami mengeras.
Pak Darma menarik napas dalam. “Justru karena masih remaja, Bu. Kami ingin mereka belajar batas.”
“Belajar iya,” potongnya. “Tapi bukan dengan hukuman yang merendahkan.”
“Tidak ada yang direndahkan, Bu,” aku mencoba menjembatani. “Pengabdian sosial itu bagian dari pendidikan karakter.”
“Iya, tapi sekolah juga seharusnya melindungi. Bukan memberi peluang untuk membuka aib,” sahut Bu Ratna cepat.
Suasana mengendap, sepertinya percakapan ini akan berakhir menggantung. Tidak ada yang benar-benar mengalah, tapi juga tidak ada yang sungguh-sungguh menang.
“Saya harus kerja, Pak,” Bu Ratna melirik arloji yang melingkar di tangan kirinya. “Saya minta sekolah meninjau kembali hukuman itu.”
Bu Ratna berdiri perlahan. Kaki bangku kayu berdecit lirih saat ia menariknya ke belakang.
“Saya titip itu saja,” katanya singkat, namun dengan tatapan yang terbiasa menuntaskan urusan tanpa harus menunggu persetujuan. Ia mengangguk tipis, mengucap salam sekadarnya, lalu melangkah cepat meninggal kami. Terlihat petugas keamanan membuka jalur keluar untuknya. Tak lama, sosok Bu Ratna lenyap di balik gerbang sekolah.
Aku masih duduk di bangku itu, membiarkan Pak Darma berjalan sendirian ke kantor ketika bayangan Bu Ratna menghilang di balik pagar. Menatap dinding-dinding sekolah yang dipenuhi poster tata tertib dan slogan karakter. Aku semakin menyadari betapa rapuh posisi kami sebagai guru. Diminta mendidik dengan nilai, tetapi kerap diuji oleh kuasa dan kepentingan. Kadang kami diapit aturan, empati, dan kekuasaan. Sementara keputusan, seperti daun-daun ketapang yang gugur kapan saja tanpa pernah benar-benar meminta izin. Sebagian hanya bergantung pada siapa yang paling kuat untuk meminta ditinjau kembali.
Kreator : Khairul Ismi (Roelis Ril)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Ketika Guru Bersabar Chapter 11
Sorry, comment are closed for this post.