KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Ketika Guru Bersabar Chapter 9

    Ketika Guru Bersabar Chapter 9

    BY 02 Jan 2026 Dilihat: 105 kali
    Ketika Guru Bersabar_alineaku

    Chapter 9: Gelombang di Balik Layar

    Sekolah terasa aneh pada pekan-pekan terakhir libur panjang. Setiap hari baru yang datang, tanpa riuh langkah siswa atau suara bel yang memantul di koridor. Udara pun lebih tenang, seolah memberi ruang untuk berjalan lebih pelan, menata ulang banyak hal yang selama ini tertutup oleh rutinitas dan kebisingan. Namun, bangunan ini tidak pernah benar-benar kosong. Ada ketentuan yang diam-diam harus dipatuhi sejak lama, bahwa yang benar-benar libur adalah para siswa. Sementara bagi guru dan tenaga kependidikan, kalender hanya berganti warna, bukan kewajiban.

    Seperti halnya hari ini, para guru mulai berdatangan lebih awal. Bukan karena diminta secara khusus, melainkan karena pekerjaan memang tak pernah menunggu tahun ajaran dimulai. Ada yang memeriksa ulang daftar kelas, ada pula yang sekadar duduk lama di ruang guru, menatap kalender akademik yang sudah ditempel di dinding. Percakapan pun bukan lagi tentang nilai atau kehadiran, melainkan rencana, perubahan, dan kemungkinan-kemungkinan yang belum berbentuk.

    Di tengah kesibukan yang sunyi itu, undangan rapat kerja tahunan muncul di grup WA dengan bahasa yang rapi dan dingin. Berbentuk pdf, lengkap dengan kop yayasan yang tercetak tebal di bagian atas, disusul kalimat pembuka yang terdengar akrab dan bersahabat. Tanggalnya jatuh di tengah pekan, beberapa hari sebelum tahun ajaran baru resmi dimulai. Seolah mengingatkan, bahwa sebelum bel pertama berbunyi, ada arah yang harus disepakati lebih dulu.

    Bagi orang baru yang belum mengenal medan sesungguhnya sepertiku, rapat kerja idealnya menjadi tempat beradu gagasan untuk kerja-kerja di tahun ajaran selanjutnya. Namun, selentingan dari beberapa guru yang berseliweran membuatku ragu. Para guru yang sudah lama mengenal ritme di yayasan justru memandang rapat semacam ini dengan kewaspadaan tersendiri. Ia jarang benar-benar ramah, bukan sekadar forum laporan dan evaluasi, melainkan ruang tempat arah ditentukan, bahkan kerap tanpa banyak pilihan bagi mereka yang berada di bawahnya.

    “Kayaknya raker kali ini bahasannya bakal panjang, ya gak Pak Hendra?” Pak Irfan yang baru datang langsung membuka obrolan. Sementara map cokelat yang dibawanya diletakkan di atas meja.

    “Bisa jadi,” jawab Pak Hendra. “Ada beberapa hal yang mungkin menjadi perhatian pengurus yayasan. Salah satunya kan target PPDB yang belum terpenuhi.”

    “Bukannya PPDB sudah ditutup?” Bu Mira menimpali, kedua tangannya sibuk menyeduh teh.

    “Iya sih, karena memang kuota sudah tertutup,” Pak Hendra menyesap kopinya. “Hanya saja, jumlah pendaftar tidak mencapai target. Bahkan menurun.”

    “Denger-denger yayasan juga akan merombak kembali susunan manajemen di tiap unit,” Bu Lina memancing obrolan lebih dalam. “Apa mungkin Pak Hendra bakal jadi waka lagi?” ujarnya sambil membuka kotak sarapannya.

    “Ya nggak lah, Bu,” jawab Pak Hendra seraya tertawa. “Kalo yang saya dengar, ada wacana yayasan menempatkan guru baru menjadi wali kelas.”

    “Wah, Pak Fikrul harus siap-siap tuh!” Pak Irfan menggodaku.

    “Waduh, nggak lah Pak,” jawabku spontan. “Saya kan masih anak baru,” lanjutku dengan tersenyum, menutupi keterkejutanku.

    Everyday is a surprise, Pak Fik!” ujar Bu Mira, meski nada suaranya terdengar lebih sebagai harapan.

    “Betul, Bu Mira. Yang penting kita dengar dulu,” Bu Santi yang sedari tadi menyimak, menanggapi dengan positif. “Mau gimana pun, ujung-ujungnya kita juga yang menyesuaikan. Semoga gak terlalu memberatkan,” lanjutnya dengan penuh keyakinan.

    Aku mengangguk, lalu melanjutkan merapikan buku-buku dan beberapa berkas yang ada di atas meja. Guru-guru yang hadir di kantor juga sepertinya sepakat. Lalu percakapan terdengar lebih santai, meski aku merasa ada sesuatu di baliknya. Semacam kewaspadaan yang sudah terbentuk dari pengalaman. Seolah raker bukan lagi ruang untuk bertanya apa yang terbaik, melainkan tentang apa yang harus dijalankan.

    Aula sekolah yang biasa disebut gedung serba guna itu sudah tertata sejak pagi. Kursi-kursi disusun berbaris menghadap meja panjang tempat para pengurus yayasan akan duduk. Spanduk bertuliskan Rapat Kerja Tahunan membentang di belakangnya, berwarna biru muda dengan logo yayasan di sudut kiri. Lampu-lampu menyala terang, pendingin ruangan bekerja tanpa cela, meski udara terasa berat sejak aku melangkah masuk.

    Aku memilih duduk di deretan tengah, cukup dekat untuk mendengar dengan jelas, tapi tidak terlalu menonjol. Dari tempatku, bisa kulihat jelas para guru datang satu per satu. Saling bersalaman, lalu duduk di kursi masing-masing dengan gestur yang tenang dan terukur. Sementara aroma kopi dan teh bercampur dengan kudapan yang memang disediakan panitia raker telah siap menemani perjalanan hari ini. 

    Obrolan kecil terdengar di sana-sini, namun segera mereda ketika para pengurus yayasan mulai memasuki ruangan. Diawali Pak Haris, Ketua Yayasan Pelita Edukasi (YPE) itu tampak memasuki ruangan. Berjalan dengan langkah mantap, lalu beberapa wajah pengurus mengikuti seraya membawa berkas. Senyum ramah mereka menyapa seluruh yang hadir, meski di balik itu aku menangkap aura formalitas yang sulit diabaikan. 

    Rapat kerja dibuka, “Semangat pagi, Bapak-Ibu. Terima kasih sudah hadir meski masih nuansa libur sekolah,” sambutan Pak Haris terdengar hangat. “Mengawali raker ini kami akan fokus memaparkan dua hal penting, evaluasi penerimaan siswa baru dan strategi pencapaian prestasi siswa tahun ajaran depan,” lanjutnya.

    Beberapa guru mengangguk, sebagian langsung membuka buku catatan. Sementara aku mencatat kata kunci yang meluncur dari Pak Haris, penerimaan siswa baru dan prestasi. Dua hal yang membuatku bertanya-tanya, di mana posisi siswa dan guru dalam pembahasan itu.

    “Jumlah pendaftar dalam proses PPDB tahun ini menurun sekitar sepuluh persen dibanding tahun lalu, terutama di unit SMP,” Pak Haris melanjutkan sambutannya. “Ini harus menjadi catatan bagi kita. Bisa jadi indikator penyebabnya adalah karena menurunnya prestasi siswa kita,” capaian selama setahun terakhir terpampang pada layar presentasi. Angka-angka disajikan rapi, persentase prestasi akademik, peningkatan prestasi non akademik, dan jumlah pendaftar baru. 

    “Dan yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana pelayanan pendidikan yang kita berikan kepada orang tua siswa,” Pak Haris mulai menggeser pembahasannya. “Ada kecenderungan orang tua calon siswa belum sepenuhnya percaya dengan pelayanan pendidikan yang kita berikan.”

    Aku mencoba menerka ke arah mana sambutan Pak Haris ini akan bermuara. Bagiku dan mungkin guru-guru lain, semua berjalan baik-baik saja. Cerita-cerita di balik pembagian rapor kenaikan kelas tempo hari sudah cukup bukti bahwa orang tua siswa menerima pelayan pendidikan yang diberikan. Aku menduga, pernyataan Pak Haris berkenaan dengan salah satu siswa Bu Rani.

    “Bapak-Ibu, ini mungkin asumsi. Meski demikian, kita harus menjaga keberlangsungan lembaga ini,” urai Pak Haris. “Di tengah persaingan yang semakin ketat, maka fleksibilitas bisa menjadi kunci keberhasilan pelayanan pendidikan kita.”

    “Ah, itu dia,” ujarku dalam hati. Kata itu diucapkan dengan nada yang sama, seperti yang pernah kami dengar sebelum raker ini digelar. Netral, profesional, dan sulit ditolak. Fleksibilitas terhadap kebutuhan siswa, terhadap kondisi orang tua, terhadap dinamika sosial. Tidak ada yang salah dengan itu, namun seperti pisau bermata dua, fleksibilitas juga bisa melukai ketika digunakan tanpa batas yang jelas.

    Memang, nama Pak Anton tidak disebutkan secara langsung. Dan sepertinya tidak perlu. Lagi pula, semua yang hadir di ruangan itu tahu siapa yang dimaksud ketika Pak Haris melanjutkan, “Kita juga harus bijak menyikapi kontribusi pihak-pihak yang selama ini mendukung yayasan.”

    Kalimat itu meluncur halus, tanpa tekanan. Namun efeknya terasa nyata. Beberapa guru saling pandang. Aku melihat Bu Rani menunduk, mencoret-coret sesuatu di buku catatannya. Pak Hendra menyandarkan tubuhnya ke kursi, menarik napas perlahan. Pak Irfan melirikku sekilas dengan senyum yang sulit diartikan.

    Tidak ada penolakan, apalagi interupsi. Bahasa kuasa bekerja dengan cara yang halus. Ia tidak memaksa, tetapi mengarahkan. Tidak memerintah, namun mengondisikan. Hingga kemudian pembahasan berlanjut pada kebijakan akademik. Tentang pendekatan individual, tentang perlunya menyesuaikan metode pembelajaran dengan latar belakang siswa. Semua terdengar ideal. Namun, ujungnya tetaplah bahwa kebijakan secara spesifik memberikan kelonggaran akademik bagi siswa dengan “kondisi khusus”.

    Tanganku bergerak otomatis untuk mencatat hal seperlunya saja. Sementara pikiranku berusaha mengikuti alur yang semakin kabur. Di satu sisi, aku memahami logika yang dibangun. Di sisi lain, ada sesuatu yang mengganjal, sebuah pertanyaan tentang batas, tentang keadilan, tentang posisi guru dalam pusaran kebijakan semacam ini.

    “Baiklah Bapak-Ibu, terima kasih atas dedikasinya,” Pak Haris menutup sambutannya. “Silakan kembali ke unit masing-masing untuk menyongsong tahun ajaran yang segera datang. Mari terus bekerja sama demi pendidikan yang lebih baik.” Rapat kerja yang diawali dengan pertemuan besar dengan segenap pengurus yayasan dan seluruh stakeholder itu berakhir menjelang siang. Para pengurus yayasan kemudian berdiri, menyalami guru-guru dengan senyum yang sama seperti saat datang. 

    Kalimat-kalimat tulus diungkapkan kepada setiap guru saat mereka menyalaminya. Setidaknya demikian yang terlihat dan terdengar olehku. Namun ketika GSG mulai lengang, aku menyadari bahwa ada gelombang kecil yang tertinggal, tak terlihat, namun perlahan menyebar.

    Di ruang guru, hal itu mulai terasa. Bahasa yang digunakan mulai bergeser. Bahkan demikian halnya dengan Pak Ali selaku kepala sekolah yang lebih sering mengingatkan soal “kebijaksanaan”. Bu Resti dan Pak Galih selaku wakil kepala sekolah makin kompak berbicara tentang “konteks”. Sementara, beberapa rekan guru seperti mulai berhati-hati memilih kata saat berdiskusi, khawatir salah tafsir.

    “Tidak ada perubahan yang drastis ya, Pak Ali?” Pak Hendra menyapa Pak Ali, sekedar basa basi jelang rapat kerja internal SMP Cinta. 

    “Gak ada Pak, yayasan hanya ingin kita lebih lentur aja,” jawab Pak Ali.

    Aku mendengarkan tanpa banyak komentar. Alih-alih memperhatikan pembicaraan mereka, aku justeru fokus dengan berkas yang ada di mejaku. Perubahan sikap pada Pak Ali dan para guru tentunya bukan hasil satu rapat saja. Ia akumulasi dari banyak hal, tekanan dari atas, kekhawatiran akan citra sekolah, dan kelelahan panjang yang belum sempat pulih.

    Kurasa, hari-hari berikutnya akan berjalan dengan ritme yang aneh. Sekolah tampak normal dari luar, namun di dalamnya ada ketegangan halus yang sulit dijelaskan. Beberapa guru mulai mengurangi tuntutan, bukan karena tidak peduli, tetapi karena lelah berdebat dengan sistem yang bergerak ke arah lain.

    Meski aku yakin mampu bertahan dengan caraku sendiri. Namun semua itu membutuhkan energi yang tidak sedikit. Ada hari-hari ketika aku merasa sedang berjalan di tempat, sementara tanah di bawah kakiku perlahan bergeser. Aku tidak jatuh, tetapi juga tidak benar-benar maju. 

    Seperti halnya tumpukan berkas yang sedang kubereskan ini. Aku membuka salah satunya, membaca ulang catatan kecil yang kutulis tentang siswa-siswa yang membutuhkan perhatian lebih. Ada nama Raka yang muncul di sana, bersama beberapa tanda bintang. Aku teringat wajahnya, canggung, sedikit ragu, namun menyimpan keinginan kecil untuk diperhitungkan. Yang bisa kulakukan mungkin hanya menyusun pendekatan yang lebih personal, mencatat perkembangan sekecil apa pun, atau sekedar berbicara. Dan langkah-langkah kecil ini adalah upaya menjaga makna pekerjaanku tetap utuh.

    Entah sampai kapan aku bisa terus menyesuaikan tanpa kehilangan arah. Membedakan batas antara kompromi dengan prinsip. Yang ada hanya kesadaran perlahan bahwa sekolah, seperti ruang-ruang lain dalam kehidupan, tidak pernah sepenuhnya netral. Ia dipengaruhi oleh kepentingan, oleh kekuasaan, oleh angka-angka yang sering kali lebih lantang daripada suara guru.

    Sehingga, suatu sore di tahun ajaran yang akan dimulai nanti, setelah jam pelajaran usai, mungkin aku duduk sendiri di ruang kelas yang sudah kosong. Lalu cahaya matahari masuk dari jendela, membentuk garis-garis panjang di lantai. Dan aku memandangi papan tulis yang masih menyisakan coretan tipis, sisa pelajaran terakhir. Di saat itu aku akan mengingat kembali percakapan sebelum rapat kerja tadi pagi, bahwa dua dunia yang seolah berjalan sejajar, namun jarang benar-benar bertemu.

    “Fik! Rapat akan dimulai lagi. Pak Ali sudah menunggu di meeting room,” Pak Hendra membuyarkan lamunanku.

    “Eh, iya Pak, baik,” aku merapikan meja, lalu berdiri. Di luar, halaman sekolah tampak sepi. Bendera masih berkibar pelan, seolah tidak terpengaruh oleh apa pun yang terjadi di dalam. Langkah kaki kuayun dengan satu keyakinan kecil yang masih kupeluk erat, selama masih ada ruang untuk memilih arah, sekecil apa pun, aku akan tetap berjalan. Meski aku tahu, gelombang itu belum benar-benar reda. Dan di balik layar, ada arus yang terus bergerak, menunggu waktu untuk kembali menguji.

     

     

    Kreator : Khairul Ismi (Roelis Ril)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Ketika Guru Bersabar Chapter 9

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021