Senja di Taman Kota
Nama perempuan itu adalah Raina. Luka pertamanya tidak datang dari perpisahan yang tragis atau pertengkaran hebat, melainkan dari sebuah janji yang perlahan menguap bersama udara sore.
Raina bertemu Arya di tahun kedua kuliah. Mereka bukanlah pasangan yang meledak-ledak, hubungan mereka tumbuh seperti akar, perlahan namun terasa kokoh. Bagi Raina, Arya adalah rumah pertama setelah rumah keluarganya. Mereka berbagi cerita, mimpi, buku, dan yang terpenting Adalah janji masa depan mereka.
“Setelah lulus, kita cari kerja di kota ini. Kita sewa apartemen kecil, yang jendelanya menghadap matahari terbit. Kita berjuang sama-sama, ya, Ra?”
Arya mengucapkan janji itu di bangku taman kota, tempat favorit mereka, di bawah pohon beringin tua yang menjadi saksi bisu. Raina mengangguk, matanya memancarkan cahaya penuh keyakinan. Janji itu bukan sekadar kata-kata, tapi janji itu adalah peta hidup bagi Raina.
Momen Luka
Setelah kelulusan, Arya mendapat tawaran pekerjaan di luar negeri—sebuah kesempatan emas yang tak mungkin ditolak. Awalnya, Raina mendukung penuh. Mereka berjanji akan menjalani Long Distance Relationship (LDR) dan bahwa Arya akan kembali dalam dua tahun untuk menepati janji taman kota mereka.
Bulan pertama, komunikasi keduanya intens. Bulan keenam, telepon mulai jarang. Setahun kemudian, pesan Arya hanya berisi balasan singkat. Raina mulai resah dan merasakan dinginnya Arya. Raina merasakan hatinya terluka meski tak berdarah. Luka itu terasa seperti sayatan kertas, kecil tapi pedih tak terperi, Raina menyadari lukanya bukan karena Arya meninggalkannya, tapi karena Arya telah melupakan mereka dan janji yang pernah mereka ukir Bersama.
Puncaknya terjadi saat Raina melihat unggahan foto di media sosial. Arya tidak sendirian. Di sampingnya, berdiri seorang perempuan asing tersenyum ceria, dan keterangan foto itu adalah: “Home is where you are.”
Saat itu adalah senja di bulan Desember. Raina sedang duduk sendirian di bangku yang sama di bawah pohon beringin tua itu. Ponsel Raina bergetar, tertulis Arya menelepon. Tangan Raina gemetar, perasaan hatinya tak bisa bohong, rasa rindu mendengar suara Arya lagi, namun luka membuatnya takut. Raina berusaha kuat dan mengangkat telpon Arya, seketika terdengar suara Arya.
“Ra… Maaf. Aku nggak bisa balik. Aku sudah putuskan untuk menetap di sini,” suara Arya terdengar tenang, hampir seperti suara orang asing.
Raina tidak menangis histeris. Ia hanya merasakan dadanya berdetak kencang seperti mau pecah. Hatinya seakan tertarik keluar dari tubuhnya hingga menyisakan ruang hampa yang dingin. Raina berusaha tenang dan menjawab.
“Aku mengerti,” jawab Raina sembari mematikan handphone nya. suaranya nyaris berbisik hampir tak terdengar. Seketika itu pula air matanya jatuh menetes mengenai handphone nya. Bibirnya bergetar seakan ingin menjerit mengeluarkan lukanya agar dunia tahu apa yang kini sedang ia rasakan.
Raina termenung sejenak memberikan kesempatan hatinya berbicara “Bukan perselingkuhan yang paling melukai, tapi pengkhianatan terhadap keyakinanku. Luka itu bukan sekadar kehilangan kekasih, tetapi kehilangan kepercayaan pada masa depan yang ia bangun bersama orang lain.
Kedalaman Luka Pertama
Luka hati pertama Raina sangat dalam karena itu adalah kebingungan antara cinta dan realita.
Luka Kepercayaan, yakni Luka karena orang yang paling ia percaya dalam hidupnya, yang ia jadikan jangkar masa depannya, adalah orang yang paling tega merobek dan mencabik-cabik peta kehidupan mereka. Luka Diri adalah Luka karena janji dan mimpi-mimpi mereka ternyata lebih mudah dibuang daripada yang ia bayangkan.
Sejak hari itu, Raina belajar bahwa luka terdalam bukanlah rasa sakit, melainkan mati rasa yang hadir dan datang setelahnya. Ia butuh waktu bertahun-tahun untuk mengobati lukanya, butuh massa yang panjang untuk dapat kembali duduk di bangku taman itu tanpa melihat bayangan Arya, dan untuk membangun rasa percaya lagi bahwa tidak semua janji akan berakhir menjadi kebohongan yang menyakitkan. Akan datang suatu masa, di mana seseorang hadir dengan sejuta impian yang nyata bukan mimpi-mimpi belaka. Luka itu telah mengajarkan Raina bahwa cinta pertama mungkin indah tapi membuat hatimu terluka. Tapi luka karena cinta pertamalah yang membentuk hatimu yang sekarang, hati yang lebih waspada, namun lebih kuat, sekuat baja.
Kreator : Aliyah Manaf
Comment Closed: Kisah Luka Hati Pertama dan Terdalam
Sorry, comment are closed for this post.