KISAH INI TERPATRI DALAM HATI
Tak Kuduga sama sekali, sore ini aku bertemu dengan yu Sitin panggilan akrabku di masa kecil. Dia teman satu kelas selama 6 tahun menempuh pendidikan di jenjang Sekolah Dasar. Persahabatanku dengan yu Sitin terbilang akrab karena selain teman satu angkatan dan rumahnya lumayan dekat juga masih terbilang saudara.
Begitulah tekad dan cita-cita di hati kami memaksa kami untuk saling berpisah demi mencari hidup dan kehidupan sendiri-sendiri.

Selepas dari SD tahun 1993 aku merantau ke desa lain ke pusat kota kecamatan untuk melanjutkan sekolah jenjang SMP. Sekolah SMPN 1 Ngrayun saat itu adalah satu-satunya sekolah SMP yang ada di kecamatan kami, maka akupun berdomisili numpang di rumah orang yang dekat dengan sekolah. Karena jarak dari rumah kedua orangtuaku sangat jauh dan tidak memungkinkan untuk ditempuh setiap hari pulang pergi dari sekolah ke rumah.
Begitulah aku sudah asyik dan enjoy dengan perjalanan hidupku sendiri dan begitu pula yu Sitin juga menapaki jalan hidupnya sendiri.
Setelah sekian puluh tahun kami tidak bertemu dan tidak pula saling berkunjung atau saling mencari satu sama lain. Ndilalah kersaningalah (Red, atas kehendak Allah) sore ini kami dipertemukan lewat video call. Berkat canggihnya teknologi masa kini walaupun tidak bertemu secara langsung berdekatan secara fisik atau dalam istilah jaman sekarang bertemu secara offline kamipun bisa berkomunikasi saling melihat dan saling bercerita satu sama lain melalui video call yang bisa berlangsung dengan lancar.
Sore itu aku sedang video call emakku yang ada di rumah di desa kelahiranku. Lama sudah aku tak pulang kampung sambang silaturahmi kepada emakku. Sebagai sarana aku lepas rindu dengan emakku adalah dengan video call. Ketika aku sedang asyik ngobrol dengan emak, tiba-tiba datanglah yu Sitin yang sudah bertahun-tahun juga tidak bertemu dengan emakku.
Kemudian aku lanjutkan obrolan dengan yu Sitin yang ternyata sekarang sudah hampir mempunyai cucu dan sekarang berdomisili di Madiun. Ternyata yu Sitin merantau juga meninggalkan kampung halaman kami di desa Cepoko-Ngrayun. Sebagaimana akupun merantau meninggalkan kampung halaman dan berdomisili di Gresik.
Dalam obrolan kami yang singkat tersebut paling seru ketika kami saling mengungkapkan kenangan masa lalu. Ternyata peristiwa-peristiwa yang kami alami di masa kecil sama-sama terpatri dalam hati.
Seolah memutar ulang video yang telah terjadi dengan runtut dan detail terungkap dan saling melengkapi. Masih teringat dengan jelas di mana setiap pulang sekolah dulu kami mampir di sawah orang, dan mengais-ngais ubi jalar yang tersisa di dalam tanah, ubi yang tersisa dari panannya para petani. Ubi jalar yang tertinggal di sawah kami ambil dan kami garuk-garuk menggunakan tangan mungil kami. Lalu kami cuci di sungai dan langsung kami makan mentah-mentah.
Selain ubi jalar kadang kami mampir di kebun milik oeng lain, dan kami luru miri alias mengambil miri punya orang yang terjatuh dari pohonnya karena sudah matang. Kemiri tersebut kami kupas menggunakan batu dengan cara dipukul-pukul pakai batu, lalu langsung kami makan kemiri yang masih mentah itu.
Pernah juga kami mampir di kebun orang dan memetik jambu air yang banyak buahnya. Buah yang begitu banyak dan lebat itu dibiarkan berjatuhan. Aku bersama anak-anak yang sama-sama pulang sekolah banyak yang mengambili jambu tersebut. Jika musim jambu berbuah kami cepet-cepetan pulang duluan untuk cepet-cepetan ambil jambu tersebut.
Dan yang lebih seru lagi, pernah suatu hari sepulang dari sekolah yu Sitin langsung aku ajak mampir ke rumahku. Siang itu rumahku sepi. Bapak dan emakku tidak ada di rumah. Kemudian aku ajak yu Sitin untuk makan. Ketika makan sedang berlangsung aku berdiri mencari-cari lauk. Barangkali ada lauk yang bisa dimakan sebagai pelengkap sambal mentahku. Aku panjat pakai dingklik dan aku tarik-tarik tempat penyimpanan makanan yang terbuat dari anyaman bambu dan digantung di atas dapur. Antara sampai dan tidak, tanganku menemukan seekor ikan pindang dalam besek yang disimpan emak di atas dapur tersebut. Aku berusaha keras untuk meraihnya, dan alhamdulillah berhasil aku ambil separuh ekor dari pindang tongkol yang belum dimasak itu. Tanpa berpikir panjang aku dan yu Sitin makan tongkol yang masih mentah tersebut.
Itulah sebagian kisah indah yang kami lalui di masa kecil, ternyata sampai usia 45 tahun ini masih teringat jelas, terpatri dalam hati. Syukur alhamdulillah masa kecilku yang aku lalui dengan penuh kegembiraan dengan penuh petualangan luar biasa yang mengantarkan aku bisa seperti sekarang ini. subhanallah, alhamdulillah.
################################
Kreator : Endah Suryani, S. Pd AUD
Comment Closed: Kumpulan Cerita Unik Part 10
Sorry, comment are closed for this post.