Alam yang kita pijak ini adalah milik Allah, yang diberikan sepenuhnya kepada manusia untuk dijaga, dirawat, dikembangkan sebagai bentuk kepedulian manusia dan tanggungjawab atas apa yang telah diberikan untuk selalu disyukuri dan dinikmati agar manusia memperoleh nikmat hidup berdampingan sebagai satu Saudara yang salaing menumbuhkan kedamaian di muka bumi.
Kelestarian alam yang terjaga akan menambah keindahan yang berdampak pada munculnya nilai seni yang tidak ternilai harganya, seperti keindahan gunung, hutan, lautan yang akan memberikan tempat dan kelestarian bagi manusia sebagai penghuni dalam menjaga dan merawat serta memberikan dampak positif untuk saling menumbuhkan kepercayaan memanfaatkan alam dengan penuh rasa tanggung jawab bukan saling merugi akan tetapi saling menguntungkan sebagai simbiosis mutualisme.
Hutan yang tetap terpelihara dengan baik akan memberikan kayu, oksigen, dan habitat berbagai spesies secara seimbang dan berkesinambungan untuk hidup saling berdamai, sehingga air bersih dan tetap terpelihara akan terus tersedia dan dapat dimanfaatkan oleh generasi anak cucu di masa yang akan datang. Satu spesies mengalami gangguan atau punah, hal ini dapat mengakibatkan dampak berantai pada organisme lainnya, termasuk manusia. Perilaku manusia yang kecil dan sederhana bagi setiap individu jika dilakukan secara kolektif akan sangat berpengaruh sangat besar terhadap kelangsungan hidup bersama apabila dilaksanakan dengan sadar dan benar serta penuh rasa tanggung jawab. Islam sebagai agama rahmatan lil alamin telah menegaskan kepada umatnya untuk senantiasa menjaga lingkungan untuk kemaslahatan dan rahmat di bumi. Perintah ini telah ditegaskan dalam ayat-ayat suci Al-Qur’an. Menjaga kelestarian ciptaan Allah ini juga masuk dalam kategori ibadah yang dicintai dan akan mendapat pahala dari Allah swt. Hal ini bisa kita baca secara bersama-sama dalam SQ Al-A’raf :56 berbunyi:
وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ
Artinya: “Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.”
Kita dapat merefleksikan kegiatan manusia khususnya di Kota Cilegon, lebih khusus di daerah Bagendung Curug Kota Cilegon, apa yang terjadi dengan pegunungan yang indah di daerah tersebut yang saat ini kondisinya seperti apa?
Daerah tersebut, saat ini terjadi pengerukan pasir dan sebagai tempat pembuangan sampah kota Cilegon. Apabila musim hujan tiba, bau menyengat dan tidak sehat menyebar, bahkan banyak warga sekitar yang mengeluh karena bau dan genangan air di sekitar wilayah tersebut. Orang orang Cilegon dulu dapat menikmati gratis dengan jalan sehat atau bersepeda santai di sekitar gunung tersebut, saat ini menjadi tempat yang membahayakan dan beresiko tingkat tinggi, bahkan apabila terjadi hujan perumahan BCA ( Bagendung Cilegon Asri ) menjadi tempat waspada rawan banjir dan bau tak sedap yang selalu menjadi tingkat kewaspadaan kesehatan pernafasan. Apabila musim kemarau menjadi panas dan sampah yang bertumpuk yang mudah tersulut kebakaran yang berakibat pada gangguan pernafasan karena asap yang membumbung tinggi.
Saat ini daerah Curug Bagendung dapat dikategorikan sebagai wilayah yang mengalami “Krisis Tempat Pengolahan Akhir (TPA).” Dibutuhkan kerjasama dan kesadaran masing-masing individu untuk merefleksikan dan memberikan kesadaran akan peristiwa 20 tahun yang lalu tepatnya di daerah Bandung TPA Leuwigajah meninggalnya 100 orang akibat “Tsunami Sampah” tanggal 21 Februari 2005. Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) Bagendung kota Cilegon mengalami kebakaran pada 16 September 2024 pkl. 21.00 WIB hingga 17 September 2024 korban 10 orang.
Manusia wajib ingat akan teguran Allah melalui peristiwa-peristiwa fenomena alam TPSA Bagendung Kota Cilegon dan peristiwa alam yang lain yang terjadi di Kota Cilegon untuk mawas diri dan merenungkan kembali melalui ayat Al Qur’an dalam Surat Al Baqarah: 30 yang berbunyi:
وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اِنِّيْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاۤءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ ۗ قَالَ اِنِّيْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ
artinya:
“(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan mensucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”
Langkah apa yang harus dilakukan oleh masing-masing individu sebagai umat beriman Islam:
- Kesadaran akan kepercayaan yang diberikan kepada manusia untuk merawat bumi serta alam seisinya
- Bergotong royong meningkatkan kepedulian peduli lingkungan
- Selalu bersyukur akan nikmat yang diberikan oleh Allah akan alam semesta.
Langkah apa yang harus dilakukan oleh pemerintah kota Cilegon sebagai pemimpin:
- Menyiapkan lokasi dan anggaran untuk fasilitas pengolahan.
- Menyiapkan kontrak kerjasama dengan offtaker atau pabrik-pabrik yang ada di Cilegon.
- Melakukan Pengadaan Sistem dan Teknologi Pengolahan.
- Menyiapkan Kontrak Operator dan Pemeliharaan Teknologi.
Insya Allah dengan selalu bersyukur dengan menjaga dan memelihara alam yang ada dengan penuh rasa tanggungjawab dapat memunculkan nikmat-nikmat yang lain, serta melaksanakan regulasi yang ada terkait dengan pengelolaan sampah UU No. 18 tahun 2008. Inilah Pegangan hidup kita untuk selalu ingat dan merefleksikan dalam mengelola alam ini dalam Al Qur’an Surah Shad : 27 yang berbunyi:
وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا ۗذٰلِكَ ظَنُّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا فَوَيْلٌ لِّلَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنَ النَّارِۗ
Artinya:
“Kami tidak menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya secara sia-sia. Itulah anggapan orang-orang yang kufur. Maka, celakalah orang-orang yang kufur karena (mereka akan masuk) neraka.”
Terima kasih atas perhatian dan kerjasama yang baik, mari kita renungkan betapa Allah selalu mengingatkan hamba yang dicintai-Nya dalam Surah Ar Rahman:13.
Referensi:
Terjemahan Syaamil Al Qur’an, SYGMA, Jakarta, 2009.
Tafsir Al-Qur’an Tematik, Badan Litbang dan Diklat Kemenag RI, Jakarta, 2009
Dari Krisis TPA Ke Solusi Berkelanjutan, Dini Trisyanti dan Djoko Heru Martono, Sustainable Waste Indonesia (SWI), Jakarta, 2024
https://islam.nu.or.id/ilmu-al-quran/9-ayat-al-qur-an-tentang-menjaga-lingkungan-x4Acv
Kreator : A. Hendrid Suko Prastyono
Comment Closed: LESTARI ALAM KU CURUG BAGENDUNG KOTA CILEGON
Sorry, comment are closed for this post.