
“Aku Rani, yang dulu pernah mimpi memiliki anak yang sukses, tak ingin meniru cara asuh yang kuterima dulu. api hidup tidak berjalan di atas niat baik saja. Ia berjalan di atas lelah, tuntutan, ego, dan luka-luka yang tak sempat disembuhkan. Pelan-pelan aku berubah menjadi seseorang yang tidak kukenali. Dan tanpa sadar, aku mewariskan sesuatu yang justru ingin kuhindari.“
—-
**Ini adalah awal, bukan akhir**
Perdebatan tentang berhenti bekerja atau tetap bertahan di kantor setiap hari berputar di kepalaku. Hatiku ingin berhenti, tapi akalku menahan: masih ada cicilan bank, biaya kuliah anak-anak, dan tatapan orang-orang jika aku benar-benar mundur.
Aku bicarakan dengan suamiku. Ia berkata pelan,
“Tidak apa-apa kalau Bunda merasa lebih damai. Ayah dukung.”
Lalu ia menambahkan jujur, “Hanya saja Ayah cuma bisa memberi nafkah semampu Ayah.”
Aku lega. Bukan karena semuanya aman, tapi karena aku tidak sendirian.
Aku bertanya pada anak-anak. Yang menjawab hanya si bungsu.
“Kalau supaya Bunda tetap sehat, adek nggak apa-apa Bunda berhenti kerja.”
Aku juga meminta izin ibu mertuaku. Beliau mengizinkan. Maka aku anggap semua semesta kecil di sekitarku telah memberi restu.
Setelah Idul Fitri, aku resmi berhenti bekerja — melalui proses panjang hampir lima bulan. Atasan dan rekan kerja mencoba menahanku, menyodorkan alasan logis dan masa depan yang tampak aman.
“Sayang pekerjaanmu.”
“Gajimu sudah lumayan.”
“Nanti kamu menyesal.”
Tapi keinginanku tak bergeser. Bagiku, ini keputusan final.
Resign tidak pernah ada dalam rencana hidupku. Aku selalu membayangkan akan pensiun dengan rapi, mendapat penghargaan masa kerja, lalu pulang dengan bangga. Tapi hidup ternyata tidak tunduk pada rencana. Ia menuntut kejujuran.
Kondisi Hanin dan jiwaku sendiri seperti sentilan lembut dari Allah: untuk apa mempertahankan sesuatu yang membuat mental rapuh dan keluarga ikut runtuh?
Maka aku memilih pulang.
Akhirnya dengan resmi setelah Idul Fitri ku sandang status baru – Ibu Rumah Tangga.
—–
Hari-hari pertamaku sebagai ibu rumah tangga terasa… ringan. Sunyi, tapi menenangkan. Tidak ada target. Tidak ada rapat. Tidak ada tekanan jam.
Aku menata rumah perlahan. Menata tanaman. Memasak tanpa tergesa. Menyeduh teh tanpa merasa bersalah. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku bernapas tanpa dihitung.
Aku pikir: ini awal yang baik.
Lalu datang kabar itu.
Hanin dinyatakan lulus seleksi mahasiswa baru di sebuah universitas negeri. Kampus kebanggaan kota kami. Yang disebut-sebut orang sebagai “tiket masa depan”.
Aku ikut senang. Ikut bangga. Ikut sibuk.
Aku siapkan semuanya: uang dari pesangon, kost, perlengkapan, pakaian, alat mandi, sprei, rice cooker kecil, kipas angin kecil. Aku pikir aku sedang menjadi ibu yang baik.
Tapi ada satu yang tidak kusiapkan sungguh-sungguh.
Hatinya.
Hari keberangkatan datang. Kami mengantar Hanin ke kosnya. Wajahnya datar. Tidak antusias, tidak juga menolak. Aku mengira itu hanya gugup.
“Mbak pasti senang nanti,” kataku sambil tersenyum.
Ia mengangguk kecil.
Minggu pertama ia jarang menelepon. Minggu kedua mulai sering diam. Minggu ketiga ia mengeluh pusing, mual, sulit tidur. Aku pikir itu adaptasi.
Tiga bulan kemudian, ia pulang.
Tidak sambil menangis. Tidak sambil marah. Ia pulang seperti orang yang kehabisan tenaga.
“Bun… Hanin mau berhenti kuliah.”
Aku terdiam.
“Kenapa?”
“Aku gak sanggup.”
Aku ingin bertanya seribu hal. Tapi yang keluar hanya:
“Kenapa gak bilang dari dulu kalau berat?”
Ia menggeleng.
“Aku gak mau bikin Bunda kecewa.”
Kalimat itu menghancurkanku.
Dalam tiga bulan, semua yang kusiapkan runtuh. Kampus ditinggalkan. Kost dikosongkan. Buku tak dibuka lagi.
Sejak itu Hanin hanya di kamar.
Ia keluar hanya untuk mandi. Makan pun sering kutinggal di depan pintu. Ia jarang bicara. Jarang menatap.
Aku seperti kehilangan anakku di dalam rumahku sendiri.
Dan aku… hancur.
Bukan hanya sedih. Tapi campur aduk: bersalah karena tak peka, malu karena gagal, kecewa pada diriku, marah pada keadaan, marah pada diriku sendiri.
Aku ingin menyalahkan siapa saja. Sekolah. Lingkungan. Diriku dulu. Diriku sekarang.
Menyalahkan memberi rasa lega sesaat. Seperti meletakkan beban di punggung orang lain agar punggungku bisa bernapas sebentar. Tapi setelah itu… tetap sakit. Tetap hampa. Tetap sepi.
Aku mulai sadar, menyalahkan hanyalah bentuk lain dari penolakan: menolak menerima bahwa ada hal-hal yang tidak bisa kukendalikan, betapapun aku ingin.
Secara psikologis, aku baru paham kemudian, bahwa otakku sedang mencari sense of control. Ketika hidup terasa runtuh, manusia butuh sesuatu atau seseorang untuk dijadikan sebab. Karena kalau tidak ada sebab, maka artinya aku harus menerima bahwa hidup memang tidak selalu adil, tidak selalu bisa dijelaskan, dan tidak selalu bisa diselamatkan dengan niat baik.
Dan itu menakutkan.
Lebih menakutkan daripada rasa bersalah.
Rasa bersalah setidaknya memberiku ilusi: “Ini salahku, jadi seharusnya bisa ku perbaiki.”
Padahal tidak semua luka bisa diperbaiki. Ada yang hanya bisa dipeluk. Ditemani. Dibiarkan sembuh sendiri.
Aku melihat Hanin, dan aku melihat diriku sendiri bertahun-tahun lalu.
Anak yang tampak baik-baik saja, tapi di dalamnya penuh kebingungan. Anak yang tidak berani berkata “aku tidak sanggup” karena takut mengecewakan. Anak yang belajar lebih dulu menyenangkan orang lain daripada jujur pada dirinya sendiri.
Aku dulu seperti itu. Dan tanpa sadar, aku mewariskannya.
Bukan dalam bentuk kata-kata. Tapi dalam cara aku hidup. Dalam cara aku menekan diri. Dalam cara aku mengorbankan perasaan demi terlihat kuat.
Aku tidak pernah bilang pada Hanin bahwa lelah itu wajar.
Aku tidak pernah benar-benar memperlihatkan bahwa gagal itu manusiawi.
Yang dia lihat adalah ibunya yang selalu bertahan, selalu menahan, selalu menguat.
Dan mungkin di matanya, cinta itu berarti kuat. Bukan jujur.
Secara psikologis, aku paham sekarang: anak tidak belajar dari nasihat, tapi dari contoh yang hidup. Hanin tidak meniru ucapanku — ia meniru caraku menahan diri.
Dan itu menyakitkan.
Secara spiritual, aku juga mulai mengerti bahwa Allah tidak sedang menghukumku. Ia sedang membukakan lapisan-lapisan yang selama ini kututupi dengan kesibukan, prestasi, dan peran.
Aku terlalu sibuk menjadi “ibu yang ideal” sampai lupa menjadi ibu yang hadir.
Aku terlalu sibuk mengamankan masa depan sampai lupa menemani masa kini.
Dan mungkin Allah mencabut sesuatu bukan untuk menyiksaku, tapi untuk menyelamatkanku dari arah yang salah.
Dalam Al-Qur’an Allah tidak pernah menjanjikan hidup yang mulus. Yang dijanjikan-Nya hanya satu: Dia selalu bersama orang-orang yang sabar.
Bukan yang sukses.
Bukan yang berhasil.
Bukan yang menang.
Tapi yang sabar.
Dan sabar bukan berarti diam tanpa rasa. Sabar adalah berani duduk di dalam rasa tanpa lari.
Aku belajar itu sekarang.
Aku belajar di atas sajadah dengan air mata yang tidak perlu disembunyikan. Aku belajar mengizinkan diriku merasa gagal tanpa harus menghakimi diri habis-habisan. Aku belajar bahwa menjadi ibu bukan soal mencetak hasil, tapi soal menemani proses — bahkan proses yang menyakitkan.
Aku mulai berhenti bertanya, “Di mana salahnya?”
Dan mulai bertanya, “Apa yang sedang diminta Tuhan dariku sekarang?”
Jawabannya pelan, tapi jelas: hadir.
Bukan memperbaiki.
Bukan memaksa sembuh.
Bukan menyeret kembali ke jalur yang menurutku benar.
Hadir. Duduk di depan pintu kamar Hanin.
Mengetuk pelan. Mengatakan, “Bunda di sini.”
Tanpa ceramah.
Tanpa target.
Tanpa solusi instan.
Dan disitulah aku mulai mengerti: mungkin ini bukan tentang Hanin berhenti kuliah. Tapi tentang aku berhenti lari.
Berhenti lari dari rasa bersalah.
Berhenti lari dari luka masa lalu.
Berhenti lari dari diriku sendiri.
Karena pada akhirnya, yang paling ingin Allah sembuhkan bukan hanya anakku — tapi ibunya.
Dan aku… aku sedang dalam proses itu.
Aku lalui semua ini dengan tidak mudah, konflik bukan hanya diriku sendiri, tapi juga dengan suamiku. Awalnya aku kira kami berdua akan sama-sama berdiri di sisi Hanin dengan langkah yang seirama. Nyatanya tidak. Kami berdiri di sisi yang sama — tapi dengan cara yang berbeda, dan perbedaan itu perlahan berubah menjadi jarak.
Aku masuk ke mode yang sangat aktif. Aku membaca artikel tentang depresi remaja, aku menonton video tentang trauma, aku mencari konselor, aku menyusun jadwal, aku mencatat pola tidur Hanin, pola makannya, jam-jam ia keluar kamar. Aku menyiapkan teh hangat. Aku menyiapkan makanan favoritnya. Aku mengetuk pintu kamarnya hampir setiap hari.
Yang tak kalah pentingnya, aku juga berdoa. Banyak. Panjang. Serius.
Aku berdoa seperti orang yang sedang menahan tenggelam: erat, mendesak, penuh harap.
Sementara Ayah … memilih diam.
Bukan karena tidak peduli. Tapi karena ia percaya bahwa memaksa hanya akan melukai. Ia percaya waktu akan menyembuhkan. Ia percaya bahwa Hanin butuh ruang.
“Biarkan dia,” katanya suatu malam. “Kalau dia mau keluar kamar, dia akan keluar sendiri.”
Aku mengangguk, tapi di dalam dadaku ada badai.
Bagaimana aku bisa membiarkan anakku tenggelam dalam diam? Bagaimana aku bisa tenang melihatnya tidur siang sampai malam, bangun tengah malam, makan sekali sehari, hidup terbalik, dan aku harus pura-pura ini hanya fase?
Bagaimana aku bisa membiarkan itu?
Aku merasa seperti berdiri di tengah rumah yang terbakar, sementara orang lain berkata, “Tenang, api itu akan padam sendiri.”
Dan aku mulai merasa sendirian.
Bukan karena aku benar-benar sendiri. Tapi karena cara mencintai kami berbeda, dan tidak ada yang mengajarkan bagaimana menyelaraskannya.
Aku ingin bergerak. Ayahnya ingin menunggu.
Aku ingin menyelamatkan. Ayahnya ingin memberi ruang.
Aku ingin mengintervensi. Ayahnya ingin mempercayai.
Dan perbedaan itu mulai terasa seperti pertentangan.
Kami jarang bertengkar keras. Tidak ada teriakan. Tidak ada bantingan pintu. Yang ada justru sunyi yang panjang. Kalimat yang dipotong. Pembicaraan yang digantung.
Aku berkata, “Aku mau bawa Hanin ke psikolog.”
Dia menjawab, “Jangan dulu. Takutnya dia merasa dianggap sakit.”
Aku berkata, “Aku mau atur jam tidurnya.”
Dia menjawab, “Jangan dipaksa. Nanti malah melawan.”
Aku berkata, “Ini tidak sehat.”
Dia menjawab, “Ini proses.”
Dan aku merasa: proses siapa? Proses apa? Berapa lama?
Di titik tertentu, aku bukan lagi marah pada sikapnya. Aku marah karena aku merasa tidak ditemani.
Aku merasa sendirian menggendong kegagalan ini. Sendirian memikul rasa bersalah. Sendirian memikirkan masa depan anak kami.
Dan itu membuatku lelah bukan main.
Suatu malam aku menangis dalam tahajudku. Bukan karena Hanin. Tapi karena aku merasa tak ada tempat bersandar selain Allah.
Aku tidak hanya kehilangan anak yang dulu ceria.
Aku juga kehilangan pasangan yang dulu terasa satu tim.
Bukan karena ia berubah menjadi buruk, tapi karena kami masuk ke dalam krisis dengan bahasa cinta yang berbeda.
Secara psikologis, aku paham kemudian: aku berada di mode fight. Melawan keadaan. Melawan rasa takut. Melawan ketidakberdayaan.
Suamiku berada di mode freeze. Membeku. Menunggu. Menahan. Bertahan agar tidak memperparah.
Dua mekanisme bertahan hidup yang sah — tapi bertabrakan.
Dan secara spiritual, aku sadar: aku menuntut hasil, sementara Tuhan menuntut iman.
Aku ingin anakku “keluar dari goa”. Tuhan ingin aku masuk ke goa itu bersamanya.
Aku ingin keadaan berubah. Tuhan ingin aku berubah.
Dan itu benturan yang tidak nyaman.
Aku ingin berdoa dengan hasil. Suamiku berdoa dengan pasrah.
Aku ingin mukjizat. Ia ingin waktu.
Aku ingin tanda. Ia ingin tenang.
Dan aku mulai bertanya dalam doaku bukan lagi, “Ya Allah sembuhkan anakku,” tapi “Ya Allah ajari aku mencintai dalam ketidakberdayaan.”
Karena ternyata, bagian tersulit dari menjadi orang tua bukan saat anak kita sakit, tapi saat kita tidak bisa menyembuhkan.
Bukan saat anak kita jatuh, tapi saat kita tidak bisa mengangkat.
Dan bukan saat anak kita tersesat, tapi saat kita harus mempercayai bahwa Tuhan menemaninya bahkan di tempat yang tidak bisa kita jangkau.
Aku masih ingin berusaha. Aku masih ingin memperjuangkan Hanin. Aku masih ingin membawanya keluar dari goanya.
Tapi aku belajar satu hal pelan-pelan:
Aku tidak bisa menariknya keluar dengan tanganku.
Aku hanya bisa menyalakan lampu di mulut goa itu — dan duduk di sana, menunggu ia siap berjalan sendiri.
Dan mungkin… mungkin itulah cinta yang paling dewasa.
Bukan yang menyelamatkan. Tapi yang menemani.
Bukan yang mengendalikan. Tapi yang mempercayai.
Dan di antara aku yang gelisah dan suamiku yang diam, aku mulai belajar berdiri di tengah: berusaha, tapi berserah.
Dan itu… jauh lebih sulit daripada sekadar berdoa atau sekadar diam.
Tapi mungkin, itulah jalan yang sedang Tuhan ajarkan pada kami.
Pelan.
Tidak Indah.
Tapi jujur.
Aku berharap kami semua akan sembuh dari luka ini.
Luka yang justru hadir dalam cinta.
TAMAT
Kreator : Dian Puspita (Puspa Raito)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Luka Dalam Cinta_Bab 6
Sorry, comment are closed for this post.