Malam itu, hujan turun seperti tirai kelabu yang menutup panggung dunia. Di sebuah rumah sederhana di tepi kota, dua sahabat lama bertemu kembali setelah puluhan tahun terpisah: Hasan, seorang lelaki paruh baya yang masih berjuang di tengah peliknya hidup, dan Arman, seorang pria renta yang telah memasuki kuartal terakhir perjalanannya.
Di ruang tamu beraroma kopi hitam, mereka duduk berhadapan. Wajah Hasan tampak letih, matanya sembab menyimpan beban yang ia sembunyikan dari banyak orang. Sedangkan Arman, meski rambutnya memutih dan tangannya gemetar, sorot matanya justru lebih tenang—seolah ia sudah berbaikan dengan waktu.
—
“Manusia itu aneh, Man,” suara Hasan serak, “dari luar terlihat baik-baik saja, tertawa, bekerja, tersenyum di depan orang. Tapi di dalam, hatinya bisa retak seribu kali. Tak ada satu pun manusia di dunia ini yang benar-benar baik-baik saja.”
Arman menatapnya, lalu tersenyum tipis. “Aku mengerti, San. Kau sedang berperang dengan dirimu sendiri, ya?”
Hasan mengangguk pelan. “Sejak ayah meninggal, aku merasa dunia menindih pundakku. Setiap hari aku berjuang, tapi kadang aku ingin menyerah. Luka itu tak pernah sembuh. Dan… aku lelah berpura-pura kuat.”
Arman menarik napas panjang, lalu meneguk kopinya. “Aku pun punya luka, San. Tapi aku belajar sesuatu: luka itu bukan musuh. Ia adalah guru yang keras kepala. Ia mengajarkan kita arti sabar, arti pasrah, arti kecilnya kita di hadapan Allah.”
Hasan menghela napas. “Tapi sakit ini… kadang membuatku merasa sendirian.”
“Jangan pernah merasa sendirian,” jawab Arman pelan, “setiap orang sedang memanggul bebannya masing-masing. Ada yang gelisah soal kesehatan, ada yang dihantui masa lalu, ada yang menunggu ajal dalam sepi. Bedanya hanya pada cara mereka menutupinya. Kau tidak sendiri, San. Dan percayalah… badai akan reda.”
—
Hasan terdiam. Matanya menatap kosong pada cangkir kopi yang hampir dingin. Dalam dirinya, suara-suara berdesakan, berebut menjadi yang paling nyaring.
“Aku lelah… begitu lelah. Aku seperti berlari di lorong panjang tanpa cahaya. Setiap hari bekerja, tersenyum pada dunia, padahal jiwaku runtuh perlahan. Aku ingin berhenti, tapi ada wajah-wajah yang menungguku pulang. Wajah anak-anakku, istriku. Mereka percaya aku kuat, padahal aku rapuh. Apakah aku penipu? Ataukah memang begini seharusnya seorang ayah—berpura-pura tegar meski hatinya koyak?
“Mengapa Engkau beri aku ujian sebesar ini, Ya Allah? Bukankah aku sudah berusaha sekuat mungkin? Mengapa rezeki begitu sempit, mengapa luka tak juga sembuh? Kadang aku ingin berteriak, kadang aku ingin lari meninggalkan semuanya. Tapi ke mana aku bisa pergi? Bahkan aku tak bisa lari dari diriku sendiri.”
Air mata menggenang di pelupuk matanya, tapi ia tahan. Hasan bukan tipe lelaki yang suka menangis di hadapan orang. Namun malam itu, di depan sahabat lamanya, dinding yang ia bangun retak.
—
Arman menatap jendela yang berkabut, lalu berbisik, “Aku ini, San… sudah berada di kuartal terakhir hidupku.”
Hasan menoleh dengan dahi berkerut.
“Dulu aku mengira masa tua itu masih jauh. Sekarang aku di sini, dengan sendi yang nyeri, dengan tenaga yang berkurang. Teman-teman sebayaku sudah pensiun, rambut memutih. Beberapa sudah tiada. Aku masih bertanya-tanya: ke mana perginya semua tahun itu?”
Hasan menelan ludah. Kata-kata itu menusuk hatinya. Ia sadar, dirinya pun perlahan mendekati masa itu—entah cepat, entah lambat.
Arman melanjutkan, “Di kuartal terakhir ini, San, aku menyadari sesuatu. Hidup ini bukan soal apa yang kita kumpulkan—uang, jabatan, rumah. Semua itu akan tertinggal. Yang abadi adalah apa yang kita sebarkan: kebaikan, kasih sayang, doa. Itu yang akan menjadi cerita setelah kita tiada.”
—
Namun tiba-tiba, Hasan meraih kepalanya, wajahnya menegang. “Tapi bagaimana bila aku gagal, Man? Bagaimana bila aku tak sempat memberi yang terbaik untuk keluargaku? Bagaimana jika aku mati dalam kekalahan, bukan kemenangan?”
Arman menatapnya dengan mata yang berkilat. “San, kemenangan sejati itu bukan soal kaya atau miskin, berhasil atau gagal di mata manusia. Kemenangan sejati adalah ketika kau kembali kepada Allah dengan hati yang berserah. Bahkan bila hidupmu penuh luka, selama kau tak berhenti berjalan menuju-Nya, kau sudah menang.”
“Tapi aku takut.”
“Aku pun takut, San. Tapi bukankah kita punya doa?” Arman menutup mata, bibirnya bergetar melafalkan,
اللَّهُمَّ أَجِرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَاخْلُفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا
“Ya Allah, berilah aku pahala dalam musibah ini, dan gantikanlah dengan sesuatu yang lebih baik darinya.”
Hasan menunduk. Doa itu terasa seperti kunci yang membukakan pintu di hatinya.
—
“San,” Arman berkata pelan, “waktu itu seperti bayangan. Saat kau kejar, ia menjauh. Saat kau berhenti, ia merangkulmu. Kita tak bisa melawan arusnya. Tapi kita bisa memilih bagaimana mengisinya.”
Hasan menatapnya. “Bagaimana kalau aku belum sempat?”
“Lakukan hari ini. Katakan cinta pada orang yang kau sayangi hari ini. Maafkan yang pernah menyakitimu hari ini. Karena kita tak tahu di kuartal mana kita sebenarnya berada. Bisa jadi kau masih di pertengahan, bisa jadi besok adalah garis finishmu. Siapa yang tahu?”
Hasan terdiam lama. Kata-kata itu menamparnya lebih keras daripada kesedihan yang ia simpan.
—
Malam kian larut. Hujan perlahan reda, menyisakan bau tanah yang basah. Hasan merasakan dadanya lebih ringan, seolah beban yang menindihnya ikut larut bersama aliran hujan.
“Man,” katanya lirih, “kau tahu? Aku merasa baru saja belajar ulang arti hidup.”
Arman tersenyum. “Itu bukan aku yang mengajarimu, San. Itu hatimu yang akhirnya mendengar.”
Ia menatap lampu jalan yang berkedip. Dunia di luar rumah masih kacau, masih penuh ujian, tapi hati Hasan kini menemukan jangkar: Allah adalah sebaik-baik tempat bersandar.
Mereka berdua terdiam,
lampu jalan berkedip lesu—
bayang bergetar.
Dunia masih bergemuruh,
namun hati telah teduh.
Dalam sunyi malam,
Hasan menambatkan jiwa
pada Yang Kekal.
Ia temukan pelabuh,
saat doa jadi layar tenang.
Tiada angin bisa runtuh
bagi hati yang pasrah penuh;
karena Tuhan—
adalah jangkar segala arus,
tempat seluruh lelah berlabuh.
—
Sebelum berpisah, Arman menggenggam tangan sahabatnya erat. “Ingat, San. Hidup ini seperti lomba lari. Di garis finish nanti, bukan medali emas yang kita bawa, tapi hati yang ridha. Gaspol sampai akhir, tapi jangan lupa: yang paling dinilai adalah caramu berlari, bukan seberapa cepat kau sampai.”
Hasan mengangguk. “Gaspol sampai finish…” ia mengulang, lalu tersenyum tipis. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, senyum itu bukan pura-pura.
Malam itu, dua sahabat yang sama-sama terluka akhirnya mengerti: tidak ada manusia yang benar-benar baik-baik saja. Tapi justru karena itulah, mereka bisa saling menguatkan. Hidup memang singkat, hidup memang penuh luka. Namun di balik setiap luka, Allah menyimpan cahaya.
Dan saat akhirnya cahaya itu menyinari hati, barulah kita benar-benar siap untuk pulang.
Kreator : Mariza
Comment Closed: Luka yang Tak Terlihat
Sorry, comment are closed for this post.