KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • Berita Alineaku
  • Bisnis
  • Branding
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Moralitas
  • Motivasi
  • Novel
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Politik
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Maaf ya…

    Maaf ya…

    BY 25 Agu 2024 Dilihat: 131 kali
    Maaf ya…_alineaku

    Hujan deras membungkus malam dengan keheningan yang tak terduga. Di kafe kecil yang hampir sepi, kita duduk berhadapan, terpisah oleh meja kayu yang penuh dengan bekas goresan waktu. Waktu yang begitu cepat berlalu, sementara kita, dua jiwa yang pernah begitu dekat, kini seperti asing di antara riuhnya kesibukan yang tak pernah mau mengalah.

    “Maaf terlambat datang, hujan deras,” katamu sambil melepas mantel yang basah kuyup. Suaramu, meski ramah, mengandung nada lelah yang tidak bisa sepenuhnya kau sembunyikan. Aku menatapmu, mencoba menangkap sorot matamu yang kini tampak jauh, seperti ada jarak tak kasatmata yang tercipta dari hari-hari yang tak lagi kita habiskan bersama.

    “Tidak apa-apa,” jawabku, berusaha terdengar ringan. “Aku senang kau bisa datang.”

    Namun dibalik kalimat itu, tersimpan rasa pahit yang selama ini kusimpan sendiri—rasa kehilangan akan kebersamaan kita yang perlahan memudar. Kita jarang bertemu, bahkan komunikasi kita mulai terasa seperti kewajiban, bukan lagi kebutuhan. Kesibukanmu dan kesibukanku telah menciptakan jurang yang dalam, yang semakin sulit dijembatani.

    Kau tersenyum kecil, tapi senyummu tak sehangat dulu. “Maaf, aku terlalu sibuk akhir-akhir ini,” katamu, kali ini dengan nada yang lebih serius. “Aku tahu, kita jarang bertemu, jarang bicara… Aku merasa bersalah.”

    Aku mengangguk, mencoba menyusun kata-kata yang tepat. “Aku mengerti,” jawabku perlahan. “Hidup kita sekarang berbeda. Ada banyak hal yang harus kita lakukan, banyak tuntutan yang harus kita penuhi. Tapi… rasanya seperti ada yang hilang, bukan?”

    Kau menatapku, dan dalam sekejap aku melihat ada kesedihan di matamu. “Iya,” bisikmu pelan. “Aku juga merasakannya. Tapi apa yang bisa kita lakukan? Waktu kita sudah bukan milik kita lagi.”

    “Maaf,” kataku, hampir tanpa sadar. “Maaf karena aku merasa kita kehilangan sesuatu yang dulu begitu berharga. Maaf karena aku juga sibuk dan tak bisa mempertahankan apa yang pernah kita miliki.”

    Kau terdiam, memandangi cangkir kopi yang ada di hadapanmu, seolah mencari jawaban di dalamnya. Hujan di luar semakin deras, mengiringi keheningan yang tiba-tiba menyelimuti kita. “Kadang aku berpikir,” katamu akhirnya, suaramu hampir tenggelam oleh suara hujan, “apakah semua ini layak? Kita mengejar begitu banyak hal, tapi mengorbankan sesuatu yang sebenarnya sangat penting.”

    Aku tidak menjawab, karena aku tahu, jawaban itu ada di dalam hatimu, sama seperti di hatiku. Kita berdua tahu bahwa kesibukan ini adalah pilihan, tapi juga sebuah pelarian. Kita memilih untuk sibuk, mungkin karena takut menghadapi kenyataan bahwa ada jarak yang tumbuh di antara kita, jarak yang tidak bisa diukur oleh waktu atau tempat.

    “Maaf,” katamu lagi, kali ini dengan nada yang begitu tulus, begitu dalam. “Maaf karena aku tidak bisa menjadi seperti dulu. Dan maaf jika aku membiarkan jarak ini semakin lebar.”

    Aku tersenyum pahit, menahan perasaan yang selama ini kubungkus rapat. “Tidak ada yang perlu dimaafkan,” kataku, meskipun aku tahu itu hanya setengah kebenaran. “Kita hanya manusia biasa, yang kadang tersesat dalam kehidupan yang begitu rumit.”

    Kau mengangguk, tapi kali ini tanpa kata. Hanya ada keheningan di antara kita, keheningan yang penuh dengan penyesalan dan kesadaran bahwa mungkin kita tak lagi bisa kembali seperti dulu. Mungkin kata maaf memang bisa meluluhkan hati, tapi tidak selalu bisa menghapus jarak yang telah tercipta.

    Hujan semakin deras, seperti mencoba menutupi rasa sakit yang perlahan menggerogoti hatiku. “Maaf, tidak bisa buat teh karena gas habis,” katamu akhirnya, mencoba mengalihkan topik pembicaraan dengan cara yang begitu canggung.

    Aku tertawa kecil, meskipun dalam hatiku, aku tahu bahwa hujan ini takkan mampu membasuh semua rasa yang tersisa. Dan meskipun kita saling meminta maaf, aku sadar bahwa mungkin, hanya waktu yang bisa menyembuhkan kita—jika itu pun masih mungkin.

     

     

    Kreator : Wista

    Bagikan ke

    Comment Closed: Maaf ya…

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 14: Kopi Klotok Pagi hari yang cerah, secerah hati Rani dan semangat yang tinggi menyambut keseruan hari ini. Ia bersenandung dan tersenyum sambil mengiris bahan untuk membuat nasi goreng. Tante, yang berada di dekat Rani, ikut tersenyum melihat Rani yang bersenandung dengan bahagia. “Rani, kamu ada rasa tidak sama Rama? Awas, ya. Jangan suka […]

      Sep 18, 2024
    • Part 13 : Candi Borobudur Keesokan harinya Rama sibuk mencari handphone yang biasa membangunkannya untuk berolahraga disaat Rama berada di Jogja. Rama tersenyum dan semangat untuk bangun, membersihkan diri dan segera membereskan kamarnya. Tidak lupa Rama juga menggunakan pakaian yang Rapih untuk menemui Rani hari ini. Sementara Rani seperti biasa masih bermalas-malasan di dalam kamarnya […]

      Sep 07, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021