KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » MAKNA LIBURAN DINDA

    MAKNA LIBURAN DINDA

    BY 30 Jan 2026 Dilihat: 11 kali
    MAKNA LIBURAN DINDA_alineaku

    Sebulan sudah Balya kehabisan beras jatah makan selama di pondok. Di pondok mewajibkan tiap santri untuk membawa beras yang kemudian dimasak bersama-sama. Saatnya sambangan, tapi orang tua Balya tak kunjung tiba. Dalam lamunannya, dia menatap piring plastik yang masih berminyak bekas makan tadi malam yang belum sempat dia cuci. 

    “Salah, “gumamnya. 

    Harusnya setelah makan langsung dicuci piringnya. Ingat, dawuh Mbah Yai, membersihkan kotoran sama dengan membersihkan hati yang kotor di dalam hati. Segala watak yang kurang baik secara batiniyah akan hilang dengan melakukan pembiasaan-pembiasaan yang baik. 

    “Bal, hari ini Ayah dan Ibumu sambaing ya?” tanya Adzkiya pada Balya.

    Sambil membawa ember cucian, Balya nampak bersemangat menyiapkan baju-baju untuk dicuci dan segera dijemur di jemuran lantai 2. Maklum, mengingat jatah berasnya yang mulai habis, sabun tinggal sedikit, uang saku tinggal satu lembar membuat Balya sangat berharap ayah ibunya menjenguk dia bulan ini.

    “Iya, Mas. Ini habis mencuci baju banyak sekali, mau tak jemur di lantai dua saja. Sepertinya lantai satu sudah penuh.” 

    Adzkiya hanya tersenyum melihat adik keponakannya yang terburu-buru beraktivitas pagi ini agar semua cepat terselesaikan.

    Sementara itu, teriknya pagi tak membuat suasana semangat berangkat sambaing ke Lirboyo luntur. Bulik menyiapkan jajanan kesukaan Mas Balya dan teman-temannya yang memang suka makanan ringan yang jarang mereka makan ketika di pondok. Di balik tirai, tepatnya di ruang makan, ibu Balya sedang membuat adonan kue donat coklat kacang yang menjadi ciri khas kue buatannya. Nenek sibuk menulis catatan cinta nenek pada cucunya yang akan nenek titipkan nanti untuk Mas Balya. Nenek selalu mendoakan Mas Balya agar menjadi putra yang solih dan birrul walidain yang artinya selalu ta’dzim pada orang tua.

    Di pelataran rumah yang berdekatan dengan halaman masjid, Sheena dan Taza bermain tali temali sambal menunggu Dinda datang untuk ikut bermain bersama. Nenek memiliki empat cucu, tiga perempuan dan satu laki-laki. Mas Balya satu-satunya cucu laki-laki yang saat ini mengenyam pendidikan di pondok pesantren Lirboyo, Kediri. Salah satu pondok pesantren dengan jumlah santri terbanyak di provinsi Jawa Timur. Hampir satu semester lamanya Mas Balya mondok disana. Keluarga berencana menjenguk Mas Balya hari ini. Cuaca cerah dengan suasana yang sejuk ikut merestui sambangan hari ini.  Semua tas yang akan dibawa ke pondok sudah siap, mereka bergegas menuju ke mobil untuk segera berangkat.

    Bulik berkata kepada Ibu Balya, “Jangan lupa menyiapkan beras yang akan dibawa ke pondok.”

    Dengan membawa bungkus lauk, ibu Balya menundukkan kepala pertanda mengiyakan apa kata Bulik. Hari ini Bulik ikut serta menjenguk Balya. Bagi Bulik, ini saatnya liburan bermakna yang membawa berkah karena bertemu dengan calon ilmuwan-ilmuwan santri yang mendapat keberkahan ilmu dari para Kyai di pondok Lirboyo.

    Tepat pukul 08.00 WIB, rombongan keluarga Balya bersiap berangkat, namun di jalan ternyata tak semudah yang dibayangkan. Pada jam itu, lalu lintas orang ramai berangkat bekerja dan beraktivitas di tempat kerja mereka. Dalam perjalanan, Bulik melamun membayangkan tentang liburan 2 minggu yang berlalu begitu saja tanpa healing sekalipun ke suatu tempat yang menarik. Tapi ternyata, Allah menunjukkan liburan penuh hikmah dan bermakna di akhir liburannya dengan berkunjung ke tempat yang penuh berkah dan syarat keilmuan. 

    Kesibukan santri pagi itu memang membuat teras kantin ramai dan banyak santri yang mulai berbaris antri di kios “Teh Rusun” depan rusunawa pondok. Mas Balya duduk santai sambil berbincang dengan kawannya. Mobil-mobil keluar masuk rusunawa karena hari ini adalah hari Jum’at. Hari Jum’at waktunya libur madrasah, sehingga banyak santri yang dijenguk oleh orang tuanya. 

    Bulik paling semangat berangkat sambangan mengingat anak bulik yang bernama Dinda sudah menginjak kelas 6. Bulik beranggapan barangkali Dinda mau mondok ke Lirboyo. Liburan kali ini dimanfaatkan untuk mengenalkan anaknya tentang pentingnya menuntut ilmu agama ditengah derasnya gempuran pengaruh informasi dan berita-berita tanpa filter di luar sana yang turut mempengaruhi pola pikir dan tingkah laku anak-anak jaman sekarang.

    Nduk, kamu ikut ke Lirboyo ya pagi ini?kita akan menjenguk Mas balya,” tanya Bulik kepada anaknya Dinda. Sambil bermain HP dan tidur di kursi depan, Dinda mulai beranjak dari kursinya. “Siapa saja Buk yang ikut?”tanya Dinda. “Semua ikut, keluarga Bude dan kita nanti yang akan menjenguk kesana, “jawab Bulik. “Ikut saja, nanti kamu akan melihat pondok Lirboyo, barangkali kamu tertarik mondok disana”, jelas Bulik kepada anaknya. Dengan tatapan kosong sembari mengambil baju gamisnya dia memutuskan untuk ikut rombongan menjenguk Mas Balya. 

    Perjalanan menuju Kediri melewati jalan yang bagus dan tanpa hambatan. Di dalam mobil, Dinda lesu seolah mengisyaratkan dia tidak berminat ikut ke pondok. Dinda sebenarnya ingin sekolah di luar pondok. Teman-temanya banyak yang melanjutkan sekolah di SMP formal dekat rumah. “Andai saja Ibu dan Ayah mau menuruti keinginanku, untuk apa liburan malah pergi ke pondok?”gumam Dinda. Selama di mobil, dia hanya tidur dan sekali waktu bergurau dengan adik dan kakak keponakannya, Sheena yang merupakan adik Mas Balya. 

    Tepat pukul 10.00 WIB mobil sudah sampai gerbang pondok. Banyak santri yang beraktivitas sesuai dengan jadwal kegiatan mereka. Dinda menatap jendela mobil sambal mengamati apa yang baik dari pondok sehingga ibu selalu menginginkannya untuk melanjutkan sekolah di pondok.

     Di halaman pondok yang luas terlihat para santri melakukan pencak silat. Berseragam merah dengan ikat pinggang putih. Mereka berjajar rapi sambal mengikuti Gerakan sang pelatih. “Hmm, ternyata ada silat juga di pondok, meski aku beda dari perguruan mereka tapi sepertinya silat ini perlu juga aku foto untuk aku beritahukan ke teman seperguruanku,”kata Dinda kepada Sheena. “Mas Balya juga ikut silat itu, kata Mas kegiatan silat banyak diminati di pondok putra, “jawab Sheena. Mobil berputar melewati jalan-jalan kompleks pondok. Banyak santri-santri membawa kitab ke masjid, disana para santri mendengarkan Ustadz sambal mencatat di kitab yang mereka bawa. Di dekat tempat itu, banyak berjajar kantin-kantin dan toko-toko kitab dan aksesoris beraneka ragam. Sekilas nampak yang menjual di kasir depan adalah kang-kang santri yang juga ahli dengan mesin komputer kasir.

    Mobil berhenti di parkiran depan rusunawa. Mas Balya nampak tersenyum dengan kedatangan rombongan keluarganya. “Assalamu’alaikum, Le? “Sapa Abahnya. “Wa’alaikumsalam, Bah, Abah sehat?”tanya Balya kepada abahnya. Turun dari mobil, Dinda melihat betapa santunnya Mas Balya kepada ayah dan ibunya. Dulu, Mas Balya adalah sosok yang keras dan sering membantah Ayah dan ibunya. Dinda agak tertegun dengan perubahan sikap Mas Balya sekarang ini. “Apa ini yang diharapkan ibuku?” sekali lagi batin Dinda. Sementara itu, sambil memegang barang bawaan yang dibawakan ibunya, Mas Balya mempersilahkan keluarga menuju ruang keluarga khusus untuk santri-santri yang dijenguk keluarganya. Mas Balya ditemani Mas Barka, Mas Shifa dan Mas Adzkiya saat kunjungan itu. 

    Ruangan yang luas, jendela kaca di samping kanan kirinya, penuh dengan orang-orang yang juga menjenguk anak-anak mereka.

    “Oh, begini suasana saat sambangan pondok. Terlihat senyum bahagia seorang ibu yang memeluk anak laki-lakinya yang berbadan kurus namun tetap sehat,” kata Dinda kepada Sheena yang berada di sampingnya. 

    “Lihat abahku sibuk memvideo Mas Balya dan ibuku,” kata Sheena. 

    Abah Balya sudah familiar dengan kondisi pondok karena memang pernah mondok disini beberapa tahun yang lalu. Dalam pertemuan di ruang keluarga itu, semua berkumpul dan bercengkerama. Melepas rindu yang beberapa bulan ini tak pernah bersua dan tanpa kata. Hanya lewat suara gawai dari pengurus pondok yang mempersilahkan santri untuk menghubungi orang tuanya jika waktu sambangan tiba. 

    Bude membawa banyak makanan, camilan dan segala kebutuhan Mas Balya termasuk beras dan bahan pokok lainnya. Mereka bersama-sama menikmati makanan yang sudah disajikan Bude. Menu sambangan hari ini adalah lele goreng, sayur lodeh, sambal terasi, lalapan dan masih banyak lagi. Melihat kakak-kakak santri makan dengan lahap dalam satu wadah membuat Dinda berpikir bahwa ternyata pola makan santri pun ada juga ya maknanya. Mengajarkan kerukunan, kebersihan, berbagi pada sesama dan kekeluargaan. Pantas semua nampak bahagia di ruangan itu.

    Pukul 12.30 WIB, keluarga Balya bersiap pulang. Ibu Balya memberikan surat Nenek yang tadi dititipkan. Mas Balya tersenyum membaca surat dari Nenek. 

    “Le sudah siang, ibu dan rombongan pulang dulu ya, “kata Ibu Balya. 

    Nggih, Bu. Saya juga waktunya Musyawarah Kubro dan mas-mas juga,” jawab Mas Balya. 

    Dengan tawadhu’ mereka mengantar rombongan hingga ke tempat parkir. Nampak gurat kesedihan Ibu Balya yang menangis haru ketika harus berpisah dengan anaknya. Namun, Ibu Balya berpesan pada anaknya untuk selalu menjaga kesehatan dan selalu istiqomah dalam menuntut ilmu. Sambil membopong beras dan barang bawaan, mereka melihat dari kejauhan keluarganya kembali pulang, meninggalkan pondok. 

    Dalam perjalanan, Dinda berkata kepada ibunya yang duduk di sampingnya. “Bu, aku ingin mondok seperti Mas Balya,” kata Dinda. 

    “Alhamdulillah…nduk, iya ibu antar nanti kalau kamu sudah lulus sekolah, kita daftar disini. Kamu bisa sekolah sambil mondok disini, “jelas Ibu Dinda. “Ternyata kehidupan pondok menenangkan ya bu, sesuai dengan Dinda. Jika aku ingin bakat pencak silatku berkembang, disini ada, dan aku lihat Mas Balya berbeda dari yang dulu. Sepertinya dia sekarang lebih sopan dengan abah dan ibunya, “kata Dinda panjang lebar.

    “Liburanmu memang tidak seperti kawan-kawanmu, seperti ke pantai, waterpark, taman kota dan lain-lain. Namun, ibu yakin kamu dapat mengambil hikmah dari liburan sederhanamu di pondok Mas-mu. Bersyukur Allah bukakan pintu hidayah kepada Dinda untuk mau mengenyam bangku pondok pesantren, “gumam Ibu Dinda. Sambil menatap pemandangan di luar kaca, Dinda menyadari bahwa apa yang dilakukan orang tuanya pasti berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anaknya. Meski berat, dia yakin apa yang dilihatnya dari liburan kali ini adalah jawaban dari kegundahannya selama ini. Keraguan masuk pondok menjadi sirna dan semakin mantap menggali banyak ilmu dan bakat di pondok agar sukses dunia akhirat.

     

    Bionarasi:

    Nila Solichatun Nadhiroh, menulis menjadi hobi baru yang mulai dikembangkan agar menjadi pengalaman yang berharga. Saat ini bekerja sebagai pendidik di SD Negeri 1 Tapan, Kec, Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung.

     

     

    Kreator : Nila Solichatun Nadhiroh

    Bagikan ke

    Comment Closed: MAKNA LIBURAN DINDA

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021