KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Malang In My Memory

    Malang In My Memory

    BY 15 Nov 2025 Dilihat: 80 kali
    Malang In My Memory_alineaku

    Kota Malang menggoreskan kenangan yang tidak akan terlupakan dalam sejarah perjalanan hidup seorang wanita tegar, namun penuh perjuangan bernama Hana. Bagaimana tidak? Sejuta langkah terukir di kota ini saat Hana mulai meniti kehidupan yang mandiri di kota Malang, ya! kota saksi perjalanan pencari ilmu yang haus akan pengalaman belajar, berkarya, bersilaturahmi dan berdebat untuk hal-hal yang mengiringi proses terbentuknya watak, perilaku dan pola pikir yang lebih dewasa dalam menghadapi fase hidup Hana pada masa itu. 

    Petang itu, suasana nampak sendu tak seperti biasanya. Suara riuh para santri yang biasanya berjajar rapi di rumah Abah Khoirudin untuk mengaji ba’da maghrib tak terdengar. Ibu Lim mengumumkan kepada para santri untuk libur hari ini karena besok ada acara selamatan. Dari ruang kamar Hana, nampak dia beranjak dari tidurnya. Malam itu, gadis belia berumur 18 tahun itu tampak lesu dan bingung dengan keputusannya setelah hampir satu tahun berada di rumah. Dia menghabiskan setahun penantiannya untuk dapat melanjutkan sekolah pada jenjang kuliah di kampus pilihannya. Dia mulai berpikir untuk bertanya pada Abah tentang kelanjutan dari percakapan  tadi malam.

    Namun, tiba-tiba Abah muncul di balik pintu kamar dan bertanya, “Hana…. Bagaimana keadaanmu sekarang, nduk? Apakah sudah lebih baik?”

    Abah mulai khawatir dengan keadaan Hana pasca kondisinya yang semakin menurun saat Abah melarangnya sekolah di luar kota.

    Dengan mata merah sembab dan suara sengaunya, Hana menjawab pertanyaan Abah dengan suara lirih dan tampak bergetar. “Sedikit pusing, Bah.”

    Wajah Abah yang datar dan tampak sedih tak dapat ditutupi, meskipun Abah bertanya dengan bahasa yang tegas.

    Di luar, nampak Ibu memperhatikan dengan wajah cemas, kemudian datang mendekati Hana dan mengelus rambut Hana yang lurus tergerai. Hana masih terlihat pucat dengan selimut yang masih membalut tubuh mungilnya. Ibu berusaha mendengar keluh kesah Hana.

    “Tidak apa-apa, nduk. Coba ceritakan kepada kami, apa yang membuatmu sesak dan menangis kesakitan tadi malam?” tanya Ibu.

    Hana mengungkapkan bahwa ia sangat ingin sekolah di luar kota. Namun, dia juga sedikit ragu karena Abah menghendaki putri bungsunya sebaiknya melanjutkan sekolah di dalam kota saja. Malam itu, Abah berkata dengan tegas bahwa sebagai wanita tidak perlu jauh-jauh menuntut ilmu di luar kota yang sudah pasti jauh pengawasan dari orang tua. Abah menghendaki Hana sekolah dengan jurusan Pendidikan Agama Islam di kampus ternama di dalam kota saja. 

    Hana masih mengingat nasihat Abah sambil terus memegangi kepalanya bekas vertigo tadi malam.

    “Hana sudah mengikuti seleksi ujian masuk perguruan tinggi pilihan Hana, Bu. Hana lulus, tapi mengapa Abah tega menolak keinginan Hana? Bukankah itu berarti Abah menghalangi impian Hana meraih cita-cita yang kuimpikan selama ini?” cerita Hana kepada ibunya.

    “Ya, nduk. Ibu paham apa yang Hana rasakan,” kata Ibu. 

    Ibu memberi nasihat kepada Hana yang membuatnya berpikir keras dalam mengambil keputusan. Sambil menghela napas panjang, Ibu Hana berusaha menyampaikan pesan dari Abah tadi pagi ketika berembuk untuk masa depan anak bungsu kesayangan mereka. 

    “Abah dan Ibu sepakat mengizinkanmu sekolah di luar kota, namun kamu harus memegang teguh imanmu. Selalu semangat beribadah dan bersungguh-sungguh mengejar cita-citamu,” kata Ibu.

    “Abahmu tidak mau kamu terpengaruh pergaulan bebas di luar sana,” lanjut Ibu. 

    Kata-kata Ibu mengingatkan Hana pada kisahnya puluhan tahun yang lalu. Saat SMA dulu,  Hana terpilih menjadi siswa yang mengikuti lomba Biologi tingkat provinsi di Kota Malang. Tiga anak terpilih menjadi perwakilan sekolah dalam lomba tersebut. Di sela-sela istirahat bertiga, mereka ditempatkan di asrama kampus Universitas terkemuka di Malang. Kampus itu bernama Universitas Negeri Malang. Belajar sebelum kompetisi adalah bentuk persiapan matang.

    “Han, ini buku petunjuk lomba yang diberikan Pak Boim untuk lomba besok,” kata Laila, siswi yang sekamar dengan Hana.

    “Baiklah Laila, terima kasih,” jawab Hana.

    Di balik jendela, Hana melihat dari kejauhan tampak masjid kubah hijau dengan menara yang megah menjulang. Dalam benaknya, “Wah, masjidnya bagus!”

    Di sekitar masjid terdapat banyak rumah-rumah dengan gang-gang yang sempit dan tampak kumuh, namun banyak juga mahasiswa-mahasiswa yang berlalu lalang dengan berbagai kesibukan mereka. “Sepertinya itu kawasan kos-kosan mahasiswa, “gumam Hana. Sore itu, kota Malang memang sangat teduh dan terasa nyaman bagi seorang Hana yang baru pertama kali ke kota Malang.

    Pagi hari yang cerah seolah menyiratkan semangat dan kegigihan kontingen Hana yang jauh-jauh berangkat dari kota di ujung selatan Jawa Timur, Kabupaten Tulungagung.  Membawa nama sekolah dan berharap mendapat hasil yang terbaik menjadi tujuan utama Hana saat itu. Menghadapi banyak peserta lomba dari berbagai kota, Hana semakin bersemangat. Menurut Hana, selain sebagai ajang meraih prestasi tentu dapat menambah banyak teman dari sekolah-sekolah lain. Perlombaan dimulai, Hana bersama kedua temannya berusaha mempresentasikan hasil karya mereka sesuai dengan penelitian yang sudah mereka lakukan beberapa bulan belakangan ini. Waktu menunjukkan pukul dua belas lebih, Pak Boim sebagai guru pendamping mengajak murid-muridnya untuk melaksanakan sholat dzuhur di masjid yang tidak jauh dari lokasi lomba.

    “Kalian sholat saja dulu, kita masih harus menunggu hasil pengumuman lomba satu jam lagi,” kata Pak Boim.

    Hana dan Laila segera bergegas menuju ke masjid. Mereka mengamati sekeliling ruangan masjid yang sangat luas dengan arsitektur klasik namun masih modern dengan ornamen khas  masjid.  Air dingin kota Malang ditambah taman masjid yang indah membuat mereka merasa nyaman melaksanakan sholat disana.

    “Kamu tahu tidak, mengapa air disini dingin sekali?” tanya Hana kepada Laila.

    Laila memang nampak kedinginan dengan mulut yang terus bergetar pertanda rasa dingin yang luar biasa. 

    “Sepertinya karena ini musim dingin, sehingga meskipun masih siang tapi tetap saja udaranya sangat dingin seperti ini brrrr…,” jawab Laila sambil menggenggam tangannya dengan erat.

    “Kalau menurut sumber rujukan yang pernah kubaca, hal itu disebabkan oleh beberapa faktor seperti letak geografis Malang yang berada di dataran tinggi, sekitar 600 meter di atas permukaan laut,” jelas Hana.

    “Hmmm begitu. Sepertinya itu lebih masuk akal, karena di perjalanan kemarin ‘kan kendaraannya memang terus menanjak. Kita juga banyak melewati bukit-bukit,” ungkap Laila. 

    Hana dan kawan-kawannya menunggu pendamping lomba mereka di taman depan masjid. Hana memandang lurus ke atas sebuah menara elok yang ada di samping Masjid Al-Hikmah, masjid kebanggaan kampus.

    “Semoga saja suatu saat aku bisa kembali lagi kesini,” gumam Hana dalam hati. 

    “Han, Pak Boim sudah datang,” kata Laila, membuyarkan lamunan Hana.

    Setelah menunggu begitu lama, Pak Boim memberikan kabar tentang hasil pengumuman lomba. Namun, dari hasil pengumuman lomba sangat disayangkan sekolah Hana hanya masuk sepuluh besar dari ratusan peserta se-Jawa Timur. 

    “Kalian sudah memberikan hasil terbaik bagi sekolah, tidak mudah bisa masuk sepuluh besar dari banyaknya sekolah di Jawa Timur,” kata Pak Boim memberi semangat peserta didiknya yang mulai tampak lesu dengan apa yang disampaikan gurunya. 

    “Ya, Pak,” jawab Hana dengan sedikit isak tangis kekecewaannya. 

    “Baiklah Pak, kami akan berusaha lagi di event berikutnya,” kata Ahmad. 

    “Kalah atau menang sudah biasa dalam sebuah pertandingan. Jadikan ini sebagai pengalaman berharga bagi kalian. Masih banyak kesempatan untuk meraih prestasi yang lebih baik lagi,” kata Pak Boim. 

    “Setengah jam lagi kita harus sudah berada di stasiun untuk kembali ke Tulungagung. Ayo, anak-anak! Kalian harus tetap semangat,” kata Pak Boim yang terus memberi dukungan agar tak pantang menyerah.

    Di balik lamunannya, Ibu menepuk Hana dan berkata bahwa lusa Hana harus sudah siap berangkat ke Malang untuk mengikuti seleksi masuk perguruan tinggi. Dengan berbekal tas sekolahnya yang sudah usang, Hana nekat berangkat sendiri menuju kota Malang. Untungnya, Hana memiliki teman alumni sekolah yang sudah kuliah di kampus pilihan Hana. Teman baik Hana menawarkan kos terdekat dengan kampus dengan harga yang murah di kantong.

    Setelah turun dari angkot, Hana sudah disambut temannya untuk menuju kos tempat tinggalnya selama kuliah di Malang. Dengan berjalan kaki, Hana dan Asih melewati gang-gang sempit yang berada di seputaran fakultas tempat kuliah Hana. Asih menyebutnya “Gang Sumbersari”, kos-kosan yang dekat dengan fakultas sastra, ekonomi, seni rupa dan ilmu pendidikan.

    “Kamu hebat Han, bisa masuk kampus ini dengan lulus seleksi perguruan tinggi,” puji Asih kepada Hana.

    “Terima kasih, Asih. Ini semua berkat doa orang tuaku yang mengizinkan aku sekolah di luar kota,” kata Hana.

    Selama berjalan, Hana tiba-tiba melihat satu masjid yang tidak asing baginya, masjid kubah hijau dengan menara menjulang.

    “Masjid Da’watul Khoirot.” 

    Hana membaca nama masjid yang pernah ia lihat di lantai dua asrama kampus tiga tahun lalu.

    “Alhamdulillah..” 

    Dalam hati Hana berkata bahwa Allah dengan takdir-Nya telah menuntunnya untuk kembali di memori lawas-nya tempo dulu.  

    Berbulan-bulan hidup di kota Malang membuat Hana semakin dewasa dalam menata hidup. Perjuangan Hana dalam menuntut ilmu berlandaskan izin orang tua membuat Hana semakin bersemangat dalam belajar dan berusaha meraih cita-citanya. Sayang, terkadang semua tidak mulus begitu saja. Ada banyak kerikil tajam yang menghalangi langkah Hana yang membuatnya patah semangat. Sebagai mahasiswa perantauan, dia harus bekerja keras untuk membiayai kuliahnya. Hana memilih pekerjaan yang ringan sebagai pembantu rumah tangga di rumah Dosen FIP. Setiap pagi dia berpacu dengan waktu menuju perumahan dosen yang terletak di dekat kantor rektorat. Selain, kerja sampingan dia mengikuti kegiatan ekstra kampus untuk menambah pengalaman tentang hobi yang dia suka yaitu berorganisasi. Jalan kaki dari kampus ke rumah dosen sangat jauh, tapi tekad Hana untuk dapat kuliah dengan biaya sendiri memang sangat kuat. Hana juga terhitung menjadi warga koperasi mahasiswa pada kegiatan intra di kampus. Sebagai mahasiswa fakultas ekonomi, dia berharap dapat belajar ekonomi dari koperasi. 

    Menjadi mahasiswa di kota Malang tak semudah yang Hana bayangkan. Banyak ajakan teman untuk sekedar hangout ke Mall yang terpaksa dia tolak karena terbentur dengan aktivitasnya yang padat. Maklum, Hana juga tercatat sebagai santri di sebuah pondok pesantren dekat kampus. Lika liku Hana di ponpes juga tak kalah pelik. 

    Sebagai santri baru, Hana sering dilibatkan oleh “Buya”, sebutan Kyai di pondok itu, untuk ikut Bu Nyai pergi ke undangan-undangan pengajian di sekitar Malang. Memang setelah pindah dari Kos Sumbersari, dia lebih memilih memperdalam agama Islam di Merjosari. Bahkan, dia menjadi bulan-bulanan putri Bu Nyai karena disukai oleh calon putri Bu Nyai. Sederhana, ulet dan sopan membuat para kang-kang santri simpati pada Hana. Dia belum mampu mengaji kitab seperti halnya santri yang lain, namun dia terus belajar agar dapat barokah dan manfaat ilmu dari Buya. 

    Pagi itu, Hana membersihkan teras depan asrama putri. Menata sandal dan sepatu, menyapu dan mengepel lantai adalah kegiatan Hana setiap pagi. Dari balik pagar nampak Mbak Sumi memanggil nama Hana. 

    “Hana, itu ada kang santri yang mengintip kamu saat membuang sampah di luar asrama,” kata Mbak Sumi dengan tersenyum.

    “Hah, siapa? Aku harus hati-hati ini Mbak Sumi kalau buang sampah,” jawab Hana dengan nada terkejut.

    Usut punya usut, ternyata itu adalah kang santri senior yang mengagumi Hana saat takziyah bersama di  Mojokerto. 

    Buya Rofi’ adalah pengasuh pondok pesantren yang selalu mengajarkan banyak hal kepada kami para santri.

    “Hana, ini beberapa kitab maulid diba’ yang diberikan Buya kepada beberapa santri, tolong dibagikan,” dawuh Bu Nyai Rifa. 

    Hana sangat bangga dengan pemberian Buya kepadanya. Setelah wisuda, Hana berpamitan kepada Buya dan Bu Nyai.

    “Nanti siapa yang akan membersihkan lantai teras depan pondok putri…,” dawuh Buya kepada Hana. Orang tua Hana meminta izin kepada Buya untuk mengajak anaknya pamit dari pondok.

    Di akhir percakapan mereka, Buya berpesan bahwa ketika menuntut ilmu meskipun tidak sesuai dengan jurusan yang kita tempuh, kita harus tetap hikmah mengabdi dengan ikhlas agar mendapat ridho Allah. 

    Malang menjadi kota kenangan bagi Hana sang pencari ilmu yang haus akan pengalaman belajar dan kerja keras yang tak kenal lelah. Kota beribu cerita yang akan selalu menjadi bagian dari sejarah hidupnya dalam pencarian bekal masa depannya kelak.

    “Bersyukur mendapat pengalaman berharga di kota Malang.” kata Hana dalam lubuk hatinya. 

     

     

    Kreator : Nila Solichatun Nadhiroh

    Bagikan ke

    Comment Closed: Malang In My Memory

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021