
“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.”
( QS. Al-Isra’ : 70)
A. Berbagai Jenis Potensi Siswa
Potensi yang dimiliki manusia sebagaimana difirmankan Allah SWT. dalam ayat di atas Kami lebihkan mereka di atas kebanyakan makhluk menyiratkan makna bahwa manusia sesungguhnya telah diberi kemuliaan dan potensi lebih dibanding makhluk lain, termasuk akal, kemampuan belajar, memimpin dan berkembang. Tinggal tergantung sejauh mana kita berikhtiar untuk mengembangkan potensi tersebut menjadi karya besar yang membawa kebaikan bagi alam semesta.
Banyak tokoh-tokoh terkenal seperti : Ki Hajar Dewantara, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Ashari dari Indonesia sampai kepada tokoh internasional seperti Rabindranath Tagore dari India ( 1861-1941 ), John Dewey dari Amerika Serikat (1859-1952) dan Maria Montessori dari Italia (1870-1952) sudah berbuat dan berjasa mengembangkan sistem pendidikan yang berbasis pada pengembangan potensi siswa di sekolah-sekolah.
Kita ingat bagaimana Ki Hajar Dewantara selaku bapak pendidikan Indonesia mengenalkan semboyan Ing ngarso sung tuladha, Ing madya mangun karso dan Tut Wuri Handayani kepada bangsa Indonesia, yang berarti Di depan memberi contoh, di tengah membangun semangat dan di belakang memberi dorongan. Semboyan yang memiliki makna filosofis mendalam tentang fungsi ganda seorang guru. Sebagai pendidik, sebagai pelopor perubahan atau agent of change sekaligus sebagai panutan untuk murid, orang tua dan lingkungannya.
Begitu pula dengan John Dewey, sosok pembaharu pendidikan dan juga pendiri Universitas Chicago Laboratory school tahun 1896, berkebangsaan Amerika menyebut Education is Life itself. Pendidikan sebagai proses pengalaman. Serta Maria Montessori, pendidik, ilmuwan juga seorang dokter berkebangsaan Italia mengenalkan Pendidikan yang Berpusat pada Anak (Child-Centered Education). Artinya proses pendidikan di sekolah sepenuhnya bermuara pada identifikasi dan penguatan potensi anak .
Dari beberapa pemikiran di atas kita bisa mengatakan apapun metode pembelajaran yang dipilih sekolah sepanjang mampu menunjang pengembangan potensi anak, maka itu sangat layak untuk dipertahankan.
Kita ambil contoh metode yang diciptakan oleh Montessori. Terkenal di dunia pendidikan dengan istilah metode Pendidikan Montessori. Metode ini dirancang sedemikian rupa dengan kecenderungan melihat sisi pengembangan alamiah anak. Caranya melalui pengamatan dan eksperimen. Montessori percaya bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang dapat berkembang secara optimal melalui lingkungan pendidikan yang sesuai.
Dari kata potensi unik inilah kemudian para ahli mengklasifikasikan jenis- jenis potensi pada diri anak ke dalam 9 kategori , yaitu :
Potensi ini mencakup kemampuan berpikir, menganalisis, memahami, dan memecahkan masalah.
Contoh kemampuan: Logika dan penalaran, Daya ingat kuat, Cepat memahami
konsep baru.
Berkaitan dengan kemampuan menggunakan kata-kata secara efektif, baik lisan
maupun tulisan.
Contoh kemampuan: Pandai bercerita atau menjelaskan, suka membaca dan
menulis, mudah menguasai bahasa baru
Potensi ini menunjukkan kemampuan menjalin hubungan, berinteraksi, dan bekerja sama dengan orang lain.
Contoh kemampuan: Mudah berteman, Suka kerja kelompok, Empati dan memahami perasaan orang lain.
Kemampuan memahami, mengelola, dan mengekspresikan emosi dengan baik.
Contoh kemampuan: Bisa mengendalikan diri saat marah/sedih, peka terhadap emosi orang lain, mandiri dan percaya diri.
Potensi ini mencakup kemampuan dalam mengendalikan tubuh dan koordinasi gerak.
Contoh kemampuan: Lincah bergerak, suka olahraga, tahan fisik, aktif, pandai menari, memanjat, atau bermain bola.
Potensi dalam mengekspresikan ide, perasaan, atau imajinasi melalui seni.
Contoh kemampuan: Menggambar, melukis, mewarnai, bermain alat musik atau menyanyi, Imajinatif dalam bermain atau menciptakan sesuatu.
Kemampuan memahami nilai, etika, dan memiliki kepekaan terhadap hal yang baik dan buruk.
Contoh kemampuan: Peduli pada orang lain, menunjukkan sikap jujur dan adil, menunjukkan minat terhadap kegiatan keagamaan atau spiritual.
Kemampuan memimpin, mengambil keputusan, dan mengarahkan orang lain secara positif.
Contoh kemampuan: Disukai dan diikuti oleh teman-temannya, Berani mengambil inisiatif, bisa memecahkan masalah dalam kelompok.
Kemampuan mengenali dan memahami alam serta lingkungan.
Contoh kemampuan: Senang menjelajah alam, suka mengamati binatang dan tumbuhan, peka terhadap perubahan cuaca atau musim.
Hebatnya dari kesembilan potensi tersebut tidak satupun yang hilang dari diri seorang anak. Semuanya ada seperti : kemampuan berpikir (kognitif), berbahasa, bersosialisasi, mengelola emosi, bergerak secara fisik, mengekspresikan seni dan kreativitas, memahami nilai moral dan spiritual, memimpin, serta kepekaan terhadap alam. Hanya saja komposisi persentasenya tidak dalam posisi seimbang. Ada yang menonjol ada yang biasa-biasa saja.
Lantas pertanyaannya siapa yang bisa menjadi master of mind atau pembuka jalan bagi anak agar paham akan potensi yang dimilikinya ? Jawabannya bisa kita lihat di paparan berikut ini.
B. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan potensi siswa
Setidaknya ada tiga elemen penting yang sangat mempengaruhi, saling terkait antara satu dengan yang lainnya, sebagai syarat untuk mendongkrak agar potensi anak bisa tereksplore secara optimal. Ketiganya adalah :
b.1. Faktor Internal
Faktor ini cenderung lebih bersifat individu karena bersumber dari dalam diri si anak sendiri. Dengan kata lain anak mampu mendeteksi sisi – sisi dimana aktivitas yang dilakukannya terasa menyenangkan. Bukan “paksaan” terlebih lagi karena takut mendapat sanksi.
Sebagai contoh ada anak yang periang, ramah, senang bergaul dan mudah diterima di semua kalangan. Berarti potensi dominannya adalah Potensi sosial. Akan tetapi ada pula anak yang ketika berada di keramaian justru merasa sepi. Titik nyamannya berada di kesunyian alam. Dimana imajinasinya bisa berkembang dan perhatian terhadap kelestarian flora dan fauna menjadi concern utamanya. Maka anak dengan kecenderungan seperti ini potensi utamanya adalah Potensi Naturalis. Sementara di sisi lain ada juga anak yang tidak suka menjelajah alam namun ketika disodorkan pada problem yang butuh solusi, logikanya langsung bekerja. Biasanya dalam waktu singkat dia sudah bisa memberi jawaban yang runut dan terstruktur. Maka anak seperti ini masuk kategori dengan Potensi Intelektual/kognitif.
Sayangnya tidak sedikit anak- anak yang gagal dalam mendeteksi titik nyaman tersebut. Sampai-sampai makna potensi diri itu sendiri dia tidak tahu. Akibatnya, proses pembelajaran menjadi stagnan tidak mengalami kemajuan yang berarti.
Dampak selanjutnya, anak bisa mengalami depresi dengan tingkat kejenuhan yang tinggi. Maka, sekolah bukan lagi sesuatu yang menarik bagi mereka. Ketimbang duduk diam di rumah lebih baik berkumpul di sekolah dengan teman yang lain. Itu yang ada dalam persepsinya.
Ini tentu tidak sehat. Jika dibiarkan mereka bakal kehilangan jati dirinya. Mudah terombang-ambing alias tidak punya prinsip hidup. Dan pada akhirnya akan menjadi beban sosial bagi masyarakat dan keluarga. Oleh karena itu, dibutuhkan faktor X dari luar untuk memberi dukungan agar anak yang “tidak peka” tersebut bisa bangkit dari keputus asaan. Siapa saja faktor X dimaksud dan sejauh mana perannya dalam mengembangkan potensi anak akan dibahas dalam poin-poin berikutnya.
b.2. Faktor Eksternal
Yang dimaksud dengan faktor eksternal dalam konteks ini adalah unsur atau elemen yang bersentuhan langsung dengan anak baik di sekolah, rumah dan lingkungan. Mereka adalah keluarga, guru, komunitas, teknologi dan sosial masyarakat. Jika diumpamakan dengan pertunjukan orkestra, semua elemen di atas adalah pemain instrumen yang berkolaborasi untuk menghasilkan alunan irama yang indah. Meski berbeda peran namun semuanya mengerti komposisi nada yang dihasilkan tidak boleh sumbang. Karena bisa mengganggu telinga pendengar yang menonton aksi mereka.
Maka, keluarga dapat mengambil peran sebagai pemberi rasa aman dalam menumbuhkan rasa percaya diri anak. Sementara guru bertugas memberi motivasi serta membantu anak menemukan minat dan bakat mereka. Adapun sekolah dapat menyediakan sumber daya dan fasilitas yang memadai seperti : Perpustakaan, laboratorium serta kegiatan ekstra kurikuler yang bervariasi.
Seterusnya Komunitas bisa menjadi jembatan penghubung antara anak dengan pihak luar. Tentunya yang punya kapasitas seperti psikolog, composer, writer, ilustrator, dan sebagainya.
Lantas, bagaimana dengan dukungan sosial masyarakat dan teknologi? Tentu yang diharapkan dari elemen ini adalah bentuk pengakuan objektif. Tidak membully lebih-lebih sampai merendahkan anak. Langkah yang benar adalah membuka akses yang luas terhadap penggunaan teknologi seperti internet, aplikasi pendidikan dan perangkat lunak.
Kolaborasi indah seperti itu hanya mungkin tercipta jika semua fihak mau bekerjasama. Saling menopang dan saling menguatkan. Serta selalu memohon petunjuk dan kekuatan dari sang pemilik alam. Tuhan yang maha Esa. Allah SWT.
b.3. Faktor spiritual dan nilai
Ini merupakan faktor terakhir dalam upaya melahirkan generasi yang hebat. Kekuatan spiritual yang menjadi acuan untuk memilih dan memilah antara nilai kebaikan dengan nilai keburukan.
Anak yang kemampuan spiritualnya bagus akan membentuk karakter yang kuat, nilai-nilai moral yang baik, dan rasa tanggung jawab yang tinggi. Pengembangan spiritualitas pada anak juga dapat meningkatkan kecerdasan emosional dan sosial mereka, serta membantu mereka menemukan makna hidup yang lebih dalam.
C. Kesiapan siswa dalam mengembangkan potensi
Bagaimana melihat kesiapan siswa dalam mengembangkan potensi dirinya? Pertanyaan yang bagus. Dan untuk menjawabnya penulis hadirkan ilustrasi berikut sebagai pengantar awal.
Dahulu, di era tahun 80-an, saat sumber informasi di Indonesia masih didominasi surat kabar dan Televisi. Ada sebuah sinetron menarik di TVRI berjudul Rumah Masa Depan. Serial televisi yang sangat booming ketika itu. Bukan saja karena disutradarai oleh Ali Shahab, seorang budayawan dan seniman terkenal asal Betawi, akan tetapi cerita yang disajikan sarat edukasi dan pesan moral di setiap episodenya.
Satu yang sangat berkesan bagi penulis adalah episode yang berjudul “ Anak Ajaib “ dengan tokoh utamanya Sangaji yang diperankan oleh Muhammad Awad.
Ringkasan kisahnya kurang lebih bercerita tentang sosok Sangaji, anak putus sekolah karena kemiskinan yang melingkupi keluarganya. Demi membantu ibunya mencari nafkah, anak ajaib ini terpaksa berjualan koran dan majalah bekas. Pekerjaan yang tanpa sadar membuat Sangaji menjadi “kutu buku “. Semua buku yang dijual dibaca terlebih dahulu sebelum dibeli orang lain. Lambat laun kebiasaan ini rupanya membuat wawasan keilmuan Sangaji berkembang pesat. Dia mampu menghafal dan menjelaskan berbagai hal mulai dari bahasa, sejarah sampai ilmu pengetahuan alam kepada orang yang mampir ke kios bukunya.
Takdir kemudian mempertemukan Sangaji dengan Bayu, diperankan Septian Dwi cahyo, dan Gerhana. Kagum dengan kepintaran Sangaji, mereka kemudian mengajaknya untuk mengikuti lomba cerdas cermat tingkat SMP meskipun mereka tahu usia Sangaji saat itu masih duduk di bangku Sekolah Dasar.
Sangaji awalnya ragu-ragu karena tidak percaya diri. Namun dengan motivasi yang kuat dari teman barunya, akhirnya Sangaji bersedia juga untuk ikut lomba.
Episode ini kemudian ditutup dengan happy ending dimana Sangaji berhasil meraih Juara Satu dan mendapat kesempatan untuk bersekolah dengan beasiswa.
Apa pesan menarik dari cerita ini ? Pertama, Sangaji mampu mendeteksi potensi dirinya dengan benar. Kemampuannya dalam berpikir, menganalisis, memahami, dan memecahkan masalah ditampilkan dalam kepiawaian mengolah kata. Sehingga mengundang decak kagum dari dewan juri saat perlombaan. Dengan kata lain Sangaji berhasil menyiapkan dirinya untuk meraih masa depan yang cemerlang berkat pengenalan potensi diri yang dia miliki.
Kedua, upaya Bayu dan kawan-kawan dalam memotivasi Sangaji. Dapat dimaknai sebagai faktor eksternal yang membuka “kotak pandora” sehingga potensi Bahasa dan intelektual/kognitif dalam dirinya bisa terexplore dengan maksimal.
Ketiga, tanggapan dari juri dan warga kampung Cibeureum menyikapi fenomena Sangaji. Semuanya memberikan apresiasi positif. Tidak ada yang merendahkan atau mendiskreditkan status sosialnya. Ini menunjukkan kesadaran yang tinggi dari komunitas dan masyarakat dalam mensupport potensi warganya.
Meski sebatas kisah fiktif, dari cerita ini kita bisa menyimpulkan betapa dahsyatnya kekuatan kolaborasi dalam melejitkan potensi seorang anak. Dengan bersinergi anak yang tadinya kurang percaya diri berubah menjadi sosok yang tegar. Dari sosok yang terpinggirkan menjadi buah bibir karena prestasi yang ditorehkan.
Maka pesan moral yang bisa kita ambil adalah : Satu, Tidak ada anak yang bodoh, yang ada lingkungan belajar yang tidak mendukung. – Prof. Yohanes Surya . Dua, Setiap orang, baca : anak, memiliki berbagai jenis kecerdasan dan potensi yang berbeda-beda.- Howard Garden : Penemu kecerdasan majemuk. Sehingga tidak perlu bersikap diskriminatif hanya karena status sosial yang berbeda. Dan Tiga, Anda boleh meragukan orang atau hal lainnya, tetapi jangan pernah meragukan kemampuan anda. – Christian Nestell Bovee.
Maknanya, selalu optimis terhadap potensi diri. Jangan silau dengan kelebihan orang lain. Dan tetap fokus pada proses pengembangan diri.
Setidaknya inilah yang harus kita tanamkan pada diri anak, teristimewa bagi diri kita sendiri. Sebagaimana sudah dicontohkan aktor dan artis yang berakting dalam sinetron Rumah Masa Depan khususnya lewat tokoh Sangaji, Si Anak Ajaib.
Kreator : Paridul,S.Pd ( Paridul Azwar, S.Pd )
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Membangun potensi siswa Bab 2
Sorry, comment are closed for this post.