
Dojo pribadi Kediaman Lasantu…
Sandiaga duduk dengan pola za-zen. Tubuh telanjang lelaki itu begitu mengkilap dibalut keringat. Dadanya yang bidang sejenak mengembang dan sejenak lagi mengempis dengan ritme pelan terarah. Mata lelaki yang terpejam lama itu akhirnya perlahan membuka lalu menatap obyek yang terbaring dihadapannya.
Benda itu adalah Si Penebas Angin yang masih mendekam dalam sarungnya. Lengan kanan lelaki itu terulur dan menjamah pedang itu lalu bangkit. Benda itu dihunuskan.
SRIIIIIIIIINGGGGGG…
Denging logam terdengar nyaring menusuk liang pendengaran. Diawali sebuah pekikan lantang, Sandiaga kemudian menarikan sebuah kata berpedang, mulai dari jurus-jurus aliran Eishin yang dipelajarinya lewat gulungan yang diserahkan Ryoma Hasegawa sebagai hadiah pernikahannya dengan Rosemary.
Tak lama kemudian, jurus-jurus pedang itu berganti seiring Sandiaga larut dalam latihannya. Kini jurus yang dipraktekkannya adalah Arashi no Kiru (Menebas Badai) yang merupakan jurus melegenda ciptaan leluhurnya, Kaneie Saburo Mochizuki yang terkenal dengan nama Koga Oni No Kami Kaneie.
Si Penebas Angin, seakan menjelma menjadi makhluk yang menyatu dengan penyandangnya. Kelebatan-kelebatan bilahnya yang memancarkan kilat-kilat logam terlihat begitu menakutkan. Ruangan dalam dojo itu dipenuhi suara logam yang menderu berpadu dengan teriakan-teriakan lantang penggugah semangat.
Setelah menyelesaikan rangkaian terakhir dari kata berpedang khas aliran Koga, lelaki itu kemudian menyarungkan pedangnya lalu duduk lagi bersimpuh dengan pola za-zen. Si Penebas Angin kali ini disangga dengan pola berdiri. Mata lelaki itu kembali memejam dan napasnya yang memburu perlahan-lahan mulai teratur dan terhela dengan tenang. Sandiaga sedang melaksanakan ritual mokuton, salah satu dari pola semedi seishin teki kyoyo yang biasa diterapkannya.
Tak lama kemudian Rosemary muncul di ruangan itu membawa baki berisi segelas minuman tonik dan sepiring tahu mentah yang dibaluti garam. Sajian itu di letakkan dihadapan Sandiaga.
“Makanlah… Seharian ini kerjamu hanya teriak-teriak nggak jelas dan mengayun-ayunkan pedang tak tentu arah.” omel Rosemary dengan wajah sedikit keruh.
Sandiaga membuka matanya dan menatap sajian tahu mentah yang dilapisi sedikit garam dan segelas minuman tonik. Pedang warisan keluarga itu diletakkan di sisi kirinya. Sandiaga merubah pola duduknya menjadi bersila, lalu mulai menikmati sajian itu.
Rosemary menatap sebuah banner bertuliskan potongan ayat Al-Qur’an, yaitu QS. An-Nahl ayat ke 90 yang terbentang diatas kamiza.
“Aku penasaran dengan apa yang Yuki alami di Padang sana,” gumam Rosemary. “Apakah nantinya dia bisa beradaptasi dengan masyarakat yang berbeda dengan budayanya?”
Sandiaga menelan potongan tahu yang dikunyahnya, lalu menjawab, “Yuki bisa mengatasi semuanya. Dia sedikit lebih beradab dariku.”
Tak lama kemudian, terdengar deru suara mobil mendekat, disusul suara pintu terbuka, langkah kaki yang mendekat, hingga akhirnya pintu shoji yang menguak. Inayah berdiri di sana menatap dua insan yang sedang duduk berhadapan.
Sandiaga menoleh menatap Inayah. Lelaki itu melambai membuat polwan itu melangkah mendekat dan duduk di sisi suaminya.
“Kamu bolos lagi dari kantor, Schnucky?” tegur Sandiaga.
“Nggak kok. Aku hanya rindu kamu saja…” jawab Inayah dengan mesra, membuat Rosemary menundukkan wajah, menahan emosi kecemburuannya. Sejenak Inayah mengerling ke arah Rosemary.
“Ini perempuan, kenapa di sini?” tukas Inayah dengan ketus.
“Dia melayani makananku…” jawab Sandiaga menunjuk sajian yang tersedia di hadapannya.
Inayah hanya mendengus pelan dan mengerling dengan sinis kepada suaminya. Sandiaga menghela napas lalu bangkit. Ditatapnya kedua wanita itu.
“Aku akan berganti pakaian. Kutinggalkan kalian berdua. Berkenalanlah… siapa tahu, kalian berdua akan semakin dekat.” ujar Sandiaga kemudian membungkuk sejenak, meraih Si Penebas Angin dan melangkah meninggalkan Dojo.
Kedua wanita itu saling menatap. Namun, tatapan Inayah yang tajam membuat mental Rosemary jatuh. Wanita itu menundukkan wajahnya.
“Kamu itu, sepupunya… atau pelayannya… atau…” tukas Inayah dengan lirih.
“Tuan Saburo Sandaime sering menceritakan anda kepada saya, jauh sebelum saya di sini…” kilah Rosemary berbohong.
“Oh ya?” tukas Inayah. “Tentunya banyak sisi yang diungkapkannya tentang aku. Katakan saja, apa yang kau tahu.”
Rosemary berlagak mengingat-ingat. “Anda dan dia… sudah dijodohkan sejak lahir…”
“Hanya itu saja?” tukas Inayah lagi.
“Uhm… Tuanku, Saburo Koga Sandaime… sangat mencintai anda.” Jawab Rosemary lagi, dengan canggung.
“Kamu pernah timbul rasa suka sama dia, nggak?” tukas Inayah menyelidiki. Rosemary tersenyum.
“Siapapun yang mengenalnya, pasti akan menyukainya…” jawabnya secara normatif.
“Termasuk kamu?” tukas Inayah.
Rosemary terdiam sejenak, lalu menunduk. “Nyonya memberikan saya pertanyaan yang menjebak.”
“Jawab saja.” desak Inayah. Rosemary menegakkan kembali wajahnya, menatap dalam ke wajah Inayah.
“Apa pendapat Nyonya, bilamana menemukan bahwa Tuanku Saburo, memiliki seorang istri selain Nyonya?” pancingnya.
“Apakah perempuan itu, kamu?!” tukas Inayah lagi.
“Nyonya mengajukan pertanyaan yang menyudutkan saya.” ujar Rosemary kembali menebar senyumnya.
“Kau tahu, siapa orangnya?” selidik Inayah.
Rosemary menghela napas sejenak lalu menatap banner yang terpampang di atas kamiza.
“Bisakah Nyonya mengartikan tulisan itu kepada saya?” pinta Rosemary.
Inayah mengerutkan alis sejenak. Polwan itu lalu menghela napas dan mulai menafsirkan larik-larik kata dalam kalimat tersebut.
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berbuat adil dan baik, rukun terhadap kerabat, dan menegakkan kebenaran, melarang kemungkaran dan permusuhan. Sesungguhnya, Allah memberimu pelajaran agar kamu mengetahui…” tutur Inayah menafsirkan ayat yang terpampang pada banner itu.
Rosemary sejenak mengangguk-angguk. Wanita itu kemudian menatap Inayah dan tersenyum.
“Kata-kata dalam kalimat itu, sesuai benar dengan perilaku Tuanku…” komentar Rosemary.
“Kau mengalihkan pokok pembicaraan.” ujar Inayah. “Katakanlah, apakah dia memiliki istri lain di luar sana?”
“Pernikahan yang sama sekali tidak diinginkannya…” jawab Rosemary membuat Inayah terhenyak kaget.
“Apa maksudmu?!” tukas Inayah berupaya menahan gejolak emosinya yang hendak meluap.
Rosemary kemudian bertutur tentang pernikahan politik yang terjadi antara Sandiaga dengan perempuan itu, atas dasar kesepakatan antara Tatsuya Shigeno dan Perdana Menteri Ryoma Hasegawa. Rosemary juga menceritakan kisah perang tanding antara Sandiaga melawan Laksamana Chikaraishi untuk menunaikan balas dendam atas kematian Takagi sekeluarga.
Inayah sontak berdiri. “Mengapa dia tak memberitahukan semuanya padaku?!”
“Aku ingin membeberkan semuanya… pada waktu yang tepat.” sela Sandiaga yang kini sudah berada di ruangan itu.
Inayah menatap lelaki itu dengan tatapan garang. Dengan suara datar dan dingin, polwan itu bicara.
“Sekaranglah waktu yang tepat…” tandas Inayah.
“Schnucky…” panggil Sandiaga hendak melangkah.
“Tahan langkahmu!” teriak Inayah dengan lantang. Tiba-tiba polwan itu menarik pistol Raging Bull-nya dari holster dan mengarahkan moncong revolver itu ke arah Sandiaga.
“Dan jangan panggil aku, Schnucky…” desisnya.
Sandiaga dapat dengan jelas melihat air mata yang membanjir di pipi istrinya. Lelaki itu terpaksa berdiri tegak di tempatnya.
“Sekarang katakan padaku!!” tuntut Inayah kemudian mengerling sinis ke arah Rosemary yang duduk menundukkan wajah.
“Apakah dia perempuan yang kau nikahi itu?!” desis Inayah dengan nada menuntut.
“Yun…” panggil Sandiaga.
“Jawab saja, brengsek!!!” teriak Inayah lagi sambil tetap mengarahkan moncong revolver ke arah suaminya.
Sandiaga memejamkan mata sejenak. Lelaki itu pasrah sudah. Kebenaran memang harus diungkap meski terasa sakit dikecap. Lelaki itu akhirnya mengangguk pelan.
Raut keterkejutan dipadu rasa tak percaya terpancar jelas di wajah Inayah. Tangannya yang menggenggam revolver akhirnya turun dengan lemas.
“Kau tega!! Kau tega!!” hanya itu saja yang keluar dari bibir Inayah yang gemetar.
“Aku bisa menjelaskannya, Yun…” ujar Sandiaga.
Inayah menggeleng dan menyarungkan kembali pistolnya. Dengan seulas senyum sinis, polwan itu berucap.
“Tak ada yang perlu dijelaskan!!” ujar Inayah dengan lirih. “Semua sudah jelas sekarang!!”
Dengan gontai, Inayah berbalik dan melangkah pergi. Sandiaga hendak melangkah menggapainya.
“Yun!!” panggilnya.
Sejenak Inayah berhenti. Tanpa menoleh, dirinya mengucapkan ultimatum.
“Untuk saat ini… jangan pernah injak kediaman Ali… dan jangan pernah berkeinginan untuk menemuiku!” ujar Inayah.
“Yun… jangan berkata seperti itu!” tegur Sandiaga.
“Kita akan bertemu dalam sidang keluarga, untuk menentukan akan dibawa kemana pernikahan kita.” sambung Inayah kemudian melangkah cepat meninggalkan Dojo.
Sandiaga hanya bisa terpaku diam dalam tegaknya. Sementara Rosemary sudah terisak-isak sejak tadi dalam duduk simpuhnya.
* * *
Masjid Raya Sumatera Barat, pukul 10 pagi WIB…
Akram mengenakan peci putih bertabur bordiran benang emas dipadu baju koko lengan panjang dan celana panjang yang warnanya selaras dengan warna pecinya. Pemuda itu duduk berseberangan meja menghadap ke arah Kenzie yang mengenakan pakaian bate.
Petugas Syara’ membacakan dua kalimat syahadat dan shalawat kepada Nabi Muhammad dan beberapa doa thayyibah lainnya. Setelah itu Kenzie mengulurkan tangannya dan dijabat oleh Akram. Lelaki itu mengucapkan kalimat-kalimat akad dengan nada tegas penuh tekanan.
Akram tak mau kalah, menyahut dengan lantang mengucapkan kalimat qabul dengan lugas tanpa ragu. Senyum pemuda itu terkembang lebih lebar saat para hadirin meneriakkan kata, “Sah!”
Seluruh penghuni masjid itu mengangkat tangan mengaminkan doa yang diucapkan penghulu. Setelah itu, Airina Yuki didatangkan dan dipersandingkan dengan Akram. Dengan takzim, gadis itu mencium tangan suaminya. Akram benar-benar merasakan euforia bahagia yang luar biasa.
Acara resepsi dilanjutkan di Hotel Grand Zuri pada pukul tujuh malam. Banyak kolega dan undangan yang hadir, mengingat keluarga Williams termasuk keluarga terpandang di kota Padang. Pada nasihat pernikahan, Kevin duluan maju menyampaikan nasihatnya.
“Sekarang kau sudah menikah. Maka, tinggalkan kelakuanmu saat kau membujang. Jangan pernah kasari istrimu! Dan jangan perhatikan, apakah istrimu senantiasa tersenyum kepadamu atau tidak! Jangan pernah membandingkannya dengan siapapun agar supaya kau pun tidak akan dibandingkan dengan siapapun.” tandas Kevin.
Akram mengangguk-angguk mendengar nasihat dari Ayahnya, sedangkan Airina menundukkan wajahnya. Kini Kenzie yang maju memberikan nasihat.
“Ingatlah, Nak. Kebersamaan bukan didasarkan pada kesamaan visi, namun banyaknya perbedaan yang menjadi kompromi antara dua pihak yang menyatukan hati…” ujar Kenzie menatapi Akram dan Airina bergantian.
“Sebagai istri, pengabdian utama adalah suami. Jangan pernah melakukan apapun yang membuat suami tidak berkenan. Jadilah engkau selimut baginya, dan dirinya menjadi perisaimu.” ujar Kenzie lagi sembari menatap putrinya.
Lelaki paruh baya itu kembali menatap Akram. “Dua hal yang ku pahamkan padamu. Yang pertama, jagalah putriku! Kau telah berjanji kepadaku melalui akadmu! Cintai, lindungi dan jaga kehormatannya!”
Akram mengangguk patuh lalu menatap Airina. Kenzie kembali melanjutkan. “Yang kedua… Aku hanya mengulangi apa yang pernah dikatakan Ayah mertuaku, saat aku melamar putrinya,”
Azkiya yang mendengarnya tanpa sadar telah berlinang airmata. Kenzie melanjutkan, namun tatapannya berubah sendu.
“Jika kamu tidak lagi mencintai putriku, jangan sekali-kali kau katakan itu padanya. Tapi katakan hal itu padaku! Biar aku yang akan menjemputnya pulang!”
Akram tercekat mendengar kata-kata mertuanya. Airina justru menundukkan wajahnya dan menangis. Kenzie tersenyum dengan rona yang hambar.
“Itu saja, Nak. Ku doakan kalian berdua menjadi pasangan yang bahagia, diberkahi dan dicintai oleh Allah.” pungkasnya lalu menuruni panggung.
Ketika duduk di sisi istrinya, Azkiya berbisik, “Watashi wa anata o hokori ni omou…(Aku bangga padamu)”
Kenzie hanya tersenyum dan menggenggam erat jemari istrinya dengan lembut. Kevin yang melihatnya menjadi terbawa perasaan dan merajuk ke istrinya.
“Umi, Abi dibegitukan dong!” rengek Kevin membuat Syafira tersenyum dan akhirnya memperlakukan Kevin sedemikian rupa sehingga lelaki paruh baya itu menjadi manja seperti anak kecil.
Acara pernikahan itu selesai pukul 11 malam. Di dalam kamar hotel kedua pengantin itu duduk di sisi ranjang. Keduanya bertatapan dan tersenyum.
“Kamu percaya sekarang? Aku nggak bohong menjadikan kamu sebagai permaisuri rumah tanggaku, kan.” ujar Akram.
Airina mengangguk pelan dan canggung. Akram menyingkirkan kerudung tikuluak talakuang dari kepala istrinya dan meletakkannya di sisi ranjang.
“Kau kelihatan lebih cantik dari sebelumnya.” ujar Akram.
Airina hanya tersenyum. Pemuda di hadapannya kemudian melolosi seluruh pakaiannya dan sempat membuat Airina jengah, sehingga membuatnya memalingkan wajah karena malu. Namun, Akram mencegah dengan cara memegang dagu Airina.
“Sekarang aku halal untukmu.” ujarnya.
Airina mendengus dan mencebikan bibirnya. “Bahkan sebelum itu, kau sudah melakukannya!” omelnya. Mendengar gerutu istrinya justru membuat Akram tertawa senang.
Kau nggak tahu, kalau kau masih perawan???
Airina kemudian tersenyum, “Toh, kita sudah melakukannya sekali…” ujarnya kembali membuat Akram tertawa geli.
“Ayo!!” ajak Airina tanpa malu juga melolosi pakaiannya.
Seketika keduanya bergumul penuh birahi. Karena tak tahan, Airina meminta Akram untuk melakukan penetrasi.
“Yakin nih?” goda Akram.
“Sudah! Ayoooo…” rengek Airina memaksa.
“Oke, kalau itu maumu!” seru Akram langsung memposisikan bendanya di depan bagian genital istrinya dan perlahan mulai melakukan penetrasi. Sesaat kemudian Airina tersentak.
“Lho? Kok sakit?!” jeritnya lirih.
Airina menjerit lalu memukul-mukul dada Akram.
“Kok sakit siih? Ku bilang sudah pernah?” desisnya dengan heran bercampur bingung.
“Aku bohong…” ujar Akram.
“Bohong apanya?” desis Airina ditengah rasa sakit yang me-nyucuk liang genitalnya.
“Semua yang terjadi di hotel malam itu, adalah kebohongan. Aku nggak pernah menyentuhmu, Yuki… kau masih belum pernah kusentuh…” ungkap Akram membuat Airina tersentak kaget.
“Jadi?” tukasnya lirih.
“Aku hanya nggak mau kau meninggalkanku…” ungkap Akram lagi. “Makanya aku menciptakan cerita bohong itu agar kau terus lekat denganku…”
Airina akhirnya menangis, namun perasaannya bahagia. “Kau… kau memang anak nakal! Nakal! Anak nakal!” sembur wanita itu. Akram hanya tersenyum saja.
Airina langsung melingkarkan kedua tungkai bawahnya menjepit pinggang Akram. “Kalau begitu, kau harus ku hukum! Sekarang lakukan sebelum aku minta berhenti!”
Akram langsung tersenyum lebar. “As you wish, baby…” serunya dengan semangat.
* * *
Kenzie mendapat berita dari Trias, bahwa kasus Sandiaga telah terungkap berdasarkan laporan Inayah kepadanya. Lelaki itu meminta sahabatnya untuk segera kembali dan menggelar rapat keluarga untuk itu. Akhirnya dengan memohon maaf, Kenzie dan istrinya meninggalkan kota Padang bersama para kerabat keluarga. Urusan pelik lainnya telah menanti di Gorontalo. []
Kreator : Kartono
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Mendung Di Benteng Otanaha Bab 41
Sorry, comment are closed for this post.