SENANDUNG LARA YANG TERLUKA
Airina menatap hamparan dirgantara yang dilapisi awan tebal. Debaran jantungnya terasa ketika pertama kalinya menjejaki gumpalan uap air padat yang terakumulasi di angkasa itu. Dengan armor YUKI-02-CPl yang membalut tubuhnya, dilengkapi radar holografis, Airina dapat mengetahui posisi ketinggian dimana dirinya berada, serta mampu mendeteksi kelembapan suhu disekitarnya.
“Bagaimana Yuki? Apakah Kota Padang terlihat sepenuhnya dari situ?” tanya Akram, terdengar dari speaker earphone yang tersemat pada helm armor tersebut.
“Luar biasa, Hubby…” sahut Airina dengan perasaan senang yang tak dapat dilukiskannya.
Tak lama kemudian, Akram muncul mengenakan armor YUKI-01-CPl, melayang mendekati istrinya. Kedua sejoli itu menatap hamparan Kota Padang dibalik gerumbul awan yang sesekali menghalang, sebab dihembus angin malam.
Akram memeluk Airina dengan mesra. Keduanya masih betah memandang bentangan alam buatan manusia yang terhampar dihadapan mereka. Di ujung cakrawala, nampak rembulan ikut menampakkan sinarnya, membuat suasana hati diantara keduanya terasa syahdu.
* * *
Inayah duduk menekur disisi ranjang, sedang diseberangnya Sandiaga duduk memunggungi sambil menyesap nikmat lintingan tembakau yang terbakar itu. Asap berkepul-kepul keluar dari mulutnya yang menghembuskan angin dalam paru-parunya.
Sejak rapat keluarga itu, situasi diantara keduanya menjadi canggung. Kini nyata sikap asli dari istri dan mertuanya, meskipun begitu, Sandiaga tetap mencintai Inayah sepenuh hati. Tak pernah berubah rasa didalam hatinya terhadap putri dari Abahnya itu.
Lama kecanggungan menyelimuti suasana dalam kamar itu. Sandiaga kemudian melepas sepatunya dan meletakkannya di kolong ranjang, lalu bangkit dan melangkah menuju lemari.
Inayah ikut bangkit dan melangkah mendekati suaminya. Di-sentuhnya lengan Sandiaga dengan pelan dan takut-takut. Lelaki ber-mata satu itu menoleh.
“Ijinkan aku melepas pakaianmu…” pinta Inayah dalam sikap canggungnya.
Sandiaga tanpa bicara, berbalik menghadapkan tubuhnya kepada sang padmi, membiarkan Inayah membuka satu demi satu kancing pakaiannya dan menguatkannya, menampakkan kaus singlet yang membungkus tubuh kekar ectomorfis yang dihiasi rajahan irezumi itu.
“Setelah ini… apakah…” ujar Inayah dengan pelan dan terbata-bata, “Apakah… kau akan menemui… Rosemary?”
“Hari dan malam ini adalah jatahmu…” ujar Sandiaga tanpa menoleh. “Aku sudah mengatur jadwalku terhadap kedua istriku. Kamu mendapatkan jatah empat hari ketimbang Rosemary…”
Dalam wajahnya yang menekur, Inayah tersenyum. “Terima kasih…” jawabnya ditanggapi anggukan oleh Sandiaga.
“Maafkan sikapku di rapat tadi… aku…” ucap Inayah.
“Bahkan aku tak akan membedakan keturunanku, apakah itu anakku darimu, atau anakku dari Rosemary…” tambah Sandiaga dengan tegas.
“Ya, aku paham…” sahut Inayah dengan pelan lalu mengangkat wajahnya menantang wajah suaminya. Sandiaga menatap lama Inayah lalu menghela napas.
“Aku tak mau menciptakan sekat diantara kita bertiga. Ke-bencianmu kepadanya, itu adalah hal yang manusiawi… aku bisa me-nerimanya. Dan itulah mengapa Rosemary langsung mengabulkan semua tuntutanmu, sebab dia memang tak memiliki hak apa-apa selain statusnya sebagai selir, hasil pernikahan politik dari kesepakatan yang terjalin antara pihak klan Shigeno dan Keluarga Hasegawa sebagai wakil klan Nagato…” tuturnya.
“Apakah… Ayank mencintainya?” pancing Inayah dengan suara lirih. Sandiaga kembali menatap Inayah lalu menegakkan kembali wajahnya menatap dinding kamar dengan datar.
“Jangan menjebakku dengan pertanyaan itu…” tukas Sandiaga.
“Dia bilang… cintamu padaku tak pernah berubah…” ujar Inayah kemudian mengulas senyuman.
“Tapi kau sendiri yang meragukan cintaku…” tukas Sandiaga membuat Inayah terdiam dan terpekur kembali. Sandiaga mencolek dagu istrinya membuat Inayah kembali mengangkat wajah menatap suaminya.
“Sekarang, aku adalah salah satu panglima militer dari Klan Shigeno, selain sepupuku, Ryuzo Unno dan Kaneko Nezu… aku harus memperlihatkan prestise yang baik, sebagaimana kamu memperlihatkan prestise yang baik sebagai aparat hukum…” lanjut Sandiaga menuturkan tanggung jawabnya.
Sandiaga kemudian merengkuh istrinya, membawa wanita itu dalam dekapan mesranya. Lelaki bermata satu itu lalu mendesah pelan.
“Sekarang, Umma pasti membenciku…” desah Sandiaga dengan getir sambil menatap sudut dinding ruangan kamarnya. “Tapi… aku tak membencinya. Aku paham perasaannya, seperti Mama…”
Sandiaga kemudian melepaskan rengkuhannya, lalu menatap lagi sang istri. “Tapi, barangsiapa wanita yang rela dimadu, maka imbalannya adalah surga…”
Sejenak alis jilbaber itu mencuat. “Maksud Ayank?!”
“Tak ada yang bisa menggantikan rasa sakit itu…” ujar Sandiaga sembari menunjuk dada istrinya, “Kecuali adalah Syurga.”
Inayah mendorong pelan suaminya. “Jadi maksud Ayank… Iyun harus rela?! Begitu?!” tukasnya.
“Yang bilang ini bukan aku lho…” ujar Sandiaga sambil ter-senyum. “Tapi Nabi Muhammad SAW…. Coba deh buka kitab hadis, cari HR. Bukhari Nomor 2481 dan 5225…” tuturnya membeberkan dalil tentang poligami.
“Alaahhh… Ayank paling tahu menohok aku pake hadis… padahal motivasinya…” tukas Inayah.
“Eh, aku nggak bohong. Semua dalil hadis itu disandarkan QS. Az-Zumar ayat 10, QS. An-Nisaa ayat 3 dan QS. An-Nuur ayat 51…” tuturnya sambil terus mengulas senyum.
Inayah hanya melengos menanggapi ucapan-ucapan suaminya. “Tapi Ayank ngancam aku…” tukasnya.
“Ngancam bagaimana?” tantang Sandiaga.
“Itu… Ayank bilang: jangan buat hatiku berbelok darimu. Bukan-kah itu mengindikasikan kalau Ayank juga mulai cinta sama dia?!” tukas Inayah.
“Kamu takut, Schnucky?” pancing Sandiaga mengulas senyum tipisnya. Inayah terdiam sejenak lalu mendesah.
“Tentu saja Iyun takut!” jawabnya dengan polos.
Sandiaga mencondongkan bibirnya mengecup bibir Inayah dan mengulumnya sejenak lalu menarik kembali bibirnya.
“Sekarang, masih takut?” pancing Sandiaga lagi. Inayah men-dengus.
“Huh, Ayank pasti akan menciumnya lebih lama dari itu…” tukasnya.
Sandiaga tertawa dan langsung melucuti pakaian istrinya hingga polos lalu memondong Inayah ke ranjang. Mereka bercumbu lalu bergumul hingga akhirnya menyelenggarakan ritual senggama penuh gairah. Wanita itu mengejang-ngejang beberapa kali akibat mengalami multiorgasme.
Setelah hasrat itu tertuntaskan, Sandiaga tersenyum menatap Inayah yang tertidur pasrah kelelahan. Lelaki itu lalu membalut tubuh istrinya dengan selimut. Setelah itu, dia bangkit dan melangkah menuju kamar mandi.
* * *
Azkiya sedang bercengkrama bersama Rosemary di beranda depan, ditemani secangkir teh cammomile dan sepiring gorengan tempura. Sesekali Rosemary melirik mertuanya yang asyik menikmati sajian pagi itu. Azkiya meletakkan cangkir tehnya di meja lalu menatap menantunya. Mereka berdua berbicara dalam bahasa jepang.
“Rose… kamu rela dengan hasil rapat itu?” pancing Azkiya.
“Mau tak mau, saya tetap harus rela, Ibu.” Jawab Rosemary dengan tenang.
“Kamu terlalu mengambil hati.” komentar Azkiya.
“Justru saya harus minta maaf, karena memaksakan kehadiran saya diterima dilingkungan keluarga ini…” balas Rosemary.
“Kelak kau akan berbagi kasih sayang dan cinta dengan wanita yang membencimu. Kau harus pandai membawa diri agar tidak terjebak dalam kecemburuan yang berlebihan…” tutur Azkiya menasehati me-nantunya.
“Ibu…” panggil Rosemary membuat Azkiya menatapnya dan mengangkat alisnya.
“Apakah Ibu membenciku karena merampas Saburo dari Inayah?” pancing Rosemary dengan lirih. Sejenak Azkiya tersenyum lalu menghela napas dan mengangguk.
“Jujur, iya!” ungkapnya membuat Rosemary menundukkan wajahnya. Azkiya kemudian mendesah lalu menyambung, “Tapi, aku tak berhak mengatur hidup putraku. Itulah sebabnya aku tetap menerima-mu, meski kau penyebab utama terbunuhnya adikku dan keluarganya…”
Rosemary masih menunduk. Azkiya menatap menantunya. “Itu-lah sebabnya, aku berharap… kau mampu membawa diri dengan pantas agar layak sebagai menantu keluarga Lasantu.” sambungnya lagi. Rosemary mengangkat wajahnya dan memelaskan wajahnya.
“Ibu… ajari aku. Ajari aku agar bisa bersikap pantas dan tak mempermalukan nama keluarga…” pintanya dengan penuh harap. Mendengar permintaan itu, Azkiya hanya tersenyum.
“Nak, jati dirimu bukan ditentukan oleh latar belakang keluarga-mu, tapi oleh sikap dan perbuatanmu serta penilaian orang-orang kepadamu…” ujar Azkiya kemudian menepuk-nepuk pelan lengan Rosemary.
“Terima kasih, Ibu. Nasihat ini akan selalu saya ingat.” Sahut Rosemary sembari membungkuk takzim.
Azkiya tersenyum lagi lalu meraih lagi cangkir dan menyeruput isinya. Tak lama kemudian Kenzie muncul dari dalam rumah dan duduk di sisi istrinya.
“Besok, Yuki dan Akram akan datang ke Gorontalo.” ujar Kenzie memberitahu, “Kita akan mempersiapkan segala sesuatunya untuk menggelar pesta modelo hingga mohama…”
“Papa dan Mama sudah tahu?” tanya Azkiya.
“Justru mereka yang akan menggelar acara itu… kita tinggal tahu beres saja…” sahut Kenzie.
“Keluarga Ali juga diundang, kan?” pancing Azkiya.
Kenzie tertawa. “Mana bisa mereka tak diundang? Mereka kan sudah jadi bagian keluarga besar kita!”
Azkiya hanya tersenyum dan mengangguk. Kenzie kemudian menatap menantunya. “Bagaimana kabarmu, Rose?”
“Baik, Ayah…” jawab Rosemary sambil tersenyum.
“Apakah Saburo sudah menemuimu?” pancing Kenzie.
“Kami sudah memiliki jadwal masing-masing.” Jawab Rosemary. “Saat ini, dia sedang bersama Inayah…”
Kenzie mendesah pelan, “Kuharap, kau tidak merasa tersingkir gara-gara hasil rapat itu…”
“Tentu tidak, Ayah… malahan saya lega, bisa menunjukkan kepada mereka bahwa saya tidak memiliki ambisi apapun…” jawab Rosemary lagi.
Kenzie mengangguk-angguk, sedang Rosemary kembali meraih cangkir dan menyeruput isinya.[]
Kreator : Kartono
Comment Closed: Mendung di Benteng Otanaha Bab 43
Sorry, comment are closed for this post.