Pertemuan Sebuah Keluarga Besar
Datang kabar dari Hongkong bahwa tujuh orang saudara hendak datang ke Jakarta. Terbayang kenangan masa kecil dari generasi anak dan cucu yang membuat rindu untuk saling bertemu. Kisah keturunan kami berawal dari kakek Tan Tjie Sian yang lahir di tahun 1896 dan nenek Thung Lin Nio di tahun 1900. Diperlukan waktu 130 tahun untuk membentuk lima generasi turun temurun. Pasangan kakek dan nenek melahirkan delapan orang anak yang dicatat dengan rapi oleh ayah kami. Catatan itu berisi tentang nama, kelahiran atau geboren (Belanda), hari dan jam kelahiran serta shio (Cina). Bab ini mau menemukan daya yang menyatukan keturunan ini untuk bertemu. Bisa melalui jalinan hubungan yang terus-menerus atau melalui tradisi dan nilai-nilai yang dianut. Terkembali kepada keluarga inti untuk mengolahnya dalam kehidupan sehari –hari. Bertempat di Restoran Duo Rampai, Jakarta pada awal Februari tahun 2026, kami dari generasi ke-3 berjumlah 17 orang hadir bersama lebih dari 75 orang. Pertemuan terasa semakin istimewa oleh kehadiran bibi yang tinggal satu-satunya, tante/oma In. Dalam kesempatan ini kami saling berbagi hadiah, bercerita dan bernostalgia tentang kenangan masa lampau.
Menyeberangi lautan menuju Surabaya
Kisah Ayah yang lahir di Samarinda dan kelak memboyong istri dari Jakarta ke Banjarmasin bercerita tentang latar belakang kehidupan pada waktu itu. Samarinda adalah kota pelabuhan di kuala sungai Mahakam. Terbentang satu daerah muara sungai yang luas, yang hilirnya disebut Sungai Kutai. Banjarmasin terletak pada Sungai Martapura dalam daerah muara Sungai Barito. Rumah kami, seperti para penduduk lainnya yang dibuat dari kayu itu berada di atas sungai. Air minum didapatkan dari tadahan air hujan. Para penduduk berjalan di atas rakit-rakit dan di atas kayu-kayu yang licin adalah pemandangan yang biasa. Di kuala-kuala para nelayan dan petani saling bertemu untuk berdagang secara barter barang. Pindahnya kakek dan nenek sekeluarga ke kota besar Surabaya berkaitan dengan tuntutan anak-anak yang mulai dewasa. Kota besar dianggap menjanjikan segalanya, seperti pekerjaan, pendidikan, dan tentu saja jodoh. Mereka berpencar tinggal di Surabaya, ada yang tinggal di Embong Malang, Tembok Duku, Pelemahan dan tempat lainnya. Tiga orang paman menemukan pekerjaan sebagai montir dan kelak 1 orang paman lulus dari Akademi Teknik Nasional, Cikini. Kami tinggal bersama kakek dan nenek di jalan Tidar no. 110. Sebuah rumah di pojok perempatan jalan dengan halaman yang luas. Di sana kakek menyewakan halaman rumahnya untuk parkiran truk-truk.
Kakek dan Nenek Teladan Mencinta
Ada pengalaman, kehadiran dan ruang diriku yang berbicara tentang kakek yang mencapai usia 80 tahun dan nenek di usia 85 tahun. Pertama, tentang tempat tinggal. Rumah di jalan Tidar, Surabaya dijualnya dan pindah ke daerah Tebet, Jakarta, agar dapat tinggal berdekatan dengan anak-anak mereka di satu kota. Kelak rumah di Tebet mereka jual juga dan uangnya mereka bagikan rata kepada anak dan cucu. Kedua, kesetiaan dan cintanya kepada nenek, ia wujudkan dengan perbuatan nyata. Setiap pagi ia pergi ke pasar dan berbelanja untuk nenek, antara lain membeli buah pepaya kesukaan mereka berdua. Memang kakek suka bergerak ke sana ke mari, lain dari nenek yang bermasalah pada lutut kakinya. Nenek banyak duduk di satu tempat. Kakek mengingatkanku untuk selalu berjongkok, bangun, sesudah tidur semalaman. Ketiga, ayah pada tahun-tahun terakhir semasa hidupnya dengan mobil tua Studebaker sering mengunjungi mereka di daerah Tebet itu. Bahkan ayah berjanji hendak mendirikan rumah untuk beristirahat. Fundamen batu kali telah diletakkan di tempat kami sekarang tinggal. Keempat, iman Katolik pelan-pelan bertumbuh. Kakek bersedia dibaptis dengan nama Santo Josef, sedangkan nenek sudah dibaptis lebih dulu ketika mereka tinggal di Surabaya.
Bibi Ismijati Datang dari Hongkong
Hari itu tanggal 14 Agustus 1991, bibi Is bersama Linda anaknya berkunjung ke tempat kami di Depok. Mereka datang dari Hongkong, setelah 30 tahun lebih meninggalkan Indonesia. Hari-hari itu mereka mengunjungi sanak keluarga di Banyuwangi sebab bibi berasal dari keluarga Jawa. Ia menikah dengan paman Julius, adik ayah kami. Pada tahun 1960 atas kemauan sendiri bibi Is bersama suami dan anak-anak pindah ke pulau Hainan. Saat itu pemerintah Cina menjemput para imigran dengan mengirim kapal-kapal besar mereka. Indonesia, negeri asal bibi Is tentu saja tak dapat ia lupakan. Kedatangannya juga untuk berziarah bersama kami ke perairan Cilincing. Dengan menaiki perahu ke tengah laut kami menyebar bebungaan bagi almarhum ayah. Ayah dan nenek sempat diperabukan setelah 10 tahun dimakamkan. Abu mereka itu disebar ke tengah laut di teluk Jakarta. Sesampai di darat bibi Is dan keluarganya yang beragama Budha segera menuju tempat bakaran hio dan uang kertas. Mereka percaya dengan uang-uangan yang mereka kirim sang arwah dapat membeli rumah atau mobil atau apa saja yang dikehendaki. Satu per satu kertas mereka bakar sampai habis. Itulah cara ritual mereka sebagai tanda cinta dan perhatian untuk orang yang mereka kasihi.
Menggapai Cita Di Peziarahan Hidup Ini
Seperti sebatang pohon yang bertumbuh di tanah yang subur, maka akar-akarnya akan menemukan sendiri makanannya. Batang pohon menyalurkan nutrisi yang membuat daun menjadi segar sampai saatnya berbuah lebat. Kesetiaan sebagai wujud cinta antara kakek dan nenek membentuk mereka menjadi keluarga yang baik dan berbahagia. Keputusan untuk menikah telah menjadi titik awal kelahiran dalam keluarga besar sekarang ini. Harga pameo bahwa ‘Banyak anak banyak rezeki’ telah berani mereka bayar melalui kepindahan ke Surabaya. Masing-masing anak membawa rezekinya sendiri-sendiri. Meskipun bukan berasal dari keluarga kaya, tidaklah mengapa, asalkan kendali keuangan keluar dan masuk menjadi jelas. Kepindahan dari satu kota ke kota lain, bukannya tanpa ketidakpastian dari banyak hal. Bibi Lot telah menjual rumah dan toko di Embong Malang untuk pindah ke Bandung agar berdekatan dengan anak yang bersekolah. Demikian pula kakek yang perlu perawatan di rumah sakit Sint Carolus. Tidak hanya membaca cerita silat, tetapi nenek juga suka membaca kitab injil. Entah inspirasi apa yang nenek dapatkan dari bacaan itu. Namun mereka tetap menunjukkan ketenangan dan kebahagiaan. Pietisme juga menjadi nilai keluarga dengan anak berbakti kepada orang tua. Perkawinan campur yang sudah mulai di tingkat generasi paman dan bibi telah menunjukkan makna perjalanan lintas generasi menjadi Indonesia. “Saya ini Indonesia”, ……Tidak bisa orang lalu menyatakan saya ini Jawa, saya ini Batak, atau saya ini Cina dan sebagainya, tapi satu jawaban: ”Saya Indonesia”. Inilah tujuan kita bersama. Demikian K. Sindhunatha, SH.
Kreator : Frans Tantridharma (Tjwan Bing)
Comment Closed: Menelusuri Jejak-Jejak Tradisi dan Kelanjutannya
Sorry, comment are closed for this post.