
Jarum jam belum genap menunjukkan pukul sembilan pagi saat Si Kondi mulai meliuk-liuk, meninggalkan hiruk pikuk gerbang Tol Bawen. Di depan mata, yang tadi terbentang jalan tol yang lurus panjang dan menyilaukan kini berganti pemandangan hijau perbukitan. Kabut tipis masih enggan beranjak, membuat udara pagi terasa begitu segar. AC mobil sengaja dimatikan dan jendela dibuka sehingga udara segar bisa leluasa menerobos masuk ke dalam rongga tubuh Si Kondi. Seisi mobil kini terdiam bagaikan terhipnotis oleh keindahan yang disuguhkan di sepanjang jalan yang terlewati.
Begitu kami memasuki wilayah Temanggung, ketenangan awal perjalanan mulai berubah menjadi ketegangan. Jalan yang tadinya landai kini berganti menjadi tanjakan yang berkelok-kelok tanpa henti, memacu jantung untuk berdegup kencang.
Udara pegunungan yang sejuk menusuk kulit, berpadu dengan kewaspadaan yang tinggi saat kami menghadapi setiap tikungan tajam yang seringkali membatasi pandangan. Perjalanan ini bukan lagi sekadar mengemudi, melainkan sebuah pertarungan mental antara kehati-hatian dan hasrat untuk terus melaju. Tanjakan panjang, terus menanjak dan menanjak, belok dan terus menanjak.
Namun, di tengah ketegangan itu, mata kami dimanjakan oleh keindahan alam yang tak terlukiskan. Hamparan kebun teh yang hijau terbentang luas, berpadu dengan hijaunya pepohonan pinus yang menjulang tinggi, menciptakan pemandangan layaknya lukisan hidup. Di satu sisi, kami disuguhkan pemandangan yang menenangkan jiwa, tetapi di sisi lain, setiap belokan adalah sebuah tantangan yang harus ditaklukkan dengan konsentrasi penuh. Kami terus melaju, mengukir cerita di setiap kilometer yang kami lalui, di antara ketegangan dan keindahan yang saling beradu.
Di dalam mobil, suasana terasa tegang. Tegang-tenag asik. Aku sesekali menahan napas, memejamkan mata, dan selalu berpegangan pada pegangan di atas pintu mobil. Mas Bima fokus menyetir. Ayah tampak sungguh serius memperhatikan jalan sambil menikmati pendangan di luar kaca. Beliau Adalah co driver yang selalu memberikan arahan kepada Mas Bima harus bagaimana menghadai situasi yang dihadapi. Beliau bertanggungjawab penuh terhadap lancarnya perjalanan kami. Sementara Seno, yang duduk di sampingku, sebentar-sebentar mengambil gambar dengan ponsel yang tak pernah lepas dari genggamannya.
“Aduh, Mas Bima…itu jalan di depan beloknya tajam sekali. Pelan-pelan ya, Mas!” seruku dengan penuh kecemasan.
“Iya, Bu, tenang saja. Bima hati-hati kok,” hibur Ayah.
“Santai saja Buk, jangan takut …sopirnya tangguh dan co driver nya sudah membuat pace notes yang mantap. Depan itu seru banget, Buk. Lihat! ” Bima menanggapi ketakutanku dengan santai. Seolah semuanya baik-baik saja, tidak ada masalah dengan jalan terjal berliku itu.
“Seru apanya, Mas? Ini jalan tanjakan panjang banget dan belok tajam di depan. Masyaallah… jurang di kiri. Ibu ngeri lihatnya,” ketakutanku semakin memuncak
Tiba-tiba, dari arah berlawanan, sebuah truk melaju kencang, begitu cekatan Mas Bima meminggirkan Si Kondi. Aku langsung memejamkan mata dan berpegangan erat pada kursi. Kakiku sekuat mungkin menginjak dasar lambung Si Kondi seolah membantu Mas Bima mengerem.
“Wah, tadi truknya besar sekali ya, Yah? Yang dibawa sayuran segar, jadi ingat capcay Buk. Betapa enaknya capcay kalau dibuat dari sayur segar yang baru saja dipetik dari sawah,” celoteh Seno yang tidak kutanggapi karena ketegangan yang membuat perutku seolah kram.
“Iya, makanya kita harus lebih hati-hati di sini. Mas Bima konsentrasi dan waspada penuh ya,” kata Ayah yang duduk di samping Mas Bima sebagai co-driver-nya
“Ya Allah, jantung Ibu rasanya mau copot. Ini kita masih jauh kah Yah?” tanyaku
“Sebentar lagi kok, Bu. Setelah tanjakan ini, jalannya sudah agak landai. Sekarang kita nikmati saja pemandangannya. Lihat, Bu, indah sekali kan di luar!” kata Ayah menenangkanku.
Aku perlahan membuka mata, melihat ke luar jendela. Pemandangan memang indah, tapi rasa cemas masih menyelimuti hatiku. Aku terus berdoa dalam hati, berharap perjalanan ini segera sampai tujuan dengan selamat.
“Mas…berhenti Mas… Ibu sudah tidak kuat. Perut Ibu rasanya kram. Jalan tanjakan ini tidak ada habisnya. Ayo kita berhenti sebentar saja. Cari café ta apa gitu. Stres aku,” kataku dengan nada random.
“Sabar, Buk. Sebentar lagi, kalau ada kondisi yang memungkinkan kita berhenti, kita berhenti sebentar ya Mas. Sekalian Ayah mau meluruskan pinggang,” kata Ayah yang juga kelihatan sudah menahan tegang dari beberapa menit yang lalu.
Bima yang dari tadi terus konsentrasi penuh sekarang sengaja melepas setir sebentar, lalu menutup kepalanya dengan jaketnya seolah-olah kedinginan.
“Aku kedinginan, Bu. Dingin banget!” katanya
“Bimaaa! Jangan main-main! kalau kenapa-kenapa, akan repot semua. Gagal senang-senang berwisata. Aduuuh…kapok rasanya,” seruku yang disambut tawa anak-anak dan ayahnya. Sementara aku hanya bisa menggerutu dan menggeleng-gelengkan kepala, tanpa bisa menyembunyikan ketakutanku sedikitpun.
“Sudah, Bima, jangan goda Ibu terus. Ibu sudah pucat pasi,” kata Ayah
“Mas, depan itu berhenti. Ndak kuat Ibu. Ibu beneran mau nangis ini. Ayo nganan. Ada cafe dan tempat parkir yang cukup,” kataku.
“Iya Bu, sabar…ayo Kondi kita istirahat sejenak!” jawab Mas Bima.
Aku menghela napas lega ketika Mas Bima benar-benar sign kanan dan mencari tempat nyaman untuk Si Kondi istirahat.
Subhanallah…begitu keluar dari mobil udara sejuk segar langsung menyeruak masuk tubuhku yang sudah merasa dingin itu. Kutatap hamparan pemandangan alam yang jauh lebih indah dari yang ku bayangkan, dari yang kulihat dari beberapa gambar dan video, dari yang ku lihat di bali jendela kaca Si Kondi . Terlihat jalan yang tadi kami lalui di bawah sana, sungguh berliku-liku dan jauh di bawah sana. Mobil-mobil berjalan beriringan bagaikan semut yang sedang berbaris rapi mencari makan. Indah sekali. Sepertinya suatu kemustahilan aku sampai di ketinggian ini dengan Si Kondi yang dikemudikan Mas Bima.
Kuhampiri café dengan pelayan yang ramah itu. Kupesan kentang goreng dan 4 gelas minuman hangat. Ayah, Bima, dan Seno mengikutiku. Sambil menunggu pesanan, kuhampiri tempat wisata di sebelah kanan café itu. Batu Angkruk begitu tertulis nama tempat tersebut. Aku langsung putuskan untuk mengajak anak-anak dan Ayah ke sana. Sengaja aku tidak ajak mereka diskusi karena aku memang sangat stres dengan perjalan panjang yang sangat mencekam itu. Aku perlu merefresh diri dulu beberapa saat sebelum melanjutkan perjalanan lagi.
“Ayo kita ke Batu Angkruk dulu. Bagus sekali, ibu sudah lihat banner di depan loket tiket. Harga tiketnya murah dan obyeknya cakep,” kataku setengah memaksa mereka mengikutiku.
“Tidak usahlah Buk, kita lanjutkan saja perjalanan ini. Itu lo hanya spot foto,” kata Mas Bisa sambil menunjuk arah Batu Angkruk. Aku tidak meresponnya dan terus melangkah menuju loket untuk membeli tiket. Akhirnya semua pun mengikutiku, masuk ke dalam Batu Angkruk.
Begitu masuk lokasi, kami disuguhi taman kecil yang indah. Ada berbagai macam bunga dan kolam ikan. Salah satu ikon utama dan spot paling populer di Batu Angkruk adalah jembatan kaca. Berjalan di atas jembatan transparan ini akan memberikan sensasi menegangkan sekaligus menyenangkan, seolah-olah kita sedang melayang di atas hamparan perbukitan yang hijau.
Daya tarik utama di sini adalah pemandangan alam yang spektakuler dari ketinggian. Di sini, kami bisa menikmati panorama perbukitan hijau, lembah, serta gagahnya Gunung Sindoro dan Sumbing. Pemandangan ini semakin memukau saat matahari tiba-tiba muncul dan tiba-tiba tenggelam, langit menjadi warna-warni indah dengan kabut tipis masih terus menyelimuti. Kadang hilang tertiup angin, kadang datang lagi menutupi indahnya pemandangan di bawah dan di atas sana. Berada di gardu pandang di ujung jembatan kaca kita bisa menikmati ciptaan-Nya yang sungguh menakjubkan, benar-benar bak Negeri di Atas Awan.
“Foto, Bu?” sapa seorang perempuan paruh baya yang kelihatan energik dengan mengalungkan kamera digitalnya, “tiga jepretan Rp 10.000,- Nanti file fotonya saya kirim ke Ibu,” katanya dengan santun.
“Nanti Ibu dan keluarga saya foto beberapa kali, lalu Ibu pilih mana yang cocok baru kita hitung jumlahnya dan Ibu bayar,” lanjutnya.
“O…gitu?,” sahutku yang sedikit tertarik.
“Dengan adanya photographer profesional pasti hasilnya lebih bagus,” pikirku.
“Mari Bu…” katanya memelas. “Sekarang sepi sekali, Bu. Dari pagi belum ada yang pakai jasa saya,” jelasnya.
“Nanti Ibu bisa naik jembatan kaca itu dengan keluarga, background-nya sana,” katanya sambil menunjuk pemandangan yang bagus banget bak lukisan yang sangat presisi, indah sempurna.
“Sebentar Mbak, tak panggil anak-anakku dulu,” kataku mencari Seno, Bima, dan Ayah yang sedang melihat ikan.
“Ayo naik sini. Bagus banget,” kataku setengah berteriak. “Dibantu Mbaknya ngambil foto,” lanjutku.
Seno, Bima, dan Ayah berjalan menuju ke tempatku. Terlihat jelas bagaimana ekspresi wajah gembira mereka saat melihat lukisan alam yang sangat sempurna terhampar di hadapannya.
“Masyaallah…Bagus sekali,” seru Seno yang tidak bisa menyembunyikan kekagumannya.
Memang dari ketinggian Batu Angkruk, keindahan lereng Dieng bukan lagi sekadar pemandangan, melainkan sebuah sihir yang membius mata. Ini adalah dunia di mana batas antara langit dan bumi seolah lenyap, menyisakan sebuah lukisan raksasa yang dilukis oleh yang Maha Pencipta. Hijau kebun sayur terhampar seperti permadani tak berujung, menutupi lekuk-lekuk bukit yang bergulung-gulung bagaikan ombak beku di samudra raksasa.
Saat kabut perlahan menyelimuti, dunia di bawah berubah menjadi lautan awan yang putih nan lembut, di mana puncak-puncak bukit muncul tenggelam seperti pulau-pulau ajaib. Matahari yang timbul tenggelam memancarkan spektrum warna yang menyapu langit, melukiskan rona jingga, ungu, dan emas yang begitu dramatis hingga membuat napas tertahan. Setiap sudut pandang adalah sebuah kanvas yang tak pernah sama, sebuah mahakarya alam yang terus berubah seiring detik. Di sini, waktu terasa membeku, dan jiwa seolah terangkat, melayang di atas segalanya, menjadi saksi bisu atas keagungan alam yang tiada tandingnya. Allahu Akbar.
“Iyo e,” sahut Bima pendek.
“Tak ganti celana dan pakai sepatu dulu, nanti fotonya biar okay,” katanya seraya beranjak meninggalkan kami.
“Tidak perlu lah Mas. Gitu sudah kelihatan ngganteng,” kata Ayah mencegah Mas Bima untuk Ganti pakaian.
“Iya udah, gitu saja. Training-nya juga bagus kok. Nanti saat foto bersama kita tidak pakai sepatu saja semuanya,” kataku. Di Batu Angkruk ini tanahnya ditutup dengan rumput sintetis hijau bersih dan kelihatan segar.
Bima pun menyetujui dan kami mulai menikmati objek wisata pertama kami yang tidak masuk agenda tapi nyata benar indahnya.
“Mari, Bu!” Mbak photographer mulai memandu dan mengarahkan kami untuk mengambil spot yang bagus dengan berbagai gaya yang menarik. Sangat professional sang Mbak melaksanakan tugasnya. Puluhan foto berhasil diambilnya dengan berbagai pose dan kami pun mengakhiri acara foto-foto ini.
“Silakan Mas, dipilih mana yang bagus. Yang tidak cocok langsung di-del saja. Nanti yang cocok saya kirim. Beri nomornya ya, Mas!” katanya kali ini dengan wajah optimis sambil menyerahkan kameranya ke Mas Bima. Seno, Bima, dan Ayah sibuk berdiskusi memilih foto. Sementara aku bercakap-cakap dengan si Mbak yang bercerita tentang profesinya. Cukup kasihan, dengan maraknya pemakaian smartphone, tidak banyak orang yang memakai jasanya. Penghasilannya hanya cukup untuk makan sehari-hari. Sementara dia tidak punya sawah untuk bertani serta tidak bisa bekerja di bidang pertanian. Dia bergantung sepenuhnya di bidang pariwisata, sebagai pemandu wisata dan juga juru foto profesional sebagai mata pencahariannya.
“Sudah Mbak,” kata Seno sambil menyerahkan kembali kamera ke Mbaknya.
Begitu menerima kamera Mbak nya langsung menghitung, “Ada 21 foto, ini mau diambil semua?” tanya mbaknya.
“Iya,” jawab ketiga pangeranku serempak. Akupun mengiyakan dan segera menyelesaikan pembayaran dan pengiriman fotonya.
Tidak terasa sudah lebih 30 menit kami berada di Batu Angkruk. Saatnya kami melanjutkan perjalanan, menuju destinasi pertama yang sudah Mas Bima sampaikan tadi.
Kram perut, sport jantung, dan semua rasa cemas yang kurasakan sudah hilang lenyap, terbayar dengan suguhan mahakarya-Nya yang sangat spektakuler. Kini aku semakin semangat untuk melanjutkan perjalanan, menikmati liburan di negerinya sang dewa.
Kreator : Kumbini Kundhaliniwati
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Mengukir Bahagia di Negeri di Atas Awan (chapter 3)
Sorry, comment are closed for this post.