(sesuatu hilang, akan berlalu tapi jika seseorang hilang, pasti terkenang)
Ayah ?
Ayah !
Ayah …
Mengapa tak berkabar jika akan kemari
Mengapa gawaimu tak menjawab,
Mengapa …
Rasanya masih kemarin
Suara itu memanggil-manggil
Nada keras khas
Bak jendral meski
Sersan mayor; tapi
Bagiku engkau jendral hidupku
Mengapa Engkau tetap berdiri
di sudut ruang tamu yang temaram
Tak beranjak
Tak bersuara
Ku terpana
Engkau malam ini
Agak kurusan Ayah, namun
Badan dan pakaianmu lebih bersih
Bersinar,
Tersenyum, tanpa suara seperti biasanya
Pasti ada sesuatu yang Kau sembunyikan
Pasti menunggu
Kutebak, ku mohon maaf dulu
Karna
Mengapa Ayah selalu duluan menelpon
Mengapa kalau tidak menelpon tidak menelpon’
Berkabar walau hanya suara
Yang terdengar
Segala indah
Segala riuh
Segalanya telah musnah,
Air mata basah
Kenangmu, Ayah
Tujuh ribu dua ratus jam
lalu, Engkau pergi ke lain alam
Untaian doa tiap malam
Rangkaian melati di atas tilam
Jiwa terdalam
Tenang bersemayam …
Terima kasih Ayah,
Ku rindu padamu
*Bahasa Jawa, peringatan 1 tahun meninggalnya seseorang
Batu, awal September 2023
Kreator : Arif Mardiono
Comment Closed: MENJELANG PENDAK
Sorry, comment are closed for this post.