KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Menjembatani dua dunia

    Menjembatani dua dunia

    BY 20 Des 2024 Dilihat: 280 kali
    Menjembatani dua dunia_alineaku

    Langit sore mengalirkan rona jingga lembut ke seluruh penjuru kamar. Aku duduk di tepi jendela kamar lamaku, memandangi halaman kecil yang tumbuh liar dengan rumput dan bunga liar. Aroma khas rumah lama masih kental di udara—bauran kayu tua, buku-buku lama, dan sedikit aroma tanah basah. Di tanganku ada sebuah buku catatan, tempat aku biasa menuliskan pemikiran-pemikiran yang tak pernah sempat ku ungkapkan. Aku merasa sedikit lega bisa berada di sini, di rumah yang telah menjadi saksi perjalananku.

    Tetapi, bayangan tentang Cleo terus menghantui pikiranku. Sudah terlalu lama kami tidak berbicara. Terlalu banyak yang berubah sejak terakhir kali aku benar-benar merasa dekat dengannya. Aku ragu, tetapi bagian dalam diriku tahu, aku membutuhkan kehadirannya—bukan hanya untuk menghubungkan masa lalu dan masa kini, tetapi juga untuk menenangkan bagian diriku yang masih merasa terombang-ambing.

    Aku mengeluarkan ponsel dari saku, membuka kontak Cleo, dan menatap namanya di layar. Jemariku melayang-layang di atas layar, sebelum akhirnya kuputuskan untuk mengetik pesan sederhana.

    “Cleo, aku di rumah. Kalau sempat, mampir, ya?”

    Tidak sampai lima menit, sebuah balasan muncul. 

    “Seriusan? Aku bisa kesana sekarang?”

    Aku tersenyum kecil. 

    Tentu saja,” balasku.

    Sekitar satu jam kemudian, suara motor terdengar di depan rumah. Aku melongok dari jendela dan melihat Cleo turun dari motor, mengenakan jaket jeans usang yang selalu jadi favoritnya. Ia melambaikan tangan dengan antusias.

    “Cimo!” 

    Suara riangnya menggema begitu aku membuka pintu.

    Cleo langsung memelukku erat, seperti tak peduli bahwa kami berada di ambang pintu. Aku membalas pelukannya dengan tawa kecil.

    “Cleo… masih sama seperti dulu, ya.”

    “Dan, kamu! Kelihatan beda banget!!” katanya sambil menatapku dari atas ke bawah. 

    “Tapi aku senang kamu masih di sini. Kupikir kamu sudah lupa sama rumah ini, atau sama aku.”

    Aku menggeleng, meskipun sedikit rasa bersalah mengganjal. 

    “Aku nggak pernah lupa, Cle. Hanya… ada banyak hal yang berubah.”

    Kami melangkah masuk, dan Cleo segera memindai ruangan dengan mata penuh nostalgia.

    “Astaga, nggak ada yang berubah di rumah ini. Bahkan foto kalian di dinding masih ada.”

    Aku mengikuti pandangannya. Foto lama itu menunjukkan aku, Bima, dan Bapak. Tawa kami beku di dalam bingkai, tetapi kenangan itu terasa begitu nyata.

    “Aku suka rumah ini,” gumam Cleo sambil duduk di sofa. 

    “Apa kabar Bima dan Bapak?”

    “Baik,” jawabku sambil menuangkan teh ke dalam dua cangkir. 

    “Bima masih ceria seperti biasa. Bapak… ya, seperti biasa, kerja keras dan terlalu banyak memikirkan kami.”

    Cleo tersenyum tipis. “Itu Bapak banget.”

    Percakapan kami mengalir dengan mudah, seperti arus sungai yang sudah akrab dengan bebatuannya. Kami membicarakan hal-hal kecil—tentang masa-masa kuliah, pekerjaan Cleo saat ini di toko buku, tentang cerita lucu pelanggan-pelanggan yang sering ia temui. Tapi kemudian, pembicaraan itu perlahan beralih ke topik yang lebih serius.

    “Cimo,” katanya pelan, matanya menatapku lekat. 

    “Jadi, cerita dong. Apa yang sebenarnya terjadi sama kamu? Kenapa tiba-tiba kamu seperti… ya, kamu yang sekarang ini?”

    Aku terdiam sejenak, mencoba merangkai kata-kata. 

    “Aku…” Aku menghela napas panjang. 

    “Aku menemukan sesuatu yang nggak pernah aku tahu sebelumnya. Aku punya keluarga lain, Cleo. Keluarga kandungku.”

    Matanya terbelalak, tetapi ia tidak menyela. 

    “Serius?”

    Aku mengangguk. 

    “Mereka orang-orang yang baik, Cleo. Mereka memberiku dunia yang benar-benar berbeda dari apa yang pernah aku tahu. Tapi… rasanya aneh. Aku merasa terjebak antara dua dunia ini. Dunia lama yang aku kenal, dan dunia baru yang menawarkan segala hal yang selama ini aku pikir nggak mungkin.”

    “Tapi kamu merasa nggak cocok?” tebaknya.

    Aku mengangguk, menatap ke bawah. 

    “Aku merasa terjebak di antara dua dunia, Cleo. Dunia yang aku kenal dan dunia yang baru. Aku takut kehilangan keduanya, tapi aku juga takut aku nggak bisa menyatukan keduanya.”

    Cleo terdiam, menatapku dengan ekspresi penuh perhatian. 

    “Mo, kamu nggak harus menyatukan semuanya dalam waktu singkat. Hidup nggak selalu hitam putih. Mungkin, kamu cuma perlu memberi dirimu waktu untuk menerima kedua dunia itu.”

    Pembicaraan kami terus berlanjut hingga malam semakin larut. Cleo tersenyum kecil sambil menatapku lekat.

    “Bagaimana kalau aku ikut ke rumah barumu besok? Aku ingin melihat mereka—keluarga kandungmu.”

    Aku terdiam, terkejut oleh usulannya. 

    “Kamu yakin?”

    “Kenapa nggak?” katanya dengan tawa ringan. 

    “Kalau aku bisa mengenal mereka, mungkin aku juga bisa membantu kamu merasa lebih nyaman.”

    “Aku nggak tahu, Cle,” kataku, mencoba menahan sesak di dadaku. 

    “Kadang aku merasa dunia yang baru ini seperti ruang besar dengan pintu-pintu yang tertutup rapat. Aku bisa masuk, tapi nggak benar-benar diterima.” Aku terdiam sejenak, memikirkan makan malam bersama keluarga baru itu. Tawanya hangat, tapi aku merasa hanya sebagai penonton. 

    “Sementara dunia lamaku…” Aku menghela napas. 

    “Aku takut dunia itu perlahan meninggalkan aku.”

    Mau tidak mau, aku tersenyum. Cleo selalu tahu bagaimana cara membuatku merasa sedikit lebih ringan.

     

    Kami pergi ke rumah baruku sore itu. Di sepanjang perjalanan, Cleo terus bercerita tentang kehidupannya—pelanggan-pelanggan aneh di toko buku tempatnya bekerja saat ini, bagaimana motornya hampir mogok di jalan, dan rencananya untuk traveling ke tempat-tempat terpencil. Aku mendengarkannya dengan senyum kecil, merasa nyaman dengan kehadirannya.

    Saat motor Cleo berbelok ke jalan kecil menuju rumah baru, dadaku terasa sesak. Aku memandangi pintu pagar yang mulai terlihat di kejauhan, mencoba menyiapkan diri. 

    “Mereka nggak akan menilaiku karena kamu, kan?” gumamku pelan.

    Cleo menoleh singkat, tersenyum. 

    “Kalau mereka menilaimu, aku yang bakal kasih mereka ceramah.”

    Begitu Cleo masuk, senyum hangat Mama menyambutnya, meskipun ada sedikit kebingungan di matanya.

    “Selamat datang, Nak,” katanya sambil menatapku seolah meminta penjelasan.

    “Ini Cleo teman dekatku, Ma,” jawabku singkat, berharap itu cukup menjelaskan.

    Jay, yang sedang membaca buku, menatap Cleo dengan pandangan penuh tanya. 

    “Jadi, ini Cleo yang sering kamu ceritakan?”

    Aku tersenyum kecil, mengangguk. 

    “Dia selalu ingin tahu tentang kalian.”

    Percakapan awal terasa canggung, tetapi Cleo dengan cepat mencairkan suasana. Ia bercerita tentang pekerjaannya di toko buku, membuat Jay dan Willy tertawa. Aku memperhatikan mereka, merasa lega sekaligus aneh. Dunia lamaku dan dunia baruku bertemu dalam ruangan ini—dan untuk pertama kalinya, mereka terlihat menyatu.

    Saat Cleo bercanda dengan Willy, Mama mengamati mereka dengan senyum tipis. Aku tahu, Mama masih berusaha memahami selera humor Cleo yang terkadang blak-blakan. Tapi Jay, dengan sifat tenangnya, menanggapi Cleo dengan anggukan kecil. Mereka berbeda, tetapi tidak terasa asing—setidaknya tidak bagi Cleo.

    Cleo dan Willy memang dua kutub yang berbeda. Willy dengan pesonanya yang selalu menjadi perhatian, dan Cleo yang tahu betul bagaimana cara menanggapi sikap playboynya tanpa tergoda. Sementara itu, Jay dengan caranya yang lebih tenang dan bijaksana, selalu menjadi penyeimbang di antara mereka, sosok yang mengingatkan kami untuk tetap fokus pada tujuan, namun tetap mendengarkan dengan perhatian.

    Interaksi mereka langsung cair, penuh dengan obrolan ringan yang menggambarkan keakraban mereka. Tidak ada kecanggungan atau formalitas; mereka berbicara seperti teman lama yang baru saja bertemu kembali. Aku memperhatikan mereka sambil tersenyum kecil, merasa lega bahwa kehadiran Cleo diterima dengan begitu alami di sini.

    Cleo, dengan kepribadiannya yang ceria, dengan mudah mencairkan suasana. Aku merasa sedikit lega melihat mereka bisa berinteraksi dengan nyaman.

    Namun, di tengah kehangatan itu, ada perasaan aneh yang mulai tumbuh di dalam diriku. Seolah-olah, melihat Cleo di dunia ini adalah pengingat bahwa aku masih belum sepenuhnya menerima semuanya.

    Malam itu, setelah makan malam, aku dan Cleo duduk di beranda. Angin malam berhembus lembut, membawa aroma melati dari taman. Hatiku terasa lebih ringan. Untuk pertama kalinya, aku merasa bahwa kedua dunia ini tidak perlu saling bersaing. Aku hanya perlu menemukan cara untuk hidup di antara keduanya. Cleo menatap langit berbintang, sementara aku menatap bayangannya.

    “Kamu tahu, Mo,” katanya akhirnya. 

    “Mereka orang-orang yang baik. Aku bisa melihat itu.”

    Aku mengangguk, meskipun hatiku masih dipenuhi keraguan.

    “Tapi aku juga bisa mengerti kenapa kamu merasa sulit. Kamu selalu mencari tempat di mana kamu benar-benar merasa belong.”

    “Apa itu salah?” tanyaku pelan.

    Cleo menggeleng. 

    “Tentu tidak. Tapi, Mo, mungkin sudah saatnya kamu berhenti mencari tempat itu. Karena tempat itu bukan tentang di mana kamu berada. Tempat itu adalah tentang siapa yang bersamamu.”

    “Kadang aku merasa nggak pantas berada di sana, Cle,” gumamku sambil menghindari tatapannya. 

    “Aku seperti tamu yang terlalu lama tinggal.”

    Cleo menghela napas, wajahnya penuh perhatian. 

    “Tapi mereka menerima kamu, kan?”

    Aku mengangguk ragu.

    “Ya, tapi aku nggak tahu apa itu cukup.”

    Saat Cleo berbicara, aku menatapnya dalam diam. Kata-katanya masuk ke pikiranku seperti angin malam yang lembut, tetapi menyisakan bekas yang dalam. 

    Kalau begitu, mungkin aku hanya perlu waktu,” bisikku lebih kepada diriku sendiri.

    Aku menarik napas dalam-dalam, membiarkan keheningan mengambil alih sejenak. Langit senja yang mulai tampak lebih damai, lebih tenang. Aku tidak tahu apakah aku sudah menemukan jawabannya, tetapi aku merasa lebih siap untuk menerima kedua dunia ini sebagai bagian dari diriku.

    Saat Cleo pamit malam itu, aku duduk di beranda sendirian. Angin malam membawa aroma melati dari taman, tetapi pikiranku tidak bisa tenang. Ada sesuatu di benakku sejak sore tadi—rasa aneh yang sulit dijelaskan.

    Aku mengambil ponselku, berniat memeriksa pesan-pesan. Sebuah notifikasi baru muncul di layar. Pesan dari Bapak.

    Cimo, ada yang harus kamu tahu. Ini penting.

    Jantungku berdebar lebih cepat. Aku menatap layar, bertanya-tanya apa yang sedang menungguku di babak berikutnya dari perjalanan ini.

     

     

    Kreator : Fati Nura

    Bagikan ke

    Comment Closed: Menjembatani dua dunia

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021