“Teman-teman, nanti siang setelah murid-murid pulang sekolah kita rapat koordinasi ya. Jangan ada yang izin pulang duluan. Kita rapat agar lengkap.” Kubaca chat WA kepala sekolah di grup.
Tak lama kemudian, Bu Ira membalas menggunakan bahasa Jawa.
“Inggih, Bu. Insya Allah,” sahutnya seperti biasa. Dia lebih sering cepat membalas jika ada chat WA di grup.
Kemudian, disusul respon dari Bu Opi yang menggunakan bahasa Jawa juga.
“Inggih Bu,” balasnya.
Aku pun segera merespon chat tersebut menggunakan bahasa Jawa juga. Karena penggunaan bahasa Jawa halus memiliki makna lebih menghormati dan lebih menghargai lawan bicara, walaupun kata yang diucapkan memiliki arti yang sama dengan kata yang menggunakan bahasa Indonesia.
Ketika aku merespon WA tersebut, terpikirkan olehku bahwa aku nanti menjemput anakku pulang sekolah SD pada pukul 11.00 karena hari ini hari Jumat. Sehingga aku pun merasa tenang dan santai, tidak terburu-buru izin keluar menjemput anak.
Demikianlah siang itu, usai jam pembelajaran di kelas, anak-anak pun pulang dijemput oleh orang tua masing-masing. Kami segera membersihkan kelas masing-masing. Setelah bersih dan rapi, lampu serta AC dimatikan, kami pun berkumpul di sebuah ruangan yang akan digunakan untuk rapat bersama Ibu Kepala Sekolah.
Rapat pun berjalan lancar. Beberapa hal telah dibahas dengan hangat. Tanpa terasa, jarum jam telah menunjukkan pukul 11.00. Sudah waktunya aku izin menjemput anakku.
Aku pun segera pamit dan meluncur menuju sekolah dasar di mana anakku belajar. Sepanjang jalan tampak sepi, tidak ada lalu lalang para emak pulang menjemput anaknya. Biasanya, jika waktunya jemput pulang sekolah, aku berpapasan dengan beberapa emak yang pulang dengan membonceng anaknya memakai seragam sekolah yang sama seperti yang dikenakan oleh anakku.
Namun, kali ini aku tak bertemu satupun di antara mereka. Hatiku mulai dag dig dug tak karuan. Dalam hati aku bertanya-tanya sendiri. Apakah aku sudah telat menjemputnya, ataukah justru paling awal, ataukah anak-anak SD belum pada pulang ya, sehingga sepanjang jalan sepi tak bertemu anak-anak SD pulang sekolah.
Sudahlah, yang penting aku segera tarik gas sepeda motorku. Biar segera sampai di sana dan bertemu anakku. Tak salah dari kekhawatiranku, sesampai di lokasi aku melihat suasana yang biasanya ramai riuh lalu lalang anak-anak mencari penjemputnya, kali ini sepi tak satupun ada penjemput bersama sepeda motornya parkir di pinggir jalan belakang sekolah. Aku terus melaju menuju pintu belakang sekolah. Kudapati anakku duduk seorang diri di kursi warung gorengan Mak Nuri. Tampak dia lesu seperti mengantuk atau sedang tak enak hati.
Ternyata semua anak sudah pulang, sudah dijemput oleh orang tua masing-masing dan tinggal dia sendiri yang belum dijemput. Senyum merekah saat dia melihatku datang menghampirinya. Aku pun merasa iba dan segera aku tanyakan kepadanya pulang jam berapa. Dia pun mengatakan bahwa semua anak sudah pulang jam 10.00 tadi. Sehingga tinggal dia sendiri yang menunggu lama di sini. Dalam kasihan dan merasa bersalah aku pun mengucapkan kata indah padanya, “Terima kasih ya Nduk, dirimu sudah sabar menunggu Ibuk.”
Kreator : Endah Suryani, S. Pd AUD
Comment Closed: Menunggu
Sorry, comment are closed for this post.