Ketetapan yang Turun dari Langit Sang Pemilik Takdir
Dalam pembahasan mengenai takdir, sering kita mendengar dua istilah yang tampak serupa namun menyimpan kedalaman makna: qodho’ dan qodar. Keduanya ibarat dua sisi dari satu ketetapan Ilahi—terlihat dekat, namun ketika dihayati lebih dalam, masing-masing memegang perannya sendiri. Jika salah satunya disebutkan secara terpisah, maknanya dapat mencakup yang lain. Namun ketika keduanya hadir bersamaan, barulah perbedaan halus itu tampak dengan jelas. Kata qodho dan qodar ini serupa dengan kata iman dan islam, fakir dan miskin. Jika keduanya disebut bersamaan, maka makna keduanya berbeda dan jika disebut secara bersendirian, maka makna keduanya sama.
Qodho’ adalah ketetapan Allah yang berlaku pada makhluk-Nya—apa yang diwujudkan, dihilangkan, diubah, atau digerakkan dalam kehidupan ini. Ia adalah realisasi dari kehendak-Nya, yang tampak dalam peristiwa dan kejadian yang kita alami dari waktu ke waktu. Sementara qodar adalah ketentuan Allah yang telah ditulis sejak zaman azali, jauh sebelum alam semesta tercipta, ketika segala sesuatu masih berupa rahasia di Lauhul Mahfuzh.
Dengan demikian, qodar mendahului, menjadi cetak biru takdir, sedangkan qodho’ datang kemudian sebagai pelaksana dari apa yang telah Allah tetapkan sejak dahulu. Keduanya berpadu, membentuk alur kehidupan yang kita jalani—alur yang mungkin tak selalu mudah dipahami, namun selalu berada dalam genggaman kasih sayang dan kebijaksanaan-Nya.
Ikhwah fillah……
Di Surah Yunus Allah mengajak hati manusia untuk bersandar sepenuhnya kepada Allah—Tuhan yang menggenggam takdir, yang mengetahui setiap tetes air mata dan tiap desir harapan di dalam dada. Tema utamanya adalah iman kepada qada dan qadar, keyakinan bahwa tidak ada satu pun peristiwa yang menimpa hidup kita tanpa izin dan ketetapan-Nya. Para ulama mengingatkan, “Selama takdir masih di tangan Allah, maka tenanglah.” Sebab di tangan itulah segala kebaikan bermula, bahkan ketika bentuknya tampak seperti ujian.
Iman kepada qada dan qadar adalah pintu ketenangan hati. Dengan iman itu, seorang hamba belajar bahwa musibah bukanlah kesalahan siapa pun. Bukan karena manusia, bukan karena waktu, bukan pula karena nasib yang kejam. Semua terjadi karena Allah sedang menuliskan bagian dari kisah hidup kita, kisah yang Dia tahu ujungnya akan membawa kebaikan, meski jalan menuju ke sana terkadang terasa pahit.
Nabi Muhammad SAW mengajarkan sesuatu yang menegakkan kembali hati yang rapuh: seandainya seluruh manusia di muka bumi berkumpul untuk memberimu manfaat, mereka takkan bisa melakukannya kecuali jika Allah telah menuliskannya untukmu. Dan bila mereka ingin mencelakakanmu, mereka pun takkan mampu selain dengan izin-Nya. Betapa menenteramkan hati yang sedang gelisah—bahwa tempat bergantung kita bukanlah makhluk, tetapi Dia yang menggenggam seluruh alam.
Surah Yunus mengarahkan kita agar tidak sibuk bertanya, “Mengapa ini terjadi padaku?” Rasa sakit, kehilangan, atau cobaan yang datang adalah bagian dari takdir yang telah Allah pilihkan. Dan apa pun yang Allah pilih, itulah yang paling baik. Para ahli hikmah berkata, “Segala yang Allah tetapkan, di dalamnya pasti tersimpan kebaikan.” Hamba yang merelakan takdir akan menemukan kedamaian yang tidak bisa diberikan oleh dunia.
Namun menerima takdir bukan berarti berhenti berusaha. Seorang mukmin tetap berikhtiar, tetap melangkah, tetap mencoba. Sebab kita tidak tahu apa yang Allah tuliskan untuk masa depan kita. Bila akhirnya tidak seperti yang kita harapkan, jangan terburu-buru kecewa. Mungkin Allah sedang menjauhkan kita dari sesuatu yang tidak baik, atau mendekatkan kita kepada sesuatu yang lebih indah.
Karena itu, ketika hati ingin berkata, “Seandainya aku tidak melakukan ini…” Islam mengajarkan untuk menggantinya dengan, “Qadarullahu wa maa syaa fa‘al.” Itulah takdir Allah, dan Dia melakukan apa yang Dia kehendaki. Kalimat itu bukan sekadar ucapan; ia adalah obat yang menenangkan luka, pelukan lembut bagi jiwa yang letih dari ujian-ujian hidup.
Kesadaran itu membuat kita memahami bahwa tempat kembali terakhir dalam menghadapi takdir hanyalah Allah Ta’ala. Tidak ada kekuatan yang mampu mengubah kehendak-Nya. Ingatlah Perang Badar: jumlah musuh jauh lebih besar, tetapi kemenangan diberikan kepada kaum beriman. Mereka telah berusaha sekuat tenaga, tetapi kemenangan datang karena mereka menyerahkan seluruh hasil kepada Allah.
Begitulah takdir bekerja, dalam diam, dalam rahasia, dalam ketetapan-Nya yang sempurna. Tugas kita hanya satu: berusaha, lalu ridha. Sebab apa pun yang menimpa kita, itulah bagian terbaik dari cinta Allah kepada hamba-hamba-Nya.
Takdir adalah rahasia Allah yang mengalir ke dalam hidup manusia.
Ia ditulis sebelum lautan diciptakan, sebelum angin pertama berhembus, sebelum nama kita terbentuk di bibir ibu.
Sering kali kita membayangkan takdir sebagai garis lurus yang memaksa kita berjalan tanpa pilihan.
Padahal takdir bukan jerat—ia adalah pelukan.
Pelukan dari Tuhan yang lebih dekat daripada urat leher kita.
Allah berfirman:
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.”
(QS. At-Taghabun: 11)
Ujian Allah bukan berarti hukuman.
Kadang ujian itu adalah perlindungan.
Kadang ujian itu adalah pembelajaran.
Kadang ujian itu adalah cara Allah memalingkan kita dari hal-hal yang tidak mampu kita pikul.
Takdir adalah rencana besar yang tidak selalu tampak indah pada awalnya.
Bagai benih yang ditanam dalam gelap sebelum tumbuh ke permukaan.
Dan kita manusia adalah makhluk yang hanya melihat apa yang di depan mata.
Sedangkan Allah melihat ujung cerita.
Kreator : Suhaimi Alsahmy
Comment Closed: menyelami arti takdir dan kehidupan
Sorry, comment are closed for this post.