Langit mendung seperti kanvas kelabu, terlalu berat untuk dilukis matahari. Aku duduk di ambang jendela, tangan memeluk cangkir teh yang kini hanya menawarkan kehangatan sisa. Tatapanku tertuju pada pohon tua di halaman, cabang-cabangnya yang hitam oleh hujan tampak seperti tangan yang meraih udara kosong. Nafasku berat, seperti menanggung sesuatu yang tak terlihat. Di sekelilingku, rumah ini diam, tapi terasa menuduh, seolah bertanya kenapa aku tak lagi merasa nyaman di sini.
Setiap detail rumah ini masih sama; lantai keramik yang dingin, sofa tua dengan bantalan yang mulai kehilangan bentuknya, bahkan bau kayu lapuk bercampur aroma buku-buku lama yang memenuhi rak di ruang tamu. Semuanya terasa familiar, tetapi juga aneh, seperti pakaian yang dulu nyaman, tapi kini terlalu sempit. Aku tahu aku mencintai tempat ini, tapi apakah aku benar-benar masih memiliki tempat di dalamnya?
Suara detak jam dinding menambah kesunyian yang menggantung, seperti mengingatkan bahwa waktu terus berjalan, sementara aku tetap terjebak di antara dua dunia. Dunia lama, penuh kenangan bersama Bapak dan Bima, dan dunia baru yang menawarkan harapan bersama Mama, Jay, dan Willy. Tapi harapan itu terasa rapuh, seperti kaca tipis yang bisa pecah kapan saja.
Ponselku bergetar, mengusir lamunan. Nama Cleo muncul di layar. Aku menghela napas sebelum menjawab.
“Halo?”
Suaraku terdengar lemah, hampir berbisik.
“Cimo, kamu di mana? Kenapa kayaknya jauh banget?” Cleo langsung bertanya tanpa basa-basi. Itu khas dirinya—selalu tahu ada sesuatu yang salah tanpa perlu diberi tahu.
“Di rumah,” jawabku singkat.
“Lagi mikir-mikir tentang… banyak hal.”
Cleo mendesah pelan.
“Bima tadi cerita soal kamu. Dia bilang kamu kelihatan kayak orang yang hilang arah. Ada apa, Mo? Kamu nggak biasanya kayak gini.”
Aku menatap keluar jendela, pada dedaunan yang berguguran di halaman.
“Bima cuma khawatir, Cle. Dia tahu aku sedang bingung. Aku… merasa semua ini terlalu rumit. Terlalu banyak yang harus kupikirkan.”
“Hm, apa yang kamu pikirkan? Apa kamu takut kehilangan sesuatu, Mo? Masa lalu? Atau kamu takut nggak diterima di tempat baru?” suara Cleo terdengar lembut, tapi tegas, seperti pisau tajam yang menyentuh kulit tanpa memotong.
“Aku nggak tahu, Cle.” jawabku akhirnya, suara serak oleh emosi yang kutahan.
“Kadang aku merasa aku nggak akan pernah benar-benar menjadi bagian dari salah satu dunia itu. Aku… takut, Cle. Takut kalau aku kehilangan keduanya.”
Cleo terdiam, lalu mendesah pelan.
“Mo, aku tahu kamu kuat. Kamu selalu kuat. Tapi kadang, nggak apa-apa kalau kamu takut. Yang penting, kamu tetap bergerak maju, meskipun itu berarti meninggalkan sesuatu.”
Aku memejamkan mata, kata-katanya menyelinap ke pikiranku seperti angin dingin. Aku ingin menyangkal, tapi aku tahu dia benar.
Pertanyaan itu menusukku, membuka luka yang aku coba abaikan. Aku terdiam, mencerna kalimat Cleo.
Aku ingat saat Bima dan aku bermain petak umpet di halaman ini. Pohon tua itu menjadi tempatku bersembunyi, dan aku selalu menang karena Bima terlalu kecil untuk mencariku dengan baik. Tapi suatu hari, aku sengaja membiarkan dia menang.
“Mbak, aku menang!’ teriaknya dengan wajah berseri-seri, tangannya menunjuk ke arahku yang pura-pura menyerah.
Aku tertawa kecil, mengusap rambutnya.
“Iya, Bima yang paling hebat.”
Saat mengenang itu, hatiku terasa hangat sekaligus hampa. Aku menatap pohon tua itu lagi, sekarang renta dan sepi. Apakah Bima juga melihat rumah ini seperti aku—tempat yang dulu penuh kehidupan, tapi kini hanya bayang-bayang kenangan?
“Mbak, Bapak selalu bilang kamu itu kakak terbaik buat aku!” seru Bima suatu hari, ketika aku mengalah dan membiarkan dia menang lomba lari kecil kami.
Itu mungkin kalimat sederhana, tapi hingga sekarang, aku masih mengingatnya dengan jelas.
“Mbak, akhir-akhir ini, kamu kayak orang yang hilang,” kata Bima, suaranya lirih tapi penuh perhatian.
“Aku tahu Mbak masih sayang rumah ini, tapi… aku juga tahu Mbak juga bingung, kan?”
Aku tersentak, menatap wajahnya yang polos.
“Bim, Mbak cuma… nggak tahu harus bagaimana.”
Dia menggenggam tanganku, kecil tapi hangat.
“Tapi, dimana pun Mbak berada nanti, aku tahu Mbak tetap jadi Mbak Cimo yang aku kenal. Aku cuma mau Mbak Cimo bahagia.”
Dadaku mengencang.
Kata-katanya mengisi kekosongan di hatiku, tapi juga menyisakan keraguan yang tak terjawab. Aku memeluk Bima erat, seolah dia adalah jangkar terakhir yang menahanku dari hanyut dalam kebingunganku.
Tapi seiring waktu, kenangan-kenangan itu semakin memudar. Pohon yang dulu tempat kami bermain kini tampak renta, seperti menanggung beban yang tak kasatmata. Aku bertanya-tanya, apakah Bima juga merasakan hal yang sama? Apakah dia juga melihat rumah ini sebagai tempat yang berubah seiring kami tumbuh dewasa?
“Halo? Cimo, kamu masih di sana?” suara Cleo membuyarkan lamunanku.
“Masih, Cle,” jawabku pelan.
“Aku cuma merasa… seolah-olah aku nggak bisa memilih. Dua dunia ini terlalu penting untukku. Tapi aku tahu, aku nggak bisa mempertahankan keduanya.”
Cleo terdiam sejenak sebelum menjawab, “Mo, kadang-kadang kita memang harus memilih, meskipun itu sulit. Tapi kamu nggak harus buru-buru. Jangan bikin pilihan karena takut kehilangan sesuatu. Pilih karena kamu tahu apa yang benar-benar kamu butuhkan.”
Beberapa saat setelah berbicara dengan Cleo, aku mendengar langkah kaki kecil mendekat. Bima muncul dari balik pintu dengan wajahnya yang penuh tanda tanya.
“Mbak, kamu nggak apa-apa?” tanyanya, suaranya dipenuhi perhatian yang jarang dia tunjukkan.
Aku tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan keresahanku.
“Aku baik-baik aja, Bim.”
Dia duduk di sampingku, memandang keluar jendela.
“Aku cuma khawatir sama Mbak. Akhir-akhir ini, Mbak Cimo kelihatan kayak… jauh. Kayak Mbak Cimo nggak benar-benar ada di sini.”
Aku menghela napas, menatap wajah adikku yang polos tetapi penuh kepedulian.
“Bim, kadang Kakak merasa bingung. Dunia ini terasa terlalu besar, dan Kakak nggak tahu harus berdiri di mana.”
Bima terdiam, lalu berkata, “Tapi Mbak, di mana pun Mbak Cimo berdiri, aku tahu Mbak akan tetap menjadi Mbak Cimo yang aku kenal. Aku cuma mau Mbak Cimo bahagia.”
Kata-katanya membuat hatiku terasa hangat, meskipun keraguan itu masih ada. Aku memeluk Bima erat, merasakan cinta yang tak berubah meskipun dunia kami terus bergerak.
Siang itu, aku memutuskan menemui Bapak di ruang tamu. Dia sedang duduk di sofa, memegang koran tua yang sudah kusam. Wajahnya serius, tetapi ketika dia melihatku, ada kelembutan di matanya.
“Cimo.”
Suara Bapak terdengar tenang, tapi ada nada serius yang membuatku menahan napas.
“Kamu tahu, Bapak juga pernah ada di posisi kamu. Harus memilih antara sesuatu yang aku tahu dan sesuatu yang belum pasti.”
“Lalu, apa yang Bapak lakukan?” tanyaku.
Suaraku bergetar oleh rasa ingin tahu sekaligus takut.
Bapak tersenyum tipis.
“Bapak memilih apa yang menurut hati Bapak benar, meskipun itu berarti meninggalkan banyak hal. Kadang kita memang harus kehilangan sesuatu untuk menemukan sesuatu yang lebih besar.”
Aku menunduk, merasakan berat dalam kata-katanya.
“Tapi Pak, bagaimana kalau aku salah memilih? Bagaimana kalau aku kehilangan semuanya?”
Bapak menarik napas panjang, lalu meraih tanganku.
“Cimo, yang penting bukan soal salah atau benar. Yang penting, kamu memilih dengan hati, bukan karena takut. Kadang, kita harus kehilangan sesuatu untuk menemukan sesuatu yang lebih besar.”
Aku duduk di sebelahnya, mencoba mengumpulkan keberanian.
“Bapak, aku bingung. Dua dunia ini, Bapak. Dunia lama ini dan dunia baru bersama Mama… semuanya penting buat aku.”
Bapak menatapku dalam-dalam, lalu berkata,
“Cimo, hidup itu nggak pernah mudah. Kadang kita harus membuat keputusan yang berat. Tapi yang penting, kamu tahu apa yang kamu pilih itu membuatmu maju.”
Malam itu, aku duduk di dekat jendela rumah baruku. Lampu-lampu terang menyinari ruangan yang terasa begitu luas, tetapi juga begitu sepi. Aku teringat malam pertama aku pindah ke sini. Mama menyambutku dengan pelukan hangat, Jay membawakan makanan kesukaanku, dan Willy mencoba mencairkan suasana dengan guyonan khasnya.
Tapi di balik semua kehangatan itu, aku tetap merasa seperti orang asing. Aku ingat melihat foto keluarga mereka di meja tamu—foto tanpa aku di dalamnya. Aku tahu mereka berusaha membuatku merasa diterima, tetapi aku merasa ada jarak yang tak bisa kugambarkan.
Aku memandang langit malam dari jendela rumah baru. Lampu-lampu terang menyinari ruangan yang terasa luas, tapi kini tidak lagi begitu sepi. Aku teringat malam pertama di sini, ketika Mama menyambutku dengan pelukan hangat, Jay menyiapkan makanan kesukaanku, dan Willy bercanda tentang hal-hal kecil.
Aku tahu, mereka mencoba membuatku merasa diterima, dan itu berarti banyak untukku. Dunia lama dan dunia baru ini mungkin berbeda, tapi keduanya adalah bagian dari perjalanan hidupku. Cleo benar, ini bukan soal memilih tempat. Ini soal siapa yang bersamaku di sana. Aku menarik napas panjang, merasa lebih ringan. Esok adalah langkah baru, dan aku siap melangkah.
Kreator : Fati Nura
Comment Closed: Menyusun Kembali Dunia
Sorry, comment are closed for this post.