Danang, itulah panggilan teman-teman sekelas kepadanya. Danang termasuk anak yang pendiam dan tidak banyak mengeluarkan kata-kata, kecuali hal-hal yang penting yang ingin disampaikannya. Anaknya cukup ganteng dengan kulit berwarna sawo matang dan mata yang agak bulat, disenangi banyak teman karena sikap dan perilakunya yang santun serta tidak sombong, walau julukan anak pandai sudah didengarnya saat dia masih duduk di bangku kelas I, tidak membuatnya tinggi hati. Predikat juara I tidak pernah lepas darinya sampai dia duduk di bangku kelas VI saat ini predikat juara I tetap disandangnya
Saat itu Danang baru saja selesai makan siang, dan beristirahat sejenak untuk mengistirahatkan alat-alat pencernaannya yang beberapa menit lalu bekerja keras memproses makanan yang masuk di tubuhnya. Sambil duduk santai, Danang mengingat-ingat apa yang dijelaskan bu guru tadi tentang alat pencernaan,
“Ternyata proses pencernaan makanan cukup lama hingga menjadi makanan yang dapat dimanfaatkan oleh tubuh kita,” guman Danang dalam hati.
Danang beranjak dari tempat duduknya dan mengambil buku pelajaran yang tadi dipelajarinya.
“Ehm, SAINS.” Danang mulai membaca dan menghafalkan materi tentang alat-alat pencernaan tanpa suara. Kalimat demi kalimat dihafalkan dan diperhatikan secara seksama.
“Mula-mula makanan masuk lewat mulut yang proses pencernaannya secara mekanik yaitu makanan dicerna di mulut dibantu oleh gigi dan lidah, makanan tersebut diteruskan ke kerongkongan terjadi gerak peristaltik gerak inilah yang menyebabkan makanan terdorong hingga masuk ke lambung, di dalam lambung makanan dicerna secara kimiawi dengan bantuan enzim yang disebut pepsin dan asam klorida yang menyebabkan makanan menjadi berbentuk bubur. Lalu diteruskan ke usus halus, nah pada usus halus inilah sari-sari makanan diserap oleh tubuh, sisa-sisa makanan yang tidak dibutuhkan oleh tubuh akan masuk ke usus besar dan makanan mengalami proses pembusukan dibantu oleh bakteri Escherichia coli.” Dan seterusnya sampai pembahasan tentang alat pencernaan itu selesai.
Setelah dirasakan hafalannya sudah cukup, dialihkan pandangannya ke tempat tidur yang telah menunggunya untuk membaringkan badan. Terbayang di benaknya rasa nyaman setelah separuh hari melaksanakan tugas rutin yang cukup menyita waktu dan tenaga. Danang harus istirahat karena malam hari nanti dia akan mengulang pelajaran matematika dan lainnya untuk persiapan keesokan harinya.
Ketekunan Danang mengantarkannya pada keinginan dan cita-cita yang ingin diraihnya yaitu menjadi murid yang pandai dan meraih peringkat I. Danang belum berpikir apa yang menjadi impiannya kelak yang pasti dia mempunyai cita-cita dan untuk meraihnya harus tekun belajar, karena dengan kemampuan yang terus dilatih memudahkannya untuk meraih cita-cita itu.
Nasehat ibu untukmu, “Rendah hati, dan jadilah bintang yang menjulang di langit, walau dalam bayangan air sekalipun, ia tetap menjulang tinggi. Sebaik apapun prestasi kita, seganteng apapun wajah kita, sepintar apapun kita, tidak ada alasan sedikitpun untuk menjadikannya sebagai dasar kesombongan kita. Terus berjuang anakku, raih cita-citamu. Dan, selalu bersyukur dengan apa yang telah diraih. Tetap menjadi Danang yang pandai yah….!”
***
Kreator : Indarwati Suhariati Ningsi
Comment Closed: Meraih Bintang
Sorry, comment are closed for this post.