Bu Mawar adalah seorang ibu rumah tangga yang aktif berkegiatan sosial di masyarakat. Perawakannya yang mungil dan energik seimbang dengan lincahnya setiap kegiatan yang dia lakukan. Mengurus rumah dan antar jemput anak sekolah merupakan aktivitas rutinnya setiap hari.
Suatu hari, dia mendapatkan informasi lowongan pekerjaan menjadi guru di TK ‘Aisyiyah, dia tertarik untuk mendaftarkan diri. Setelah melalui proses seleksi administrasi, tes wawancara, tes membaca Al Qur’an, tes praktek sholat, tes penjajagan pengetahuan umum dan pengetahuan tentang kemuhammadiyahan serta tes psikologi dia lolos menjadi calon guru di lembaga tersebut.
Setelah lolos dari serangkaian tes seleksi tersebut dia harus melewati magang di sebuah sekolah yang jauh dari rumahnya. Selama satu minggu dia magang di sekolah yang menjadi rujukan lembaga tersebut. Selesai menjalani magang dia melewati wawancara lagi dari apa yang didapat selama magang. Dan, akhirnya dia diterima menjadi guru di TK ABA tersebut. Dia segera bergabung dan beradaptasi dengan teman-teman baru dan visi misi lembaganya. Dia pun mulai beradaptasi dan menggeluti dengan dunia anak.
Cukup sederhana cita-citanya, dia hanya ingin mengabdikan diri untuk negeri ini di bidang pendidikan dan ingin terus belajar untuk terus memperbaiki diri. Dia punya harapan ingin bermanfaat bagi orang lain dan turut serta mewarnai para generasi peneru bangsa.
Setiap pagi segera dia selesaikan pekerjaan rumah yang menjadi tanggung jawabnya. Memasak, membersihkan rumah, mengantar anaknya sendiri berangkat sekolah, lalu berangkat ke sekolah TK tempatnya mengajar. Meskipun banyak pekerjaan yang diselesaikan setiap pagi dia tidak terlambat sampai di sekolah.
Kebiasaan kecil yang selama ini diterapkan di rumah diterapkan pula di sekolah. Dia suka merapikan barang-barang atau media pembelajaran yang tampak berserakan atau tidak pada tempatnya. Gunting yang terletak di tempat lain diambilnya kemudian ditaruh pada tempatnya. Tisu atau pensil-pensil yang tidak pada tempatnya sudah otomatis tangannya memindahkan ke tempat semula.
Membersihkan kamar mandi dan kloset selalu dikerjakan sebelum dikerjakan oleh orang lain. meski demikian dia tidak menampakkan pekerjaannya yang memang tidak tampak.
Dia selalu respon untuk hemat listrik. Walaupun tagihan listrik yang membayar adalah lembaga, dia tetap merasa sayang jika ada listrik menyala berlebihan dan tidak digunakan. Kipas di ruangan yang sudah sepi segera dimatikan. Lampu-lampu yang menyala tidak terpakai untuk penerangan segera dimatikan. Bahkan, AC yang menyala dan ditinggal rapat di ruang sebelah pun dia matikan. Dia melakukan itu bukan semata-mata takut membayar tagihan listrik yang banyak, tetapi dia merasa sayang jika semua itu mubazir. Dia hanya hemat energi saja.
Bahkan rumput liar yang tumbuh di halaman pun tak luput dari tangannya. Tanpa menunggu perintah dari kepala sekolah dia segera mencabut dan membersihkan. Tanpa minta dipuji oleh Kepala Sekolah, dia kerjakan semua itu dengan kesadaran. Bahkan banyak orang yang tidak tahu dengan pekerjaan-pekerjaan kecil yang dia lakukan ini. Membersihkan wastafel dan dapur serta merapikan kembali barang-barang dapur milik sekolah selalu tidak didahului oleh temannya.
Barang-barang yang ditaruh di gudang hampir semua mereka menaruh asal asalan saja sehingga tampak berserakan dan tidak rapi. Kepedulian mereka terhadap hal itu sangat minim. Tetapi Bu Mawar tak bisa tenang perasaannya melihat hal-hal kecil yang tidak sesuai tersebut, walaupun teman-temannya rata-rata tidak peduli. Walaupun dalam hati Bu Mawar serasa ingin menangis karena teman-temannya tidak peduli terhadap hal-hal kecil tersebut. Dan, mereka pada umumnya tidak peduli, tidak tahu, dan tidak mau tahu terhadap pekerjaan-pekerjaan kecil tersebut.
Mereka sebagai guru seolah-olah hanya datang, mengajar, mengoreksi pekerjaan anak, dan pulang. Selain itu hanya ropat rapat saja. Seolah-olah hanya empat hal itu sebagai guru sudah cukup bagus dan sempurna.
Bu Mawar melihat halaman sekolah yang kotor atau ada kerikil berserakan dia pun tak tahan untuk membiarkannya. Tanpa ada yang nyuruh dia langsung membersihkannya, menyapu, dan merapikannya.
Dan, yang demikian itu berlaku setiap hari. Setiap pekerjaan-pekerjaan kecil yang sepertinya sepele dia kerjakan. Dan memang tampak sepele bagi mereka yang tak terketuk hatinya untuk merawat dan memelihara keadaan lingkungan luar maupun dalam sekolah.
Namanya manusia sifat kemanusiawiannya tetap ada. Walaupun Bu Mawar melakukan pekerjaan-pekerjaan kecil itu dengan sadar dan rasa tanggung jawab serta adanya rasa memiliki, tetapi melihat teman-temannya dan kepala sekolah yang sangat minim kepeduliannya terhadap hal tersebut, Bu Mawar merasa sedikit sedih, dan menyayangkan.
Tidak berharap apa yang dikerjakan mendapat perhatian atau pujian dari kepala sekolah dan teman-temannya, tetapi jika yang demikian itu berjalan terus-terusan seolah mereka tidak melihat lingkungan sekitar yang membutuhkan sentuhan tangan. Ketidakpedulian mereka kompak dan seolah hal hal kecil itu bukan tanggung jawab mereka. Yang demikian itu membuat bu Mawar merasa sedih dan seolah batin atau perasaannya berontak dan akhirnya menginginkan mereka melihat apa yang dilakukan bu Mawar, dengan harapan mereka pun ikut serta melakukan hal-hal yang demikian.
Pada suatu ketika Bu Mawar habis mengurusi anaknya yang sakit dan opname di rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit bu Mawar jatuh sakit sampai satu bulan penuh. Meskipun demikian, Bu Mawar tetap masuk sekolah. di sekolah dia tampak lemas dan jika tidak sedang mengajar saat waktu sebelum masuk kelas atau saatnya waktu murid-murid istirahat, Bu Mawar berbaring di kursi luar sambil mengawasi murid-muridnya.
Pada suatu pagi sebelum semua murid datang dan sambil menunggu bel waktu masuk berbunyi, Bu Mawar berbaring di kursi tamu di lorong ruangan. Dia melihat teman gurunya yang sudah setengah baya itu menyapu halaman yang tampak sangat kotor. Karena biasanya Bu Mawar yang menyapu. Dan beberapa hari dia tidak menyapu sehingga halaman tampak sangat kotor.
Ketika melihat hal itu, Bu Mawar berkata dalam hati. “Selama ini selama bertahun-tahun aku yang menyapu, aku yang membersihkan kerikil-kerikil, sekarang aku sedang sakit, tak berdaya untuk menyapu. Jangankan menyapu, untuk duduk saja tidak ada gairah dan tidak ada semangat. Sekarang temanku yang sudah setengah baya itu melihat kalau halamannya kotor dan tergerak untuk menyapu. Biarlah dia merasakan dan mengetahui bahwa itu tugas bersama bukan hanya tugasku saja. Biar teman yang lain pun ikut peduli dan merasa memiliki sehingga ada kemauan untuk merawat, menjaga, memelihara, dan mempedulikan .”
Ketika Bu Mawar sedang melamun dan bicara sendiri seperti itu, tiba-tiba Ibu Kepala Sekolah datang. Dia melihat ibu setengah baya yang menjadi kesayangannya itu menyapu spontan teriak-teriak sambil berjalan melangkah menuju serambi untuk masuk ke dalam ruang kantornya.
“Mulai sekarang yang piket nyapu, mulai hari ini yang jadwalnya piket nyapu. Ini peraturan baru, mulai saat ini siapa yang piket nyapu halaman. Teman-teman semua, besok siapa yang piket, besok yang piket nyapu halaman. Ini peraturan baru.” Dia bersuara dengan volume yang lebih keras dari biasanya. Sambil berjalan menuju serambi, sambil melepas sepatu di serambi, sampai berjalan masuk ke dalam ruang kantornya.
Semua murid-murid yang sedang bermain dan satu orang guru yang sedang berdiri di serambi tampak melihat dan memperhatikan ibu kepala tersebut. Bu Mawar yang sedang terbaring di kursi tamu melihat dan mendengarkan teriakan ibu kepala tersebut. Dan berkata dalam hati: “Mantap nich ibu kepala selama bertahun-tahun tak peduli lingkungan kotor atau sudah bersih. Baru kali ini dia melihat halaman kotor setelah guru kesayangannya menyapu. Berarti benar selama berbulan-bulan bertahun-tahun ada orang menyapu dia tidak tahu. Dan baru tahu hari ini kalau ada orang yang menyapu.” Gumamnya dalam hati.
Setelah kejadian itu, hari esoknya guru yang piket menyapu halaman. Ketika jadwal yang piket dirinya sendiri, dia pun menyapu. Tetapi semua itu hanya berlaku satu minggu. Karena ketika yang kena jadwal piket anaknya bu kepala sendiri yang menjadi guru di situ, dia tak pernah menyapu halaman. Dan memang pada saat dia teriak-teriak peraturan baru yang piket menyapu, anaknya tersebut tidak ada di tempat itu karena belum datang, karena datangnya anaknya masih lebih belakangan lagi.
Kreator : Endah Suryani
Comment Closed: MERASA MEMILIKI
Sorry, comment are closed for this post.