Di sebuah desa kecil yang dikelilingi hamparan sawah dan pegunungan biru, hiduplah seorang gadis bernama Mustika. Ia adalah anak bungsu dari tiga bersaudara, satu-satunya perempuan yang masih tinggal bersama kedua orang tuanya. Kedua abangnya telah menikah dan merantau jauh ke kota, membawa serta istri dan impian mereka. Sementara Mustika tetap tinggal, menjaga dan merawat orang tuanya yang kini renta dan tak lagi sekuat dulu.
Orang tua Mustika bukanlah orang berada. Ayahnya, Pak Raji, bekerja sebagai buruh tani musiman—kadang mencangkul di ladang milik orang lain, kadang menggembala kambing upahan. Ibunya, Bu Ruminah, lebih banyak di rumah karena sakit encok yang sering kambuh saat udara dingin menyerang. Mereka tidak punya penghasilan tetap. Kadang hasil ternak ayam kampung atau panen singkong dari kebun belakang rumah bisa dijual untuk membeli beras dan minyak, tapi tak selalu cukup.
Untuk menambah penghasilan keluarga, Mustika bekerja sebagai pembantu rumah tangga paruh waktu di rumah Bu Linda, istri kepala desa yang tinggal di ujung desa. Setiap pagi, selepas subuh ketika kabut masih menggantung rendah di atas tanah dan embun belum sempat mengering dari daun-daun ilalang, Mustika bergegas pergi. Ia mengenakan baju panjang sederhana yang warnanya mulai pudar dimakan waktu dan kerudung lusuh yang hanya punya dua pasang. Di tangannya tergenggam kotak makan plastik tua, berisi nasi dingin dan tempe goreng, bekal yang dimasukkan oleh ibunya dengan hati-hati sebelum Mustika berangkat.
Ia menyusuri jalan setapak yang basah oleh embun, melewati sawah-sawah yang masih tertutup kabut pagi, dengan langkah pelan tapi pasti. Setiap jejak yang ia tinggalkan di tanah seperti melukiskan cerita hidupnya sunyi, tapi kuat. Kadang kakinya nyaris terpeleset di tanah liat licin, tapi ia tetap berjalan tanpa mengeluh, seakan sudah terbiasa menghadapi hidup yang tak pernah benar-benar ramah padanya.
Pekerjaannya di rumah Bu Linda tak bisa dibilang ringan. Ia menyapu lantai yang luas seperti aula, mengepel hingga tangannya kasar, mencuci tumpukan baju yang menumpuk seperti tak pernah habis, dan sesekali menjaga anak balita Bu Linda yang rewel dan manja. Mustika melakukan semuanya dengan sabar, tanpa suara, tanpa tuntutan. Setiap kali ada yang berkata, “Capek ya, Ti?” ia hanya tersenyum dan menjawab, “Enggak kok, biasa aja.”
Saat matahari mulai condong ke barat dan bayang-bayang memanjang di tanah, Mustika pulang. Langkahnya lebih pelan dari saat pergi, tubuhnya sedikit membungkuk karena letih. Di tangan kirinya tergenggam upah harian yang tak seberapa, tapi sangat berarti bagi keluarganya. Terkadang Bu Linda menyelipkan sayur, sisa lauk, atau biskuit kadaluarsa dari lemari dapur. Mustika menerimanya dengan hati penuh syukur, walau ia tahu, itu bukan bentuk kebaikan murni hanya sekadar sisa dari kelimpahan orang lain.
Di jalan pulang, ia sering berhenti sejenak di bawah pohon mangga tua, menatap langit jingga yang mulai digantikan awan kelabu. Dalam diam, ia membayangkan dunia yang berbeda dunia di mana ia bisa duduk di kelas, memegang buku, bukan sapu. Tapi, kemudian ia menghela napas, dan kembali melangkah. Karena hari belum usai, dan rumah masih menunggunya dengan cinta yang tak pernah ia tinggalkan.
Malam hari, ia membantu ayahnya memberi makan ayam atau mengangkat jerami. Kadang, di sela-sela pekerjaannya, ia duduk termenung di beranda. Angin malam mengibaskan rambut-rambut halus di wajahnya yang lelah. Matanya sering menatap langit gelap yang sepi. Ada rindu yang sulit dijelaskan. Bukan rindu akan sesuatu yang pernah dimiliki, tapi akan sesuatu yang belum pernah sempat dirasakan: kebebasan.
Ia ingat masa kecilnya. Ketika kedua abangnya masih tinggal di rumah, segalanya terasa lebih ramai. Tapi kini, mereka jarang mengabari. Bahkan untuk mengirim sedikit uang pun sulit, karena kehidupan mereka di kota juga pas-pasan. Salah satu dari mereka bahkan sering berganti pekerjaan.
Suatu malam, saat hujan rintik-rintik turun membasahi tanah desa, Mustika mendengar suara batuk ibunya semakin parah. Ia bergegas membuatkan air jahe dan menyelimuti tubuh ibunya yang menggigil. Ayahnya hanya bisa duduk di sudut, wajahnya lelah dan pasrah.
“Ti, kamu nggak capek?” tanya ayahnya pelan.
Mustika tersenyum, walau dalam hatinya terasa sesak. “Kalau buat Bapak sama Ibu, nggak pernah capek.”
Malam itu, Mustika menangis dalam diam. Bukan karena merasa terbebani, tapi karena ia menyadari bahwa dunia tidak selalu adil. Ia ingin sekolah lebih tinggi, seperti teman-temannya. Ia ingin punya masa depan, tapi waktu dan keadaan seakan tak memberi ruang. Ia adalah tiang rumah, penopang di saat semua telah pergi.
Pernah suatu waktu Bu Linda menawarinya untuk ikut pindah ke kota, bekerja penuh waktu di rumah adiknya. Gaji lebih besar, tempat tinggal disediakan. Tapi Mustika menolak.
“Siapa yang akan merawat Bapak dan Ibu kalau saya pergi, Bu?” katanya dengan mata berkaca.
Bu Linda terdiam. Mungkin ia sadar, gadis muda itu sedang memikul beban yang tak seharusnya dipikul sendirian. Namun begitulah Mustika. Ia bukan hanya nama dari batu mulia, tapi juga sosok yang tabah dan tangguh, meski dunia tak memberinya kemudahan.
Suatu sore, ketika matahari mulai tenggelam di balik bukit, Mustika duduk bersama ibunya di bangku kayu tua di depan rumah. Mereka menatap langit jingga yang perlahan berubah kelabu.
“Ibu pengen kamu bahagia, Ti. Ibu nggak mau kamu terkurung di sini terus,” ujar Bu Ruminah pelan.
Mustika memegang tangan ibunya yang keriput. “Aku bahagia, Bu. Bisa jagain Bapak sama Ibu, itu cukup.”
Dan, untuk pertama kalinya, ibunya menangis. Bukan karena sakit atau lelah, tapi karena merasa bersalah. Ia tahu cinta anaknya begitu besar, tapi juga tahu bahwa cinta itu telah mengekang mimpi-mimpi kecil yang dulu mungkin Mustika punya.
Di desa itu, di bawah langit senja yang muram, Mustika masih terus menjalani harinya. Tak pernah menuntut, tak pernah berharap lebih. Ia tahu hidup tak selalu menawarkan pilihan, tapi ia memilih untuk tetap setia, menjadi lentera kecil yang menerangi keluarganya, bahkan saat nyala lilin itu mulai goyah tertiup angin.
Kreator : Siti Murdiyati
Comment Closed: Mustika di Ujung Senja
Sorry, comment are closed for this post.