
Malam merangkak larut di sebuah sudut kota Banda Aceh, namun kelopak mata Nana masih enggan terpejam. Jarum jam dinding tua di ruang tamu berdetak konstan. Suaranya terdengar seperti ketukan palu yang menghakimi kesunyian rumah. Angin malam berdesir pelan, menyusup melalui celah jendela kayu yang mulai lapuk. Membawa serta aroma tanah basah sisa hujan sore tadi. Di bawah temaram lampu meja belajarnya, Nana duduk termenung. Jemarinya yang mulai dihiasi kerutan halus bergerak ragu. Ia membolak-balik lembaran buku harian bersampul biru milik putranya, Rafsan.
Seharusnya Nana tidak lancang membuka privasi anak remajanya yang berumur enam belas tahun itu. Namun, beberapa minggu terakhir, ada sesuatu yang mengusik kedamaian batinnya. Ini bukan sekadar kecemasan biasa tentang nilai akademis yang menurun atau jadwal les yang sering terlewat. Ini adalah urusan rasa. Sebagai seorang ibu, alarm dalam batin Nana telah berbunyi nyaring sejak lama. Sinyal bahaya itu bergetar hebat di dadanya saat ia menemukan sebaris kalimat ganjil yang digoreskan terburu-buru di halaman paling belakang buku tersebut:
“Aku tidak pantas di sini, Ma. Semuanya terlalu berat.”
Nana menarik napas dalam-dalam. Dadanya terasa sesak. Goresan pena itu tampak bergetar, mencerminkan keraguan dan keputusasaan yang mendalam dari si penulis. Kalimat itu pendek, namun dampaknya menghantam jantung Nana layaknya godam besar. Ada sesuatu yang disembunyikan oleh anak semata wayangnya itu. Sesuatu yang sangat gelap, yang sengaja dikubur rapat agar tidak mengusik ketenangan sang ibu.
Sejak suaminya berpulang tiga tahun lalu akibat serangan jantung mendadak, Nana telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk Rafsan. Ia bekerja paruh waktu sebagai penjahit pakaian di pasar lokal dan membuka toko kelontong kecil di teras rumah. Semua itu dilakukan demi memastikan Rafsan tidak kekurangan satu hal apa pun. Kehilangan figur seorang ayah membuat ikatan batin di antara mereka berdua tumbuh teramat kuat. Mereka melintasi badai kedukaan bersama, saling menguatkan dalam diam.
Terkadang, ikatan itu melampaui logika manusia. Nana sering kali bisa merasakan apa yang sedang dirasakan Rafsan tanpa perlu sepatah kata pun terucap. Ketika Rafsan mengalami tenggorokan kering di sekolah, Nana di rumah tiba-tiba merasa haus yang tak tertahankan. Ketika Rafsan merasa gugup sebelum ujian matematika, tangan Nana di rumah akan mendadak dingin dan berkeringat. Dan malam ini, rasa cemas yang tak berwujud ini adalah bukti konkret bahwa belahan jiwanya sedang berada dalam bahaya emosional yang besar. Naluri seorang ibu tidak pernah berbohong. Kompas batin itu kini sedang menunjuk ke arah kamar Rafsan yang berada tepat di seberang aula tengah rumah mereka.
Keesokan harinya, kecemasan Nana terbukti nyata. Siang itu, langit Kota Banda Aceh tampak mendung, menggantungkan gumpalan awan kelabu yang siap menumpahkan air mata alam. Nana sengaja duduk di dekat jendela depan sejak pukul dua siang, menanti kepulangan Rafsan. Biasanya, putranya akan tiba di rumah tepat pukul tiga sore dengan bersepeda. Riuh bunyi bel sepedanya selalu menjadi melodi pembuka kebahagiaan Nana setiap hari.
Namun hari itu, Rafsan pulang sekolah dengan cara yang sangat berbeda. Ia berjalan kaki menuntun sepedanya yang rantainya tampak putus dan bannya mengempis. Wajah remaja itu jauh lebih pucat dari biasanya. Ada goresan memar keunguan di sudut bibir kirinya, dan kancing teratas seragam putihnya telah hilang entah ke mana. Tatapan matanya kosong, lurus menatap tanah tanpa gairah hidup.
Begitu melewati pintu depan, Rafsan sama sekali tidak menyapa ibunya. Tas sekolahnya yang tampak kotor terkena noda tanah dilempar sembarangan ke atas sofa ruang tamu. Tanpa sepatah kata pun, ia melangkah cepat menuju kamarnya dan langsung menutup pintu dengan keras. Bunyi klik kunci yang berputar dari dalam terdengar seperti sebuah penolakan mentah-mentah terhadap dunia luar, termasuk terhadap ibunya sendiri.
Nana berdiri terpaku di ambang pintu dapur. Sendok sayur yang dipegangnya hampir saja terlepas. Jantungnya berdegup kencang, berpacu dengan rasa takut yang mulai menjalar ke seluruh tubuhnya. Tidak ada sapaan hangat seperti hari-hari biasa. Tidak ada kalimat “Mama, Rafsan lapar” yang selalu menjadi ritual harian mereka.
Sebagai seorang ibu yang telah merawatnya sejak bayi, mencuci popoknya, mengompres dahinya saat demam tinggi, dan memeluknya saat bermimpi buruk, Nana sangat memahami setiap jengkal perubahan putranya. Perubahan drastis ini bukan sekadar tanda kelelahan fisik akibat pelajaran sekolah yang menumpuk. Ini adalah tanda-tanda dari sebuah jiwa yang sedang terluka parah. Luka yang tidak berdarah secara fisik, namun mengucurkan penderitaan di dalam batin. Nana tahu, menunda waktu untuk mendekati Rafsan hanya akan membuat tembok pembatas di antara mereka semakin tinggi dan tebal.
Dengan langkah pelan namun pasti, Nana berjalan mendekati kamar Rafsan. Setiap langkah terasa begitu berat, seolah semen basah sedang mengikat kakinya. Di depan pintu kayu berwarna cokelat itu, ia berhenti sejenak. Ia mengatur napasnya yang memburu, mencoba mengusir getaran panik dari suaranya. Ia harus tampil sebagai sosok penguat, bukan penambah beban.
Nana mengetuk pintu kamar Rafsan dengan lembut. Ketukan yang ritmis, penuh dengan kasih sayang.
“Rafsan, sayang, ini Mama. Boleh Mama masuk, Nak? Mama sudah buatkan es sirup kegemaranmu,” ucapnya dengan suara selembut sutra, walau di dalamnya sarat akan kekhawatiran yang mendalam.
Tak ada jawaban dari dalam. Keheningan yang mencekam kembali menguasai udara. Nana mendekatkan telinganya ke daun pintu. Hanya terdengar suara gemerisik pelan yang samar dari dalam, seperti suara kain yang bergesekan atau seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu dengan terburu-buru. Setelah itu, senyap kembali mendominasi.
Berbekal naluri seorang ibu yang tak pernah salah, Nana tahu putranya sedang menanggung beban berat yang sudah melampaui kapasitas pundak remajanya. Rasa hormat pada privasi sesaat dikalahkan oleh rasa takut akan keselamatan sang anak. Nana mencoba memutar kenop pintu. Keberuntungan berpihak padanya; ternyata Rafsan lupa memutar kunci dengan sempurna, atau mungkin ia sengaja menyisakan celah harapan agar ibunya masuk. Pintu pun terbuka perlahan dengan derit halus.
Pemandangan di dalam kamar membuat hati Nana mencelos, seolah-olah seluruh darahnya tersedot habis ke bumi. Kamar itu berantakan. Buku-buku pelajaran berserakan di lantai, dan yang paling menyakitkan adalah Rafsan duduk meringkuk di sudut ruangan yang gelap, tepat di samping sebuah pecahan pigura foto keluarga mereka bertiga di Sabang beberapa tahun lalu. Rafsan memeluk lututnya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di sana. Bahunya naik turun, bergetar hebat dalam kesunyian.
Dengan sigap dan tanpa memedulikan pecahan kaca yang berserakan, Nana menghampiri putranya. Ia berlutut di atas lantai yang dingin, lalu merengkuh tubuh remaja itu ke dalam pelukannya. Awalnya, tubuh Rafsan menegang, mencoba menolak dan bertahan dalam kekeraskepalaannya. Namun, kehangatan pelukan seorang ibu memiliki sihirnya sendiri. Saat jemari Nana mulai mengusap rambut hitam Rafsan yang basah oleh keringat, pertahanan remaja itu runtuh sepenuhnya. Tangis yang sejak tadi ditahannya pecah menjadi raungan yang menyayat hati.
“Maafkan Rafsan, Ma… Rafsan gagal. Rafsan bodoh. Rafsan tidak berguna,” bisik Rafsan di sela-sela tangisnya yang tersedat-sedat. Air matanya membasahi pundak baju daster yang dikenakan Nana.
Perlahan dan penuh kesabaran, Nana terus mengusap punggung putranya dengan penuh kelembutan. Ia menyalurkan ketenangan yang hanya bisa diberikan oleh seorang ibu kepada anaknya. Ia tidak memberondong Rafsan dengan pertanyaan-pertanyaan interogatif yang menghakimi. Ia hanya diam, menjadi jangkar di tengah badai emosi yang sedang melanda putranya.
Setelah beberapa menit berlalu dan tangis Rafsan mulai mereda menjadi sesenggukan kecil, Nana menangkup kedua pipi putranya. Ia menyeka sisa air mata di wajah Rafsan dengan ibu jarinya yang kasar karena sering terkena jarum jahit. Dengan tatapan mata yang memancarkan keteduhan luar biasa, Nana berbisik, “Cerita pada Mama, Nak. Tumpahkan semuanya. Jangan simpan racun itu sendirian di dalam hatimu.”
Dengan suara yang bergetar dan putus-putus, Rafsan akhirnya mulai membuka kotak pandora penderitaannya. Ternyata, selama enam bulan terakhir, Rafsan telah menjadi korban intimidasi psikologis dan fisik yang kejam oleh sekelompok siswa di sekolahnya. Mereka adalah anak-anak dari kalangan keluarga berpengaruh yang merasa bisa menguasai apa saja dengan uang dan status sosial.
“Mereka selalu mencegat Rafsan di lab belakang sekolah, Ma,” tutur Rafsan dengan mata yang kembali berkaca-kaca, memandang ke arah lantai.
“Mereka memaksa Rafsan membuatkan seluruh tugas sekolah mereka. Kalau nilai mereka jelek, mereka akan memukuli perut Rafsan agar tidak berbekas di luar. Mereka juga merebut uang jajan yang Mama berikan setiap hari.”
Rafsan berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah sebelum melanjutkan bagian yang paling menghancurkan hatinya.
“Tapi yang paling membuat Rafsan sakit, Ma… mereka selalu mengejek Ayah. Mereka bilang Ayah mati karena tidak becus mengurus kita. Mereka bilang kita ini keluarga miskin yang tidak punya hak untuk bahagia di sekolah itu. Rafsan dicemooh karena Rafsan seorang anak yatim dan single parent yang mereka anggap lemah dan bisa diinjak-injak kapan saja.”
Mendengar pengakuan itu, bumi seolah berhenti berputar bagi Nana. Kalimat-kalimat Rafsan bagaikan sembilu yang menyayat-nyayat jantungnya hingga hancur berkeping-keping. Sebagai seorang ibu, emosi Nana sempat tersulut hebat. Ada amarah yang membakar dada, rasa tidak terima, dan sakit hati yang bercampur aduk menjadi satu gumpalan emosi yang pekat. Darah dagingnya, anak yang ia besarkan dengan tetesan keringat, doa di sepertiga malam, dan kasih sayang tak bertepi, telah diperlakukan seperti binatang oleh orang lain. Ia ingin sekali datang ke sekolah itu saat ini juga, memaki para pelaku, dan menuntut keadilan kasar atas apa yang menimpa anaknya.
Namun, tepat di saat amarah itu hampir membakar logikanya, naluri keibuannya kembali mengambil alih kemudi batin. Kompas batin itu menuntun Nana untuk bersikap bijak. Ia memandang wajah Rafsan yang ketakutan dan hancur. Ia sadar, jika ia membalas dengan kemarahan yang meledak-ledak, ia hanya akan mengajari Rafsan tentang dendam dan kekerasan. Fokus utamanya saat ini bukanlah menghancurkan musuh, melainkan memulihkan mental putranya yang runtuh dan mengembalikan harga diri serta keberanian Rafsan yang telah dirampas.
Nana menarik napas panjang, menstabilkan gemuruh di dadanya, lalu menatap mata Rafsan dalam-dalam dengan tatapan yang sangat tegas namun penuh kelembutan. Tatapan yang mengomunikasikan perlindungan mutlak tanpa syarat.
“Dengar Mama, Rafsan. Tatap mata Mama, Nak,” perintah Nana dengan nada suara yang rendah namun berwibawa. Rafsan mengangkat wajahnya perlahan, menatap mata ibunya yang berkilau oleh air mata yang sengaja ditahan agar tidak jatuh.
“Kamu tidak gagal. Kamu tidak bodoh, dan kamu sama sekali tidak lemah,” tegas Nana, setiap katanya diucapkan dengan penekanan yang kuat.
“Mereka yang menindasmu, mereka yang menggunakan kekerasan untuk membuat orang lain takut, adalah orang-orang yang sebenarnya paling lemah di dunia ini. Mereka sedang menutupi kekosongan dan kelemahan jiwa mereka sendiri dengan cara menyakiti anak yang baik seperti kamu. Menjadi anak yatim bukan sebuah aib, Rafsan. Ayahmu adalah orang baik, dan dia sangat bangga melihatmu dari sana.”
Nana menggenggam kedua tangan Rafsan yang gemetar, meremasnya dengan lembut untuk menyalurkan kekuatan fisik dan mentalnya sendiri ke dalam tubuh anaknya.
“Mulai detik ini, kamu tidak sendirian lagi menghadapi mereka. Mama akan selalu ada di sampingmu, berjalan di depanmu jika perlu, untuk melindungimu. Kita akan selesaikan ini bersama-sama. Ingat, Nak, tidak ada satu orang pun di dunia ini yang boleh membuatmu merasa tidak berharga tanpa izin dari dirimu sendiri.”
Mendengar penuturan ibunya, ketakutan yang menggunung di dalam dada Rafsan perlahan-lahan mulai terkikis. Kata-kata Nana bekerja seperti ramuan penyembuh yang meresap ke dalam pori-pori jiwanya yang terluka. Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan, Rafsan merasakan kembali secercah harapan. Ia merasa tidak lagi bertarung sendirian di dalam kegelapan.
Malam itu dihabiskan Nana di dalam kamar Rafsan. Setelah membersihkan pecahan kaca pigura dengan hati-hati, ia tidak membiarkan Rafsan sendirian. Nana terus menemani putranya, memberikan afirmasi positif, menceritakan kisah-kisah perjuangan masa lalu almarhum ayahnya yang penuh integritas, dan menutup malam dengan doa bersama yang panjang dan khusyuk.
Sebelum tidur, Nana beranjak ke dapur untuk menyiapkan puding cokelat kesukaan Rafsan yang diberi taburan keju di atasnya. Ini adalah sebuah ritual kecil keluarga mereka sejak Rafsan masih balita. Setiap kali Rafsan terjatuh dari sepeda atau menangis karena kalah dalam perlombaan, puding cokelat buatan Nana selalu berhasil meredakan ketegangan, membuat suasana hati putranya kembali melembut, dan memulihkan senyumannya. Malam itu, meski senyum Rafsan belum sepenuhnya kembali, setidaknya ketakutan akut yang menguasai matanya telah mereda. Remaja itu akhirnya bisa tertidur pulas dengan memeluk bantal, di bawah pengawasan penuh kasih dari ibunya yang berjaga di sisi tempat tidur hingga fajar menyingsing.
Keesokan harinya, matahari terbit dengan sinar yang terang, mengusir mendung yang sempat menggelayuti kota Banda Aceh. Seiring dengan terbitnya fajar, kekuatan baru telah sepenuhnya meresap ke dalam diri Nana. Ia telah bertransformasi dari seorang penjahit yang pendiam menjadi seorang ibu pelindung yang siap bertarung demi keadilan anaknya.
Nana menepati janjinya dengan mutlak. Pagi-pagi sekali, ia mengenakan pakaian terbaiknya—sebuah baju kurung rapi berwarna marun yang biasa ia gunakan untuk acara resmi. Ia menyisir rambut Rafsan, memastikan seragam baru putranya rapi, dan menempelkan sedikit obat pada luka di sudut bibir Rafsan. Kali ini, mereka tidak naik sepeda yang rusak. Nana menyewa becak motor untuk mengantar mereka langsung ke sekolah. Sepanjang perjalanan, Nana menggenggam erat tangan Rafsan, memberikan kekuatan lewat sentuhan kulit yang hangat.
Setibanya di sekolah, Nana tidak membuat keributan di lapangan atau berteriak histeris. Naluri keibuannya menuntunnya untuk bergerak secara taktis dan elegan. Ia melangkah langsung menuju ruang kepala sekolah, menuntut pertemuan darurat yang juga dihadiri oleh wali kelas Rafsan serta pihak bimbingan konseling (BK).
Di dalam ruangan ber-AC yang dingin itu, Nana duduk dengan posisi tegak. Di sampingnya, Rafsan duduk dengan kepala yang mulai berani terangkat, dikuatkan oleh kehadiran ibunya. Dengan sikap yang sangat tenang, dingin, namun memancarkan ketegasan yang tidak bisa dibantah, Nana mulai memaparkan kronologi perundungan yang dialami putranya selama enam bulan terakhir.
Ia mengeluarkan bukti-bukti yang telah ia kumpulkan dengan cermat sejak semalam: buku harian Rafsan yang berisi curahan hati yang pilu, salinan tugas-tugas sekolah Rafsan yang nama pemiliknya diganti dengan nama para pelaku, serta surat keterangan visum dari puskesmas setempat mengenai memar di tubuh Rafsan yang sengaja ia buat pagi-pagi sekali sebelum ke sekolah.
“Saya menyekolahkan anak saya di sini bukan untuk menjadi pelayan atau samsak tinju bagi murid lain, Bapak Ibu yang terhormat,” ucap Nana, suaranya bergetar bukan karena takut, melainkan karena menahan gelombang emosi yang mendalam.
“Saya membayar uang sekolah dari hasil keringat saya menjahit siang dan malam. Anak saya berhak mendapatkan rasa aman dan kehormatan yang sama dengan murid lainnya, tidak peduli dari keluarga mana mereka berasal. Jika pihak sekolah tidak bisa menyelesaikan ini secara tegas hari ini juga, saya tidak akan ragu membawa bukti-bukti ini ke dinas pendidikan dan pihak kepolisian atas tuduhan penganiayaan dan pemerasan terhadap anak di bawah umur.”
Mendengar ancaman hukum yang logis dan didukung oleh bukti-bukti yang tak terbantahkan, wajah kepala sekolah dan wali kelas seketika berubah tegang. Mereka tidak menyangka bahwa seorang ibu tunggal yang terlihat sederhana dan bersahaja bisa memiliki keberanian dan kecerdasan taktis setinggi itu untuk melindungi anaknya. Pihak sekolah sadar bahwa reputasi institusi mereka sedang berada di ujung tanduk jika kasus ini sampai mencuat ke media massa atau jalur hukum.
Reaksi pihak sekolah berlangsung cepat dan tanpa penundaan. Hari itu juga, para pelaku perundungan beserta orang tua mereka dipanggil ke sekolah. Di hadapan Nana dan Rafsan, para pelaku yang biasanya bertingkah bak penguasa itu kini tertunduk lesu, pucat pasi, dan kehilangan keangkuhannya saat surat skorsing dan ancaman drop-out dibacakan di depan mata mereka. Mereka dipaksa meminta maaf secara langsung kepada Rafsan di bawah kesaksian tertulis. Tidak hanya itu, pihak sekolah juga berkomitmen untuk memberikan pendampingan psikologis gratis bagi Rafsan guna memulihkan rasa percaya dirinya secara berkala.
Peristiwa hari itu menjadi sebuah titik balik yang sangat besar bagi hubungan antara ibu dan anak tersebut, serta bagi perkembangan psikologis Rafsan. Saat mereka berjalan keluar dari gerbang sekolah siang itu, angin sepoi-sepoi menerpa wajah mereka. Rafsan menghentikan langkahnya sejenak, lalu berbalik menghadap Nana. Untuk pertama kalinya setelah sekian bulan yang kelam, sebuah senyuman tulus yang sangat manis merekah di wajah remaja itu. Matanya berbinar, memancarkan rasa kagum dan rasa terima kasih yang tak terhingga.
“Terima kasih, Ma. Mama adalah pahlawan Rafsan. Rafsan tidak tahu apa yang akan terjadi pada Rafsan kalau Mama tidak masuk ke kamar Rafsan semalam,” ucap Rafsan dengan suara yang tulus, lalu memeluk ibunya erat-erat di pinggir jalan.
Nana membalas pelukan itu dengan air mata kebahagiaan yang akhirnya menetes bebas di pipinya. “Sama-sama, sayang. Tugas Mama di dunia ini adalah menjagamu sampai kamu bisa berdiri tegak dengan kakimu sendiri. Jangan pernah takut lagi, ya.”
Rafsan menyadari dengan sangat mendalam bahwa kasih sayang, kepekaan batin, dan naluri seorang ibu adalah perisai paling kuat dan paling kokus yang ia miliki di alam semesta ini. Perisai itu tidak kasat mata, tidak terbuat dari besi atau baja, namun mampu menahan gempuran badai penderitaan seberat apa pun. Rafsan tidak lagi merasa sendiri atau terkucilkan. Rasa percaya dirinya yang sempat hancur perlahan-lahan mulai tersusun kembali, membentuk fondasi karakter yang jauh lebih kuat dari sebelumnya. Di hari-hari berikutnya, Rafsan kembali menjadi anak yang ceria, prestasinya di bidang akademis kembali meroket, dan ia mulai aktif kembali dalam komunitas remaja masjid di lingkungannya.
Bagi Nana sendiri, perjalanannya mengasuh dan membesarkan Rafsan seorang diri di tengah keterbatasan ekonomi dan ketiadaan pasangan hidup adalah sebuah ujian kesabaran dan ketabahan yang tiada tara. Setiap hari adalah perjuangan melawan rasa lelah yang menggerogoti fisik. Menjahit kain hingga larut malam membuat matanya sering perih dan punggungnya pegal-pegal. Menjaga toko kelontong di pagi hari menguras energinya hingga habis.
Namun, di setiap titik nadir kelelahannya, di setiap saat ia merasa ingin menyerah pada keadaan, selalu ada sebuah kekuatan magis yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba muncul dan bergolak di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Kekuatan misterius namun nyata itulah yang disebut sebagai Naluri Seorang Ibu.
Naluri itu bukanlah sekadar istilah psikologi atau fiksi belaka. Ia adalah sebuah kompas batin ilahi yang ditanamkan Tuhan ke dalam dada setiap wanita yang melahirkan kehidupan. Kompas batin yang memiliki akurasi mutlak, yang selalu menuntun seorang ibu untuk bisa membaca pikiran anaknya yang tersembunyi, merasakan luka anaknya yang tak terlihat, perlindungan dalam bahaya, dan menyelamatkan masa depan sang anak dalam kondisi sesulit apa pun, bahkan jika ia harus mengorbankan nyawanya sendiri sebagai taruhannya.
Kisah perjuangan Nana dan Rafsan menjadi sebuah bukti nyata yang tak terbantahkan di sudut kota itu. Cinta seorang ibu tidak akan pernah terbatas oleh sekat ruang, kejamnya waktu, maupun beratnya rintangan duniawi. Ibu adalah tempat perlindungan pertama di mana seorang manusia belajar tentang arti kasih sayang, dan ia juga menjadi benteng pertahanan terakhir yang akan tetap berdiri kokoh mempertahankan kehormatan anaknya ketika seluruh dunia memilih untuk berbalik arah dan meninggalkan mereka sendirian. Naluri itu abadi, mengalir bersama aliran darah, dan akan terus hidup menjaga sang buah hati hingga napas terakhir berpisah dari raga.
Kreator : Rosdiana ( Ina Sagita )
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Naluri Seorang Ibu
Sorry, comment are closed for this post.