KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » PELAJARAN DARI RUMAH SAKIT

    PELAJARAN DARI RUMAH SAKIT

    BY 15 Nov 2025 Dilihat: 58 kali
    PELAJARAN DARI RUMAH SAKIT_alineaku

    Aku masih ingat betul, dulu sewaktu masih gadis, rumah sakit adalah tempat yang paling ingin kuhindari. Setiap kali mendengar kata itu saja, dada ini terasa sesak, seolah udara di sekitarku ikut menipis. Aku tak suka aroma tajam obat-obatan yang seolah menembus kepala. Aku tak tahan mendengar suara langkah kaki perawat yang cepat dan tegas di lorong-lorong putih yang terasa dingin. Dan aku benci melihat wajah-wajah pucat di balik selimut tipis, beberapa di antaranya tak pernah lagi pulang ke rumah.

    Dulu, aku selalu berpikir, rumah sakit adalah gerbang menuju perpisahan. Tempat di mana harapan berakhir. Karena itu, aku berjanji dalam hati: aku tak akan ke sana, kalau pun sakit, biarlah di rumah saja. Namun, hidup  seperti biasa punya caranya sendiri untuk menertawakan rencana manusia.

    Beberapa tahun lalu, ketika tubuhku mulai terasa lemah dan cepat letih, aku pikir itu hanya kelelahan biasa. Tapi ternyata bukan, hari itu  setelah serangkaian pemeriksaan, dokter menatapku dengan mata yang lembut namun berat.

    “Kita harus berjuang lebih keras, ya. Hasilnya menunjukkan adanya sel-sel kanker.”

    Kata “kanker” terasa seperti petir di siang bolong.

    Tubuhku dingin, jantungku berdegup tak beraturan, sementara dunia di sekitarku mendadak kabur.

    Aku, yang dulu paling takut ke rumah sakit, kini harus menjadi pengunjung tetapnya.

    Hari-hariku setelah itu berubah.

    Jadwal kontrol menjadi bagian dari hidup.

    Kadang seminggu sekali, kadang dua kali dalam sebulan. Aku hafal aroma ruang tunggu, hafal wajah suster yang selalu menyapaku dengan senyum simpati, bahkan hafal suara mesin infus yang menetes perlahan di sebelah tempat tidur.

    Awalnya, setiap kali datang, aku menangis dalam diam. Aku merasa rumah sakit adalah tempat yang merebut kebebasanku. Tapi semakin sering aku ke sana, semakin aku mengenal sisi lain yang tak pernah kulihat dulu. Aku mulai memperhatikan orang-orang di sekelilingku. Di ruang chemo, ada seorang anak kecil berusia mungkin tujuh tahun, kepalanya botak karena kemoterapi, tapi matanya penuh cahaya. Ia selalu tertawa setiap kali suster datang, seolah rasa sakit bukan hal besar baginya.

    Di kursi sebelahku, ada seorang ibu paruh baya yang selalu datang sendirian, membawa buku doa kecil di tangan. Setiap kali jarum infus menembus kulitnya, ia berbisik pelan.

    “Alhamdulillah, masih diberi kesempatan berobat. Dari mereka, aku belajar sesuatu yang tak pernah diajarkan di sekolah manapun. Aku belajar bersyukur,  karena masih diberi waktu untuk memperbaiki diri, karena masih bisa melihat matahari pagi meski dari jendela rumah sakit. Aku belajar sabar  menunggu hasil pemeriksaan yang entah baik entah buruk, tapi tetap berusaha tersenyum pada setiap perawat yang datang, dan yang paling berat, aku belajar ikhlas. 

    Ikhlas satu kata yang dulu terasa sederhana, tapi kini begitu dalam maknanya. Ikhlas bukan berarti menyerah. Ikhlas adalah ketika hati lapang menerima takdir, tanpa menuduh, tanpa mengeluh, dan tanpa bertanya “kenapa aku?”. Ikhlas adalah ketika air mata jatuh bukan karena marah, tapi karena yakin bahwa semua ini pun bagian dari cinta Tuhan.

    Butuh waktu lama untuk sampai di titik itu, ada masa aku marah, merasa tak adil, merasa Tuhan terlalu berat mengujiku, namun setiap kali aku terbaring di ranjang rumah sakit, menatap langit-langit putih dengan selang infus di tangan, aku sadar  di balik semua rasa sakit ini, ada kasih yang begitu besar.

    Sakit ini memaksaku berhenti dari kesibukan dunia, memaksaku menengok ke dalam diri. Mengingatkanku bahwa hidup ternyata bukan tentang seberapa panjang usia, tapi seberapa dalam makna yang kita tinggalkan. Kini, rumah sakit tak lagi menakutkan bagiku, tempat itu menjadi saksi bisu perjalanan panjangku melawan diri sendiri  melawan takut, melawan kecewa, melawan keputusasaan. Setiap kali melangkah masuk ke sana, aku tak lagi gentar. Aku tersenyum kecil dan berkata dalam hati, “Terima kasih, ya Allah. Tempat yang dulu kutakuti ini kini justru Kau jadikan sekolah kehidupan bagiku.

    Sekolah tempat aku belajar bersyukur, bersabar, dan akhirnya… belajar ikhlas. “Kini, setiap kali aku duduk di ruang tunggu rumah sakit, aku tidak lagi melihat dinding putih dan bau obat yang dulu menakutkan, yang kulihat justru wajah-wajah manusia yang sedang berjuang — dengan caranya masing-masing. Ada yang menahan sakit sambil tetap tersenyum, ada yang diam menatap langit-langit sambil berdoa dalam hati, dan ada pula yang menggenggam tangan orang terkasih dengan harapan tipis yang masih tersisa.

    Aku tersadar, rumah sakit bukanlah tempat kematian seperti yang dulu kupikirkan. Rumah sakit adalah tempat kehidupan paling nyata—tempat di mana manusia belajar arti sabar, makna syukur, dan keindahan dari sebuah ketulusan. Sakit ini mengajarkanku sesuatu yang tak pernah diajarkan oleh waktu sehat, bahwa hidup bukan tentang berapa lama kita bisa berjalan, tapi seberapa tulus langkah kita dalam menjalani setiap ujian.

    Bahwa sehat bukan sekadar tubuh yang kuat, tapi hati yang tenang meski dalam luka, dan bahwa kesembuhan sejati, mungkin bukan ketika tubuh ini terbebas dari penyakit, tapi ketika jiwa ini damai dalam keikhlasan. Kini aku paham, setiap sakit adalah surat cinta dari Tuhan — dikirim bukan untuk menyiksa, tapi untuk menyadarkan, agar kita berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan kembali mengingat-Nya.

    Aku mungkin tidak tahu sampai kapan tubuh ini kuat bertahan, tapi aku tahu satu hal: selama hati ini masih mampu bersyukur, sabar, dan ikhlas, aku telah sembuh — dari ketakutan, dari kesedihan, dan dari keterikatan pada dunia, dan di titik itu, aku hanya bisa berbisik pelan…

    “Ya Allah, terima kasih. Engkau tidak mengambil kesehatanku untuk menghukumku, tapi untuk mengajarkanku cara paling indah dalam mencintai-Mu.”

     

     

    Kreator : Ferayanti, S. HI

    Bagikan ke

    Comment Closed: PELAJARAN DARI RUMAH SAKIT

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021