Aku masih ingat betul, dulu sewaktu masih gadis, rumah sakit adalah tempat yang paling ingin kuhindari. Setiap kali mendengar kata itu saja, dada ini terasa sesak, seolah udara di sekitarku ikut menipis. Aku tak suka aroma tajam obat-obatan yang seolah menembus kepala. Aku tak tahan mendengar suara langkah kaki perawat yang cepat dan tegas di lorong-lorong putih yang terasa dingin. Dan aku benci melihat wajah-wajah pucat di balik selimut tipis, beberapa di antaranya tak pernah lagi pulang ke rumah.
Dulu, aku selalu berpikir, rumah sakit adalah gerbang menuju perpisahan. Tempat di mana harapan berakhir. Karena itu, aku berjanji dalam hati: aku tak akan ke sana, kalau pun sakit, biarlah di rumah saja. Namun, hidup seperti biasa punya caranya sendiri untuk menertawakan rencana manusia.
Beberapa tahun lalu, ketika tubuhku mulai terasa lemah dan cepat letih, aku pikir itu hanya kelelahan biasa. Tapi ternyata bukan, hari itu setelah serangkaian pemeriksaan, dokter menatapku dengan mata yang lembut namun berat.
“Kita harus berjuang lebih keras, ya. Hasilnya menunjukkan adanya sel-sel kanker.”
Kata “kanker” terasa seperti petir di siang bolong.
Tubuhku dingin, jantungku berdegup tak beraturan, sementara dunia di sekitarku mendadak kabur.
Aku, yang dulu paling takut ke rumah sakit, kini harus menjadi pengunjung tetapnya.
Hari-hariku setelah itu berubah.
Jadwal kontrol menjadi bagian dari hidup.
Kadang seminggu sekali, kadang dua kali dalam sebulan. Aku hafal aroma ruang tunggu, hafal wajah suster yang selalu menyapaku dengan senyum simpati, bahkan hafal suara mesin infus yang menetes perlahan di sebelah tempat tidur.
Awalnya, setiap kali datang, aku menangis dalam diam. Aku merasa rumah sakit adalah tempat yang merebut kebebasanku. Tapi semakin sering aku ke sana, semakin aku mengenal sisi lain yang tak pernah kulihat dulu. Aku mulai memperhatikan orang-orang di sekelilingku. Di ruang chemo, ada seorang anak kecil berusia mungkin tujuh tahun, kepalanya botak karena kemoterapi, tapi matanya penuh cahaya. Ia selalu tertawa setiap kali suster datang, seolah rasa sakit bukan hal besar baginya.
Di kursi sebelahku, ada seorang ibu paruh baya yang selalu datang sendirian, membawa buku doa kecil di tangan. Setiap kali jarum infus menembus kulitnya, ia berbisik pelan.
“Alhamdulillah, masih diberi kesempatan berobat. Dari mereka, aku belajar sesuatu yang tak pernah diajarkan di sekolah manapun. Aku belajar bersyukur, karena masih diberi waktu untuk memperbaiki diri, karena masih bisa melihat matahari pagi meski dari jendela rumah sakit. Aku belajar sabar menunggu hasil pemeriksaan yang entah baik entah buruk, tapi tetap berusaha tersenyum pada setiap perawat yang datang, dan yang paling berat, aku belajar ikhlas.
Ikhlas satu kata yang dulu terasa sederhana, tapi kini begitu dalam maknanya. Ikhlas bukan berarti menyerah. Ikhlas adalah ketika hati lapang menerima takdir, tanpa menuduh, tanpa mengeluh, dan tanpa bertanya “kenapa aku?”. Ikhlas adalah ketika air mata jatuh bukan karena marah, tapi karena yakin bahwa semua ini pun bagian dari cinta Tuhan.
Butuh waktu lama untuk sampai di titik itu, ada masa aku marah, merasa tak adil, merasa Tuhan terlalu berat mengujiku, namun setiap kali aku terbaring di ranjang rumah sakit, menatap langit-langit putih dengan selang infus di tangan, aku sadar di balik semua rasa sakit ini, ada kasih yang begitu besar.
Sakit ini memaksaku berhenti dari kesibukan dunia, memaksaku menengok ke dalam diri. Mengingatkanku bahwa hidup ternyata bukan tentang seberapa panjang usia, tapi seberapa dalam makna yang kita tinggalkan. Kini, rumah sakit tak lagi menakutkan bagiku, tempat itu menjadi saksi bisu perjalanan panjangku melawan diri sendiri melawan takut, melawan kecewa, melawan keputusasaan. Setiap kali melangkah masuk ke sana, aku tak lagi gentar. Aku tersenyum kecil dan berkata dalam hati, “Terima kasih, ya Allah. Tempat yang dulu kutakuti ini kini justru Kau jadikan sekolah kehidupan bagiku.
Sekolah tempat aku belajar bersyukur, bersabar, dan akhirnya… belajar ikhlas. “Kini, setiap kali aku duduk di ruang tunggu rumah sakit, aku tidak lagi melihat dinding putih dan bau obat yang dulu menakutkan, yang kulihat justru wajah-wajah manusia yang sedang berjuang — dengan caranya masing-masing. Ada yang menahan sakit sambil tetap tersenyum, ada yang diam menatap langit-langit sambil berdoa dalam hati, dan ada pula yang menggenggam tangan orang terkasih dengan harapan tipis yang masih tersisa.
Aku tersadar, rumah sakit bukanlah tempat kematian seperti yang dulu kupikirkan. Rumah sakit adalah tempat kehidupan paling nyata—tempat di mana manusia belajar arti sabar, makna syukur, dan keindahan dari sebuah ketulusan. Sakit ini mengajarkanku sesuatu yang tak pernah diajarkan oleh waktu sehat, bahwa hidup bukan tentang berapa lama kita bisa berjalan, tapi seberapa tulus langkah kita dalam menjalani setiap ujian.
Bahwa sehat bukan sekadar tubuh yang kuat, tapi hati yang tenang meski dalam luka, dan bahwa kesembuhan sejati, mungkin bukan ketika tubuh ini terbebas dari penyakit, tapi ketika jiwa ini damai dalam keikhlasan. Kini aku paham, setiap sakit adalah surat cinta dari Tuhan — dikirim bukan untuk menyiksa, tapi untuk menyadarkan, agar kita berhenti sejenak, menengok ke dalam diri, dan kembali mengingat-Nya.
Aku mungkin tidak tahu sampai kapan tubuh ini kuat bertahan, tapi aku tahu satu hal: selama hati ini masih mampu bersyukur, sabar, dan ikhlas, aku telah sembuh — dari ketakutan, dari kesedihan, dan dari keterikatan pada dunia, dan di titik itu, aku hanya bisa berbisik pelan…
“Ya Allah, terima kasih. Engkau tidak mengambil kesehatanku untuk menghukumku, tapi untuk mengajarkanku cara paling indah dalam mencintai-Mu.”
Kreator : Ferayanti, S. HI
Comment Closed: PELAJARAN DARI RUMAH SAKIT
Sorry, comment are closed for this post.