Masih terekam jelas dalam memoriku, ketika aku pertama kali datang ke sekolah ini, terkagum kagum, terpesona dan terbelalak, sejenak terhenyak melihat bangunan yang besar sekali berada di hadapanku dan masih tertulis tulisan China berwarna merah, belum diganti dengan nama Indonesia. Ada rasa bangga dan bahagia menyelinap didalam dadaku.
Hari-hari pertama sekolah tentu rasanya campur aduk antara deg-degan, penasaran, semangat dan ada rasa malu serta canggung. Namun, sangat menyenangkan berkenalan dengan teman-teman baru, baik laki-laki maupun perempuan. Semua ada enam kelas, A sampai F. Aku sendiri mendapat kelas B.
Ketika istirahat jam pertama sekitar jam 9.30 sampai jam 10.00 serta istirahat jam kedua jam 12.00 – 12.30 aku pergunakan untuk berkenalan dengan teman-teman lainnya yang tidak satu kelas. Aku masih explore suasana sekeliling sekolah baruku ini, mendatangi setiap sudut sekolah. Ternyata sangat luas, dapat dibagi dalam tiga undakan. Di undakan atau level pertama area di depan kelasku, di halaman depan, terdapat lapangan yang bisa dipergunakan untuk bermain volley atau bulu tangkis. Di undakan kedua terdapat pohon beringin yang besar sekali dengan akar lebat, menjuntai ke bawah dan biasa dipakai gelantungan teman teman pria. Dalam hati, aku berpikir pohon beringin ini sudah tua sekali, kira-kira berapa tahun umurnya ya? Kalau saja pohon ini berumur 50 tahun, berarti bangunan sekolahku dibangun tahun 1900-an. Wow! Di sekitar pohon beringin ada lapangan yang disemen yang juga bisa untuk bermain volley, bulu tangkis, atau gobak sodor. Di undakan yang ketiga terdapat rerumputan hijau, lapangan seluas lapangan bola, ada juga lapangan untuk basket dan disebelah kirinya terdapat ruang kelas yang dipakai oleh anak anak jurusan sosial. Diatas sini terdapat kantin tempat murid-murid jajan saat istirahat, dan ada mamang-mamang yang jualan leupeut (Sunda) atau lontong isi oncom, favorit murid-murid karena murmer – murah meriah. Ada yang jual bakso, rujak dan kerupuk putih disiram bumbu oncom atau bumbu rujak. Saat itu belum ada makanan anak-anak zaman now seperti cireng, basreng atau telur gulung. Sementara, warung Bi Onah warung sekolah menjual makanan besar, aneka nasi dengan soto, sop, atau lotek dan karedok. Tentu tempe tahu goreng, telur asin telur dadar dan ikan goreng juga tersedia.
Oh ya, yang di area bawah itu terdapat bangunan dua lantai dengan ruangan-ruangan untuk kelas, untuk anak-anak jurusan IPA, yang bawah untuk kelas satu dan yang atas untuk kelas dua dan tiga. Gedung sekolahku ini sangat besar, kami mengenakan seragam putih abu-abu , bangga sekali seragam yang sudah lama ku impikan untuk bisa memakainya dan yang paling penting aku mempunyai teman teman baru yang akan mewarnai hari hariku tiga tahun kedepan.
“Hai, siapa namamu?” atau “Hai kenalan, ya.” sambil mengulurkan tangan.
“SMP nya dari mana?” begitu kami kami berkenalan satu sama lain. Dalam waktu sehari saja kami sudah mengenal teman teman satu kelas.
“Hai, aku Nyndia. Kamu siapa?” Sapa seorang teman baru yang akhirnya menjadi sahabatku.
“Aku Tari.” jawabku.
“Tari SMP-nya dimana? Kalau aku SMP 2.”
“Aku dari SMP 6,” jawabku menjawab pertanyaan Nyndia. Di sebelah Nyndia ada dua orang lainnya.
“Hai, saya Dewi,” kata salah satunya.
Aku membalas, “Tari.”
Lalu, gadis yang satu lagi memperkenalkan diri, “Kenalin, aku Kamila. Panggil saja Mila.”
Aku tersenyum dan menjawab, “Tari.”
Sejak perkenalan singkat itu, kami berempat menjadi sahabat—empat sekawan. Saat itu memang sedang tren membentuk geng atau kelompok, biasanya terdiri dari empat orang atau lebih. Setiap geng punya nama unik masing-masing. Kami menamai geng kami “IMOET” (dibaca: Imut), karena dua dari kami berbadan kecil dan berwajah imut. Maka lahirlah nama geng kami: The Imoet.
Teman-teman yang lain juga membentuk geng dengan nama-nama kreatif seperti D’Eduner, The Qeren, The Kill, dan masih banyak lagi. Masing-masing geng seolah berlomba-lomba menunjukkan bahwa kelompok merekalah yang paling seru dan keren.
Masih kuingat, di hari pertama masuk kelas, aku bingung: mau duduk di bangku depan atau belakang, ya? Hatiku berkecamuk. Kalau mau serius dan benar-benar mendengarkan penjelasan Bapak/Ibu guru, tentu lebih baik duduk di depan. Tapi kalau ingin bisa ngobrol santai, bangku belakang jelas lebih enak.
Kulihat teman-teman lain justru berebut duduk di bagian belakang. Akhirnya, aku pun memutuskan duduk di barisan paling depan. Berusaha terlihat tenang dan cool, padahal aslinya grogi banget. Satu bangku diisi oleh dua orang murid, dan bangku di sebelahku masih kosong. Tiba-tiba, seorang cowok berambut gondrong duduk di sampingku sambil nyengir lebar.
“Hai, nama gue Bima. Gue dari Jakarta,” sapanya ramah.
Nah, dari situlah perkenalanku dengan Bima dan teman-teman lainnya mulai mengalir.
Bima anaknya kocak banget. Rambutnya gondrong, cuma bawa satu buku tulis, dan tas ranselnya kelihatan lusuh, selalu digendong ke mana-mana. Pakaiannya pun santai—celana jin belel andalannya. Dia terkenal suka madol, alias bolos dari pelajaran. Biasanya nongkrong di kantin, warung, atau halaman depan sekolah. Sepulang sekolah, dia selalu meminjam buku catatanku.
Masing masing geng, membentuk grup belajar bersama, seperti halnya geng-ku yang terdiri dari empat perempuan; aku, Nindya, Mila dan Dewi, lalu ditambah dua teman pria Dandan dan Suryo. Seminggu dua kali, Selasa dan Kamis, kami belajar bersama di rumah Dewi di Jalan Dr. Rhum, dengan mengambil guru seorang mahasiswa ITB bernama Mas Wawan. Kami membahas PR matematika, aljabar. Kami berenam menjadi sahabat selama kelas satu dua dan tiga, yang beruntungnya kami tidak berpisah. Biasanya kalau naik dari kelas satu ke kelas dua, dan kelas dua ke kelas tiga ada saja yang terpencar. Kami berenam tetap di kelas 1B, 2B dan 3B.
MEJIKUHIBINIU – Tak akan pernah kulupa pelajaran fisika dari Pak Rachman mengajarkan singkatan warna Pelangi yaitu merah jingga kuning hijau biru nila ungu. Lalu lembayung warna apa? Lembayung adalah warna misteri, perpaduan magis antara merah yang berani dan biru yang menenangkan kemudian berubah menjadi warna ungu muda, ungu tua, campuran dan bisa bervariasi dari kemerahan menuju ungu, atau lebih kuat warna ungu dengan masih ada warna merah merah tua orange bercampur-campur yang hanya muncul sesaat sebelum malam benar benar hadir. Secara ilmiah spektrum warna lembayung berada di panjang gelombang 380 – 420 sampai 450 nm/ nanometer. Seringkali awam menyebutnya bayangan warna ungu.
Ada cerita yang sangat mengesankan selama hidupku tenang warna lembayung ini. Warna magis yang kusuka akan selalu menyertai hidupku. Arti harafiah lembayung itu campuran atau perubahan warna awan dan sinar matahari yang hendak menuju peraduan di sore hari. Awan bergumpal mula-mula berwarna jingga cerah, lalu berubah merah dengan sedikit biru diselingi warna awan putih lalu angkasa berubah warna dengan campuran warna biru muda biru tua orange dan ungu – yang saya namakan lembayung. Suasana alam hening, mempesona dan sungguh indah. Yang dapat dilihat dari pekarangan rumahku. Terbayang kalau aku berada di sebuah desa dengan hamparan sawah membentang, apalagi kalau berada di atas bukit atau kaki gunung. Sebuah suasana yang selalu aku impikan, pasti akan terasa damai dan merasakan keagungan Tuhan Yang Maha Esa.
Yang kedua, rumahku dari sejak kecil berada disebuah jalan yang bernama Karanglayung, yang arti layung – Bahasa Sunda adalah lembayung. Sungguh beruntung saya tinggal di daerah Bandung Utara, didaerah yang sangat terkenal dimana ada pemandian umum yang sangat besar Karang Setra. Nama jalan di daerah itu memakai kata Karang seperti Karang Tineung, Karang Sari, Karang Tinggal. Kenapa diberi nama Karang Layung ternyata memang kalau sore hari kita masih bisa melihat lembayung, langit berwarna jingga tua, jingga muda dan biru gelap membaur, hingga akhirnya menjadi malam dengan warna biru dan kemudian kita bisa melihat bintang berkerlap kerlip di langit malam kelam, saat itu menuju matahari sudah hendak menuju tempat peraduannya.
Seringkali menjelang sore hari aku duduk di beranda menatap cakrawala yang mulai dihiasi warna lembayung, sambil merenung mencari alam dan menikmati melodi alam, asik dengan pikiranku sendiri. Seringkali, aku bergumam sendiri memuji keindahannya. Lembayung adalah janji bahwa setelah kegelapan malam aka nada fajar yang bersinar terang menapaki hari baru yang cerah.
Saat ini aku tinggal di ibukota yang terkenal dengan polusinya karena asap knalpot dari motor atau mobil, asap dari pabrik pabrik serta bakaran sampah oleh masyarakat yang tidak memahami bahwa asap pembakaran itu menimbulkan polusi dan mengakibatkan gangguan penyakit pada manusia. Tak ada lagi lembayung yang aku lihat ketika aku kecil. Yang ada hanya awan putih kelabu yang memayungi di atas sana
MASA KECILKU sungguh menyenangkan, berada di daerah Bandung Utara yang kata orang daerah elit. Area dimana rumahku berada di daerah yang berbukit-bukit, tak jauh dibelakang rumahku masih ada rumah penduduk yang memelihara kambing, sapi dan kerbau serta hamparan sawah yang menguning jika siap panen dan atau warna hijau yang segar ketika daun padi baru ditanam dan meninggi. Di situ terdapat juga perusahaan susu sapi dimana ketika aku dan Kawan-kawan sepulang sekolah mendatangi Perusahaan susu itu dan ikut memerah susu sapi kedalam wadah kaleng susu yang besar, pulang nya kamu akan mendapat segelas susu sapi murni.
“Tari!! Tari!! Tari!!”
Seruan dan panggilan teman-teman kecilku terdengar dari luar rumah, ketika mereka tahu aku sudah pulang sekolah. Aku senang sekali mendengar suara teriakan mereka karena ini berarti kita akan bermain, di sawah, di kandang kambing atau pergi ke perusahaan susu untuk memerah susu sapi. Tapi, tidak demikian dengan nenekku yang galak sekali dan dengan suara keras menghardik.
“Tidak! Tari tidak boleh main dengan anak anak kampung itu!” Seru Nenek dengan jari telunjuknya menunjuk-nunjuk keluar. Tentu saja aku merasa kecewa dan kaget.
“Nenek… please, jangan terlalu keras suaranya.” aku memohon dengan memelas kepada nenek dengan jari telunjuk aku letakkan di depan mulutku. Aku takut suara nenek yang keras itu terdengar oleh teman-temanku dan mereka tidak mau lagi bermain dengan aku.
“Ayo masuk kamar, ganti baju dan kerjakan PR.”
Kali ini lengan kanan nenek naik keatas menyuruhku masuk ke kamar. Tak terdengar lagi suara teman-temanku di luar, rupanya mereka mendengar suara nenek yang keras dan memahami situasi yang terjadi. Akupun dengan lunglai masuk kedalam kamar, percuma saja melawan nenek, berani melawan dia rasakan akibatnya, dia bisa lebih marah dan aku akan di setrap, dikunci dari luar. Walaupun sedih kecewa dan marah dalam hati karena tidak boleh main, aku tetap masuk kamar, mengganti baju seragam sekolah memakai daster dan naik ke tempat tidur. Awalnya glibak glibuk karena kesal hati dan kecewa, tapi lama kelamaan tertidur juga.
Sejak kejadian itu, teman-temanku tidak pernah lagi berteriak memanggilku. Tapi, kami punya kode yaitu dengan memukul kaleng bekas. Kaleng dipukul dengan kayu atau bambu. Kalau aku mendengar ada ramai bunyi kaleng, aku tahu teman temanku sedang ada di luar dan aku dengan hati hati akan menyelinap keluar, jangan sampai ketahuan nenek. Aku mengendap-endap melihat nenek ada dimana. Kalau nenek ada di belakang atau di dapur, aku akan keluar lewat pintu depan. Kalau nenek duduk baca koran atau nonton TV di ruang tengah, aku akan berusaha keluar dari pintu belakang. Saat itu aku masih sekolah di sekolah dasar kelas tiga, jadi sedang bandel-bandelnya dan melawan, tapi tidak berani melawan si nenek yang galak menurut teman-temanku.
Oh ya, nama nenekku adalah Enden. Aku memanggilnya Nini Nden. Nenek sangat suka bercerita, terutama tentang asal-usul keluarganya. Kakek dari pihak ayah nenek—yang kami panggil Uyut atau kakek buyut—merupakan keturunan Belanda. Kakeknya Nini adalah setengah Belanda dan menikah dengan seorang pribumi dari Tasikmalaya, Jawa Barat.
Nenek sering mengisahkan bahwa ayah dari kakek buyut—atau kakek canggah kami—adalah orang Belanda asli. Kulit Nenek Nden putih dan ia sangat cantik, meskipun selalu berpakaian sederhana dengan kebaya.
“Uyut Canggah datang dari Belanda tahun 1900-an dan menikah dengan seorang pribumi. Mereka punya sembilan anak, salah satunya bapaknya Nini,” cerita Nenek suatu hari.
Kami memanggil anak dari pasangan itu sebagai Uyut Saleh. Aku masih mengingatnya dengan jelas karena kami sering berkunjung ke rumah Uyut Saleh di Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat. Secara fisik, beliau tinggi dan kurus. Saat itu usianya mungkin sudah di atas 80 tahun. Tingginya mungkin diwarisi dari garis keturunan Belanda. Ia berjenggot, selalu mengenakan baju putih, bersorban putih, dan berjalan dengan tongkat. Penampilannya khas, seperti seorang pendekar silat.
Uyut Saleh dikenal sebagai seorang ajengan—ahli ilmu agama—yang sangat dihormati. Banyak orang datang kepadanya untuk berguru.
“Uyut, Tari mau memanen salak ya!” seruku riang saat berkunjung ke rumahnya yang terbuat dari kayu, berbentuk rumah panggung, sangat nyaman dan sejuk jika kami menginap di sana.
“Jung cu, kade kana cucuk-cucukna nya,” jawab Uyut dalam bahasa Sunda yang artinya, “Ayo, tapi hati-hati sama durinya, ya.”
Dengan gembira, aku, kakakku, dan adikku berlarian di kebun salak milik Uyut, mencari salak yang besar dan matang. Kami membawa pulang satu atau dua karung ke Bandung. Kami bolak-balik dari kebun ke rumah, semangat memanen salak sebanyak mungkin.
Di halaman belakang rumah terdapat kolam ikan mas dan gurami, senang kalau kami menangkap ikan dengan menciduknya. Uyut istri seringkali menyuruh kami-kami untuk menangkap ikan untuk makan siang kami.
“Jung, ngala lauk.” begitu perintahnya.
Kami pun segera mengambil pakan ikan dan berdiri di atas titian—jembatan kecil dari bambu. Dengan semangat, kami menyebarkan pakan ke permukaan air. Seketika ikan-ikan bermunculan, berenang mengerubungi pakan dengan riuh.
Dengan mudah kami menseroknya—sepuluh ekor kami ambil. Ikan-ikan itu kemudian digoreng dan disajikan sebagai santapan makan siang, lengkap dengan lalapan sambal dan sayur asem. Kenangan masa kecil yang sederhana, hangat, dan tak akan pernah kulupakan.
Kreator : Rita Kuseriastuti
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 14: Kopi Klotok Pagi hari yang cerah, secerah hati Rani dan semangat yang tinggi menyambut keseruan hari ini. Ia bersenandung dan tersenyum sambil mengiris bahan untuk membuat nasi goreng. Tante, yang berada di dekat Rani, ikut tersenyum melihat Rani yang bersenandung dengan bahagia. “Rani, kamu ada rasa tidak sama Rama? Awas, ya. Jangan suka […]
Part 13 : Candi Borobudur Keesokan harinya Rama sibuk mencari handphone yang biasa membangunkannya untuk berolahraga disaat Rama berada di Jogja. Rama tersenyum dan semangat untuk bangun, membersihkan diri dan segera membereskan kamarnya. Tidak lupa Rama juga menggunakan pakaian yang Rapih untuk menemui Rani hari ini. Sementara Rani seperti biasa masih bermalas-malasan di dalam kamarnya […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: PELANGI LEMBAYUNG DI MASA REMAJA
Sorry, comment are closed for this post.