Pagi itu, kabut mengalir pelan di antara batang-batang pinus dan semak teh yang mulai basah oleh embun. Di balik kaca jendela mobil yang dikemudikan dengan perlahan, Lembah Sindanglaya menyambutku seperti seorang sahabat lama yang tak pernah berubah, meski aku kini telah berusia 62 tahun. Jalan melengkung seperti tapal kuda itu menari di hadapanku, membawa serta desir kenangan yang tak kunjung padam.
Tiba-tiba, dari balik kabut yang menipis, aku melihat diriku sendiri pada usia 10 tahun, memakai sweater wol cokelat yang dulu dijahit mama, rambut berkepang dua dengan jepitan hitam, dan sepatu karet dengan tali bersilang-silang seperti sepatu tentara jaman Romawi.
“Aku?” tanyaku pada sosok kecil itu.
“Iya, kau. Atau lebih tepatnya… aku yang dulu,” jawabnya sambil menyeringai. “Masih ingat jalan ini?”
Aku mengangguk. “Tentu saja. Kita dulu menyebutnya ‘jalan ajaib’, tempat kabut bisa berubah jadi naga, dan pohon-pohon bisa berbisik.”
Anak itu duduk di batu besar pinggir jalan, kakinya menggantung bebas, seperti waktu yang tak pernah takut jatuh. Aku ikut duduk di sampingnya. Angin menyapu wajah kami, membawa aroma kayu basah dan daun yang terinjak pelan.
“Kau masih suka ke sini?” tanyanya, menatapku dengan mata bulat penuh cahaya masa lalu.
“Sangat,” jawabku. “Tapi kini aku datang membawa rindu, bukan lagi petualangan.”
Ia tersenyum tipis. “Kau sudah jadi orang dewasa, ya. Jalannya masih sama, tapi cara menatapnya sudah berbeda.”
Aku tertawa kecil. “Dulu kita berlari di sini, membuat cerita dari suara burung dan bayangan pohon. Sekarang aku datang untuk mendengar kembali suara-suara yang sempat kulupakan.”
“Kau terlalu sering sibuk,” katanya. “Terlalu cepat tumbuh.”
Aku terdiam. Hembusan angin memeluk kami dengan dingin yang manis. Dari kejauhan, terdengar suara motor tua menembus kabut, seperti hantu masa lalu yang masih suka berjalan-jalan.
“Apa yang paling kau ingat dari tempat ini?” tanyaku akhirnya.
Anak itu mengangkat bahunya, lalu menjawab, “Bukan tempatnya. Tapi rasanya.”
“Rasa?”
“Iya. Rasa saat kau tidak tahu hari esok akan seperti apa, tapi tetap percaya besok pasti menyenangkan. Rasa saat berjalan di jalan sempit ini sambil menggenggam tangan papa dan bertanya apa itu awan. Atau saat mama bilang, ‘Jangan lari, nanti jatuh,’ tapi kita tetap lari karena tahu jatuh itu bagian dari bermain.”
Aku mengangguk pelan. “Dan sekarang aku datang ke sini karena… aku ingin ingat lagi rasanya.”
Ia menoleh padaku. “Lalu, apa kau bahagia sekarang?”
Pertanyaan itu menghantam lembut, seperti kabut yang pelan-pelan menyusup ke dalam dada. Aku menatap langit yang mulai terang. “Aku belajar menjadi bahagia. Tapi kadang aku lupa caranya. Dunia orang dewasa… terlalu banyak harus, terlalu sedikit ingin.”
Anak itu menggigit bibirnya. “Kalau begitu, pinjam sedikit ‘ingin’-ku.”
Aku tertawa. “Dan kau, ingin jadi seperti aku yang sekarang?”
Ia menggeleng cepat. “Belum. Aku ingin berlama-lama di usia sepuluh. Di sini. Di tikungan tapal kuda ini. Bersama kabut dan suara serangga yang belum terjamah waktu.”
Lalu kami diam cukup lama, seperti dua orang yang saling memahami meski berasal dari dua dunia yang berbeda. Aku sadar, di hadapanku bukan hanya kenangan—tapi juga pengingat.
“Dulu, kita memandang ke lembah itu dan percaya ada naga tidur di balik kabut”.
Anak itu tertawa. “Dan kau percaya, cukup dengan satu kata ajaib, naga itu akan bangun dan mengajakmu terbang.”
“Dan sekarang, aku butuh lebih dari sekadar kata untuk terbang,” gumamku.
“Tidak juga,” jawabnya cepat. “Kau cuma perlu diam sejenak, dan dengarkan jalan ini bicara. Jalan ini masih ingat kita.”
Aku memejamkan mata. Suara angin kembali datang, bersiul pelan di sela pepohonan. Dalam angin itu, aku mendengar suara-suara lama: tawa mama, panggilan papa, dan suara sandal jepit yang menyeret kerikil.
“Kau tahu,” kataku, “tempat ini seperti tapal kuda bukan hanya karena bentuk jalannya.”
“Maksudmu?”
“Tapal kuda itu lambang keberuntungan. Tapi juga tentang perjalanan yang berputar, tentang pulang ke awal.”
Anak itu tersenyum lebar. “Maka itu kau kembali, ya?”
Aku mengangguk. “Untuk menjemput bagian diriku yang tertinggal. Untuk mengingat bahwa hidup bukan soal seberapa jauh aku pergi, tapi seberapa banyak aku bisa kembali.”
Kabut mulai menghilang, membuka lanskap hijau yang membentang luas. Anak itu berdiri, lalu berkata, “Aku tak akan ke mana-mana. Aku tinggal di setiap detik yang kau nikmati saat kecil. Kalau kau rindu, datang saja lagi.”
“Dan kalau aku lupa?”
Ia menunjuk dadaku. “Lihat ke dalam sini. Aku bersembunyi di antara detak-detak yang masih tulus.”
Aku mengangguk. Perlahan, ia mulai berjalan menjauh, menyusuri jalan berliku yang dulu sering kami lewati bersama.
Tempat ini sudah tidak sama lagi seperti dulu. Dunia berputar, peradaban berubah. Kendaraan lalu lalang lebih banyak. Urbanisasi sudah terlalu ramai. Dunia semakin riuh rendah. Kesibukan manusia sudah tak terhentikan. Tetapi esensi rasa masa lalu tak pernah tertukarkan…
Aku berdiri. Menatap jalan di depan. Tapal kuda itu masih membentang, dan kali ini, aku tahu… aku sedang pulang. Bukan ke tempat, tapi ke rasa.
Ke anak usia sepuluh tahun yang pernah percaya kabut adalah pintu ke dunia lain. Ke diri sendiri yang tahu bahwa dunia ini indah bukan karena segalanya sempurna, tapi karena kita pernah melihatnya dengan mata yang penuh kagum, bukan curiga.
Dan saat aku melangkah lagi, kabut itu pun tertawa pelan—seperti sahabat lama yang menyambut pelukan. Lembah Sindanglaya, tapal kuda waktu, kini menjadi cermin tempat aku kembali menemukan siapa aku sebenarnya.
Lembah Sindanglaya, tempat kecilku menapaki dunia, tas rotan di punggung mungil, —“Akan sejauh apa hidup membawaku?” tanyaku dulu pada angin
yang menuntunku pulang.
Tapal kuda berliku, jalan setapak licin selepas hujan, di sanalah aku belajar: jatuh bukan akhir perjalanan, melainkan cara tanah mengajarkan keseimbangan.
Setiap langkah kecil itu menjadi urat nadi ketangguhan, mengalir ke masa dewasa, di mana hidup menanjak lebih tinggi daripada lembah Sindanglaya yang dulu kunaiki dan turuni.
Kini, di usia enam puluh dua, aku menatap bayang kecilku di kabut waktu, —“Terima kasih, anak tangguh,” bisikku, “kau telah mengajariku berjalan tanpa mengeluh, meski hati sering mendaki tanpa peta.”
Tapal kuda itu abadi, menjadi lengkung takdir
yang menuntunku pulang, ke akar, ke arti, ke Allah, setiap langkah masa kecil yang kupijak dulu, ternyata menanam arah bagi langkah tuaku kini.
Hidup adalah cerminan dari setiap peristiwa yang kita lalui, entah itu dapat kita ingat atau tidak. Dia seperti kotak pandora yang bila kapanpun kita buka, akan menyediakan lebih banyak hal dari yang masih bisa kita kenang.
Mencatat kenangan,
Di Jakarta 4 Agustus 2025
Kreator : Mariza
Comment Closed: Percakapan di Tapal Kuda
Sorry, comment are closed for this post.