Menggapai Passion yang Sesungguhnya
Juli 2019 Aku Menapakkan kaki ke sekolah kedua dan mulai mengajar di sana karena beban mengajar di sekolah induk yang kurang, dan sebagai Guru Profesional maka beban mengajar mesti terpenuhi agar gelar “Guru Profesional” dapat digunakan. Dengan langkah pasti memasuki pekarangan sekolah, yah..,tak ada lagi keraguan atau bahkan kecemasan seperti yang biasa dialami penghuni baru, mungkin karena sudah terlalu banyak lika-liku hidup yang dijalani membuatku siap menerima segala bentuk perlakuan, dan ternyata sikap mereka cukup membuat nyaman, mungkin karena di anggap senior atau memang kebiasaan mereka memperlakukan yang baik pada semua orang, tapi yang jelas mereka guru-guru muda-muda bahkan kepala sekolahnya saja belum genap 40 thn yang terbiasa berkelakuan baik dan berwawasan. pertemuan dengan mereka sangat menyenangkan kami saling menghargai, saling menghormati sehingga dapat dengan cepat berbaur. Beberapa bulan di sana kemudian hasrat menulis kembali mengusik setelah 27 tahun terkubur, yah.., masa SMA dulu aku pernah membuat tulisan-tulisan tentang kehidupan yang terjadi dan dialami, tapi itu hanya tertulis di buku-buku harian. Kini hasrat itu kembali muncul setelah bertemu dengan seorang penulis pemula yang juga guru di sekolah IT itu, beliau menulis beberapa cerpen dan juga karya solo. Dengan meminjam buku-buku karyanya sebagai referensi menulis, aku mulai mencoba menulis lagi.
Kehadiran sekolah kedua memberi semangat baru dan harapan baru. Layaknya penghuninya yang masih muda-muda menjadiku ikut bersemangat mengikuti perkembangan pendidikan, hingga tanpa sadar membuat semakin jauh dari kehidupan sekolah induk yang memang mulai tidak kondusif. Aku jadi kurang update tentang sekolah induk hingga terlihat kurang peduli meski sebenarnya aku hanya terpesona dengan kehidupan sekolah IT itu yang begitu nyaman. Hingga juli 2022 tanpa disadari aku dan seorang teman mendapat surat mutasi ke sekolah yang 10 kali lebih jauh dan lebih kecil. Aku terguncang antara senang dan sedih, senang karena akhirnya aku bisa terlepas dari semua kesemuan, meski bersyukur namun juga sedih karena harus berpisah dengan cara yang menurut orang-orang menyakitkan, namun anehnya di balik kesedihan, rasa bahagia justru lebih besar, karena sebenarnya aku memang sudah tidak betah, hanya saja tak ku perlihatkan.
15 Juli 2022 dengan langkah ringan ku tapakkan kaki di sekolah baru. Entah sudah kesekian kalinya aku mutasi, rasanya hampir semua sekolah di kota itu sudah kulalui sebagai warganya. apakah ini untuk yang terakhir kalinya atau masih akan berlanjut di usiaku yang mulai mendekati pensiun.
Alhamdulillah, di sana di terima dengan baik layaknya guru senior dan dengan mudah aku beradaptasi, meski ada sedikit kesulitan namun berakhir dengan baik. Beberapa hari kemudian batinku mulai membaik gairah mengajar kembali hadir karena suasana yang tentram, kesehatan pun semakin membaik meski harus bolak-balik sekolah dengan jarak sekitar sepuluh kiloan tetap saja hatiku girang, semua ku lalui dengan baik karena percaya akan takdir Tuhan menjadikanku semakin sadar akan lika-liku kesemuan hidup.
Setahun kemudian Desember 2023 dengan tak disengaja dalam sebuah website bertemu program Alineaku yang memberi kesempatan pada penulis pemula ataupun orang-orang yang ingin menulis untuk bisa menyalurkan bakatnya. Segera saja aku mendaftarkan diri dan aku pun mulai menulis, menulis dan menulis dengan mengikuti arahan dari Alineaku, hingga sebuah kisah berhasil dikirim untuk diterbitkan. Enam bulan kemudian tepatnya Juli 2024 naskah pertamaku berhasil diterbitkan. Betapa bahagianya aku Si Kutu Buku yang sedari kecil melalap semua buku tanpa pilih-pilih yang menghabiskan masa kecil hanya dengan membaca dan membaca dengan sedikit bermain kini membaca hasil karyanya sendiri. Suatu kebahagiaan yang tak terperikan saat menerima buku yang di dalamnya ada hasil karyanya, aku menangis tak henti-henti tak terbayangkan pada akhirnya aku menjadi seorang penulis, meski baru pemula dan amatiran tapi itu nyata dan namaku tertulis di dalam buku, ya Allah…cita-cita terbesar yang seolah tak mungkin, kini menjadi kenyataan. Ungkapan terima kasih yang tak terperikan untuk Alineaku yang telah memberi jalan untuk cita-citaku yah.., aku Si Kutu Buku menjadi seorang penulis meski masih amatiran. Sekarang hidupku benar-benar berguna, akan ku tulis perjalanan hidupku, tentang cinta, keteguhan bahkan airmata dan kini sudah lima kisah yang telah ku tulis dan siap tertib semoga saja impian untuk bisa memajang karya sendiri di perpustakaan mini ku menjadi kenyataan, sungguh kebahagiaan yang tak terbayangkan bahwa kini Si Kutu Buku itu telah benar-benar menemukan passionnya meski di usia senja.
TAMAT
Kreator : Sukma Wijayati
Comment Closed: PERJALANAN SI KUTU BUKU MENEMUKAN PASSIONNYA (BAB 6)
Sorry, comment are closed for this post.