Akhir semester selalu membawa rasa lega dan harapan baru. Setelah berbulan-bulan disibukkan dengan tugas dan ujian, akhirnya kampus kami mengumumkan kabar gembira: kami akan melakukan perjalanan wisata ke sebuah daerah pantai yang terkenal akan keindahan lautnya. Aku begitu bahagia mendengarnya.Sudah lama kami menunggu momen ini, dan kali ini pihak kampus benar-benar memberikan izin. Rasanya seperti mimpi.
Hari demi hari menjelang keberangkatan kuisi dengan persiapan penuh semangat. Aku membeli beberapa kebutuhan perjalanan, menyiapkan pakaian terbaik, dan bahkan menuliskan daftar hal yang ingin kulakukan di sana. Dalam hatiku, ada harapan besar untuk menikmati perjalanan ini — melupakan penat, menenangkan pikiran, dan menikmati ciptaan Allah yang Maha Indah.
Pagi keberangkatan tiba. Kami semua sudah berkumpul di lapangan kampus jauh sebelum bus datang. Udara masih dingin, tapi semangat kami menghangatkan suasana. Kicau burung dari pepohonan seakan ikut mengiringi langkah kami yang tak sabar menanti.
Ketika bus datang dan berhenti dengan decitan lembut, semua bersorak kecil. Kami bergegas menaikkan barang-barang ke bagasi, lalu naik satu per satu dengan tertib. Aku duduk di samping Fina, sahabatku yang selalu bisa membuat suasana hati tenang.
Bus mulai berjalan. Musik dinyalakan. Tawa dan nyanyian mengisi udara. Tapi setelah satu jam perjalanan, aku mulai merasa aneh. Kampung yang kami lewati terasa sunyi,terlalu sunyi. Rumah-rumah berdiri rapi, tapi seperti tanpa penghuni. Tak ada anak-anak berlarian, tak ada suara ayam, tak ada kehidupan. Aku menatap keluar jendela lama sekali, sampai akhirnya berkata pelan pada Fina.
“Fin, kamu nggak merasa aneh? Kampung yang kita lewati ini seperti… kosong.”
Fina menoleh sambil tersenyum kecil.
“Nggak ah, biasa aja. Mungkin kamu capek. Tidur aja, nanti aku bangunkan kalau sampai rest area.”
Aku mencoba memejamkan mata, meyakinkan diri bahwa mungkin aku memang hanya lelah. Tapi begitu tertidur, sesuatu terjadi.
Dalam mimpiku, aku terbangun di dalam bus yang sama, tapi kosong. Semua kursi tak berpenghuni. Tak ada suara musik. Tak ada tawa. Hanya aku seorang diri.
Perasaan panik langsung menyeruak. Aku berdiri, memanggil nama teman-temanku, tapi tak ada jawaban. Pintu bus terbuka. Aku melangkah turun, menatap sekeliling, namun jalan itu sunyi seperti dunia yang ditinggalkan.
Aku berlari, berteriak, hingga akhirnya dari kejauhan kulihat seorang kakek berjalan perlahan dengan tongkat di tangannya.
Aku mendekat dengan rasa lega bercampur takut.
“Kakek, tolong… aku sendirian. Teman-temanku hilang semua.”
Kakek itu menatapku dengan senyum lembut, tapi matanya dalam, seperti menembus pikiranku.
“Kamu ingin ke mana, cu?”
“Kami sedang dalam perjalanan wisata ke pantai, kek.”
“Sebelum kamu berangkat, sudahkah kamu meluruskan niatmu?”
Aku tertegun.
“Maksud kakek?” tanyaku pelan.
“Jangan bertanya apa maksudku. Tanya hatimu sendiri. Kalau kamu ingin teman-temanmu kembali, luruskan dulu niatmu. Karena niat adalah arah langkahmu. Jika arah itu bengkok, maka semua yang kamu tuju akan terasa kosong.”
Sebelum sempat aku bertanya lebih jauh, kakek itu menghilang, seperti kabut yang terhembus angin. Hanya suara lembutnya yang tertinggal di telingaku.
Aku terbangun. Nafasku tersengal. Fina mengguncang bahuku pelan.
“Alisa, kamu mimpi? Wajahmu pucat banget.”
Aku menatap keluar jendela, kali ini pemandangan terasa berbeda. Langit biru membentang luas, sawah menghijau, dan sinar matahari menembus kaca bus seolah menegurku dengan hangat.
Dalam diam, aku teringat sesuatu: niat buruk yang pernah kusimpan.
Aku memang berencana mencelakai seorang teman di perjalanan ini, seseorang yang selama ini sering merendahkan aku dan keluargaku. Ia menghina pekerjaan ayah dan ibuku yang hanya buruh tani di kebun keluarganya. Kata-katanya menancap tajam di dadaku, membuat amarah tumbuh seperti api kecil yang lama-lama ingin kubakar.
Tapi kini, setelah mimpi itu… aku sadar.
Mungkin Allah sedang menegurku.
Mungkin bus kosong dalam mimpiku adalah hatiku sendiri, kosong karena niatku yang kotor.
Aku menunduk, air mata menetes tanpa bisa kutahan.
“Astaghfirullahal ‘azhim…”
“Ya Allah, ampunilah hamba-Mu yang lemah ini. Ampuni niat jahat yang pernah tumbuh di hatiku. Jadikan aku hamba yang bersih, yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan.”
Aku terus beristighfar dalam hati. Ada rasa tenang yang turun perlahan. Seolah beban besar yang selama ini ku pikul perlahan luruh bersama air mata.
Aku memutuskan, tak akan ada dendam, tak akan ada balas. Biarlah Allah yang menjadi Hakim, karena hanya Dia yang tahu isi hati manusia. Bus terus melaju. Angin laut mulai terasa. Dari jendela, kulihat cahaya berkilau di ujung horizon, laut itu menunggu. Indah, luas, dan tak pilih kasih, seperti rahmat Allah yang meliputi segala sesuatu.
Aku tersenyum kecil. Mungkin inilah makna sebenarnya dari perjalanan ini: bukan sekadar menuju pantai, tapi menuju hati yang lebih bersih. Karena sejauh apa pun kita bepergian, jika niat di dada belum lurus, maka langkah kita tak akan menemukan ketenangan.
Aku menatap langit biru yang semakin terbuka, lalu berbisik dalam hati:
“Ya Allah, bimbing setiap langkahku agar selalu dalam ridha-Mu. Jadikan setiap perjalanan bukan sekadar wisata, tapi jalan menuju hidayah.”
Dan di tengah gemuruh ombak yang mulai terdengar, aku tahu perjalanan batinku baru saja dimulai.
Kreator : Ferayanti, S. HI.
Comment Closed: PERJALANAN YANG MENYADARKAN NIAT PART 1
Sorry, comment are closed for this post.