Seperti hari-hari biasanya, Bu Endah pagi itu mengajak murid-muridnya berjalan kaki keliling lingkungan sekolah sebelum masuk kelas. Sebagai upaya meningkatkan perkembangan dan penguatan motorik kasar murid-muridnya bu guru yang sudah setengah baya itu rutin mengajak berjalan kaki dan kadang-kadang diselingi dengan berlari bebas. Hal itu untuk melatih keseimbangan tubuh anak-anak usia 3-4 tahun yang masih perlu latihan secara bertahap.
Kebiasaan mereka berjalan kaki menjadi hiburan juga bagi anak-anak yang perlu merasakan kebebasan berekspresi, kebebasan bergerak, dan kebebasan memandang alam semesta dengan leluasa. Dengan berjalan kaki di sekitar sekolah mereka bisa menikmati indahnya pemandangan alam yang masih tampak alami. Sebagian wilayah telah penuh dengan bangunan pemukiman penduduk sedangkan sebagian wilayah yang lain asih asri hijau penuh tumbuhan liar bagaikan hutan belantara tanpa kayu-kayu besar. Seantero mata memandang tampak perbukitan yang indah nan hijau royo-royo berdindingkan kaki langit di ujung sana.
Rombongan gulungan mendung yang berarak mengikuti arah angin menambah asri pemandangan alam nan cerah merona merupakan goresan lukisan tangan sang maha kaya. Semilir angin bisikkan kata cinta, perlahan menyentuh kulit terasa dibelai sang rembulan.
Sambil menikmati indahnya alam semesta tersebut bu Endah dengan 14 murid kesayangannya terus melangkahkan kaki mungilnya. Setapak demi setapak mereka lewati dengan gembira.
Tiba-tiba, Si Darren, murid ganteng dengan ciri khas potongan rambutnya seperti mangkok tengkurap itu berteriak memanggil guru dan teman-temannya.
“Haii….teman-teman, sini dong. Bu Endah, sinio Bu Endah, ini ada polisi tidur. Ini polisi tidur gak bangun-bangun,” panggilnya sambil berhenti kakinya menginjak polisi tidur.
Setelah teman-teman dan Bu Endah yang berjalan di belakang telah sampai di tempat, Si Darren kembali memberi tahu bahwa yang diinjak adalah polisi tidur, sambil tangan kanannya menunjuk paving yang diinjak tersebut.
Bu Endah segera menghampiri Darren yang penuh hiruk pikuk sendiri menunjukkan adanya polisi tidur. Begitu pula teman-temannya yang baru datang mendekati dan ikut menginjak serta menunjuk polisi tidur yang dicat warna biru itu.
“Ow iya, pinter Mas Darren, ini orang-orang lebih familiar menyebutnya atau menamainya Polisi Tidur,” sahut Bu Endah.
Belum selesai Bu Endah berbicara, Xena ikut-ikutan berbicara.
“Iya, ini tempat tidurnya polisi. Bu Endah, Bu Endah, ini tempat tidurnya polisi,” ucap Xena sambil tangannya menarik-narik tangan Bu Endah mencari perhatian.
Bu Endah tertawa lucu mendengar ucapan Xena yang polos dan percaya diri itu.
“Ini bukan tempat tidurnya polisi, nak kanak. Tempat tidurnya polisi ya di kamar kayak kita. Kalau ini paving yang ditata memotong jalan lebih tinggi dari jalannya ini adalah rambu penghambat laju kendaraan. Supaya kendaraan yang lewat, baik motor, mobil, atau truk memperlambat jalannya. Supaya pak sopir mengurangi kecepatan laju kendaraannya jika lewat di sini. Nhah orang-orang lebih mudah memahami ini dengan istilah polisi tidur,” jelasnya sambil tersenyum penuh kasih sayang, disambut senyum dan anggukan murid-muridnya yang semua sudah bisa memahami.
Kreator : Endah Suryani, S. Pd AUD
Comment Closed: Polisi Tidur
Sorry, comment are closed for this post.