Khotbah menjadi salah satu bagian penting di dalam kegiatan ibadah gereja. Khotbah merupakan pokok penting karena tanpa khotbah ibadah menjadi kurang lengkap. Menurut Lukman Tambunan menyatakan bahwa “Dalam ibadah, khotbah merupakan inti, pokok, dan puncak dari ibadah. Oleh karena itu, khotbah merupakan hal penting yang tidak terpisahkan dari ibadah. Bahkan khotbah sangat berperan dalam pertumbuhan gereja khususnya pertumbuhan iman jemaat.” Sedangkan Andreas B. Subagyo juga menyatakan bahwa, “Kini pelayanan Firman merupakan salah satu dari mata acara kebaktian yang dianggap “puncak” oleh banyak peserta ibadah.”
Pengkhotbah adalah seorang yang menyampaikan khotbah. Seorang pengkhotbah mempunyai peran yang penting untuk dapat menciptakan khotbah yang efektif. Seorang pengkhotbah merupakan seorang yang diberikan tugas khusus untuk menyampaikan kebenaran firman Tuhan. Pengkhotbah yang berkualitas akan mempengaruhi apa yang disampaikannya serta dampak dari pesan tersebut. Pengkhotbah juga diharapkan mempunyai keyakinan bahwa khotbah sebagai pelayanan kepada Allah, sehingga pengkhotbah akan hidup sungguh-sungguh dalam melakukan pelayanan firman. Seorang pengkhotbah perlu mengerti bahwa Roh Kudus sangat berpengaruh dalam diri pengkhotbah sebab Roh Kudus akan memampukan seorang pengkhotbah untuk dapat mengerti dan menuntun pengkhotbah dalam menyampaikan khotbah. Seperti Rasul Petrus menerima kuasa dan mampu berkhotbah begitu luar biasa setelah Roh Kudus turun atas dirinya (Kis. 2:1-40). Bahkan Yesus yang penuh dengan kuasa Roh, mengajar di rumah-rumah ibadat dan semua orang memuji Dia (Luk.4:14-15).
Seorang pengkhotbah memiliki peran penting dalam pelayanan firman, oleh sebab itu pengkhotbah perlu mengerti beberapa pokok penting sebagai pengkhotbah: Pertama, Seorang pengkhotbah perlu memiliki tanggungjawab. Seorang pengkhotbah diharapkan memiliki tanggung jawabnya sebagai pengkhotbah. Ketika seorang pengkhotbah sadar akan tanggung jawabnya sebagai pengkhotbah, maka pelayanannya akan lebih totalitas. Kesadaran dalam tanggungjawab, akan menciptakan kualitas pelayanan yang baik. Namun, banyak hamba Tuhan yang berkhotbah hanya menganggap sebagai tugas mingguan rutin dalam pelayanan mereka. Padahal, khotbah atau pelayanan firman sangat penting di dalam pelayanan untuk pertumbuhan iman jemaat. Kurangnya tanggung jawab sebagai seorang pengkhotbah melemahkan pelayanan dan kualitas jemaat yang dilayani.
Kedua Pengkhotbah perlu mendalami ilmu berkhotbah. Tuntutan zaman modern adalah orang harus semakin maju dalam segala bidang kehidupan termasuk khotbah. Zaman modern ini khotbah dapat diakses lewat media sosial, yang begitu menarik dan unik. Perkembangan ini membuat seorang pengkhotbah gereja dituntut untuk dapat menciptakan suatu perkembangan di dalam khotbah. Sehingga seorang pengkhotbah memerlukan suatu ilmu berkhotbah atau homiletika yang mengarahkan pola khotbah. Menurut Andreas B. Subagyo menyatakan, “Homiletika atau homiletics adalah suatu cabang teologi yang membahas tentang hakikat pelayanan firman, bahan dan bentuk bahasan firman, dan pelaksanaan pelayanan firman.”
Ilmu berkhotbah penting untuk dimiliki seorang pengkhotbah, karena akan meningkatkan kualitas khotbah yang disampaikan seorang pengkhotbah. Seorang pengkhotbah yang tidak belajar tentang ilmu homiletika, maka pengkhotbah akan mengalami kesulitan untuk menciptakan hasil khotbah yang berkualitas. Bahkan yang menjadi persoalan besar jemaat akan mencari khotbah-khotbah yang hebat, bermutu dan jelas, serta terarah dan sederhana yang dapat diakses di media sosial, sehingga jemaat merasa tidak membutuhkan lagi untuk mendengarkan khotbah dalam ibadah.
Pada era perkembangan teknologi digital ini seorang pengkhotbah dituntut begitu rupa untuk dapat menjadi jawaban bagi pergumulan pertumbuhan iman jemaat. Cara penyajian sebuah khotbah menjadi persoalan yang umum terjadi di masa ini oleh seorang pengkhotbah. Permasalahan yang terjadi banyak hamba Tuhan yang masih mengesampingkan ilmu homiletik, sebab menganggap bahwa cukup memahami Firman Tuhan sudah dapat berkhotbah dan itu cukup sebagai modal melayani. Pemahaman seperti ini tidak salah, namun jemaat merindukan khotbah isinya yang kuat serta penyampaiannya komunikatif dan aplikatif.
Ketiga, Pengkhotbah diharapkan terus meningkatkan kualitas penyampaian dalam pelayanan firman walaupun belum dapat melihat hasilnya. Semangat pelayanan seorang hamba Tuhan terutama seorang pengkhotbah akan meningkat jika khotbah-khotbah yang disampaikannya didengar jemaat, bukan hanya itu tetapi dilakukan dalam setiap kehidupan jemaat, sehingga jemaat mengalami pertumbuhan di dalam kerohaniannya. Pengkhotbah akan merasa bersukacita jika yang dilayani bertumbuh dan mengalami perubahan yang baik. Namun, kenyataannya bertahun-tahun jemaat mendengar firman Tuhan, tetapi tidak tampak perubahan yang nyata dalam kehidupan jemaat. Benny Solihin menyatakan bahwa, “Bertahun-tahun jemaat mendengar firman Tuhan, namun tidak tampak perubahan yang signifikan; tidak ada pertumbuhan yang nyata dalam iman mereka. Kelihatannya, firman Tuhan seperti masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Tidak mengubah apa pun.” Sehingga membuat seorang pengkhotbah mengalami penurunan semangat dikarenakan apa yang pengkhotbah lakukan tidak menghasilkan hasil yang baik.
Pengkhotbah yang mengalami penurunan kualitas untuk melayani terlebih pelayanan Firman maka tidak dapat menghasilkan khotbah yang bermutu, sebab pengkhotbah yang tidak semangat atau penurunan kualitas melayani akan kehilangan kekuatan dalam penyampaian firman. Pengkhotbah yang mengalami penurunan kualitas pelayanan maka yang dilayani akan mengalami penurunan kualitas baik dibidang iman, mental, sosial maupun moral. Penurunan ini akan menghasilkan dampak secara pribadi seorang pengkhotbah yang akan menganggap khotbah hanya sebuah tugas gereja, bukan merupakan tugas pelayanan yang dari Allah.
Keempat, Pengkhotbah yang berintegritas. Kehidupan pengkhotbah mempunyai peran penting di dalam keberhasilan pelayanan firman. Seorang pengkhotbah harus memiliki integritas yang tinggi sebagai hamba Tuhan yang ditugaskan untuk memberitakan firman. Persoalan yang terjadi bahwa, integritas hamba Tuhan terlebih pengkhotbah sering kali diragukan oleh jemaat. Menurut Benny Solihin dalam bukunya yang berjudul “7 Langkah Menyusun Khotbah Yang Mengubah Kehidupan” menyatakan bahwa,
Tetapi pada zaman kini, umat Kristen lebih kritis. Meskipun tidak banyak dari mereka yang secara eksplisit mengungkapkan ketidakpuasannya kepada hamba Tuhan, tetapi secara diam-diam mereka menilainya.Hasilnya, makin lama makin berkurang hormat mereka pada figur yang berpredikat pendeta, penginji, atau pengerja. Integritas para hamba Tuhan yang diragukan berimbas negatif bagi kepercayaan mereka pada khotbah-khotbah yang mereka dengar. Bila mereka masih mendengarkan khotbah-khotbah para hamba Tuhan, itu belum tentu karena mereka percaya kepada kehidupan para hamba Tuhan, tetapi mungkin ada banyak sebab lain.
Persoalan itu terjadi disebabkan pengkhotbah tidak mampu mencerminkan integritasnya sebagai hamba Tuhan yang memang dipanggil untuk tugas pelayanan firman. Pengkhotbah merupakan cermin dari khotbah yang disampaikan, jika pengkhotbah hanya mampu menyampaikan tanpa dapat melakukan maka integritas hamba Tuhan akan diragukan.
Khotbah yang benar harus mempunyai unsur kebenaran dan kepribadian. Kebenaran yang merupakan sebagai isi dari pemberitaan yang pengkhotbah sampaikan yaitu kebenaran dari Allah. Kepribadian berbicara mengenai pribadi pengkhotbah itu sendiri. Dalam kepribadian terdapat integritas pengkhotbah yang di dalamnya akan mempengaruhi kebenaran yang disampaikan.
Integritas pengkhotbah juga dipengaruhi oleh kualitas intelektual pengkhotbah. Gereja saat ini mengalami kekurangan pengkhotbah-pengkhotbah ilmiah yang berkualitas. Walaupun kehidupan spiritual dan moral pengkhotbah sangat baik, tetapi pengkhotbah tidak lepas dari pengetahuan, sehingga dibutuhkan kehidupan spiritual dan moral serta pengetahuan yang berkualitas sangat dibutuhkan bagi seorang pengkhotbah. Menurut Kalis Stevanus menyatakan, “Kelemahan gereja pada masa sekarang ialah kekurangan akan pengkhotbah-pengkhotbah ilmiah yang hebat. Pengkhotbah juga dituntut untuk memiliki kualitas intelektual yang mampu bersaing/kompetitif dan itu sangat diharapkan kehadirannya pada era globalisasi ini.” Permasalahan ini terjadi di berbagai gereja sehingga permasalahan ini membuat integritas seorang pengkhotbah diragukan oleh jemaat.
Kreator : Pernelius Andhi Satriyo, S.Th.,M.Pd
Comment Closed: PROBLEMATIKA PENGKHOTBAH
Sorry, comment are closed for this post.