KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Putih Biru

    Putih Biru

    BY 04 Okt 2024 Dilihat: 485 kali
    Putih Biru_alineaku

    PROLOG

    Setelah menutup pintu kamar, aku memasangkan headphone dengan volume penuh sembari merebahkan diri di atas kasur. Aku membuka aplikasi musik sebelum akhirnya menyerah mencari musik yang cocok dan akhirnya memilih lagu asal dalam mode shuffle.

    Aku menatap langit langit kamarku, sembari mencoba memejamkan mata dan membiarkan diriku tertidur. Sudah pukul sepuluh malam, sementara besok aku harus berangkat jam lima pagi menuju sekolah baruku. 

    Sejujurnya, aku sudah berusaha mati-matian untuk masuk sekolah ini bukan semata-mata karena aku ingin masuk sekolah favorit dan berprestasi. Tetapi, Mama sangat membanggakan sekolah ini dan menginginkanku untuk masuk. Bahkan, aku mengikuti les di luar sekolah agar dapat diterima. Dan, setelah mempertimbangkannya, mungkin ini juga membuka peluang bagus untuk beasiswa ke negara asing -yang selalu menjadi impianku- karena sekolah ini termasuk yang terbaik se-Indonesia.

    Entah itu perasaan tidak sabar, gugup atau takut yang membuatku tidak bisa tidur. Akhirnya, aku memutuskan untuk bangkit dan mencoba mencari kesibukan. Membaca buku selalu menjadi cara yang ampuh untuk membuatku mengantuk, karena itu aku menghampiri rak buku dan mulai mencari novel. 

    Di depan rak buku, mataku tertuju pada sebuah buku catatan putih bermotif ombak biru yang sudah mulai usang. Tanganku meraih buku itu dan membawanya ke atas kasur. Dengan perlahan, aku mulai membalik satu demi satu halaman buku catatan yang sudah menemaniku selama tiga tahun. Ya, buku itu adalah saksi bisu akan kehidupanku selama masa putih biru yang penuh dengan kejadian menarik dan menyenangkan. Buku harianku selama SMP.

    Aku mulai membaca ulang catatanku. Tersenyum lebar jika membaca tentang MPLS, tentang keinginanku untuk menjadi anggota organisasi, tentang event pertama yang aku tangani sebagai OSIS, dan kejadian menyenangkan lainnya. Menertawakan diriku jika membaca tentang cinta monyet yang aku alami saat SMP. Tersenyum sedih jika membaca tentang masalah-masalah yang kuhadapi. 

    Membaca catatanku sungguh mengembalikan kenangan yang berharga. Kenangan yang tidak bisa diulang lagi. Hanya bisa berharap kita tetap akan mengingatnya hingga tua nanti. Masa putih biru adalah masa yang sangat menakjubkan. Karena, pada jangka waktu tiga tahun itu, kita berkembang, tumbuh dan berubah. Dari seorang anak kecil polos menjadi remaja seperti sekarang. 

    Mungkin ini yang kubutuhkan sekarang. Toh, besok aku sudah memulai jenjang baru. Ini saat yang tepat untuk membaca kembali semua tulisan-tulisanku dengan pelan dan memahami kesalahan kesalahan yang telah kuperbuat pada tiga tahun itu. Sebelum memulai membaca, aku memutar salah satu lagu yang menurutku sangat mendeskripsikan masa putih biru-ku. 

     

    We’re smiling but we’re close to tears, even after all these years

    We just now got the feeling that we’re meeting

    For the first time

    For The First Time – The Script 

     

    SATU

     

    Aku menatap seragam sekolah baruku di cermin. Kemeja lengan pendek putih dengan rok selutut biru gelap bermotif kotak-kotak. Setelah 10 menit bersusah payah mencoba, akhirnya aku berhasil untuk setidaknya memasang dasi dengan cara yang menurutku betul. Yah, walaupun aku ragu karena bentuknya tetap terlihat aneh. 

    Suara Papa yang sedang memasak di bawah terdengar hingga kamarku. Juga, langkah kaki Mama yang mulai mendekat ke pintu kamar. Mungkin ini yang dinamakan keuntungan menjadi anak dari keluarga yang cukup ketat. Menghafal suara langkah kaki dan mengetahui seberapa jauh jaraknya dari kita. Apakah itu aneh? Mungkin, iya. Tapi, percayalah, itu benar-benar menjadi superpower kita yang sangat membantu.

    Sedetik sebelum Mama membuka pintu kamarku, aku sudah merapikan tempat tidurku yang cukup berantakan. Yah, tidak terlalu rapi, tapi setidaknya cukup sehingga tidak akan ada komentar dari Mama. 

    “Asya, apakah kamu sudah siap?” Mama membuka pintu kamarku dengan cukup keras.

    “Jika sudah, tolong siapkan pakaian Jio ya, dan bersihkan botol minumnya dengan air panas.” 

    BRAK!!

    Pintu kamarku tertutup lagi. 

    That’s it. Itu percakapan standar setiap pagi dalam kehidupanku. Mungkin beberapa dari kalian berpikir bahwa itu terlalu pendek, terutama hari ini adalah hari pertama aku memasuki sekolah baru, but it’s not. Menurutku, tidak ada gunanya untuk bercakap panjang lebar di pagi hari. Hanya membuang energi saja. Yang penting aku sudah berkomunikasi. Banyak sekali anak di luar sana yang bahkan tidak pernah bertemu orang tuanya. Aku harus bersyukur tetap ditanya pada pagi hari. Lagipula, orang tuaku sudah cukup sibuk dengan Jio, adikku yang sekarang sedang membutuhkan terapi untuk melatih kefokusan dan keaktifannya. 

    Mungkin inilah yang dimaksud dengan ‘remaja pada umumnya’, mulai menjaga jarak dan menjadi pendiam. Mulai menyimpan cerita-cerita pada dirinya sendiri. Mulai menikmati waktu sendirian dibanding bersosialisasi. Aku sering sekali mendengar pidato dari guru-guru tentang itu, khususnya pidato kelulusan yang dibawakan oleh Kepala Sekolah. Kuakui, aku hampir mengantuk mendengar pidato kelulusan tersebut, tetapi ada beberapa kalimat yang sempat masuk ke dalam pikiranku. Bahwa nanti kita akan menjadi lebih dewasa. Akan menghadapi tantangan yang mungkin akan merubah kita. Khususnya pada masa remaja, dimana kita seperti tanah liat, mudah sekali untuk dibentuk dan diubah. Sebenarnya, aku yakin sekali aku pernah mendengar metafora seperti itu dari sebuah buku, dan aku yakin sekali bahwa Ms. Vic, Kepala Sekolahku, hanya mengutip dari buku tersebut karena buku itu memang disediakan di perpustakaan. 

    Toh, mau aku berubah atau tidak, itu bukan suatu masalah besar. Aku sudah menunggu masa-masa putih biru ini sejak SD dan aku tidak akan membiarkan siapapun merusaknya. Menurutku ini adalah waktu yang tepat untuk mulai glow-up dengan membangun reputasi yang bagus agar dapat diterima di SMA bergengsi. Selain itu, aku penasaran dengan teman teman baruku. Aku dengar dari Kakak bahwa sahabat di sekolah menengah akan bertahan lebih lama. Walaupun, aku agak meragukan hal itu. Akan tetapi, setelah melihat Kakak dengan sahabatnya sejak SMP masih dekat dan saling mengunjungi, aku mulai mempercayainya. 

    Aku tersenyum melihat tas coklat yang akan kubawa ke sekolah nanti. Membayangkan diriku duduk diatas kursi dan mencatat pelajaran-pelajaran yang terdengar rumit. Membayangkan diriku mendapat nilai-nilai sempurna. Membayangkan diriku sibuk dengan pelajaran dan ekstrakurikuler. Aku sungguh berharap semua bayanganku ini terjadi. Namun, sebelum itu, aku harus memulai hari pertamaku di lingkungan yang baru ini. 

     

    ~~~~~

    Angin pagi menerpa wajah dan rambutku. Motor papa melaju kencang menerobos keramaian jalan raya yang penuh dengan kendaraan. Suara klakson terdengar sana sini, diikuti suara knalpot yang sudah di modif agar menyiksa telinga. Sesekali aku memperbaiki kunciran rambut sambil bercermin di kamera handphone-ku. Lagu Hollywood Dreams karya Ayesha Erotica, yang sedang ku dengar melalui earphone, mengalahkan bisingnya jalan raya. Pilihan yang cukup semangat walaupun baterai sosial-ku sudah mulai terkuras. 

    Setelah melawan macet, gerbang sekolahku mulai terlihat. Jarak dari gerbang menuju gedung utama sekolah mungkin sekitar 10 meter, mungkin juga 15. What do I know, aku hanya seorang cewek yang selalu mengukur jarak dengan, “kalau dari sini, sampai mana”. Kita melewati kantin, bangunan serbaguna, dan lapangan. Pepohonan yang tumbuh di sisi jalan membuat sinar matahari tidak terasa terlalu terik. Aku merapikan rambut sekali lagi sebelum motor Papa berhenti untuk menurunkanku. 

    “Belajar yang fokus, ya.” Papa tersenyum kecil sebelum memutar balik dan meninggalkanku. Aku membalikkan badan untuk menatap gedung sekolahku. 

    Di sebelah kiriku terdapat parkiran motor untuk para guru, dan mungkin murid jika sudah mendapatkan SIM. Pada sebelah kanan, terlihat UKS, tempat aku menghabiskan waktu berbaring saat upacara MPLS. Ya, aku pingsan waktu itu. Tidak lucu. 

    Papa menurunkanku tepat di depan kantor ruang guru, dimana sudah ada seorang guru yang menyapaku. Aku membalas sapaan guru itu dengan senyuman dan segera ke kelasku di lantai dua. Setelah menaiki tangga ‘motivasi’ -karena di setiap anak tangganya terdapat kata kata motivasi- aku teringat sesuatu. Aku tidak tahu dimana kelasku. Kepala Sekolah memberi tahu letak kelas saat upacara, saat aku di UKS. Aku melepas earphone sebelah kanan dengan kesal. 

    “Hai, kamu Asya bukan?” Seseorang menepuk pundakku. “Aku Lia! Kita sekelompok saat MPLS loh!” 

    Mungkin terdengar jahat, tapi sebenarnya aku tidak dapat ingat siapa saja yang sekelompok denganku saat MPLS. Aku hanya dapat mengangguk dan tersenyum kecil.

    “Oohh, iya, aku ingat.” Aku menjawab sembari mengecilkan volume lagu agar suaranya terdengar. 

    Aku mengikuti Lia yang berinisiatif memimpin jalan. Aku berusaha untuk tidak mengangkat kepala jika ada senior, kudengar mereka sangat menakutkan. Dan untungnya, usahaku berhasil. Lia membuka pintu untukku dan masuk setelahku. 

    Wangi lavender memenuhi ruangan kelas, entah parfum seseorang atau memang pewangi yang digantung di AC. Aku menatap satu per satu teman sekelasku. Lebih dari setengahnya sedang memainkan ponsel masing-masing. Setelah duduk di kursi yang kosong, aku membuka sebuah buku catatan yang Bibi berikan saat ulang tahunku. Aku memutuskan untuk menjadikan itu sebagai buku harianku selama SMP, yang dimulai hari ini. 

     

    • ────•°••°•───────••───────•°••°•───────••───────•°••°•───────•

    Apakah ada kiat tentang cara bertahan pada masa SMP? 

    Mungkin itu kalimat yang sangat bagus dan cocok untuk menjadi kalimat pembukaan pada buku harian ini. Karena sejujurnya, selain perpustakaan dan seekor tupai yang kulihat, aku tidak tahu apa yang akan bikin aku merasa nyaman disini. Tapi, who am I to judge? Aku baru di sekolah ini selama seminggu, mungkin akan ada hal menarik yang terjadi. Aku dengar ada divisi OSIS yang fokus dengan dokumentasi dan komunikasi, mungkin aku harus mencoba itu. Dan dengan kepintaranku, mungkin aku bisa mengikuti berbagai lomba dan mengembangkan portofolio-ku untuk SMA nanti. The point is, aku benar benar harus memanfaatkan masa masa SMP ini dengan sebaik mungkin agar aku dapat masuk SMA yang berprestasi dan bisa mendapatkan beasiswa untuk kuliah di luar negeri. Impianku cukup tinggi, dan itu tidak apa untuk seorang gadis yang ambisius sepertiku. Aku tidak keberatan mengikuti banyak kegiatan dan lomba, sekalipun itu harus membuatku melupakan kehidupan sosialku. Aku juga tidak melihat manfaat bersosialisasi di saat saat seperti ini. ……. Yah, kutarik kalimat aku tadi. Walaupun kurang suka, tapi aku tetap harus bersosialisasi. Membentuk koneksi dengan teman temanku sangat penting untuk dunia pekerjaan nanti. Oke, setelah kubaca lagi, aku terdengar sangat jahat karena aku seperti memanfaatkan teman temanku. Tidak. Aku tidak sejahat itu. Setidaknya dengan banyak teman, aku dapat belajar bersama dan melakukan kerja kelompok dengan baik. Lagipula, jika aku ingin diterima di OSIS, maka aku harus membuat namaku di kenal dengan baik. Okay wow, ternyata rumit sekali jika dipikir lagi. Apakah aku sanggup? We’ll see! Stay tuned!

     

     

    Kreator : Naurah Harimurti

    Bagikan ke

    Comment Closed: Putih Biru

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021