KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » QUE SERA SERA

    QUE SERA SERA

    BY 18 Jan 2026 Dilihat: 17 kali
    QUE SERA SERA_alineaku

    Cerpen 1:

     

    Derit engsel pintu yang kering dan kurang pelumas melengking setiap kali aku mendorongnya. Kamar di ujung lorong lantai dua kos sore ini tidak terlalu gelap; semburat cahaya oranye kekuningan memantul ke lantai, sesekali menyilaukan mata ketika mengenai ubin. 

    Udara pukul setengah lima masih terasa hangat di kulit. Anehnya, suhu itu berbalik begitu aku melangkah masuk ke kamar. Udara sejuk dari dalam menyapa lebih dulu, seolah ruang ini tak tahu aku sedang berhemat. 

    “Sialan! Lupa matiin AC,” umpatan itu lepas begitu saja ketika mataku menangkap indikator biru pendingin ruangan yang masih menyala di angka dua puluh satu derajat. Dengan tergesa aku mematikannya, lalu langsung mengecek keluar, melihat sisa daya pada APP  yang terpasang tepat di jendela depan kamar. Aku tak pernah sengaja menyalakan AC lebih dari dua belas jam. Namun tetap saja, angka itu tak bisa berbohong tampak tinggal dua puluh lima kWh. Padahal kemarin masih sekitar tiga puluh delapan pada kWh meternya.

    “Boncos nih, mana baru tengah bulan,” gumamku pelan. Aku masuk kembali dan menutup pintu kamar. Selalu aneh bagaimana angka-angka kecil bisa membuat dada terasa sesak.

    Semalam sudah kuhitung betul-betul: sisa uang jatah makan seharusnya cukup sampai akhir bulan. Jangan sampai aku kembali memotong tabungan. Bagaimana bisa menambah, jika setiap penghujung bulan yang datang justru selalu kekurangan.

    Lantai yang masih dingin menggelitik telapak kakiku. Aku menyimpan ransel dengan hati-hati—di dalamnya ada laptop kantor yang kupinjam, sementara milikku sendiri masih menginap di pegadaian. Aroma kuah soto dari mie instan semalam telah dingin, wangi tipisnya menyeruak ketika aku mengangkat mangkuk dan membawanya ke kamar kecil. 

    Demi penghematan, makan malamku hampir tak pernah mengenal kata mewah. Jangankan semangkuk Soto Ayam Madura di seberang kos, dalam rupa mie instan saja (untuk saat ini) sudah terasa sebagai keputusan paling waras. 

    Pernah sekali aku duduk di bangku plastik warung itu. Kuahnya memang hangat dan jujur rasanya, tapi harga seporsinya terasa kurang ramah di saku. Tiga puluh ribu rupiah, lengkap dengan sepiring nasi—angka yang bagiku masih terlalu berani untuk sebuah makan malam.

    Ingatan tentang AC yang lupa kumatikan sore tadi kembali menyelinap. Pikiranku langsung melompat pada hitung-hitungan yang belum selesai: malam ini aku harus merapikan lagi alokasi uang, karena sebelum tanggal tiga puluh, token listrik pasti sudah mulai rewel, meminta diisi.

    Namun urusan token sebaiknya kutunda dulu. Sekarang bingung mau makan apa, pulang kerja tadi lupa mampir ke warteg. Sebenarnya, soal makan malam pun tak perlu dipikirkan terlalu rumit—tinggal makan, selesai. 

    Setelah kubasuh badan, meluruhkan sisa peluh, lelah, dan beban yang menempel sejak pagi, sebuah bunyi logam beradu keramik terdengar dari kejauhan. Ting. Ting. Ting. Irama khas yang mudah dikenali. Itu pasti Mang Dadang, tukang nasi goreng langgananku. Murah, porsinya tak pelit, dan racikannya selalu tepat di lidah.

    Tanpa banyak pertimbangan, aku turun tergesa untuk mencegatnya di depan pagar kos sebelum gerobaknya melaju terlalu jauh. Kuputuskan malam ini nasi goreng saja sudah cukup, sebagai teman setia menonton kanal YouTube favoritku. Edisi khusus, penelusuran kisah-kisah horor urban legend dari kota asalku. Cerita-cerita lama yang selalu terasa lebih dingin saat malam makin larut.

    Menginjak usia dua puluh lima, kata orang hidup seharusnya mulai menanjak—karier merambat naik, tabungan mulai berisi, rencana masa depan tersusun rapi. Bagiku, semua itu terasa seperti berlari di atas treadmill tua di sudut gym yang jarang dipakai: sabuknya berderit, kecepatannya tak pernah stabil, keringat jatuh, napas terengah, tapi langkahku tetap di tempat. 

    Aku bergerak setiap hari, bangun pagi, bekerja, pulang malam. Namun saat berhenti sejenak dan menoleh ke belakang, tak ada jarak yang bisa kusebut kemajuan.

    Ponsel berlayar retak kusandarkan pada botol air mineral yang tinggal setengah. Retakannya menjalar dari sudut kiri atas, membelah layar seperti garis nasib yang malas diperbaiki. 

    Di sana, video cerita horor murahan terus mengalir, suara naratornya datar, penuh klaim tentang penampakan dan kutukan. Aku menontonnya bukan karena takut, tapi karena suara itu cukup untuk menenggelamkan pikiranku sendiri. Menjadi latar bagi makan malam sederhana yang tak pernah kutata istimewa.

    Jika kubaca kolom komentar, banyak yang bilang sesi video malam ini lebih menyeramkan dari konten-konten sebelumnya. Bagiku, yang benar-benar horor justru saldo rekening yang tinggal seperempat, sementara tanggal masih belasan.

    Gajiku hanya cukup untuk bernapas. Begitu masuk rekening, ia segera tercerai-berai: sebagian untuk makan, sewa kamar, dan token listrik; sisanya mengalir pulang ke kampung—obat rutin Bapak, susu tulang untuk Ibu. 

    Tak pernah ada ruang untuk rencana besar. Bahkan menunggu iklan berlalu pun bukan keluhan. Selama masih bisa sabar menunggu tombol Skip Ad, aku tidak payah untuk berlangganan premium.

    Layar berganti. Iklan lain muncul—sekelompok anak TK berseragam warna-warni berdiri di panggung kecil, bernyanyi dengan suara belum sempurna. Lucu dan gemas aku mendengarnya. Orang tua mereka bertepuk tangan penuh kebanggaan, kamera ponsel terangkat, senyum dibagi ke segala arah.

    “Que sera, sera… whatever will be, will be…”

    Lagu itu terdengar ringan, nyaris ceria. Tapi di kepalaku, liriknya berubah menjadi pertanyaan yang menggantung.

    “Apa yang akan terjadi, biarlah terjadi?”

    Seandainya hidup bisa diserahkan begitu saja pada nasib. Bagi anak bungsu yang lahir ketika rambut orang tua sudah memutih, masa depan bukan teka-teki manis. Ia adalah daftar panjang kecemasan yang terus bertambah: tentang siapa yang akan menjaga mereka jika aku tumbang, tentang tabungan yang tak pernah sempat tumbuh, tentang kesepian yang suatu hari mungkin menjadi kebiasaan.

    Aku terdiam, sendok berhenti di tengah jalan. Bayangan orang tua terlintas begitu saja—wajah mereka yang makin sering lelah, suara napas yang kadang tersendat di seberang telepon. Aku menelan ludah, bukan karena makanan terlalu panas, tapi karena sesuatu yang tak ingin turun.

    Lampu kamar berkedip sekali.

    Aku menoleh ke arah saklar. Mungkin listrik kos memang sedang tak stabil, pikirku. Token sisa dua puluh lima. Angka itu kembali muncul di kepala, berdiri di sana seperti peringatan yang tak pernah bersuara.

    Belum sempat aku bangkit untuk mengecek, layar ponsel masih menyala, menampilkan wajah anak-anak yang terus bernyanyi, sementara di balik layar, kipas angin berhenti berputar.

    Lalu semuanya padam.

    Pet!

    Kegelapan menutup kamar seketika. Suara dari ponsel terputus di tengah nada, menyisakan dengung kecil yang cepat menghilang. Aku duduk membeku di atas kasur, sendok masih kugenggam, jantung berdegup lebih cepat dari seharusnya. Dalam gelap, kamar terasa lebih sempit, udara seolah mengental.

    Beberapa detik berlalu. Tak ada suara. Tak ada cahaya.

     

    Dan entah kenapa, di tengah sunyi itu, lirik iklan tadi terngiang kembali di kepalaku—lebih pelan, lebih berat—seolah bukan sekadar lagu anak-anak, melainkan bisikan yang sengaja ditinggalkan untukku.

    Jika kamu mau, bagian selanjutnya bisa:

    Mengarah ke horor listrik / kesunyian kamar kos

    Menyambungkan tema ekonomi dengan gangguan supranatural

    Atau memperdalam ketakutan eksLirik itu terdengar seperti candaan pahit. Apa yang akan terjadi, terjadilah? Tidak semudah itu. Bagi anak bungsu yang lahir ketika rambut orang tua sudah memutih, masa depan bukan teka-teki manis—melainkan deretan kekhawatiran panjang tentang siapa yang akan merawat mereka jika aku tumbang, tentang tabungan yang tak pernah naik, tentang kesepian yang menempel seperti bayangan di dinding.

    Belum sempat tombol “Skip Ad” muncul, kamar mendadak gelap.

    Pet!

    Listrik padam. Hitam menyelimuti ruangan, membuat hawa gerah menempel di tengkuk. Keheningan itu tidak menenangkan—ia seperti menyusup perlahan, menekan dari segala arah.

    Aku bangkit, meraba jalan mencari lilin sisa ulang tahun yang bahkan tidak dirayakan siapa pun. Namun sebelum menemukannya, terlihat pendar cahaya tipis menyelinap dari celah pintu. Kuning lembut, seperti cahaya senja yang tersesat. Saat kubuka pintunya, sinarnya menyiram wajahku.

    Di atas tikar pandan yang lusuh, duduk seorang bocah kurus berambut ikal, mengenakan kaos oblong kebesaran dan celana pendek merah.

    Itu aku.

    Versi lima belas tahun yang lalu.
    Versi yang belum mengenal patah.

    Ia tidak menoleh. Tangannya sibuk menggunting majalah bekas. Di hadapannya tergeletak binder tebal bergambar robot—benda yang dulu tak pernah jauh dari pelukanku. Bau lem menguar, menghadirkan kembali dunia yang pernah begitu sederhana dan penuh harap.

    Aku mendekat perlahan, seakan berjalan menuju diriku sendiri yang pernah hilang di tengah jalan. Bocah itu menempel gambar gedung pencakar langit. Di bawahnya, dengan tulisan tangan miring yang dulu kubanggakan, tertera:

    “AKU DI UMUR 25 TAHUN.”

    Jantungku seperti merosot ke lantai.

    Di halaman itu ia menuliskan semua mimpinya:

    “Menjadi manajer hebat keliling dunia.”
    “Membelikan Bapak sawah luas.”
    “Mengajak Ibu naik haji.”
    “Punya istri cantik dan rumah tingkat dua.”

    Aku membacanya perlahan. Setiap kalimat seperti mengiris sesuatu yang sudah lama perih.

    Anak itu tidak tahu bahwa lima belas tahun kemudian, “manajer hebat” itu hanyalah pegawai rendahan yang dimarahi atasan karena salah input data. Tidak tahu bahwa Bapak kini terlalu lelah untuk pergi ke sawah. Tidak tahu bahwa Ibu berjalan dengan susah payah. Tidak tahu bahwa malam-malamku ditemani kecemasan yang keras kepala.

    “Berhenti, Dik…” bisikku. “Berhenti berharap. Semakin tinggi mimpimu, semakin sakit rasanya melihat diriku sekarang.”

    Ia tidak menjawab. Ia hanya bersenandung pelan mengikuti lagu iklan tadi. Nadanya ringan—bukan pasrah, justru percaya. Ia menempel gambar mobil sedan dan tersenyum tipis. Senyum yang bahkan aku tidak ingat kapan terakhir kali muncul di wajahku.

    Aku runtuh.

    Aku duduk di sampingnya, memeluk lutut yang berat oleh tahun-tahun yang tak selalu ramah. Air mataku jatuh tanpa bisa dicegah.

    “Maafkan aku… Mobil itu belum ada. Kita masih berdesakan di angkot. Maaf belum bisa bawa Ibu ke tanah suci—baru sanggup beli obat pereda nyeri.”

    Bocah itu seolah berhenti menggunting, seakan mendengar meski tidak menoleh.

    “Tapi…” suaraku bergetar, “kita bertahan, Dik. Kita betul-betul bertahan.”

    Aku menatap kedua tanganku yang mulai kasar waktulah yang mengikirinya.

    “Tangan ini memang tidak memegang kontrak miliaran. Tapi tangan inilah yang memijat kaki Bapak setiap malam. Tangan ini yang menyisihkan uang makan siang untuk beli obat Ibu. Kita memang tidak keliling dunia, tapi kita adalah dunia bagi mereka.”

    Isakku kembali pecah—kecil, tapi jernih. Seperti pintu yang lama tertutup akhirnya terbuka sedikit.

    “Maaf aku belum jadi orang hebat seperti yang kamu bayangkan. Tapi terima kasih… mimpi-mimpimu itu yang membuatku tetap bangun setiap pagi, meski rasanya ingin menyerah.”

    Aku memeluk bocah itu—atau mungkin memeluk diriku sendiri yang dulu begitu polos dan berani.

    “Kamu hebat,” bisikku. “Kamu anak bungsu yang kuat. Kamu sudah berusaha sebaik-baiknya.”

    Cahaya hangat itu padam seketika. Ruang tengah kembali kecil, hanya ditemani cat dinding yang retak. Aku terbangun di kamar sendiri, pipiku basah. Dalam pelukan, hanya ada bantal guling. Mimpi itu masih terasa nyata.

    Aku menyeka wajah, menarik napas panjang yang entah mengapa terasa lebih ringan. Masalah tidak lenyap. Tagihan tetap menunggu. Pekerjaan tetap menumpuk. Tapi ada yang berubah—aku tidak lagi berdiri sebagai musuh bagi diriku sendiri.

    Aroma mie semalam masih tercium. Jam menunjukkan pukul tiga dini hari. Aku bangkit, mencuci mangkuk bekas makan malam, lalu mengambil air wudhu. Setiap basuhan terasa seperti membersihkan sesuatu yang tidak kasat mata. Di sepertiga malam itu, aku mendirikan salat, menutupnya dengan doa panjang kepada Sang Penulis segala alur hidup.

    Besok mungkin berat.
    Besok mungkin sama saja.

    Tapi malam ini, aku berdamai.

    Aku, lelaki seperempat abad, anak bungsu yang mencoba sekuat tenaga, memilih untuk hidup satu hari lagi.

    Satu hari lagi.
    Satu napas lagi.

    Que sera, sera

    Tahun Baru Tanpa Resolusi?

     

    Pagi ini, hari pertama tahun 2026, 

    muncul pertanyaan yang tiba-tiba berdengung di kepala.

    Kalau tahun ini tidak ada resolusi, memangnya kenapa?

    Dunia di luar sana sedang sibuk berlari.
    Orang-orang menyusun daftar target, mencentang rencana, memburu angka yang lebih besar.
    Seolah hidup bisa diringkas menjadi grafik yang harus selalu menanjak.
    Kita diajari bahwa hari ini wajib lebih baik dari kemarin,
    bahwa tahun baru harus datang dengan versi diri yang lebih hebat.

    Tapi, benarkah hidup hanya sah jika terus bergerak maju?
    Atau kita hanya terlalu takut disebut tertinggal?

    Bagaimana jika “lebih baik” bukan tentang berlari lebih kencang,
    melainkan tentang berani berhenti sejenak?
    Bukan untuk menyerah,
    tetapi untuk melihat apa saja yang selama ini terlewat karena terlalu sibuk mengejar.

    Mungkin, tahun ini bukan tentang menambah beban baru di pundak,
    melainkan tentang menyelesaikan PR lama yang terus kupinggirkan.
    Tentang memaafkan diri yang tahun lalu terlalu sering terburu-buru.
    Tentang mengakui bahwa lelah tidak selalu berarti lemah,
    dan bahwa merasa cukup bukan tanda kalah.

    Aku ingin memberi ruang di dada,
    agar rasa syukur bisa masuk tanpa harus berdesakan dengan ambisi.
    Tanpa perlu selalu membuktikan apa-apa kepada siapa pun.

    Tidak semua hari harus menjadi perlombaan.
    Tidak semua tahun harus menjadi ajang pembuktian.
    Ada masa ketika hidup hanya meminta kita untuk bertahan,
    dan itu pun sudah merupakan bentuk keberanian.

    Jika hari ini kamu merasa biasa saja,
    atau bahkan sedang tidak baik-baik saja,
    tidak perlu memolesnya menjadi kilau prestasi.
    Ambil jeda. Bernapaslah.
    Dengarkan apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri—
    entah itu lelah, takut, atau justru rasa cukup
    yang sering kita abaikan karena terlalu ingin terlihat kuat.

    Tahun ini, aku memilih untuk tidak membuat janji muluk-muluk pada semesta.
    Resolusiku sederhana:
    menerima bahwa menjadi manusia yang utuh
    jauh lebih penting daripada menjadi manusia yang sempurna.

    Dan bagiku,
    itu sudah lebih dari cukup.

     

     

    Kreator : Irfan Muse

    Bagikan ke

    Comment Closed: QUE SERA SERA

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021