Hari ini pagi terlihat begitu cerah, Reza berjalan menuju kampus untuk mengikuti perkuliahan hari ini. Reza masih dalam kondisi cemas memikirkan ibunya yang tak kunjung sembuh. Ia harus sesegera mungkin menyelesaikan kuliah di Jogja. Wajahnya begitu muram dan jalannya terlihat lesu. Terlihat tak begitu semangat hari ini, namun ia tetap harus menyelesaikannya. Berat sekali Reza harus menjalani ini semua, rasa khawatir terhadap ibunya semakin menjadi-jadi. Apa lagi celotehan ibunya akhir-akhir ini sangat tidak masuk akal.
“Za, boleh duduk?” sapa seorang gadis yang menghampiri Reza hendak duduk di taman kampus.
“Eh, ya Rat. Silahkan.” jawab Reza.
“Semenjak di kelas tadi kamu terlihat tidak bersemangat seperti biasanya. Ada masalah?” tanya gadis yang bernama Ratri.
“Ah, tidak. Hanya sedikit capek saja.” jawab Reza dengan cuek.
Ratri merupakan salah satu mahasiswa satu kelas dengan Reza. Ia cukup dekat dengan Reza, sering menghabiskan waktu bersama untuk diskusi terkait dengan materi perkuliahan ataupun musik. Mereka sama-sama mendapatkan beasiswa yang sama jadi tidak heran jika mereka sangat akrab.
“Kalau ada masalah, cerita aja, Za. Siapa tahu dengan kamu cerita, kamu sedikit lega. Jangan dipendam sendiri.” Ratri masih memperhatikan Reza yang sangat terlihat sedih.
“Sebenarnya aku sedang sedih karena ibuku sakit Rat. Aku nggak tahu harus berbuat apa, sedangkan aku harus menyelesaikan kuliahku.” Reza menjelaskan tanpa rasa.
Ratri merupakan mahasiswi asli Jogja, ia mengambil musik karena hobinya sejak kecil adalah bermain musik. Selain itu, ia juga merupakan musisi cafe yang sudah malang melintang di Jogja. Ia mengakui bahwa Reza adalah salah satu teman kuliahnya yang cerdas dan ganteng. Obrolan mereka berdua selalu nyambung, jadi Ratri di sini hanya ingin membantu Reza saja.
“Ibuku sangat aneh, sakit tapi tidak mau dibawa ke dokter dan akhir-akhir ini celotehannya sangat ngawur tidak masuk diakal.” tambah Reza.
“Kamu begitu sayang banget sama ibumu ya, Za. Pantas saja kamu sesedih ini.” sahut Ratri.
“Sabar ya, Za. Kamu harus semangat, ibumu pasti sembuh dan kamu pasti akan segera menyelesaikan kuliahmu.” Ratri memberikan semangat kepada Reza.
“Iya Rat, terima kasih ya.” jawab Reza.
“Iya Za, sama-sama. Ya sudah kalau kamu butuh waktu buat sendiri, aku tinggal dulu nggak papa?” Ratri yang ingin berpamitan kepada Reza karena merasa bahwa Reza butuh waktu untuk sendiri. Namun, tiba-tiba Reza menahan tangan Ratri yang hendak pergi meninggalkannya.
“Rat … Hm, kamu mau menemaniku?” tanya Reza.
“Kemana, Za?” tanya balik Ratri.
“Temani aku jalan-jalan untuk menenangkan pikiranku, ya.” Reza meminta Ratri untuk menemani jalan-jalan.
“Oke, aku temani kamu.” jawab Ratri.
Mereka berdua akhirnya berangkat berjalan-jalan.
Kreator : Sumadi Dhiak
Comment Closed: Remaja part 18
Sorry, comment are closed for this post.