Siapa manusia di dunia ini yang tidak menginginkan ketenangan? Tentu, tidak ada. Semua menginginkan kehidupan yang tenang, sesuai yang diharapkan, tepat apa yang dicita-citakan. Dalam angan manusia, sungguh indah kehidupan yang dipenuhi rasa ketenangan. Damai, tidak ada riuh keluh kesah, semua berjalan sesuai yang diinginkan. Tak lagi ada hal yang mengundang keresahan. Wah, serasa terwujud syurga di dunia.
Lalu, bagaimana jika semua tidak seindah yang diangankan, tidak sesuai dengan yang diharapkan? Apakah itu sebuah kegagalan dalam kehidupan?
Jika hal hal yang sesuai pandangan manusia belum terjadi, apakah itu sebuah hukuman dari Yang Maha Menciptakan?
Lalu, bagaimana seharusnya bersikap menghadapi itu semua?
Sejenak saja mari merenungkan, mengapa ketika menjalani takdir dari Allah harus menyisakan ruang ikhlas dalam dada kita?
Sebab, semua yang belum datang sesuai ekspektasi manusia bukanlah suatu kerugian, bisa jadi Allah mengambil sesuatu atau menunda sesuatu untuk diberikan agar manusia terselamatkan dari hal yang tidak pernah diketahui keadaannya. Disitulah ruang tenang merespon atas takdir yang telah tertulis. Bukankah Allah lebih tahu diri manusia daripada manusia itu sendiri?
Lalu, pada takdir takdir yang tidak pernah sesuai harapan?. Ingatkan pada diri bahwa Allah adalah sebaik baik penulis perjalanan hidup manusia dengan rahmat dan sayangNya. Bila mungkin ada jalan yang terasa tertutup, mungkin Allah ingin manusia itu memaksimalkan potensi yang telah Allah titipkan, dan mengarahkan kepada pintu yang terbuka, karena rizki Allah selalu datang tanpa hal yang tak terduga.
Ikhlas dan tenang memang terasa berat pada permulaannya, menerima dan terus menjalani yang terbaik dari Allah, memang terasa berat. Namun, hal ini bisa dimulai dari meletakan keinginan yang memenuhi hati diganti dengan keimanan, perlahan keikhlasan dan ketenangan itu akan hadir, berproses untuk menyerahkan semuanya kepada Allah. Perlahan perasaan berat itu akan berubah menjadi keridhoan dan menciptakan ruang ketenangan dalam jiwa.
Proses ini memanglah panjang, ada ruang dimana hati ingin menolak takdir bersama pertanyaan yang terus menyapa, “Mengapa aku?” Namun berusahalah untuk mendekati Allah, ceritakan kepada-Nya dalam sujud yang panjang, itu lebih baik daripada terus diam dan memendam amarah. Bukankah air mata dalam doa lebih menenangkan daripada amarah amarah yang terpendam panjang?. Sampai pada masa pertanyaan “mengapa aku” berubah menjadi “ini adalah yang terbaik dari Allah, takdir yang Dia tulis untukku penuh dengan kasih sayang, Allah lebih tahu semua yang terbaik untukku melebihi diriku sendiri. Dengan apa yang telah datang pada diriku, tugasku adalah menjalani dengan usaha terbaik dan memaksimalkan potensi yang telah Allah titipkan”. Dalam proses perjalannya, rasa tenang itu akan ada, dan akan muncul ruang penerimaan serta berhenti untuk menyalahkan.
Mari berproses menciptakan ruang tenang, atas apa yang belum datang, terhadap sesuatu yang hilang supaya hati tidak sibuk untuk menggenggamnya erat erat. Tidak ada yang merugi dari sebuah usaha kebaikan, memulai bersyukur tidak hanya pada pencapaian yang didapat, namun juga pada ketertinggalan atas ekspektasi manusia. Bangkitkan kesadaran bahwa Allah tidak pernah salah menulis cerita, dalam proses menjalani kehidupan ini, manusia hanya belum memahami makna dari takdir tersebut. Karena hikmah dari sebuah perjalanan peristiwa tidak selalu detik itu juga mendatangkan makna, ada yang perlu proses panjang untuk semakin mendewasakan.
Selamat berproses menciptakan ruang tenang.
Kreator : Diyah Laili
Comment Closed: Ruang Tenang
Sorry, comment are closed for this post.