Berawal dari kegelisahan perempuan sederhana yang bermimpi dengan segala angan dan cita-citanya di masa muda. Memimpikan karir yang sukses, keluarga yang bahagia, dan segudang mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan dalam perjalanan hidupnya kedepan. Umur 25 tahun, nampak kelihatan tua bagi sebagian orang untuk membina rumah tangga. Bahkan, mulai terdengar sedikit cibiran tetangga yang mengatakan “perawan tua” jika wanita belum juga berumah tangga saat sudah menginjak umur diatas dua puluh lima. Arum adalah satu diantara wanita yang dianggap dengan predikat seperti itu.
Setelah kuliah selama empat tahun, Arum memutuskan untuk bekerja paruh waktu sebagai seorang guru honorer di sebuah sekolah favorit di kotanya. Dia sudah puluhan tahun di sana mengabdi bahkan tanpa upah yang layak sebagai pekerja. Di umurnya yang matang, dia pun sudah beberapa kali mendapat tawaran dari rekan kerja agar segera menikah dengan laki-laki yang sudah dipilihkan mereka. Namun, jodoh siapa yang bisa menyangka dan menyangkal. Arum dijodohkan orang tuanya dan diperkenalkan dengan laki-laki pilihan Ayahnya yaitu seorang guru sekaligus ustadz muda yang berdomisili satu kota dengannya. Latar belakang keluarga yang bagus, laki-laki yang sholeh dan berkarakter baik menjadi pertimbangan Ayah Arum, meski dia tak begitu kaya.
Menikah di tanggal yang bertepatan dengan H+1 tahun baru membuat pernikahan Arum begitu semarak namun tetap sakral. Banyak tamu berdatangan dan mengucapkan selamat atas pernikahan Arum dan pasangannya. Suasana penuh haru berbaur dengan suka cita untuk dua keluarga yang baru saling mengenal dan mengikat silaturahmi. Senyum Ayah Arum dengan mata berbinar nampak penuh harap dengan ikatan pernikahan Arum dan suaminya yang bernama Arman.
Tiga hari berlalu, saatnya Arum bersiap menuju rumah suaminya. Memandang rumah mertua dibalik jendela mobil membuatnya agak ragu dan gugup dengan dunia baru yang akan dijalaninya. Turunlah Arum dari mobil dibantu uluran tangan suami tercinta. Disana dia disambut dengan senyum-senyum baru dan raut muka saudara-saudara yang akan mengiringi perjalanan hidupnya kelak. Dalam benak Arum, dia sudah pasrah dengan segala perasaannya sendiri dan memilih mengorbankan perasaan demi kebahagiaan orang tuanya yang sudah memilih jalan ta’aruf sebagai jalan jodoh Arum.
Pagi yang cerah diiringi suara kicauan burung kutilang yang menjadi ciri hewan khas Kota Tulungagung membuat pagi itu terasa indah dan syahdu. Membuka jendela kamar dan menatap pojok langit sebelah barat yang menjadi kenangan yang tertinggal di rumah orang tua Arum. Dia hanya bisa melamun dan berharap kehidupan yang lebih baik. Sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang mengeluh di belakang rumah, “Mengapa nasibku seperti ini? selalu tidak bahagia dari dulu?”, kata seorang wanita paruh baya yang belakangan bernama Aisyah. Ada sedikit keraguan yang membuat Arum bertanya di dalam hatinya. Mungkinkah konflik rumah tangga mereka begitu berat sehingga menganggap nasib rumah tangga menjadi tidak bahagia.
Sore hari dengan rintik hujan di luar rumah mengiringi suasana yang ceria di ruang tamu. Anak kecil menabuh kaleng kosong sambil menyanyikan sholawat diiringi gurauan ayah dan ibunya membuat hati Arum ikut larut mengamati saudara yang ternyata masih ikut satu rumah dengan ibu mertua. Sebaliknya, di depan rumah terdengar tangisan yang menyayat hati, namun terkadang berubah menjadi teriakan-teriakan yang histeris. Setelah kutengok di balik jendela, suara itu berasal dari saudara suamiku yang ternyata mengidap sakit yang tidak biasa. Ada yang bilang, sakit itu disebabkan karena dia tak mampu lagi hidup tanpa istri yang sudah meninggalkannya. Ada juga yang bilang bahwa sakit itu disebabkan gangguan makhluk tak kasat mata. Perawakannya yang kurus, lusuh dan tak terawat menunjukkan jika orang itu membutuhkan perhatian dan perlakuan khusus. Akan tetapi, Arum hanya menatap heran pada satu keadaan yang menurutnya janggal siang itu. Banyak orang yang simpati dan sering memberikan makanan atau minuman kepada orang yang ternyata adalah kakak pertama dari Arman.
“Rum, kamu sedang masak apa, nduk?” tanya Ibu mertua kepada Arum.
Seketika Arum tersentak dari lamunannya.
“Lodeh dan Bakwan Jagung, Bu, “jawab Arum.
“Arman itu paling suka sama terong pokak sama lauknya ikan pindang, nduk.” jelas ibu mertua.
Arum hanya menundukkan kepala pertanda dia mengiyakan apa yang dikatakan ibu mertuanya.
Satu bulan berselang, Arman mulai mengajak Arum untuk bersilaturahmi ke rumah saudara dan sanak kerabat yang tak jauh dari rumahnya. Arum berkenalan dengan saudara Arman dan berbincang-bincang seputar apa saja yang ada di sekitar mereka.
Sepulang dari berkunjung, Arum kembali ke rumah mertua. Ibu mertua menjadi sosok yang ditakuti dan disegani bagi Arum yang sudah beberapa hari mulai terbiasa dengan kehidupan di sana. Sekilas nampak sama suasana di rumah mertua Arum. Kesederhanaan dan religius menjadi karakter kokoh yang menyelimuti keluarga besar Arman. Namun, dia merasa tak nyaman dengan kebersamaan dalam satu rumah dengan banyak anggota keluarga. Pernah suatu hari dia harus mengalah dengan banyak hal yang sebenarnya dia sangat membutuhkan. Berbagi memang indah tapi tak semua indah jika terus saja berulang-ulang. Bahkan, ketika dia sudah melahirkan dan merasa seorang diri mengasuh anaknya karena suaminya lebih sibuk mengasuh keponakannya.
Pagi itu, Arum memasak sayur ketela kesukaan suaminya. Saat anaknya tidur adalah saat yang melegakan bagi Arum untuk beraktivitas. Memasak, membersihkan halaman dan ruangan di rumah mertua yang sangat luas menjadi kebiasaan sehari-harinya.
“Rum, anakmu sudah bangun…” kata Ibu mertua kepada Arum.
Arum bergegas menuju kamar untuk menengok anaknya. Namun, betapa kaget dia ketika ternyata ada suaminya di dekat kamar yang justru sibuk dengan komputer sambil menggendong keponakannya.
“Sementara aku sibuk memasak, kamu tidak mengasuh anak kita. Malah repot mengasuh keponakan.” batin Arum.
Ia menghela nafas panjang dan kemudian melanjutkan memasak di dapur sambil menggendong anak. Itu yang setiap hari ia lakukan. Mengeluh pun percuma. Takkan didengar bahkan cenderung hanya membela keluarganya.
Tak terasa perjalanan hidup Arum dalam keluarga barunya sudah mendekati sepuluh tahun lamanya. Setiap pagi dan sore, Arum selalu bergumul dengan pikiran-pikiran yang membuatnya selalu pesimis menatap masa depan. Hingga pada akhirnya dia berada pada titik pasrah akan segala ketentuan-Nya.
‘‘Aku harus bersyukur, suamiku yang ‘alim dan setia serta anak-anakku dengan segala tingkah lucunya semoga selalu diberikan kesehatan dan keharmonisan dalam berumah tangga,” doa Arum dalam setiap sujud di sepertiga malamnya.
Terlalu lama dia berharap dengan banyak hal di rumah mertua, namun Arum mulai mengikhlaskan rumah itu tanpa harapan, sehingga dia selalu ingat bahwa syukur dan sabar sejatinya adalah dua hal yang mengantarkan kita pada harapan baik seutuhnya seperti apa yang menjadi garis takdir Allah Sang Maha Pencipta.
Kreator : Nila Solichatun Nadhiroh
Comment Closed: Rumah Tanpa Harapan
Sorry, comment are closed for this post.