KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Rumah Tanpa Harapan

    Rumah Tanpa Harapan

    BY 24 Agu 2025 Dilihat: 97 kali
    Rumah Tanpa Harapan_alineaku

    Berawal dari kegelisahan perempuan sederhana yang bermimpi dengan segala angan dan cita-citanya di masa muda. Memimpikan karir yang sukses, keluarga yang bahagia, dan segudang mimpi-mimpi yang ingin diwujudkan dalam perjalanan hidupnya kedepan. Umur 25 tahun, nampak kelihatan tua bagi sebagian orang untuk membina rumah tangga. Bahkan, mulai terdengar sedikit cibiran tetangga yang mengatakan “perawan tua” jika wanita belum juga berumah tangga saat sudah menginjak umur diatas dua puluh lima. Arum adalah satu diantara wanita yang dianggap dengan predikat seperti itu.

    Setelah kuliah selama empat tahun, Arum memutuskan untuk bekerja paruh waktu sebagai seorang guru honorer di sebuah sekolah favorit di kotanya. Dia sudah puluhan tahun di sana mengabdi bahkan tanpa upah yang layak sebagai pekerja. Di umurnya yang matang, dia pun sudah beberapa kali mendapat tawaran dari rekan kerja agar segera menikah dengan laki-laki yang sudah dipilihkan mereka. Namun, jodoh siapa yang bisa menyangka dan menyangkal. Arum dijodohkan orang tuanya dan diperkenalkan dengan laki-laki pilihan Ayahnya yaitu seorang guru sekaligus ustadz muda yang berdomisili satu kota dengannya. Latar belakang keluarga yang bagus, laki-laki yang sholeh dan berkarakter baik menjadi pertimbangan Ayah Arum, meski dia tak begitu kaya. 

    Menikah di tanggal yang bertepatan dengan H+1 tahun baru membuat pernikahan Arum begitu semarak namun tetap sakral. Banyak tamu berdatangan dan mengucapkan selamat atas pernikahan Arum dan pasangannya. Suasana penuh haru berbaur dengan suka cita untuk dua keluarga yang baru saling mengenal dan mengikat silaturahmi. Senyum Ayah Arum dengan mata berbinar nampak penuh harap dengan ikatan pernikahan Arum dan suaminya yang bernama Arman.

    Tiga hari berlalu, saatnya Arum bersiap menuju rumah suaminya. Memandang rumah mertua dibalik jendela mobil membuatnya agak ragu dan gugup dengan dunia baru yang akan dijalaninya. Turunlah Arum dari mobil dibantu uluran tangan suami tercinta. Disana dia disambut dengan senyum-senyum baru dan raut muka saudara-saudara yang akan mengiringi perjalanan hidupnya kelak. Dalam benak Arum, dia sudah pasrah dengan segala perasaannya sendiri dan memilih mengorbankan perasaan demi kebahagiaan orang tuanya yang sudah memilih jalan ta’aruf sebagai jalan jodoh Arum. 

    Pagi yang cerah diiringi suara kicauan burung kutilang yang menjadi ciri hewan khas Kota Tulungagung membuat pagi itu terasa indah dan syahdu. Membuka jendela kamar dan menatap pojok langit sebelah barat yang menjadi kenangan yang tertinggal di rumah orang tua Arum. Dia hanya bisa melamun dan berharap kehidupan yang lebih baik. Sayup-sayup terdengar suara orang yang sedang mengeluh di belakang rumah, “Mengapa nasibku seperti  ini? selalu tidak bahagia dari dulu?”, kata seorang wanita paruh baya yang belakangan bernama Aisyah. Ada sedikit keraguan yang membuat Arum bertanya di dalam hatinya. Mungkinkah konflik rumah tangga mereka begitu berat sehingga menganggap nasib rumah tangga menjadi tidak bahagia. 

    Sore hari dengan rintik hujan di luar rumah mengiringi suasana yang ceria di ruang tamu. Anak kecil menabuh kaleng kosong sambil menyanyikan sholawat diiringi gurauan ayah dan ibunya membuat hati Arum ikut larut mengamati saudara yang ternyata masih ikut satu rumah dengan ibu mertua. Sebaliknya, di depan rumah terdengar tangisan yang menyayat hati, namun terkadang berubah menjadi teriakan-teriakan yang histeris. Setelah kutengok di balik jendela, suara itu berasal dari saudara suamiku yang ternyata mengidap sakit yang tidak biasa. Ada yang bilang, sakit itu disebabkan karena dia tak mampu lagi hidup tanpa istri yang sudah meninggalkannya. Ada juga yang bilang bahwa sakit itu disebabkan gangguan makhluk tak kasat mata. Perawakannya yang kurus, lusuh dan tak terawat menunjukkan jika orang itu membutuhkan perhatian dan perlakuan khusus. Akan tetapi, Arum hanya menatap heran pada satu keadaan yang menurutnya janggal siang itu. Banyak orang yang simpati dan sering memberikan makanan atau minuman kepada orang yang ternyata adalah kakak pertama dari Arman.

    “Rum, kamu sedang masak apa, nduk?” tanya Ibu mertua kepada Arum. 

    Seketika Arum tersentak dari lamunannya. 

    “Lodeh dan Bakwan Jagung, Bu, “jawab Arum. 

    “Arman itu paling suka sama terong pokak sama lauknya ikan pindang, nduk.” jelas ibu mertua.

    Arum hanya menundukkan kepala pertanda dia mengiyakan apa yang dikatakan ibu mertuanya. 

    Satu bulan berselang, Arman mulai mengajak Arum untuk bersilaturahmi ke rumah saudara dan sanak kerabat yang tak jauh dari rumahnya. Arum berkenalan dengan saudara Arman dan berbincang-bincang seputar apa saja yang ada di sekitar mereka. 

    Sepulang dari berkunjung, Arum kembali ke rumah mertua. Ibu mertua menjadi sosok yang ditakuti dan disegani bagi Arum yang sudah beberapa hari mulai terbiasa dengan kehidupan di sana. Sekilas nampak sama suasana di rumah mertua Arum. Kesederhanaan dan religius menjadi karakter kokoh yang menyelimuti keluarga besar Arman. Namun, dia merasa tak nyaman dengan kebersamaan dalam satu rumah dengan banyak anggota keluarga. Pernah suatu hari dia harus mengalah dengan banyak hal yang sebenarnya dia sangat membutuhkan. Berbagi memang indah tapi tak semua indah jika terus saja berulang-ulang. Bahkan, ketika dia sudah melahirkan dan merasa seorang diri mengasuh anaknya karena suaminya lebih sibuk mengasuh keponakannya.

    Pagi itu, Arum memasak sayur ketela kesukaan suaminya. Saat anaknya tidur adalah saat yang melegakan bagi Arum untuk beraktivitas. Memasak, membersihkan halaman dan ruangan di rumah mertua yang sangat luas menjadi kebiasaan sehari-harinya. 

    “Rum, anakmu sudah bangun…” kata Ibu mertua kepada Arum. 

    Arum bergegas menuju kamar untuk menengok anaknya. Namun, betapa kaget dia ketika ternyata ada suaminya di dekat kamar yang justru sibuk dengan komputer sambil menggendong keponakannya.

    “Sementara aku sibuk memasak, kamu tidak mengasuh anak kita. Malah repot mengasuh keponakan.” batin Arum. 

    Ia menghela nafas panjang dan kemudian melanjutkan memasak di dapur sambil menggendong anak. Itu yang setiap hari ia lakukan. Mengeluh pun percuma. Takkan didengar bahkan cenderung hanya membela keluarganya. 

    Tak terasa perjalanan hidup Arum dalam keluarga barunya sudah mendekati sepuluh tahun lamanya. Setiap pagi dan sore, Arum selalu bergumul dengan pikiran-pikiran yang membuatnya selalu pesimis menatap masa depan. Hingga pada akhirnya dia berada pada titik pasrah akan segala ketentuan-Nya. 

    ‘‘Aku harus bersyukur, suamiku yang ‘alim dan setia serta anak-anakku dengan segala tingkah lucunya semoga selalu diberikan kesehatan dan keharmonisan dalam berumah tangga,” doa Arum dalam setiap sujud di sepertiga malamnya.

    Terlalu lama dia berharap dengan banyak hal di rumah mertua, namun Arum mulai mengikhlaskan rumah itu tanpa harapan, sehingga dia selalu ingat bahwa syukur dan sabar sejatinya adalah dua hal yang mengantarkan kita pada harapan baik seutuhnya seperti apa yang menjadi garis takdir Allah Sang Maha Pencipta.

     

     

    Kreator : Nila Solichatun Nadhiroh

    Bagikan ke

    Comment Closed: Rumah Tanpa Harapan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021