KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Antalogi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fanfiction
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Self-Improvement
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Youth
  • Beranda » Artikel » Saat Janji Itu Diucapkan

    Saat Janji Itu Diucapkan

    BY 24 Sep 2026 Dilihat: 2 kali
    Musim Dingin Di Antara Dua Selimut_alineaku

    Di dalam hutan Kalimantan yang hijau dan lebat, matahari pagi menembus sela-sela daun. Cahaya keemasan jatuh di antara dahan-dahan pohon, menyentuh lumut, akar, dan tanah yang basah oleh embun.

    Di salah satu pohon besar yang menjulang tinggi, tinggal sebuah keluarga kecil orang utan.

    Namanya Raya, seekor orang utan betina yang lembut dan penyayang.

    Suaminya bernama Bara, seekor orang utan jantan bertubuh besar dengan lengan panjang dan kuat.

    Dan anak mereka, seekor orang utan jantan kecil bernama Uli.

    Uli adalah anak yang sangat aktif. Setiap pagi, ia melompat dari satu dahan ke dahan lainnya.

     

    “Uli! Jangan terlalu jauh!” Raya berteriak sambil merentangkan tangannya.

     

    Uli berhenti. Ia menoleh ke belakang.

     

    “Bu!”

    “Turun.”

    “Tapi aku mau ke sana!”

    Raya menunjuk pohon yang lebih rendah. “Di situ banyak buah.”

    Uli segera turun.

    Bara yang sejak tadi duduk di dahan sambil memakan buah hutan tertawa.

    “Anak kita memang tidak pernah kehabisan tenaga.”

    Raya tersenyum. “Dia seperti ayahnya.”

    Bara berpura-pura tersinggung. “Kenapa aku?”

    “Karena sama-sama keras kepala.”

    Uli tertawa. “Ayah keras kepala!”

    Bara menatap anaknya.

    “Siapa yang mengajari kamu mengatakan itu?”

    “Ibu.”

    Raya tertawa.

    Bara menggeleng-gelengkan kepala.

    “Kalian berdua sudah bersekongkol.”

    Hari-hari mereka sederhana.

    Tidak ada rumah mewah.

    Tidak ada makanan yang tersimpan di lemari.

    Tidak ada tempat tidur yang empuk.

    Hanya pepohonan, buah-buahan, suara burung, angin, dan keluarga kecil yang saling menjaga.

    Suatu hari, Bara membawa beberapa ranting besar.

    Raya memperhatikannya.

    “Apa yang sedang kamu lakukan?”

    “Membangun rumah.”

    Raya tersenyum.

    “Rumah?”

    Bara menunjuk sebuah pohon besar.

    “Di sana. Aku ingin membuat tempat untuk kita bertiga.”

    Uli langsung bersemangat.

    “Aku boleh membantu?”

    “Tentu.”

    Mereka bertiga kemudian mengumpulkan ranting dan daun.Bara menyusun dahan-dahan besar. Raya membawa daun-daun lebar. Uli membawa ranting kecil yang kadang-kadang bahkan terlalu berat untuk tubuh mungilnya.

    “Ayah, ini!” Uli menjatuhkan ranting di depan Bara.

    Bara melihatnya. “Bagus.”

    “Berat, Yah.”

    Bara mendekati anaknya. “Kalau berat, istirahat.”

    “Tapi aku mau membantu.”

    Bara mengusap kepala Uli. 

    “Kamu anak ayah yang hebat.”

     

    Beberapa jam kemudian, sebuah gubuk kecil dari ranting dan daun selesai dibuat di antara dahan-dahan pohon.

    Tidak sempurna.

    Tidak indah.

    Tetapi bagi mereka, tempat itu adalah rumah.

    Raya duduk di dalamnya bersama Bara dan Uli.

    “Bagaimana?” tanya Bara.

    Raya tersenyum. “Indah.”

    “Benarkah?”

    “Karena kita membuatnya bersama.”

    Bara memandang istri dan anaknya.

    “Kalau begitu, kita harus berjanji.”

    “Berjanji apa?” tanya Uli.

    Bara merangkul mereka berdua.

    “Sebesar apa pun hutan ini, sejauh apa pun kita pergi, kita akan selalu kembali ke tempat ini.”

    Raya menatap suaminya.

    “Dan kita akan selalu bersama.”

    Uli mengangkat tangannya.

    “Aku juga berjanji!”

    Mereka bertiga kemudian saling mendekat.

    Untuk keluarga kecil itu, itulah musim semi pertama mereka.

    Musim ketika hidup terasa begitu sederhana.

    Dan mereka belum tahu bahwa musim itu akan segera berakhir.

     

    Suatu pagi, suara aneh terdengar dari kejauhan.

    Bukan suara burung.

    Bukan suara monyet.

    Bukan suara angin.

    Suara mesin.

    Bara berdiri di atas pohon.

    Ia menatap ke arah hutan.

    “Ada apa?” tanya Raya.

    Bara tidak menjawab.

    Asap tipis mulai terlihat di balik pepohonan.

    Uli mendekati ayahnya.

    “Ayah?”

    Bara menatap anaknya.

    “Jangan pergi jauh dari ibu.”

    “Tapi ada asap.”

    “Ayah tahu.”

    Beberapa hari kemudian, asap semakin tebal.

    Burung-burung mulai terbang meninggalkan hutan.

    Hewan-hewan lain berlarian mencari tempat aman.

    Daun-daun mulai mengering.

    Api menjalar dari satu pohon ke pohon lainnya.

    Hutan yang selama ini menjadi rumah berubah menjadi lautan api.

    Raya memeluk Uli.

    “Jangan takut.”

    “Ibu…”

    “Ibu di sini.”

    “Aku takut.”

    Raya menempelkan tubuhnya pada anaknya.

    “Selama ibu dan ayah bersamamu, kamu tidak perlu takut.”

    Bara datang membawa beberapa buah.

    “Makan.”

    Raya mengambilnya.

    “Kita harus pergi.”

    “Ke mana?”

    “Lebih dalam.”

    Mereka bergerak bersama.

    Namun asap semakin pekat.

    Napas menjadi berat.

    Mata terasa perih.

    Makanan semakin sulit ditemukan.

    Pohon-pohon yang dahulu penuh buah kini hangus.

    Hari demi hari mereka kelaparan.

    Suatu malam, Raya terbaring lemah di dalam gubuk kecil yang dulu mereka bangun bersama.

    Uli duduk di sampingnya.

    “Ibu…”

    Raya membuka mata perlahan.

    “Ya, Nak?”

    “Kenapa ibu tidak bangun?”

    “Ibu hanya lelah.”

    “Kalau begitu Uli carikan buah.”

    Raya tersenyum tipis.

    “Jangan.”

    “Tapi ibu lapar.”

    Raya mengulurkan tangannya dan menyentuh kepala anaknya.

    “Uli…”

    “Ya?”

    “Jangan pergi.”

    Uli memeluk ibunya.

    “Aku tidak akan pergi.”

    Bara duduk di samping mereka.

    Matanya menatap Raya dengan penuh kecemasan.

    “Raya…”

    Raya menoleh.

    “Aku di sini.”

    “Aku tahu.”

    “Besok kita cari tempat lain.”

    Raya diam.

    “Raya?”

    “Kalau aku tidak bisa ikut…”

    Bara langsung mendekat.

    “Jangan bicara begitu.”

    “Aku hanya ingin mengatakan sesuatu.”

    “Aku tidak mau mendengarnya.”

    Raya tersenyum lemah.

    “Bara…”

    “Aku akan membawa kalian keluar dari sini.”

    Raya memandang suaminya lama.

    “Kamu selalu mengatakan itu.”

    “Karena aku akan melakukannya.”

    Raya menggenggam tangan Bara.

    “Jaga Uli.”

    Bara menggeleng.

    “Kita akan menjaganya bersama.”

    Raya memandang anaknya.

    “Janji?”

    Bara menggenggam tangannya lebih erat.

    “Janji.”

    Malam semakin dingin.

    Asap masih menggantung di antara pepohonan.

    Dan untuk pertama kalinya, gubuk kecil yang dulu penuh tawa itu hanya dipenuhi suara napas yang berat.

    Pagi berikutnya, Bara pergi mencari makanan.

    Uli ingin ikut.

    “Tidak.”

    “Aku ikut Ayah.”

    “Kamu tinggal bersama ibu.”

    “Tapi aku takut.”

    Bara mendekati anaknya.

    “Jaga ibu.”

    Uli mengangguk.

    “Janji?”

    “Janji.”

    Bara pergi.

    Namun ketika ia kembali, sesuatu yang paling ia takutkan telah terjadi.

    Raya terbaring diam.

    Uli duduk di sampingnya.

    “Ibu tidak bangun, Yah.”

    Bara mendekati istrinya.

    “Raya…”

    Tidak ada jawaban.

    “Raya…”

    Ia menyentuh tubuhnya.

    Dingin.

    Bara memeluk istrinya.

    Suara hutan terasa begitu sunyi.

    “Bangun…”

    Raya tetap diam.

    “Raya, kita belum selesai.”

    Uli menangis.

    “Ibu bilang akan bersama kita.”

    Bara menundukkan kepalanya.

    “Dia tidak pergi karena ingin meninggalkan kita.”

    “Kenapa ibu pergi?”

    Bara memeluk Uli erat.

    “Karena tubuh ibu sudah terlalu lelah.”

    Uli menangis semakin keras.

    “Aku belum bilang selamat tinggal.”

    Bara memejamkan mata.

    “Ayah juga belum.”

    Hari itu, hutan kehilangan satu nyawa.

    Dan Bara kehilangan pasangan hidupnya.

    Uli kehilangan ibunya.

    Hari-hari berikutnya menjadi semakin sulit.

    Bara dan Uli berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

    Mereka mencari makanan.

    Mencari air.

    Mencari tempat yang belum terbakar.

    Namun suatu hari, ketika Bara sedang mencari makanan, beberapa manusia datang.

    Mereka adalah kelompok yang sering memasuki hutan tanpa memedulikan keselamatan satwa.

    Pemimpin kelompok itu bernama Jhoni.

    Uli yang ketakutan mencoba melarikan diri.

    Namun ia tertangkap.

    “Pegang!”

    Uli meronta.

    Bara melihat dari kejauhan.

    Ia berteriak.

    Uli menjerit.

    “Ayah!”

    Bara bergerak mendekat.

    Namun manusia-manusia itu mengancamnya hingga ia mundur.

    Jhoni mengikat Uli pada sebuah pohon.

    “Diam!”

    Uli menangis.

    “Ayah!”

    Bara bersembunyi di balik pepohonan.

    Matanya terus memandang anaknya.

    Jhoni dan kelompoknya kemudian pergi.

    Uli masih terikat.

    “Ayah…”

    Bara keluar perlahan.

    Ia mendekati anaknya.

    Uli menangis ketika melihat ayahnya.

    “Ayah…”

    Bara memegang tali yang mengikat tubuh anaknya.

    “Ayah di sini.”

    “Bebaskan aku.”

    “Ayah akan mencoba.”

    Bara menggigit dan menarik tali itu.

    Namun tali terlalu kuat.

    Ia mencoba lagi.

    Dan lagi.

    Uli menangis.

    “Sakit, Yah…”

    “Sebentar.”

    “Ayah…”

    “Sebentar lagi.”

    Bara terus berusaha.

    Tangannya terluka.

    Namun ia tidak berhenti.

    Karena baginya, tidak ada pilihan lain.

    Hari mulai sore.

    Dari kejauhan terdengar suara manusia.

    Bara segera bersembunyi.

    Namun kali ini suara mereka berbeda.

    Tidak ada teriakan.

    Tidak ada suara mesin.

    Beberapa orang datang membawa perlengkapan.

    Mereka adalah para sukarelawan penyelamat satwa.

    Salah seorang dari mereka melihat jejak kaki orang utan.

    “Lihat.”

    “Sepertinya ada orang utan di sekitar sini.”

    Bara keluar dari balik pepohonan.

    Seorang sukarelawan terkejut.

    “Astaga…”

    Bara berdiri beberapa meter dari mereka.

    Ia tidak melarikan diri.

    Ia justru menoleh ke arah Uli.

    Kemudian kembali menatap para sukarelawan.

    Salah seorang sukarelawan memperhatikan gerakannya.

    “Dia seperti ingin menunjukkan sesuatu.”

    Bara berjalan beberapa langkah.

    Berhenti.

    Menoleh.

    Kemudian berjalan lagi.

    “Ikuti dia.”

    Mereka mengikuti Bara.

    Sampailah mereka pada sebuah pohon.

    Di sana, Uli masih terikat.

    “Astaga!”

    “Ya Tuhan…”

    “Anaknya diikat!”

    Bara berdiri tidak jauh dari sana.

    Ia menatap para sukarelawan.

    Kemudian menatap Uli.

    Seolah-olah berkata,

    Tolong anakku.

    Seorang sukarelawan perlahan mendekati Uli.

    “Tenang, Nak.”

    “Kami akan membantumu.”

    Tali itu akhirnya dilepaskan.

    Uli langsung berlari menuju ayahnya.

    Bara memeluk anaknya.

    Uli menangis.

    “Ayah…”

    Bara memeluknya erat.

    “Ayah di sini.”

    “Ibu sudah tidak ada.”

    Bara diam.

    “Ayah…”

    Ia mengusap kepala anaknya.

    “Kita akan tetap bersama.”

     

    Para sukarelawan membawa Bara dan Uli ke tempat rehabilitasi satwa yang lebih aman.

    Di sana ada makanan.

    Ada air.

    Ada pepohonan.

    Tidak ada api.

    Tidak ada suara mesin.

    Tidak ada manusia yang memburu mereka.

    Pada hari pertama, Uli duduk di dekat Bara.

    “Ayah…”

    “Ya?”

    “Apakah kita akan pulang?”

    Bara menatap ke luar.

    Ia teringat hutan.

    Ia teringat gubuk kecil.

    Ia teringat Raya.

    Rumah mereka sudah tidak ada.

    Pohon-pohon yang dulu menjadi tempat mereka bermain telah hangus.

    Namun Bara tahu, ada satu hal yang masih tersisa.

    Keluarga.

    “Kita sudah menemukan rumah yang baru.”

    Uli mendekat.

    “Kalau ibu masih hidup, ibu pasti suka tempat ini.”

    Bara terdiam cukup lama.

    Kemudian ia memeluk anaknya.

    “Ibu pasti bahagia melihatmu aman.”

    “Ayah?”

    “Ya?”

    “Apakah janji kita masih berlaku?”

    Bara menatap mata anaknya.

    “Janji yang mana?”

    “Janji di gubuk.”

    Bara tersenyum sedih.

    “Yang kita akan selalu bersama?”

    Uli mengangguk.

    Bara memeluknya.

    “Selama Ayah masih hidup, janji itu tidak akan pernah Ayah lupakan.”

    Uli menyandarkan kepalanya di dada ayahnya.

    Di kejauhan, matahari mulai tenggelam.

    Cahaya jingga menyinari pepohonan tempat mereka tinggal.

    Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Uli bisa tidur tanpa asap memenuhi paru-parunya.

    Bara memandang langit.

    Dalam diam, ia seperti berbicara kepada Raya.

    Raya…

    Anak kita selamat.

    Aku menepati janjiku.

    Kami masih bersama.

    Air mata jatuh dari sudut matanya.

    Bukan karena ia telah melupakan kehilangan.

    Tetapi karena ia tahu, cinta tidak selalu berarti bisa mempertahankan seseorang tetap hidup.

    Kadang-kadang, cinta berarti tetap menjaga apa yang ditinggalkan orang yang kita cintai.

    Dan malam itu, di tempat yang jauh dari hutan yang terbakar, Bara dan Uli tidur berdampingan.

    Tidak ada lagi gubuk kecil dari ranting.

    Tidak ada lagi suara Raya.

    Tetapi sebuah janji masih hidup.

    Janji yang pernah diucapkan pada musim semi pertama mereka:

    “Sejauh apa pun kita pergi, kita akan selalu kembali satu sama lain.”

    Dan meskipun hutan mereka telah hilang, keluarga kecil itu akhirnya menemukan kesempatan untuk memulai musim yang baru.

     

     

    Kreator : Yulita Halim

    Bagikan ke

    Comment Closed: Saat Janji Itu Diucapkan

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021