Kata Ibu
Seandainya dunia mengacuhkanmu
Datanglah padaku
Buanglah semua rasa malu dan ragu
Rangkaian kata ku susun agar mereka kembali memandangmu
Belajarlah memahami dunia yang tengah kau jalani
Meski perjalanan terasa terjal dan berduri
Biarkan asam garam kehidupanku
Menjadi rasa yang mampu melindungimu
Terkadang menangis dan tertawa
Bahagia dan duka datang tiba-tiba
Tuhan sedang mendidikmu dalam sebuah ujian
Menjadi insan yang kuat dan berakhlak mulia
Jangan jadikan kemalasan sebagai alasan
Pilihan kemalangan dan kebodohan
Padamkan semangat mengejar cita
Menjauhkan diri dari kesuksesan
Sepertiga malam adalah waktu sempurna
Datanglah kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa
Sujud dan larutkan hatimu pada-Nya
Segala harapanmu semoga dikabulkan-Nya
Tidak selamanya ibu akan selalu ada
Karena terbatas usia manusia fana
Ingatlah untuk mendekatkan diri pada-Nya
Aku titipkan kau pada Allah SWT, Tuhan pencipta alam semesta.
Waktu Yang Terhenti
Secarik kertas lusuh diantara jasad tak bernyawa
Pesan terakhir tersimpan
Warisan kisah penuh makna
Bagi insan berhati mulia
Masa yang telah ditentukan
Mencapai batas akhir perjalanan
Jiwa berpaling menjauh dari dunia fana
Berpulang menanti hidup dalam keabadian
Dapatkah menjadi pembelajaran berarti?
Hanya bagi insan yang lalai
Merasakan hidup bagai mimpi
Bergetar jiwa tak ingin pergi
Dalam sekejap sesak menyergap dada
Melumpuhkan keangkuhan raga perkasa
Termenung sesal kubang kesedihan
Jikalau datang waktu untuk bertaubat
Segera setelah dikau mendapati langit tak lagi sama
Sehangat pagi seindah senja
Berkejaran napas memburu kegelapan
Meronta raga menahan jiwa.
Aku Sebut Namamu Tiga Kali
Berulang kali netra menatap sudut matamu basah
Bercerita sambil menjerit lara
Sedang raga dihadapanmu hanya terpaku
Terdiam membisu tak mampu menjadi pelipur
Engkau sebut ini adalah bagian dari ujian
Engkau berkata Tuhan begitu menyayangimu
Tuhan ingin engkau berada di atas derajat mulia
Meski ragamu perlahan renta menahan segalanya
Ibu, ibu, ibu…
Adakah dikau bertanya bagaimana keadaan ananda?
Begitu perih merasakan luka yang dikau derita
Bergetar raga menahan beban amarah
Ibu,ibu, ibu…
Jikalau dapat Ananda meminta pada Tuhan Yang Maha Kuasa
Izinkan Ananda mengobati lukamu
Hempaskan segala hal yang menyakitimu
Ibu, ibu, ibu…
Rasa rindu hangat pelukanmu
Lembut belaian kasihmu
Wajah teduh bermata sayu
Sejenak Dalam Keheningan
Tidakkah bumi memahami
Isyarat langit berwarna kelabu
Renungkan diri dalam telaga sunyi
Adakah tanda lara tersimpan membisu?
Jika kata berubah bunyi
Maka dengarkanlah hening hati
Mampukah malam meredam gemuruh langit?
Lirih alam bernyanyi menanti pagi
Biarkan sejenak dara dalam renungan panjang
Membisu terkenang luka tak kasat mata
Langit terdiam menanti akhir
Diantara raga dan jiwa ringkih
Seakan bersajak di alam mimpi
Sungguhkah nyata terekam netra
Memandang tinggi gunung menjulang
Mampukah sayap kecil mengepak rengkuh angan cita
Cerita yang hanya dimengerti oleh diamnya hati
Separuh rasa tersembunyi tiada berarti
Dibalik tirai keangkuhan mencaci tanpa bukti
Menelan pahit kebenaran hakiki
Cahaya Cinta
Jika mereka buta karena cinta
Bagi kita cinta adalah cahaya kehidupan
Sinar harapan dalam kegelapan
Hangat mendekap di antara kesunyian
Bukan tanpa sebab Tuhan mempertemukan
Hati telah menjadi mata terindah
Terikat janji hidup bersama
Saling menerka bayangan wajah rupawan
Biarkan mereka berkata sesuka hati
Hilangkan gundah dan sedih hati
Teruslah berlayar hingga pelabuhan
Ombak kecil segera ditelan lautan
Kemana tempat yang dikau inginkan permaisuri hatiku?
Percayakah kau padaku?
Berjalanlah di sisi dan genggam erat tanganku
Tongkat setia menunjukan arah tujuanmu
Bukan sebuah kisah romansa biasa
Keagungan cinta sepasang kekasih tunanetra
Merajut kebahagiaan dalam keterbatasan
Jejak ketulusan pancaran kasih sayang dua insan.
Kreator : Diah Anggraeni
Comment Closed: Sajak Berkisah (Bagian 6)
Sorry, comment are closed for this post.