Saya baru selesai mandi karena kegerahan habis memasak di dapur pengungsian, hari kelima pasca bencana entahlah cuaca sangat tidak bersahabat, belum ada tanda-tanda akan turun hujan. Langit terang, matahari bersinar galak, seolah membeliak marah pada semua yang nampak di bawahnya. Memasak di dapur darurat di samping tenda pengungsian, yang hanya diatapi dengan seng dan tonggak darurat, tentu saja tidak menawarkan kesejukan apalagi kenyamanan, tapi mau bagaimana lagi? Pulang kerumah masih takut, karena gempa kecil masih sering menggoyang dan anak-anak yang trauma masih saja berhamburan lari keluar tenda jika ada gemuruh bahkan oleh suara teriakan iseng saudara laki-lakinya. Ketika aku membuka WA, terbaca olehku pesan salah satu sahabatku, minta tolong untuk menyelenggarakan jenazah salah satu dari 5 santri rumah Qur’an yang tertimpa bangunan rumah Qur’an tempat mereka tinggal dan belajar.
Rumah Quran 3 lantai roboh dan santri yang 5 orang tertimbun reruntuhan, baru bisa dievakuasi di hari kelima.
“Kau dimana say, saya butuh kau memandikan jenazah santri!” Begitu WA Bella sahabatku. Saya Pun bilang sudah otw begitu selesai dia menyebut posisi dimana dia berada. Chacha putriku sibuk mencecar aku dengan berbagai pertanyaan, siapa yang meninggal, sudah berapa hari meninggalnya dsb. Sambil memakai kerudung aku menjawab pertanyaan, merapikan kerudung sekali lagi dan sesekali mengipas wajah yang terasa terus berpeluh, padahal baru saja selesai mandi. Kondisi di dalam tenda memang tidak nyaman apalagi jika matahari terik ini. “Bunda kalau jenazah itu sudah berhari-hari sebaiknya jangan lagi bunda mandikan, itu para relawan yang mengevakuasi mereka kesini sudah di vaksin, bunda sama sekali tidak lho?” Kata anakku berusaha menahan keinginanku untuk membantu santri yang baru ditemukan tersebut. “Tapi ini kewajiban kita nak, memandikan, menyolatkan, menguburkan sesama muslim” kataku keras kepala. “Iya bundaku tapi bunda juga harus dengar pendapat para medis, tidak dianjurkan lagi bunda menyentuh jenazah tanpa pengaman, airnya saja sudah bahaya bagi bunda yang tidak divaksin” katanya masih cerewet. ” Ok, Bunda kesana dulu, liat kondisinya nanti bunda info” kataku menghentikan semua kekhawatirannya. Akupun berangkat menuju posko pengungsian para santri rumah Quran. Yang hanya berjarak 20 menit berkendaraan dari tempat kami mengungsi.
Keadaan di Tenda santri hampir sama dengan kondisi di tenda kami, anak-anak kecil berlarian gembira bermain, sama sekali tidak terpengaruh dengan riuhnya orang-orang dewasa yang bercerita tentang anak-anak santri yang masih belum bisa dievakuasi dari reruntuhan. Aku sangat yakin sahabatku pemilik dan Pembina rumah Qur’an pasti sudah berusaha kuat untuk bisa mengevakuasi korban runtuhan rumah qur’annya, tetapi pasti banyak hal yang harus dia lakukan terlebih dahulu. Membawa yang selamat mengungsi ke tempat aman, mengobati santri yang terluka, mungkin juga beliau baru mengetahui keberadaan santri yang tertimpa reruntuhan setelah semuanya berada di tempat pengungsian. Alhamdulillah jarak tempat mereka mengungsi tidak terlalu jauh dengan rumah qur’an yang rubuh. Dalam situasi seperti terbayang olehku bagaimana perasaan dan paniknya sahabatku saat mengetahui bahwa ada santri yang tertimpa bangunan, Berupaya mencari pertolongan justeru disaat semua orang butuh ditolong. Kadarullah dia berhasil menemukan relawan-relawan yang mau membantu, Karena memang tidak mudah menemukan alat berat di saat seperti ini, kalaupun ada alatnya, masih pula harus mencari orang yang bisa mengoperasikannya.
Belum lagi mencari orang-orang yang bersedia membantu untuk melakukan pencarian karena posisi para santri tentu tidak berkumpul di satu tempat dalam bangunan sebesar itu. Sungguh ujian yang betul-betul menguji kekuatan dan keikhlasan, tapi aku sangat percaya sahabatku pasti bisa melalui semuanya dengan baik. Terbukti hari ini dengan tabah dia menerima jenazah santrinya dibantu oleh para relawan yang memang berdatangan dari mana-mana. Subhanallah… semoga Allah membalas kebaikan dan keikhlasan hati mereka dengan sebaik-baik balasan.
Tadinya sahabatku berharap ketiga santri tersebut bisa dievakuasi seluruhnya pada hari itu, namun hingga waktu dzuhur tiba belum ada tanda-tanda kalau jenazah yang lain bisa ditemukan.
Karena baru satu orang yang bisa dievakuasi sedangkan yang dua lagi belum ada tanda-tanda maka kami memutuskan untuk memulai saja penyelenggaraan jenazah tersebut sebelum hari petang. Aku mulai pekerjaanku dengan menggunting kafan. Dengan dibantu Bella sahabatku dan beberapa anak-anak santri pekerjaan itu cepat selesai.
Selesai itu barulah kami beranjak ke lokasi rumah Quran dimana jenazah Inayah, santri yang sudah dievakuasi itu berada.
Disana terkumpul para relawan, tim medis juga keluarga santri, baik yang selamat maupun yang baru diupayakan untuk di evakuasi. Saat tahu bahwa kami akan memandikan jenazah, seorang relawan memberikan aku sepatu boat, memasangkan 3 lapis handscoon. Dan menambah lapisan maskerku. Bella menunjukkan kantong jenazah yang tergeletak di bawah jendela kantor di antara tumpukan kursi dan meja kantor yang sudah rusak. Tiba-tiba perasaanku dirundung kesedihan yang tak terkira. Ya Allah… seperti inilah kami jika Kau ambil dalam situasi bencana seperti ini, sungguh kondisi yang sangat memprihatinkan, semuanya dalam situasi darurat. Kantung jenazah tergeletak begitu saja, tidak peduli siapa di dalamnya, seperti juga jenazah-jenazah yang bergelimpangan di tepi Pantai korban Tsunami, bahkan jika dikenali pun akan diperlakukan sama. Karena sudah pasti kami sendiri tidak mampu menyelenggarakannya secara layak. Meskipun benar-benar ingin melakukannya dengan sebaik mungkin.
Dalam kondisi darurat mustahil kami bisa memandikan jenazah sepantasnya. Beberapa santri perempuan mengambil tripleks yang kami temukan di jalan, melapisinya dengan terpal dan Bella meminta aku menghamparkan kafan diatasnya. Persis di depan teras kantor. Saat ada yang tanya bagaimana airnya? Seseorang menunjukkan padaku 2 ember air, yang kalau kita pakai istinja saja pasti tidak terlalu bersih. ya Salam…
Anakku kembali menelpon menanyakan kondisi jenazah, secara singkat aku ceritakan kondisi jenazah, bahwa jenazah masih utuh saat diangkat dan semua auratnya tertutup lengkap bahkan dengan kaos kaki, padahal menurut salah satu ustazah almarhumah tidak terlalu sehat dan di berbaring-baring saat gempa terjadi dan lantai di atasnya menimpa almarhum. Subhanallah “Bunda…. bicaralah dengan dokter yang ada disitu, atau mereka yang berpengalaman menangani jenazah di daerah bencana” kata anakku dengan nada putus asa karena aku masih tetap keras kepala. Akhirnya aku dan Bella Rahmat meminta untuk mendengar apa pendapat para relawan karena kebetulan dokternya sudah pergi istirahat. Intinya mereka membenarkan bahwa apa yang dikatakan putriku benar.
Bahwa sebaiknya kami tidak kontak langsung lagi dengan jenazah apalagi kami sama sekali belum di vaksin dan hanya menggunakan peralatan sederhana. Dan mereka juga menyampaikan bahwa korban bencana dalam kondisi darurat boleh tidak dimandikan dan dikafankan.
Akhirnya atas persetujuan keluarganya Inayah, santri cantik penghafal Qur’an itu pun langsung diantar ke pemakaman setelah lebih dahulu di sholatkan oleh keluarga dan orang-orang serta kami yang hadir disana.
Aku dan Bella tertunduk pasrah, mengikhlaskan semua yang terjadi. Bahwa kami memang tidak mampu berbuat apapun selain turut menyalatkan dan mendoakan. Kami percaya Bahwa Allah swt lebih tahu apa yang kami tidak ketahui.
Semoga Allah menerimamu sebagai syuhada nak, mengampuni semua kesalahanmu dan menempatkanmu bersama orang-orang sholeh di sisinya.
Pelajaran yang aku ambil hari ini adalah, siapapun dirimu, dimanapun kamu berada jika Allah berkenan dan ridho padamu maka akan dikirimkannya orang-orang yang dengan ikhlas akan mengurusmu, memandikanmu, menyolatkanmu sampai mengantarmu di peristirahatan terakhirmu, selamat jalan Inayah, aku tidak mengenalmu nak, tapi demi Allah aku ingin melakukan semua untukmu…..
Kreator : Anna Sovi Malaba
Comment Closed: Selamat Jalan Gadis Penghafal Qur’an
Sorry, comment are closed for this post.