“Pikirkan sukses, maka kamu akan sukses.
Pikirkan menang, maka kamu akan menang.
Pikirkan kaya, maka kamu akan kaya.
Karena keyakinan adalah kunci kemenangan.
Karena keyakinan adalah jalan untuk Menyusun rencana dan melakukan aksi.
Karena keyakinan akan memberikan sugesti,
memberikan energi yang tiada tara.”
“Mimpikan. Pikirkan. Ucapkan. Lakukan Konsisten.
Karena Ketika mimpi kita pikirkan, maka mimpi akan berubah menjadi rencana.
Ketika rencana kita ucapkan, maka rencana akan menjadi komitmen.
Ketika komitmen kita lakukan, maka komitmen akan berubah menjadi kenyataan.
Krisna Yuliany
“Untuk mewujudkan Kesuksesan.
Maka Fokuslah dengan apa yang harus kamu lakukan.
Untuk tetap sukses, kamu harus mengetahui apa saja
yang tidak boleh dilakukan.”
(Tulisan seseorang, semoga Allah merahmatinya)
Pembaca yang dicintai Allah SWT.
Pernahkah pembaca memiliki ingatan akan kisah-kisah tertentu, yang mana ketika pembaca dihadapkan pada kondisi tak lagi memiliki semangat, kondisi terpuruk.. lalu kisah heroik itu melintas dalam ingatan, dan seketika pembaca pun jadi memiliki semangat baru, yang semangat itu tak pernah sama dengan semangat-semangat sebelumnya yang pernah pembaca rasakan?
Pernahkah pembaca merasakan semangat baru dari kisah heroik itu, hingga membuat pembaca menjadi lebih bergelora untuk kembali dan terus bergerak??
Pernah kan?!
Masya Allah, Alhamdulillah.. apabila pembaca memiliki kisah-kisah heroik tertentu tersebut.
Karena saya juga memiliki sepotong kisah sarat nasehat yang sering menguatkan saya, kisah yang dapat memotivasi di saat saya merasa perjuangan yang telah dilakukan mulai terasa melelahkan. Bahkan saya sengaja menuliskan kisah heroik ini di dalam memo digital saya. Hingga kapanpun saya merasa sedang tidak baik-baik saja, maka saya akan membaca kisah heroik ini berulang-ulang. Berulang-ulang saya akan membacanya sampai saya kembali menemukan semangat yang menggelorakan hati dan jiwa saya.
Kisah heroik itu yaitu kisah tentang Siti Hajar istri Nabi Ibrahim AS bersama putranya Nabi Ismail AS Ketika bayi.
“Saat itu, Siti Hajar bolak-balik hingga 7x antara bukit Shafa dan bukit Marwah. Berharap menemukan air yang dapat menghilangkan dahaga dan membuat air susu Siti Hajar Kembali mengalir.
Setiap kali Siti hajar berada di Bukit Shafa, Siti Hajar melihat sebuah genangan air (padahal itu hanyalah oase) di bukit Marwah, dengan bersegera, dengan berlari-lari kecil Siti Hajar mendatangi bukit Marwah. Namun Ketika sampai di Bukit Marwah, Oase yang ditemui dan dilihat oleh Siti Hajar dari Bukit Safa, ternyata hanyalah butiran pasir demi butiran pasir.
Begitu pula Ketika Siti Hajar berada di Bukit Marwah, sebuah Oase yang sungguh menggoda nampak di bukit Shafa. Dengan bersegera dan sembari berlari-lari kecil Siti Hajar kembali mendatangi Bukit Marwah. Namun lagi-lagi yang didapati oleh Siti hajar adalah gundukan butiran pasir demi butiran pasir.
Dan terus berulang begitu, hingga 7x Siti Hajar berlari antara Bukit Safa dan Bukit Marwah. Namun, Zamzam itu justru mengalir dari tempat kaki bayinya, yaitu Ismail.
Subhanallah. Allahu Akbar.
Begitu indahnya rencana dan ketetapan Allah SWT pada hambaNya. Siti Hajar yang berlarian di antara Bukit Safa dan Bukit Marwah sembari menyerukan Zamzam – Zamzam. Namun Zamzam itu justru mengalir deras dari hentakan-hentakan kaki mungil Ismail bayi.
Allahu Akbar.
Begitulah cara kerja Allah SWT untuk hambaNya.
Begitulah cara Allah menunjukkan CintaNya pada hambaNya.
“Ikhtiar itu adalah perbuatan, sedangkan rejeki itu kejutan tak terduga”.
Maka pembaca yang dicintai Allah SWT..
Masihkah kita akan berhenti dari berikhtiar/berusaha? Bila di depan sana ada kejutan-kejutan/surprise terindah yang sudah Allah SWT persiapkan untuk kita, hambaNya yang Dia cintai.
Masihkah kita akan bersikap lalai dan berputus asa? Bila di depan sana kesuksesan dan kebahagiaan telah menanti kita.
وَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – : أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( يَقُوْلُ اللهُ تَعَالَى : أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِي ، فَإِنْ ذَكَرَنِي فِي نَفْسِهِ ، ذَكَرْتُهُ فِي نَفْسِي ، وَإِنْ ذَكَرنِي فِي مَلَأٍ ذَكَرْتُهُ فِي مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ
Artinya :
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih)
(HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675).
Pembaca yang dirahmati Allah Subhanahu wa ta’ala.
Ada satu lagi kisah heroik yang sering saya ulang-ulang membacanya. Yaitu kisah putra abu Jahal yang menjadi mujahid hebat. Bagi pembaca yang pernah belajar siroh Nabawiyah, pembaca pasti tidak asing dengan nama abu Jahal. Dia adalah fir’aun umat ini (“hadza fir’aunu hadzihil ummah, orang ini adalah firaun umat ini”, begitu Rasulullah sholallahu alaihi wa salam berkata saat melihat kematian Abu jahal di tengah-tengah perang Badar). Abu jahal adalah dalang kejahatan demi kejahatan kaum musyrikin dan merupakan panglima musuh di perang badar. Tapi tahukah pembaca bahwa ia memiliki seorang putra dan menjadi seorang mujahid hebat?
Namanya adalah Ikrimah bin Abi Jahal. Ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa salam Bersama 10 ribu sahabatnya membebaskan Kota Mekkah tahun 8 Hijriah, nama Ikrimah menjadi ‘most wanted’ karena kejahatannya yang begitu besar, sehingga ia masuk ke dalam daftar nama-nama yang namanya boleh dibunuh.
Mengetahui hal tersebut, Ikrimah kabur ke Yaman dan memutuskan untuk pergi jauh dengan menaiki kapal. Namun, qadarullah, di tengah samudera, kapal yang ia naiki diterjang badai ganas. Hingga nahkoda kapal berkata, “tak ada yang bisa kita lakukan lagi. Berhala-berhala kalian tak mampu memberi manfaat sedikitpun!”
Di saat-saat yang mencekam itu, di ujung detik-detik menuju kematian Ikrimah berkata pada dirinya sendiri,
“Jika Allah menyelamatkan aku dari (badai) ini, sungguh aku akan Kembali kepada Muhammad, dan akan kuletakkan tanganku pada tangan beliau (berbaiat/berjanji setia kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa salam).”
(tafsir Al Baghawi Surat Luqman ayat 32).
Dengan izin Allah badai reda, Ikrimah selamat dan berusaha menepati janjinya sendiri. Dan Subhanallah, usaha Ikrimah ini ternyata makin sempurna dengan masuk islamnya istri beliau, yaitu Ummu Hakim. Sang istri inilah yang menjadi penjamin Ikrimah agar selamat sampai di hadapan Rasulullah sholallahu alaihi wa salam dan mengucapkan kalimat syahadatain.
Di hari yang bersejarah itu, Ikrimah berikrar tegas pada dirinya. Ia mengucapkan sebuah kalimat indah yang diucapkannya pada Rasulullah sholallahu alaihi wa salam,
“wahai Rasulullah, demi Allah aku tidak akan meninggalkan tempatku Dimana aku menghalangi manusia dari jalan Allah sampai aku menggantinya dengan perjuangan di jalanNya. Dan aku tidak akan melupakan biaya yang kuhabiskan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah sampai aku mengeluarkan biaya yang besar pula untuk berjuang di jalan Allah.” (HR. al hakim 3/270).
Di masa kekhalifahan Abu Bakar ash Shiddiq, Ikrimah mendapatkan tugas untuk memerangi kaum murtad di Yaman. Kemudian Ikrimah berangkat menuju ke Syam untuk menghadapi Kekaisaran Romawi Timur, beliau menjadi tentara penunggang kuda hebat di perang Yarmuk, dan di perang inilah beliau Syahid.
“Biarkan aku membersihkan masa laluku!”
Detik-detik menjelang syahidnya Ikrimah adalah sebuah momen yang penting kita tadabburi. Di hari Terik melawan Romawi itu, Ikrimah sangat bersemangat dan ia memutuskan untuk rela mati demi merobek barisan musuh. Khalid bin Walid berkata pada Ikrimah, “jangan lakukan itu wahai Ikrimah! Kematianmu akan menjadi luka dan duka bagi kaum muslimin.”
Tapi apa jawaban Ikrimah??
“Tak usah kau menahanku wahai Khalid! Sungguh kau telah mendahuluiku dalam membela Rasulullah sholallahu alaihi wa salam, sedangkan aku dan ayahku menjadi manusia paling keras permusuhannya terhadap Beliau. Biarkan aku membersihkan masa laluku!”
(Al Kamil fi At Tarikh, Ibnul Atsir)
Barokallah Ikrimah bin Abu Jahal..
Pembaca yang dirahmati Allah subhanahu wa ta’ala.
Kita tidak pernah tau apa yang Allah takdirkan kepada kita dan anak-anak keturunan kita. Tapi yang wajib kita Yakini adalah Allah dan RasulNya Maha pemaaf, Allah Maha penerima taubat. Hanya Allah subhanahu wa ta’ala Yang Maha membolak-balikkan hati kita. Sebagaimana halnya dengan Ikrimah.
Allah subhanahu wa ta’ala tidak melihat apa yang dilakukan oleh seseorang di masa lalunya, tapi Allah subhanahu wa ta’ala lebih memandang seseorang itu di masanya yang sekarang. Bagaimana seorang Ikrimah bangkit dari masa lalunya dan membayar tunai apa-apa yang merugikannya di masa lalu, kemudian ia tutup usianya dengan sangat indah, syahid fisabilillah.
Allahu ya Rahman..
Allahu yaa Ghofur..
Quotes dari para sahabat
“Berilah kesempatan untuk seseorang berubah, sebab orang yang hampir membunuh Rasulullah kini terbaring di sebelah makam Beliau”.
Umar bin Khattab
“jangan pernah melihat seseorang dari masa lalunya, sebab orang yang pernah berperang melawan agama Allah, pada akhirnya dijuluki sebagai pedang Allah”
Khalid bin Walid
“jangan pernah memandang seseorang dari status dan hartanya. Sebab, Sepatu fir’aun berada di neraka sedangkan sandal jepit Bilal bin Rabah
terdengar di Syurga”.
Bilal bin Rabbah
Kreator : Krisna Yuliany
Comment Closed: SELF MOTIVATION Motivasi Impian Masa Depan
Sorry, comment are closed for this post.