MEMULAI (8)
Setelah pertemuannya dengan Arif, Aina berusaha mencerna maksud Arif dengan pikiran yang tenang. Pikiran, hati, dan jawaban yang akan ia berikan seolah berkejaran dengan waktu yang diberikan Arif. Setelah dua malam melakukan shalat istikharah dengan merayu Tuhan nya untuk memberikan hidayah dalam menjawab maksud Arif, Aina memutuskan untuk menceritakan kepada kakak pertamanya, Aziz.
Saat kakaknya menelpon menanyakan keadaannya, Ia membuka cerita tentang Arif. Aina menceritakannya dengan detail, mulai dari awal pertemuan, hingga bahasan terakhir yang Arif sampaikan mengenai maksud untuk mengenalnya lebih dekat.
Sambil bercerita dengan kakaknya, Aina juga mengirimkan melalui chat beberapa screenshot percakapannya dengan Arif serta foto biografi Arif.
“Na, sampaikan kepada Arif saat dia menagih jawaban kamu. Katakan jika dia benar-benar serius dengan kamu, silahkan temui Mas mu ini.”
“Mas, yakin?”
“Iya, kenapa? Apa kamu mau nolak aja? Jika kamu mau nolak ya gapapa, tapi… jika kamu memiliki sedikit pertimbangan untuk menerimanya, tidak keterlaluan kan kalau Mas pengen ketemu dia dulu?”
Deg! Aina salting sendiri mendengar penjelasan Aziz. Dengan bercerita kepada kakaknya untuk meminta pendapat mengenai Arif, itu artinya ia memiliki beberapa persen keinginan untuk menerima maksud Arif.
“Na??? Halooo.”
“Eh,,, i iya, Mas. Nanti Na sampaikan ke Pak Arif sesuai arahan Mas, hehe.”
“Yo wis, jangan lupa makan yang baik-baik, jaga kesehatan, sholat sunnah ditambah nggiiihh adik bungsuku sing ayuuuu.”
“Siap Masku sing guanteng dewe’ hihihi. Assalamualaikum.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah”
Tanpa menunggu lama Aina memutuskan untuk mengirim chat kepada Arif.
“Assalamu’alaikum, Pak Arif.”
Aina kembali melanjutkan rutinitasnya melipat pakaian. Selesai satu baju, terdengar notifikasi dari ponselnya.
“Wa’alaikumussalam, ya Aina apa sudah ada jawabannya?”
To the point sekali lelaki ini, batin Aina.
“Begini Pak, jika memang Bapak serius dengan perkenalan ini, silahkan Bapak temui kakak laki-laki saya di kampung, untuk menyampaikan maksud Bapak.”
Aina kembali sibuk dengan aktivitasnya melipat pakaian dan merapikannya ke dalam keranjang.
Pagi ini setelah pukul tujuh suasana lorong kamar Aina terlihat sepi karena sebagian besar santriwati sudah berangkat ke sekolah maupun kampus.
Pov Arif:
Arif tertegun sesaat kemudian melesatkan mobilnya menuju kediaman Dharmawan. Dengan wajah sumringah diiringi debaran jantung saat mengingat kembali pesan Aina yang baru saja dibacanya, ia sungguh tidak menyangka kalau akan secepat ini prosesnya “Alhamdulillah” berkali-kali ia ucapkan.
Sesampainya di kediaman Dharmawan Arif mengecup bolak balik kedua pipi Hapsari dan Dharmawan yang terlihat sedang santai di halaman belakang.
“Astaghfirullah, kamu kenapa Rif?”
Tanya Hapsari heran sekaligus gregetan dengan tingkah cucunya yg satu ini
Dengan penuh percaya diri, tanpa basa basi Arif menunjukkan kepada Hapsari dan Dharmawan isi chat terakhir Aina untuknya.
Nyonya Hapsari menunjukkan ponsel Arif kepada suaminya, seketika raut wajah mereka terlihat gembira. Arif dengan penuh kebanggaan mengedipkan satu matanya sambil tersenyum.
“Tunggu apa lagi? Segera jadwalkan lusa”
“Lusa? Kakek yakin???”
“Loh memangnya mau kapan lagi? Ini sudah disambut baik loh, kamu mau tunda-tunda sampai ada yang lebih dulu datang menemu keluarga Aina???”
Hapsari sedikit kesal sambil melotot kepada cucunya itu.
“Iya Nek, Kek… kalau begitu Arif segera sampaikan ke Aina dan memastikan jadwal Arif di rumah sakit untuk diinval dokter lain”
“besok kita perlu belanja untuk cinderamata menemui keluarga Aina, oh iya Rif jangan lupa tanyakan jumlah anggota keluarga Aina, usia mereka dan kalau bisa warna kesukaan mereka untuk menyesuaikan hadiah yang akan kita berikan”
Titah sang kakek yang juga disetujui sang nenek.
“Kek, apa tidak berlebihan?”
“Apa maksudmu? kita ini keluarga terpandang, masa iya mau ke sana dengan tangan kosong?”
“Bukan begitu maksud Arif, Kek.”
Arif menarik nafas Panjang sebelum akhirnya Ia mengutarakan rencananya untuk Aina. Arif bermaksud untuk menunda memberitahu Aina mengenai identitas tambahannya, yakni sebagai calon penerus pemimpin perusahaan Dharmawan. Arif juga meminta kebesaran hati Hapsari dan Dharmawan untuk merahasiakan hubungannya dengan Aina kepada kerabat dan rekan bisnis. Menurutnya pertemuan dan perkenalannya dengan Aina begitu mendadak, Arif Khawatir jika Aina tidak begitu siap jika mengetahui semua tentang dirinya.
Banyak hal yang Ia pikirkan jika Aina mengetahui semuanya saat ini, apakah Aina akan menerimanya dengan yakin? Apakah Aina akan menganggapnya serius ? bagaimana jika kabar kedekatannya dengan Aina tersebar, apakah Aina akan siap mendapat sorotan media atau bahkan rekan bisnis keluarganya?. Bukan, bukan maksud Arif berbohong tapi, Ia ingin untuk saat ini cukup keluarga inti saja yang tahu.
Arif benar-benar ingin menjalani pendekatannya dengan Aina seperti orang-orang pada umumnya. Ia ingin, Aina mengenalnya sebagai Dokter Arif paling tidak sampai menjelang pernikahan.
“Lalu rencana kamu selanjutnya apa?”
Tanya Hapsari sambil menyandarkan punggungnya.
“Arif sudah berniat mengontrak rumah ….”
“Apa?! Gak, gak, jangan aneh-aneh apa maksud kamu?”
“Kek, please boleh dengarkan Arif dulu? Jadi, Arif mau mengontrak rumah sederhana untuk berjaga-jaga kalau Aina atau keluarganya ingin mengunjungi kita. Gak mungkin kan kita kasih Aina alamat rumah ini.”
“Kenapa harus mengontrak? Kita bisa minta orang kepercayaan untuk membelikan rumah minimalis. Ngontrak rumah itu ribet, berhubungan dengan pemilik rumah. Sudah, sudah, biar Nenek telepon Edo untuk carikan rumah sederhana minimalis.”
“Tunggu, Nek. Oke, Arif setuju. Tapi, sebelum telepon Edo, bisa Nenek sebutkan budget rumah sederhana minimalis yang ada dalam pikiran Nenek?”
Hapsari sedikit mengira-ngira. “Delapan Milyar terlalu murah, tidak?”
“Hah???! Nek! Gak! Arif gak setuju! Itu berlebihan sekali, Nek. Begini saja, dua setengah milyar maksimal.”
“Gustiiii, kamu kok pelit banget sih, Rif. Aku gak pernah loh ngajarin kamu pelit.” ucap Nenek. “Dharmawan, coba lihat cucumu ini.”
“Hmmmm, kamu ini terbiasa mengeluarkan uang untuk koleksi tas-tas mu itu. Jadi, memang level perkiraan harga yang kamu pikirkan itu jauuuuuuuhhhh lebih tinggi, hahaha.”
Dharmawan menggoda Hapsari.
“Istriku, sudah kita ikuti saja permainan cucumu ini, sekarang kamu bisa menghubungi Edo untuk mencarikan rumah sesuai dengan budget yang Arif minta”
Hapsari membuang nafas dan segera menghubungi Edo sesuai permintaan suaminya. Arif beberapa kali memberi tahu kriteria rumah yang diinginkan kepada Hapsari untuk disampaikan kepada Edo.
Tak lama kemudian, Arif segera menghubungi Aina. Sayang sekali, nomornya tidak aktif. Ia segera mengirim pesan singkat.
“Alhamdulillah, saya ucapkan terima kasih banyak atas kesempatan untuk mengenal kamu lebih dekat. Insya Allah saya siap menemui keluarga kamu, mohon info tanggal dan alamat kediaman keluargamu ya, saya tunggu”
Dengan penuh semangat Arif mengirim pesan kepada Aina. Tiba-tiba Ia merasa detak jantungnya begitu cepat, ah ini kah yang dinamakan “getaran cinta”, Ia tersenyum sendiri tak sadar Kakek dan Nenek pun ikut tersenyum memperhatikan tingkah laku cucunya itu.
Hapsari dan Dharmawan benar-benar merasa lega dengan apa yang dilihatnya, jujur saja mereka sebenarnya sempat mencurigai Arif bukan laki-laki normal. Bahkan puluhan wanita cantik, berpendidikan, elegan sudah coba mereka kenalkan kepada Arif namun hasilnya nihil. Arif seperti begitu hambar melihat wanita, barulah kali ini mereka melihat gelagat laki-laki normal pada diri Arif.
“Kek, Nek, kenapa senyum-senyum begitu lihat Arif?” Arif merasa diperhatikan.
“Nenek begitu lega dan bersyukur kamu ditakdirkan bertemu dengan Aina.”
“Nenekmu ini, hampir atau mungkin sudah, menuduhmu tidak suka wanita. hahahahaha.”
Dharmawan terbahak. “Ya Allah, Nek. Arif masih normal, suka perempuan.”
“Iya. Iya, aku percaya sekarang. Alhamdulillah, melalui Aina, Gusti Allah menjawab kekhawatiran nenek. hehehe.”
Hapsari mengelus punggung cucunya yang berada di sebelahnya.
Arif memutuskan untuk berangkat ke rumah sakit, kebetulan hari ini Ia ada jadwal praktek pagi sampai menjelang sore. Ia pun berpamitan kepada Kakek dan Nenek, dengan perasaan yang begitu bahagia tentunya. Hapsari dan Dharmawan pun merasa senang melihat Arif yang mulai mencair. Mereka benar-benar berharap Arif dan Aina disatukan dengan takdir terbaik.
Kreator : Ainuna Zulia
Comment Closed: Senandung Cinta Melangit (Part 8)
Sorry, comment are closed for this post.