KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • Berita Alineaku
  • Bisnis
  • Branding
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Moralitas
  • Motivasi
  • Novel
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Politik
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Senja Di Langit Maroko Part 4

    Senja Di Langit Maroko Part 4

    BY 23 Agu 2025 Dilihat: 17 kali
    Senja Di Langit Maroko_alineaku

    Pernahkah kau melihat pelangi bahkan gerimis sebelum reda? Indah, bukan? Menakjubkan sekali karya sang Pencipta, Masya Allah.

    Pun pada hidup, duka selalu saja beriring dengan bahagia, malam selalu saja berganti dengan fajar, air mata dan tawa, inilah sunnatullahnya kehidupan, tergantung bagaimana kau memaknainya, sebab perbedaan itu adalah warna, tanpa sedih kau tak bisa merasakan hakikat bahagia.

    “Lalu, apa jawabanmu?”

    Aku masih bergeming, menikmati segelas coklat hangat dan suara hujan di luar sana, sudah beberapa hari Duri, kotaku diguyur hujan. Beberapa pengendara roda dua memilih berhenti di depan ruko-ruko yang berjejer rapi, walau ada yang singgah hanya sekedar memasang mantel lalu pergi.

    “Arunika, jika aku memang sahabatmu, maka bisakah kau mempertimbangkan saranku?”

    Wanita berkulit putih bersih itu menatapku serius, tidak biasa ia bertingkah begitu, membuat senyumku terasa kaku. Aku sudah menebak kearah mana cerita ini, sebab janda banyak fitnahnya, maka banyak sekali yang peduli mulai dari keluarga, sahabat, saudara seiman, mungkin mereka takut jika aku akan larut pada duka yang berkepanjangan.  

    “Cobalah istikharah, minta petunjuk. Jika memang pernikahan yang terbaik untukmu, semoga Allah swt hadirkan lelaki sholeh yang bisa memahami lukamu.”

    Aku masih hening.

    “Arunika!”suara Hana sedikit ditahan tapi ada kesan gertakan.

    “Iya, aku dengar!”

    Mata kami saling memandang agak lama, lalu aku tertawa, mencoba mencairkan suasana, entah kenapa, sejak dulu, susah sekali buatku untuk menumpahkan lara pada siapapun, aku hanya perlu sendiri jika rasa sakit menghampiriku.

    “Kau tahu Hana, bahkan aku takut untuk istikharah!”

    “Astaghfirullah.” ucapnya pelan

    Aku menganggukkan kepalaku, membesarkan sedikit mataku yang  panjang untuk membuatnya lebih yakin dengan kata-kataku.

    “Aku takut jika ternyata pernikahan adalah yang terbaik untukku dan aku belum siap!”

    “Jika itu yang terbaik, pasti karena kau mampu, kau paling paham tentang itu!”

    Sejatinya memang begitu, karena Allah swt tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba itu sendiri, tapi ketika ujian itu datang, terkadang hamba itu harus memaksakan diri untuk tetap berbaik sangka pada ketetapan Allah, suka tidak suka, mau tidak mau hamba itu harus tetap kokoh walau  hamba itu sudah tidak bisa berdiri untuk  melangkah, dan ini sangat sulit.Dan ini yang membuatku takut.

    Aku takut, jika ujian menimpaku lagi dan lagi, akhirnya aku menyerah, dan memutuskan untuk marah pada takdir walaupun ujian adalah bentuk tanda cinta dari Allah swt untuk hambaNya, tapi mencoba berdamai dan membujuk hati untuk menerima sepenuh ikhlas bukan hal yang mudah.

    “Assalamu’alaikum, Arunika. Kaifa haluki, hal anti bikhair?”

    Kulihat jarum jam yang menempel di dinding kamarku, 18:02 WIB, berarti di sana sekitar jam 12:02 waktu Maroko, jaraknya sekitar enam jam.

    Aku memilih untuk tidak membalasnya, karena aku takut, jika hubungan ini sudah mengarah pada rasa antara laki-laki dan wanita, bukan lagi hubungan seperti aku dengan teman yang lainnya, bertukar kabar, menanyakan aktivitas masing-masing dan saling bercerita pengalaman yang menambah wawasan, budaya, agama, apapun itu.

    Sejak dulu, aku memang sudah tertarik dengan sejarah Islam, aku penasaran bagaimana kaum Tsamud memahat gunung dan menjadikannya rumah dan bangunan lainnya, Petra yang bisa diartikan sebagai batu Jordan. Aku juga penasaran dengan Spinx dan piramida, bumi para Anbiya, pesonanya Cleopatra, keindahan Alexandria, Nil dan sejuta tentang Mesir. Dengan Baghdad Negeri seribu satu malam, kisah aladin yang hingga kini masih terkenal sekali, Irak. Kota dimana Imam Hambal dilahirkan, walaupun ada yang mengatakan beliau lahir di Asia Tengah Turkmenistan. Imam Bukhari juga pernah menuntut ilmu di sini.

    Lalu Damaskus atau Suriah, Negara dimana Ibnu Kastir dilahirkan, tepatnya di Busra, ada Ibnu Taimiyah juga Ibnu Qoyyim Al jauziyah.

    Kesucian Masjid Al-Aqsa, Masjid ini adalah saksi bisu Isra Mi’raj-nya Baginda Rasulullah saw, kota kelahiran Imam besar dunia, siapa lagi kalau bukan Imam Syafi’i. Gaza Palestina.

    Negara-Negara yang kaya peninggalan sejarah Islam, aku sering mengatakan kepada murid-muridku. 

    “Jangan kepo dengan urusan orang atau urusan yang tidak menambah keimanan kita, tapi kepolah kepada sejarah agama kita, agar kecintaan pada agama ini bertambah, lihatlah bagaimana kerennya mereka, hingga 2/3 dunia pernah kita kuasai dulunya!”

    “Arunika, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?”

    Kututup buku Saksikan aku seorang Muslim yang sudah beberapa hari setia menemaniku tatkala sendiri, tapi tidak kunjung selesai, walau sudah beberapa kali menuntaskannya tetap saja penyajian Salim A Fillah itu menarik, caranya menyampaikan kisah para sahabat sungguh mampu membuatku bisa membayangkan kejadian dan tentunya menambah kerinduan pada mereka yang sudah terlebih dahulu berjuang di jalan Allah.

    Waalaikum salam, Alhamdulillah ana bikhair, na’am tafaddhal!” 

    Aku memberinya kesempatan untuk bertanya, karena tidak bisa aku pungkiri, dia banyak memberiku penjelasan tentang bahasa arab, walau dulu sudah pernah aku pelajari di Pesantren.

    “Aku melihatmu menulis tentang Maroko, apa yang kau ketahui tentang Maroko, dan apakah kau dekat dengan laki-laki dari Maroko?”

    Kutarik napasku perlahan, pertanyaan di luar dugaan, kulihat foto profilnya di Whatsapp sudah berubah menjadi foto dirinya sendiri, bibirku tersenyum, seakan ia ingin tebar pesona.

    “Aku tidak tau banyak!”

    “Tapi, kau menuliskannya dengan sempurna!”

    “Iya, beberapa hal aku sudah mengetahuinya dan disempurnakan oleh teman-temanku!”

    “Apakah di antara mereka itu ada juga laki-laki?”

    Bibirku mengembang, kata mereka laki-laki Arab memang punya rasa cemburu yang luar biasa, tapi aku bukan isterinya.

    “Boleh aku tau siapa dia dan dimana dia tinggal?!”

    “Oh, Namanya Sofyan. Dia di Belgia tapi berkebangsaan Maroko. Aku tidak tahu tepatnya dimana karena aku tidak menanyakannya.”

    “Apakah dia menanyakanmu hal-hal pribadi?”

    “Maksudmu seperti pertanyaanmu tentang hal pribadiku?”

    Lelaki berlesung pipi itu mengirimkan emot tertawa.

    “Kami hanya bercerita seputar Islam di Belgia, dan dia membandingkannya di Maroko dan menanyakan bagaimana di negaraku.”

    “Kau bisa menanyakan apapun yang kau mau padaku saja.”

    Keningku mengerut membaca kalimat itu.

    “Maksudmu?”

    “Jika kau ingin tahu tentang Islam di negara lain, aku bisa menjelaskannya padamu. Aku pernah tinggal di Perancis, Belanda, Jerman. Dulu sempat ingin ke Belgia, tapi aku menolaknya!”

    Aku memilih untuk tidak membalas lagi, karena aku tidak ingin masuk ke kehidupan pribadinya lebih dalam.

    Malam kian larut yang terdengar hanya suara detak jarum jam dinding di kamarku. Sejak Bang Amir pergi meninggalkanku, aku sering bingung  apa yang ingin kulakukan, benar-benar sunyi. Terkadang aku bisa mengatasinya sendiri, tapi terkadang aku terjebak dalam sedih, menangis seorang diri.

    Lelaki yang telah pergi untuk selamanya itu yang telah membuat duniaku sempurna, membuatku semakin paham akan makna cinta yang sebenarnya dengan memperlakukanku bak puteri raja. Dia akan mendengarkan semua ceritaku dengan seksama, memelukku di setiap kesempatan tawa atau air mata, apalagi ketika ada masalah di tempatku bekerja, pelukan dan kecupan di kening sudah lebih dari cukup untukku. Tenang sekali rasanya.

    “Arunika, kau bisa, pasti bisa sayang!”

    Begitulah yang ada di benakku ketika aku mulai merasa tidak berdaya, wajahnya, senyumnya, hadir seketika, menambah sesak sekaligus semangat datang dalam satu waktu.

    “Arunika, maukah kau bertaaruf dengan adikku?”

    Setelah muqaddimah yang hangat sekali, ternyata Hafsa ingin memperkenalkanku dengan adiknya. Bibirku tersenyum, lucu saja.

    Aku akui dia wanita yang baik, bahkan sangat baik, menjadi wanita Maroko yang menikah dengan lelaki Aljazair membuatnya memilih untuk tinggal di Negara suaminya, walau dia anak perempuan satu-satunya.

    “Namanya Mohammad Yasin, usianya 33 tahun, dia seorang Hafizh Qur’an, sudah menyelesaikan magister, tingginya 185 cm, dan beratnya aku kurang tau hahahah!’

    Aku bingung mau membalas apa.

    “Dia adikku nomor tiga bungsu di rumahku, tepat di bawahku, aku sudah bercerita tentangmu padanya, bahkan sudah memberikan facebookmu juga, dan dia setuju untuk mengenalmu lebih jauh!”

    “Lalu kau bilang apa?”

    Adikku mulai mengintrogasiku saat aku menceritakan percakapan itu padanya.

    “Dia masih terhubung dengan Rasulullah saw!” jawabku sambil menatap matanya.

    “Serius?? Dari mana kau tahu?”

    “Aku sudah mengenal dekat Hafsa, kakaknya, diantara semua muslimah aku paling sering berkomunikasi dengannya, dari keturunan Ayahnya masih tersambung ke Rasul saw!”

    “Ya Allah, speechless aku, tapi kek mana kalau dia gak jujur?”

    “Aku sudah video call dengannya bukan sekali dua kali, aslinya dia bercadar, bahkan anaknya hafal Qur’an, kurasa gak ada alasan kenapa dia harus berbohong!”

    “Jadi? Kau memilih Yasin ini?”

    “Aku tidak bilang begitu, aku hanya bercerita, jika kau mau, maka akan ku perkenalkan untukmu!”

    Terdengar tawa darinya, “Bersyukurlah kau Kak, minimal Allah swt masih mengirimkan orang-orang baik datang padamu, padahal kau sudah janda, dan semuanya lajang, luar biasa kamu!”

    Aku memilih mengabaikannya, gaya bahasanya memang begitu, jika tidak mengenalnya maka bisa sakit hati berulang kali.

    “Ada Fotonya nggak?”

    Aku memberikan hpku, karena Hafsa sudah mengirimkan beberapa foto adiknya itu. Aku deg-deg an melihat ekspresi adikku, tidak ada komentar, tidak seperti ketika dia melihat foto Kholid.

    “Benar-benar pilihan yang sulit Kak!”

    “Bagaimana menurutmu?” Tanyaku.

    Wajahnya kembali serius menatap foto, seakan dia adalah Mama Louren yang akan meramal mimpi.

    “Sekilas dari wajahnya dia orangnya pendiam!”

    “Terus?” entah kenapa aku ingin tau lebih banyak.

    “Kalau dibanding Kholid, beda lah Kak, karena usia juga kan beda. Kholid itu elegan,  kalau Yasin ini aku lihat dia ganteng kutengok pake baju apapun dia tetap keren.”

    Aku tertawa ngakak, kadang-kadang aku heran melihat adikku, tiba-tiba dia bisa mengeluarkan bahasa diluar dugaan seperti saat ini.

    “Serius, dia tau dia ganteng jadi tidak perlu tebar pesona. Dia ini lebih tegas kayaknya walaupun pendiam kalau dipasangkan ke karaktermu sih nanti susah, kau kan kerasa juga, cengeng, tapi kalau Kholid itu orangnya lembut.”

    “Maksudmu Yasin ini gak lembut?”

    “Aku sih gak bilang gitu, Cuma dia ini mirip Abang Amir lah, kan wajah Abang itu tegas dan anak muda gitu bawaannya, tapi lembut kan samamu!”

    Aku mencoba memahami kalimatnya.

    “Tapi intinya, kau sendiri sudah memutuskan untuk menikah lagi nggak, kalau kau belum siap, jangan PHP mereka dengan sikap diammu itu.”

    Aku hening, kubiarkan angin menyapa lembut wajahku, mendung masih saja setia menemani langit, menurunkan gerimis, memberikan basah pada bumi.

    “Jika Abang pergi duluan, apakah kau akan menikah lagi?

    Pertanyaan yang hingga akhir hayatnya tidak pernah kuberikan jawaban, karena saat itu membayangkan kehilangannya saja membuat hatiku ngilu, apalagi setelah kehilangannya, entahlah, cinta, mimpi, seakan ikut terkubur di lahat sana, bersamanya, lelaki yang telah meninggalkanku di samudera luas seorang diri

     

     

    Kreator : Murni Harsyi Passya

    Bagikan ke

    Comment Closed: Senja Di Langit Maroko Part 4

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 14: Kopi Klotok Pagi hari yang cerah, secerah hati Rani dan semangat yang tinggi menyambut keseruan hari ini. Ia bersenandung dan tersenyum sambil mengiris bahan untuk membuat nasi goreng. Tante, yang berada di dekat Rani, ikut tersenyum melihat Rani yang bersenandung dengan bahagia. “Rani, kamu ada rasa tidak sama Rama? Awas, ya. Jangan suka […]

      Sep 18, 2024
    • Part 13 : Candi Borobudur Keesokan harinya Rama sibuk mencari handphone yang biasa membangunkannya untuk berolahraga disaat Rama berada di Jogja. Rama tersenyum dan semangat untuk bangun, membersihkan diri dan segera membereskan kamarnya. Tidak lupa Rama juga menggunakan pakaian yang Rapih untuk menemui Rani hari ini. Sementara Rani seperti biasa masih bermalas-malasan di dalam kamarnya […]

      Sep 07, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021