Cintailah mereka orang orang yang mencintai Tuhan, karena disana akan kau dapati cinta yang membawamu ke surga.
“Apakah kau masih mencintai suamimu?”
Yassin, lelaki yang aku kenal dari seorang wanita bernama Hafsa memberiku pertanyaan muqaddimah seperti itu. Hafsa adalah seorang aktivis dakwah, berjuang dengan Jama’ah Ikhwan yang didirikan oleh Imam syahid Hasan Al Banna. Entah kenapa, walau belum lama saling sapa, tapi kami sangat dekat sekali. Mungkin inilah ukhuwah islamiyah, karena Allah swt lah yang menyatukan hati-hati orang yang beriman, walau belum mengenalnya dengan waktu yang lama.
“Iya, aku sangat mencintainya! Apakah ini masalah buatmu?”
Aku sedikit kesal, tapi aku ingat, kata Hafsa, Yassin bukan orang yang berbasa basi, dia laki-laki yang tidak banyak bicara, di antara mereka bersaudara, Yassin adalah anak yang paling pendiam, paling cerdas juga paling baik.
“Tidak, itu hakmu, tapi ketika kau sudah menikah lagi, maka cukup kau simpan cinta itu di dalam hatimu saja, kau perlu menjaga hati suamimu yang baru!”
Aku tidak membalasnya.
Hatiku dilema, inilah yang sejujurnya aku belum bisa, karena cintaku pada Bang Amir tak cukup dengan uraian kata. Aku sangat mencintainya, lebih dari pada ribuan makna yang kurajut dengan aksara.
“Rabb…jika memang usiaku lebih panjang darinya, maka bisakah kau berikan usia itu untuknya saja?”
Inilah do’aku di Hijir Ismail, di bawah naungan Ka’bah, berharap dengan sepenuh hamba, meminta dengan linangan air mata, dikerumunan ratusan manusia, aku bermunajat agar lelaki halalku itu diberikan tambahan usia, tapi tetap saja pada akhirnya aku tinggalkan untuk selamanya, sebab ,Allah swt Maha tau segalanya.
“Arunika, apakah kau masih disana?”
Aku masih memilih diam, kubiarkan saja pesan masuk itu tidak berbalas. Sore itu tidak ada senja, karena mendung selalu saja menyapa mayapada, sudah berbulan lamanya, dan bumi tetap setia, tak peduli panas maupun hujan yang datang padanya.
Kurebahkan tubuhku yang kini rasanya tak lagi bernyawa, setiap harinya kulalui begitu hampa, menunggu ajal tiba dan segera bertemu dengannya, lelaki bermata indah yang sudah membawa semua cinta, bukankah penawar rindu hanya dengan bersua?
“Kau sering-seringlah telpon Kakakmu, dia terlihat ceria, tapi hatinya itu hancur berantakan cuma tak dilihatkan saja pada kita!”
Suara adikku Salsabila tiba-tiba saja menggema di telingaku ketika ia memperagakan bahasa Emak, ternyata Emak sering menyuruhnya untuk lebih peduli padaku. Padahal gadis berhati hati baik itu sudah sangat peduli.
Bibirku tersenyum, ku ambil buku pelajaran yang akan kurangkum dan ku sampaikan esok hari pada anak anak didikku, sore itu aku tidak ingin berteman dengan air mata.
“Astaghfirullah!” Ucapku.
Ternyata aku kalah, air mata itu tidak sabar menerobos netra. Jatuh bercucuran ketika kata-kata Emak masih saja terngiang di telinga.
“Aku tidak tau dia belajar kesabaran dari mana, merawat suami di rumah mertuanya bukan hal yang mudah, segala macam cobaan disimpannya rapat sampai aku Emaknya tidak tau apa-apa, ternyata anakku menanggung beban yang luar biasa! Aku Emaknya masih hidup, tidak kubiarkan anakku itu menderita, tak akan ku izinkan seorangpun yang menyakiti hatinya!”
Malam itu aku bisa merasakan hati Emak, sangat bersedih, aku tau, setegar apapun aku di hadapannya, dia adalah wanita, tentu saja sangat memahami arti dari sebuah isyarat, apatah lagi aku adalah puterinya.
“Sudah, itu artinya kau berhasil mendidiknya, sejauh ini dia mampu bertahan karena iman dihatinya, dia percaya bahwa ujian yang menimpanya adalah bentuk kasih sayang Allah swt, dan seperti yang dikatakannya pada kita, ini adalah takdir yang ia minta dulu, dan untuk sampai pada takdir berikutnya, takdir ini harus di laluinya, pilihannya hanya ada dua, sabar atau putus asa, dan anak kita memilih sabar!”
Suara Bapak terdengar bijaksana menenangkan Emak, mereka berdua memang sering bercerita tentangku, tanpa sengaja aku mendengarkan pembicaraan itu.
Ku tarik napas dalam-dalam, mencoba merunut semua perjalanan hidupku, dan kudapati takdir Allah swt indah, sangat Indah. Semuanya terbingkai dan saling terhubung sempurna dengan masa kecilku dan orang orang yang hadir dalam hidupku.
Baik atau buruk yang menimpaku bukanlah masalah, yang terpenting bagaimana aku bisa menyikapinya dengan baik, dan aku ingin menjadi salah satu manusia yang Allah swt berikan kabar gembira
وبشر الصابرين
Berikanlah kabar gembira bagi orang-orang yang sabar.
“Arunika! Bisakah aku menunggu sampai kau memberiku jawaban itu?”
“Jangan, aku tidak ingin mengikatmu dengan apa-apa, jika kau takdirku maka percayalah kita akan bertemu, walau kau di ujung Afrika bagian Utara!”
“Apapun jawabanmu aku akan terima, aku hanya ingin menunggu!”
Khalid, anak semata wayang yang kini memilih hidup dengan kedua orang tuanya, Belgia adalah Negara impian selanjutnya harus ia tolak, karena kepergian Fatima, membuatnya trauma berada jauh dari orang yang ia cintai.
“Aku ingin bercerita seperti dulu, tentang kebudayaan, agama, bahasa, dan apapun itu selain perasaan!” Jawabku.
“Arunika, jangan terlalu keras dengan dirimu, aku tau kau terluka, dan luka itu harus di obati, bukan disembunyikan!”
“Takdir tidak memberikan luka, jika pun ada, luka itu bukti cinta, aku hanya ingin berusaha menerima sepenuh ikhlas, kau sendiri sudah menyembunyikannya 5 tahun!”
“Apa? Apa yang kusembunyikan?”
“Astaghfirullah!” Bathinku, aku teringat bahwa dia belum bercerita apapun tentang Fatima padaku.
“Arunika, apa yang 5 tahun kusembunyikan?”
Hatiku deg-deg an, bagaimana jika dia tidak suka kalau aku tau masa lalunya, atau bagaimana jika Ibunya akan kecewa padaku karena tidak bisa menjaga amanahnya.
“Melihatmu, aku menemukan jalanku kembali!!” Lanjutnya, tanpa peduli dengan pertanyaannya yang belum aku jawab.
“Maksudmu?” Tanyaku, pada lelaki yang pernah ditinggal pergi, oleh wanita yang ia cintai, tentu saja duka itu masih ia simpan rapat sebab Fatima, gadis berjilbab itu menjadi satu-satunya.
Lalu sebuah foto terkirim padaku, wanita berjilbab biru muda dengan Djellaba baju khas Maroko penuh corak bunga senada dengan warna tudung kepala.
“Namanya Fatima Rahimahallah!”
Akhirnya, Lelaki itu bercerita, tidak banyak tapi cukup bermakna. Gadis bermata coklat keabuan itu beruntung, lelaki sebaik dan setampan Kholid sangat mencintainya.
Ketika cinta menjadikan Qais gila setelah mengenal Laila, maka Ali ra memilih menyimpannya rapat nan elegan saat hatinya berdebar mendengar suara Fatimah bin Rasulullah saw. Masing-masing manusia punya cara berbeda menerjemahkan cinta dan merealisasikannya. Yang perlu diingat adalah, ada syariat yang membatasi semua kebebasan itu.
“Kau menjalani ta’aruf sekaligus dengan dua lelaki?”
Hana menatapku tidak suka, wajar saja, jika pikirannya tentangku begitu.
“Aku dan Kholid tidak bertaaruf, kami berada di grup yang sama dan seperti teman yang lainnya.”
“Tapi dia menyukaimu bahkan mengajakmu menikah!”
“Apakah itu salahku? Aku sudah bilang tidak ingin membahas itu, aku juga..!”
“Tetap aja salah, kau bahkan sudah bicara dengan Ibunya!”
Aku hening, menyalahkan diri sendiri, semua yang terjadi akan menjadi kesalahanku, terkadang memang ada masa aku akan membuat diriku sebagai orang yang patut disalahkan atas semuanya, dan ini tidak baik.
“Lalu bagaimana dengan Yassin?” Matanya tetap tajam.
“Dia tidak banyak membicarakan masalah hati!”
Yassin memang tidak pernah membahas masalah hati, setelah pertanyaan itu, dia lebih suka bercerita tentang bagaimana Islam berjaya di Andalusia.
Yah, dia sangat suka membaca buku apalagi tentang sejarah Islam dan seputar Islam, aku mengetahui banyak hal darinya lengkap dengan dalilnya.
“Jadi kau lebih condong ke Yassin?”
“Aku tidak bilang begitu, aku hanya bercerita tentang dia, Yassin bercerita tentang Syaikh Ahmad Yassin ketika aku mengatakan namanya mirip dengan seorang pejuang dakwah Palestina, dia juga seorang penulis!”
“Aku tau, dari gaya bicaramu, kau lebih condong padanya!”
“Tidak, Kholid juga lelaki yang baik, hidupnya sangat teratur, aku menilainya dari rutinitas yang ia sampaikan padaku ketika kami bercerita kebiasaan di Negaranya.”
“Maksudmu?”
“Dia bercerita kalau dia sebelum pergi akan menyiapkan sarapan sendiri, walau dia anak satu-satunya, tapi dia terbiasa mandiri, bahkan di kamarnya semua tersedia, mesin cuci, kulkas, kecuali dapur!”
“Masya Allah, kau melihatnya?”
“Nggaklah, dia yang cerita, bahkan dia yang menyiapkan sarapan untuk ayah dan ibunya, katanya itulah salah satu wujud baktinya pada mereka, sebab dia baru pulang kerja di sore hari!”
“Mantablah, melihat laki-laki yang baik itu, lihat dia memperlakukan Ibunya!” Kata Hana mantab,
Aku tertawa dalam hati, bagaimana dia bisa memberiku nasehat seperti itu bahkan dia sama sekali belum menikah.
“Kau Istikhorohkanlah, jangan permainkan anak orang!” Gadis bermata sipit itu tertawa.
“Menikah itu harus sekufu!” Jawabku.
“Maksudnya kau merasa tidak sekufu dengan Kholid?”
“Entah lah, dari segi wajah, dia rupawan, mendapatkan lebih cantik dariku tentu saja gampang untuknya. Kaya juga, aku melihat rumahnya ketika video call dengan Ibunya, yah kau tau sendirilah membedakannya, pekerjaannya bagus!”
“Terus?”
Aku memakan bakso yang sudah mulai dingin, suara pengamen kini mengganggu ketenangan sesi curhat kami. Belum lagi pengunjung pun satu per satu memadati ruko yang kami duduki sudah setengah jam yang lalu, di pinggiran jalan yang masih gerimis, musim hujan memang lebih seru makan yang hangat dan pedas.
“Dari segi Ilmu, dia sudah S2, ilmu agamanya juga banyak, aku tidak tau dari segi mana keunggulanku, minimal aku punya satu!”
Hana, wanita yang sudah bertahun itu terdiam, dan melumat lamat mie ayamnya, mungkin juga ia bingung cara menjawabku.
“Aku mencintaimu untuk menutupi semua kekuranganmu!” Bang Amir sering mencandaiku dengan kata-kata itu ketika aku menanyakan kenapa dia memilihku dan memantapkan cinta padaku.
Bibirku tersenyum, menelan kelu, menerobos gerimis yang tak kunjung reda,
“Abang, kenapa kau meninggalkanku secepat ini!” Tangisku pecah bersama hiruk pikuk kenderaan di jalan raya menuju pulang ke rumah.
“Kau tidak bisa memaksakan seseorang untuk mencintaimu, pun kau tidak bisa melarang seseorang untuk tidak mencintaimu sebab cinta milikNya!” Tulis Kholid.
Di waktu bersamaan, pesan dari Yassin juga masuk ke ponselku.
“Assalamu’alaikum! Arunika, aku sudah memikirkan untuk datang ke Indonesia, bagaimana menurutmu?”
Kreator : Murni Harsyi Passya
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 14: Kopi Klotok Pagi hari yang cerah, secerah hati Rani dan semangat yang tinggi menyambut keseruan hari ini. Ia bersenandung dan tersenyum sambil mengiris bahan untuk membuat nasi goreng. Tante, yang berada di dekat Rani, ikut tersenyum melihat Rani yang bersenandung dengan bahagia. “Rani, kamu ada rasa tidak sama Rama? Awas, ya. Jangan suka […]
Part 13 : Candi Borobudur Keesokan harinya Rama sibuk mencari handphone yang biasa membangunkannya untuk berolahraga disaat Rama berada di Jogja. Rama tersenyum dan semangat untuk bangun, membersihkan diri dan segera membereskan kamarnya. Tidak lupa Rama juga menggunakan pakaian yang Rapih untuk menemui Rani hari ini. Sementara Rani seperti biasa masih bermalas-malasan di dalam kamarnya […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Senja Di Langit Maroko Part 5
Sorry, comment are closed for this post.