PART 1
Langit sore masih berwarna jingga ketika seorang anak kecil berusia lima tahun berlari-lari kecil di sepanjang jalan tanah menuju rumahnya. Langkahnya ringan, dan senyum sumringah tidak pernah lepas dari wajah mungilnya. Di tangannya, ia menggenggam erat sebuah foto hasil karya hari ini di taman kanak-kanak.
“Ini… buat Ibu!” katanya riang begitu sampai di rumah.
Foto itu bergambar dirinya, berdiri dengan seragam merah-putih kecil, diapit oleh bunga kertas warna-warni. Ia menyerahkannya dengan bangga kepada penghuni rumah. Semua tersenyum kecuali satu orang. Pamannya, tatapan pamannya dingin, menusuk. Ia mengambil foto itu, menatap sebentar… lalu puih! meludahinya dan menginjak-injaknya hingga kotor. Suara tawa seisi rumah mendadak lenyap.
Anak kecil itu hanya berdiri terpaku. Matanya bergetar, tangannya mengepal. Perlahan ia memungut kembali foto itu, membersihkannya dengan baju seragam yang masih melekat di tubuhnya. Tanpa sepatah kata pun, ia masuk ke kamar. Wajahnya sulit dibaca — bukan marah, bukan sedih, tapi kosong. Hari itu, sesuatu di dalam dirinya berubah, Itulah hari pertama ia belajar untuk tidak menangis. Hari-hari berlalu, Ia tumbuh dalam rumah yang lebih sering dingin daripada hangat. Setiap ada acara keluarga, ia selalu duduk di pojok ruangan, tertawa bukan untuk didengar, dan bicara bukan untuk ditanggapi.
Ia sering diejek karena tubuhnya kecil, karena ibunya miskin, karena bajunya bukan baru. Namun ibunya selalu berkata pelan,
“Yang penting hatimu bersih, Nak. Dunia akan melihat itu suatu hari nanti.”
Ketika masuk SD negeri, ia membawa semangat yang tak kalah dari anak lain. Buku bekas, sepatu tambal, baju seragam hasil pemberian tetangga tapi putihnya bersinar karena dicuci ibunya dengan daun-daun yang dipercaya membuat kain kembali bersih seperti baru, dan benar saja, baju itu tampak seperti baju baru di tubuhnya.
Di sekolah, ia selalu ceria. Guru-gurunya menyayanginya karena ia cepat belajar dan rajin menolong teman. Setiap ujian, namanya selalu berada di papan peringkat teratas, namun setiap kali bel pulang berbunyi dan langkahnya mendekati rumah, sinar matanya perlahan redup. Ia kembali menjadi sosok pendiam wajah tanpa senyum, kata tanpa suara.
Neneknya sering memarahinya setiap kali ia belajar di rumah.
“Perempuan tak perlu sekolah tinggi!” katanya. “Akhirnya juga ke dapur!”
Maka ia belajar diam-diam, menunggu saat neneknya pergi, menulis di bawah cahaya redup lampu minyak.
Lima belas tahun berlalu. Gadis kecil itu kini telah tumbuh menjadi wanita dewasa. Ia tampak ramah, ceria, dan disukai banyak orang. Namun di balik senyumnya, tersimpan sesuatu yang tidak banyak orang tahu. Ada sisi gelap yang ia sembunyikan rapat luka yang tak pernah sembuh, dendam yang ia simpan di balik tawa. Ia pandai menutupi semuanya dengan kesopanan dan kebaikan. Namun di balik matanya yang teduh, ada sesuatu yang menunggu waktu untuk bangkit.
Malam itu, ia membuka laci meja kecil di kamarnya. Foto lama itu masih tersimpan di sana foto yang dulu diinjak dan diludahi pamannya. Sudah pudar, tapi masih utuh. Ia menatapnya lama, lalu berbisik pelan,
“Sudah waktunya…” Lalu ia tersenyum — bukan senyum ceria seperti dulu, tapi senyum yang sulit ditebak.
Kreator : Ferayanti, S. HI.
Comment Closed: SENYUM YANG MENYEMBUNYIKAN TANGIS
Sorry, comment are closed for this post.