KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Sesal Yang Tak Menjadi Sesal

    Sesal Yang Tak Menjadi Sesal

    BY 02 Jan 2026 Dilihat: 29 kali
    Sesal Yang Tak Menjadi Sesal_alineaku

    Tentang dua hati yang belajar saling mendekat tanpa tergesa, menjaga jarak bukan karena ragu — tapi karena ingin melangkah dengan benar.

     

    Bab 1. Pinta Mendadak

    Hari ini, Sabtu yang cerah, cuaca tidak terlalu terik. Menjelang waktu istirahat makan siang, para pegawai PT. Cahaya Cemerlang sedang merampungkan tugas masing-masing.

    Tak terkecuali di Divisi Pemasaran yang sibuk menangani periklanan produk. Perusahaan ini bergerak di bidang garmen, khusus memproduksi pakaian remaja, sehingga strategi pemasarannya pun harus kreatif.

    Kepala Divisi Pemasaran tiba-tiba sudah berdiri di depan meja sekretarisnya. Rama Putra Pranata adalah anak tunggal dari CEO PT. Cahaya Cemerlang.

    “Ta, apa jadwal saya siang ini?” tanya Rama.

    Lelaki berusia 32 tahun itu cukup tampan dan cerdas, lulusan universitas terbaik di Indonesia, dengan pembawaan santai namun tegas.

    Walau masih muda, kinerjanya tidak diragukan. Sebelum menggantikan ayahnya, Pranata Wibawa, Rama diharuskan merintis karir dari bawah.

    “Sebentar, Pak, saya cek,” Sinta segera membuka agenda kerjanya.

    “Ada, Pak. Meeting dengan PT. Kencana Biru,” jawab Sinta sambil menelusuri baris-baris catatannya.

    “Mereka minta ketemu di Restoran Samudera setelah makan siang,” tambahnya.

    “Baiklah, kalau begitu, lebih baik kita ke sana sekarang sekalian makan siang,” kata Rama sambil melihat jam di tangan kanannya.

    “Kamu ikut saya,” kata Rama, tersenyum tipis.

    “Baik, Pak. Saya siapkan dulu berkasnya, kita berangkat sepuluh menit lagi, ya?” tanya Sinta memastikan.

    “Iya, nanti kita ketemu di lobi. Jangan ada yang tertinggal,” pesan Rama sebelum melangkah pergi.

    Sinta mengangguk, cepat-cepat merapikan dokumen yang diperlukan.

    Gadis 26 tahun berparas ayu dan ramah ini sudah dua tahun menjadi sekretaris Rama. Karena kinerjanya yang cekatan dan selalu memahami ritme kerja Rama, Sinta hampir selalu ikut dalam setiap pertemuan penting.

    Mereka sudah terbiasa makan siang bersama, apalagi bertemu banyak rekan bisnis, sehingga tidak ada gosip miring.

    Mereka berdua menjaga profesionalitas, memisahkan pekerjaan dan kehidupan pribadi.

    Pertemuan dengan PT. Kencana Biru berjalan lancar. Berkat kepiawaian Rama bernegosiasi, kesepakatan kerja sama tercapai dengan baik.

    “Terima kasih, Pak Rama. Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan PT. Cahaya Cemerlang,” ujar manajer PT. Kencana Biru sambil berjabat tangan.

    “Sama-sama, Pak. Kami juga percaya kerjasama ini akan saling menguntungkan.”

    “Nanti sekretaris saya akan menghubungi untuk tindak lanjut,” balas Rama dengan senyum ramah.

    Mereka pun berpisah setelah basa-basi seperlunya. Rama dan Sinta berjalan menuju parkiran. Mereka tidak menggunakan sopir hari ini, Rama memang lebih suka menyetir sendiri jika masih di dalam kota.

    Mobil putih keluaran Jepang itu baru saja memasuki jalan raya ketika ponsel Sinta berdering.

    Sinta melirik layar ponselnya lalu menjawab panggilan.

    “Assalamualaikum,” sapa Sinta sambil memberi isyarat meminta izin kepada Rama.

    “Waalaikumussalam. Apa kabar, Dek?” terdengar suara tawa ringan di seberang sana, suara yang sudah lama tidak Sinta dengar.

    “Alhamdulillah, Bang. Abang gimana kabarnya? Ayah dan Ibu sehat, kan?” tanya Sinta, menahan rindu yang tiba-tiba menyeruak.

    Rama tetap fokus pada jalanan yang ramai, tetapi sesekali melirik Sinta, menangkap raut wajahnya yang berubah lembut saat mendengar suara dari seberang sana.

    “Kami sehat semua, Dek. Abang ganggu nggak?” tanya Ilham dengan suara yang terdengar agak sedikit ditahan.

    Ilham, kakak Sinta satu-satunya yang tinggal bersama orang tua mereka di Pulau Sumatera, bekerja sebagai pegawai negeri sipil di kotanya.

    “Enggak kok, Bang. Ini Sinta lagi di jalan, mau balik kantor,” jawab Sinta.

    “Oh… beneran nggak ganggu ya? Sebenarnya, Abang cuma mau bilang… kamu bisa pulang besok nggak, Dek?” suara Ilham terdengar lebih pelan, seperti sedang menimbang sesuatu.

    “Besok? Kenapa mendadak banget, Bang? Nanti Sinta kabari lagi, ya, harus izin cuti dulu kalau mau pulang,” Sinta melirik ke arah Rama, berusaha membaca situasi.

    “Iya, Dek. Tapi kami semua berharap kamu bisa pulang besok,” ucap Ilham lagi, nadanya seperti menyimpan sesuatu yang belum terucap.

    Sinta terdiam beberapa detik sebelum menjawab, “Iya, Bang, nanti Sinta kabari lagi, ya. Salam untuk Ayah dan Ibu. Assalamualaikum.”

    “Waalaikumussalam,” tutup Ilham.

    Sinta menarik napas pelan, memandangi layar ponselnya yang kini gelap. Perasaannya tidak tenang. Entah kenapa, ada firasat tidak nyaman di hatinya.

    “Kenapa?” tanya Rama, tetap memegang kemudi sambil menoleh sekilas.

    “Ehm… saya boleh cuti, Pak, tiga hari?” Sinta membalikkan pertanyaan, ragu.

    “Kamu diminta pulang, ya?” Rama menebak.

    “Iya, Pak. Tapi saya nggak tahu kenapa kok mendadak banget,” kata Sinta, suaranya sedikit gemetar.

    Rama terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Ya sudah, mungkin memang ada hal penting. Kamu urus saja surat cutinya. Agenda tiga hari ke depan titip ke Lili, ya.”

    “Siap, Pak. Makasih ya, nanti Sinta bawakan oleh-oleh,” ujar Sinta, senyumnya kembali terbit walau matanya masih menyimpan kerisauan.

    Rama hanya tersenyum, “Nggak usah repot-repot.”

    Mobil mereka melaju melewati padatnya siang, sementara Sinta hanya memandangi ponselnya, hatinya dipenuhi tanya akan apa yang menantinya di rumah.

    **

    Sepulang kantor, Sinta segera menyiapkan tas kecil untuk pulang ke kampung halaman. Ia memandangi foto kedua orang tuanya yang terpajang di meja apartemen sewaan. 

    Lalu tiba tiba dia juga teringat kakeknya, Tadi, saat Ilham menghubungi dia lupa menanyakan kabar. 

    “Kakek sehat, kan” batinnya.

    Di sela rasa lelah, Sinta menenangkan hatinya dengan membaca doa sebelum tidur, berharap besok semuanya baik-baik saja.

    **

    Pukul 4 pagi, Sinta terbangun dan mengecek pesan di ponselnya. Ada satu pesan dari Ilham.

    “Dek, kalau sudah sampai kabari ya.”

    Sinta mengusap wajahnya, mencoba menepis rasa cemas yang masih menggelayuti.

    Sinta bersiap dengan celana jeans yang dipadukan kemeja lengan panjang, dan sepatu kets kesayangannya. Satu hal yang tetap ia jaga: tidak suka memakai riasan tebal.

    Rambut panjangnya ia kuncir separuh, sisanya tetap tergerai menutupi leher jenjangnya.

    Bagi orang yang tidak mengenalnya, Sinta akan terlihat seperti mahasiswi. Tubuhnya yang mungil sering mengecoh usia aslinya.

    Ia memesan taksi daring untuk menuju bandara, berharap bisa sampai rumah sebelum Zuhur.

    Dalam perjalanan, Sinta memandangi langit yang mulai memerah. Kenangan masa kecil bersama kakaknya terlintas satu per satu, terutama saat mereka bersama kakek yang sering mengajaknya ke kebun belakang rumah. Sinta tiba-tiba teringat saat kakeknya mengajarinya menanam cabai dan memetik mangga dengan galah bambu.

    Senyum tipis muncul di wajahnya, namun segera pudar ketika rasa khawatir kembali menyergap. Ia hanya berharap tidak ada kabar buruk yang menantinya.

    Saat tiba di Bandara, Sinta sempat membeli oleh-oleh kecil untuk Ayah dan Ibu, dua bungkus kue kering kesukaan mereka. 

    Ia duduk di ruang tunggu bandara, memperhatikan orang-orang yang lalu lalang dengan berbagai ekspresi, dari senang hingga gusar.

    Sinta memandangi pesan Ilham, jarinya hendak mengetik balasan, tetapi urung. Ia memilih mengirimkan pesan singkat, “Berangkat sekarang, Bang.”

    Perjalanan pulang ini bukan sekadar perjalanan biasa, tetapi tentang kerinduan, ketakutan, dan harapan seorang anak yang ingin memastikan keluarganya baik-baik saja.

    Pesawat yang membawa Sinta pun lepas landas, meninggalkan kota yang selama ini menjadi tempatnya mengejar mimpi. 

    Dari jendela, ia memandangi awan-awan putih yang bergerak perlahan, membawa doanya terbang tinggi, berharap semua baik-baik saja di rumah, terutama untuk kakek yang diam-diam sedang ia rindukan.

    **

    Bab 2. Ternyata Kakek Sakit

    Akhirnya, Sinta pulang juga. Setelah dua tahun bekerja di Jakarta, ini pertama kalinya ia kembali ke kota kelahirannya. Kota yang damai dengan sawah membentang, udara yang masih segar, dan jalanan yang tak seramai Jakarta. Pohon-pohon besar masih berdiri di tepi jalan, menjadi payung bagi siapa saja yang lewat.

    Bukan karena Sinta tidak rindu dengan keluarganya. Hanya saja, ia enggan bertemu Kakek Teguh.

    Kakek Teguh, ayah dari ibunya, terkenal keras kepala dan suka mengatur. Mungkin karena ibunya adalah anak tunggal, Kakek merasa berhak mengatur hidup anak dan cucu-cucunya.

    Padahal, ayah dan ibu Sinta tak pernah mengekang anak-anak mereka. Mereka sangat menghormati Kakek Teguh, bahkan jika itu berarti menunda rencana mereka sendiri.

    Sejak kecil, Sinta adalah cucu kesayangan Kakek Teguh. Kakek yang menuntunnya belajar membaca Al-Qur’an, yang menuntunnya berjalan di pematang sawah untuk melihat burung-burung bangau. Sinta selalu merasa aman saat digendong Kakek, walau bau minyak angin kerap menempel di bajunya.

    Namun, semua berubah ketika Sinta memutuskan untuk kuliah di Jakarta. Kakek menentang keras, ingin agar Sinta tetap di kota kecil mereka, kuliah di universitas daerah agar dekat dengan keluarga. Kakek takut Sinta jauh dari pantauan, takut Sinta terpengaruh pergaulan bebas, takut Sinta lupa pulang.

    Hanya karena bujukan ibu, Kakek akhirnya mengalah dengan satu syarat: Sinta harus segera menikah setelah lulus.

    “Menikah.” Kata itu tidak pernah masuk dalam rencana hidup Sinta. Ia masih ingin menikmati masa mudanya, berkarier, membahagiakan orang tua dengan hasil jerih payahnya sendiri.

    Karena itu, setelah lulus, Sinta memilih tetap tinggal di Jakarta dan bekerja, meski itu berarti harus menahan rindu pada orang tuanya, dan juga menjauh dari Kakek yang kecewa.

    **

    Selama di pesawat, Ingatannya berputar ke masa kecilnya saat bermain di halaman rumah Kakek, memetik rambutan, memanjat pohon jambu, atau membantu Kakek memindahkan bibit cabai ke polybag di belakang rumah.

    Ia tersenyum kecil, namun senyum itu segera pudar, tergantikan dengan rasa was-was tentang kondisi Kakek.

    Perjalanan ke Sumatera memakan waktu sekitar empat jam, satu jam di pesawat, dan tiga jam perjalanan darat menuju kota kelahirannya.

    **

    Tiba di bandara tujuan, Sinta segera mencari taksi daring. Tas ransel yang dibawanya hanya berisi beberapa baju, mukena, dan buku catatan kecil tempat ia sering menulis isi hatinya.

    “Ke Jalan Melati, Pak, dekat Pasar Lama,” katanya singkat pada sopir.

    Sopir taksi itu hanya mengangguk, dan mobil pun melaju melewati jalanan kota kecil yang masih asri, meski kini lebih ramai dibanding dua tahun lalu.

    Sepanjang jalan, Sinta memandangi sawah yang terhampar hijau, rumah-rumah panggung dengan halaman luas, serta anak-anak kecil berlari mengejar layangan. Semua itu menenangkan, tapi dadanya tetap sesak.

    **

    Akhirnya, Sinta tiba di depan rumah Kakek Teguh. Rumah kayu dengan warna khas tanpa cat masih berdiri kokoh, menggambarkan betapa pemiliknya adalah pekerja keras. 

    Halaman luas dengan pohon mangga dan rambutan yang masih berdiri rimbun, tempat Sinta sering memanjat bersama teman masa kecilnya.

    “Assalamualaikum,” Sinta mengetuk pintu pelan, napasnya tertahan.

    Tak ada suara. Ia menoleh ke halaman, kosong. Biasanya, Kakek akan duduk di kursi rotan tua di teras, membaca koran sambil menyeruput kopi hitam.

    “Ke mana semua orang? Katanya minta aku pulang,” gumam Sinta sambil merogoh ponsel dari tasnya.

    Tiba-tiba, suara dari belakang terdengar.

    “Waalaikumussalam.”

    Sinta menoleh. Ternyata Mang Ujang, penjaga kebun keluarga mereka, muncul dari arah dapur sambil membawa ember kecil.

    “Ya Allah, Nak Sinta! Akhirnya pulang juga. Kakek udah lama nunggu kamu pulang, sampai sakit-sakitan,” ucap Mang Ujang dengan wajah lega.

    “Apa? Kakek sakit, Mang? Sakit apa?” Mata Sinta membesar.

    “Iya, Nak. Sekarang Kakek dirawat di rumah sakit, udah seminggu ini. Tadi Mas Ilham bilang kondisi Kakek makin drop.”

    Sinta mematung beberapa detik, mencoba mencerna kata-kata Mang Ujang. Perasaannya campur aduk antara takut, menyesal, dan cemas.

    “Kenapa nggak ada yang bilang ke Sinta, Mang?” tanyanya dengan suara serak.

    “Terus kenapa tidak dibawa ke Rumah Sakit besar saja,” tanya Sinta lagi.

    “Kakek itu keras kepala, Nak. Katanya nggak usah ganggu kamu kerja, biar kamu fokus dulu. Tapi sekarang… kamu ke rumah sakit aja, Nak. Kakek pasti seneng kalau lihat kamu,” kata Mang Ujang.

    Sinta menarik napas panjang, menahan air mata yang hampir tumpah.

    “Iya, Mang, sekarang juga,” ujarnya.

    Ia segera meletakan ranselnya di ruang tamu dan mengambil kunci motor tua yang masih disimpan di gantungan kayu dekat pintu. Motor itu dulu menemaninya pergi sekolah saat SMA, menembus kabut pagi dan hujan, mengantar cita-citanya untuk kuliah di Jakarta.

    **

    Perjalanan ke rumah sakit hanya sekitar lima belas menit. Motor itu melewati jalan-jalan kecil yang penuh kenangan, melewati warung langganan tempat ia membeli gorengan sepulang sekolah, dan taman kota tempat ia dulu belajar bersama teman.

    Di perjalanan, Sinta menelepon Ilham.

    “Bang, Sinta mau ke rumah sakit sekarang.”

    “Iya ya, Dek, hati-hati ya, jangan ngebut.”

    Tapi Sinta tetap mempercepat laju motornya, matanya berkaca-kaca tertiup angin.

    **

    Sesampainya di rumah sakit, Sinta segera memarkir motor dan berlari menuju ruang perawatan. Rumah sakit ini tidak asing, sering kali ia diajak ibunya menjenguk tetangga atau saudara yang sakit.

    Dengan nafas terengah-engah, tangannya bergetar saat memutar gagang pintu. Begitu pintu terbuka, matanya langsung menangkap sosok yang dirindukannya.

    “Kakeeeek…” suara Sinta pecah. Ia menerobos masuk, tidak peduli dengan siapa pun yang berdiri di sana.

    Kakek Teguh terbaring lemah, selang infus menempel di tangan, selang oksigen terpasang di hidung, dan alat alat monitor terpasang di tubuhnya. Wajah itu jauh lebih tua dari dua tahun lalu.

    Sinta langsung memeluk Kakek dengan hati-hati, menahan tangis yang akhirnya pecah.

    “Ka… Kakek, ini Sinta, Kek…” bisiknya.

    Kakek membuka mata perlahan, tatapan teduh itu masih sama, meski kini disertai gurat lelah. Sudut bibirnya terangkat tipis.

    “Sinta… cucu Kakek…” gumamnya, suara serak.

    Sinta menggenggam tangan Kakek erat-erat, menunduk sambil meneteskan air mata.

    “Maaf ya, Kek… Maaf Sinta lama nggak pulang…” ucapnya penuh penyesalan.

    Kakek hanya mengangguk pelan, matanya masih memandang Sinta dengan kasih yang tidak berubah. Tangannya yang lemah berusaha mengusap kepala Sinta seperti dulu, membuat Sinta semakin terisak.

    Di sudut ruangan, Ilham berdiri memandang adik perempuannya, matanya ikut berkaca-kaca. Semua keheningan itu hanya diiringi suara detak jam dan alat monitor detak jantung. Begitu juga dengan Ayah dan Ibu, mereka ikut larut dalam kesedihan Sinta.

    Dalam hati, Sinta berdoa agar Kakek diberi kesembuhan. Bisa mengulang kembali kemanjaan bersama Kakek. Ah…dia sangat rindu momen itu.

    Dan untuk pertama kalinya sejak lama, Sinta menyadari bahwa pulang bukan hanya tentang tempat, tapi juga tentang siapa yang menunggu dengan cinta yang tak pernah berubah.

    **

    Bab 3. Permintaan Terakhir

    “Cucu Kakek akhirnya pulang… Kakek kangen sekali…”
    Suara itu lirih, hampir tak terdengar, keluar dari bibir yang pucat dengan selang oksigen terpasang.

    “Kek… maafin Sinta…”
    Isak Sinta pecah, air matanya jatuh deras membasahi tangan Kakek yang masih ia genggam erat.

    “Sinta akan nurut sama Kakek… asal Kakek sembuh, ya…” lanjutnya sambil sesenggukan, suara bergetar antara takut dan sesal.

    Di depan Kakek, Sinta bukan lagi pegawai cekatan di Jakarta. Bukan perempuan dewasa yang mandiri dan keras kepala. Di sini, ia kembali menjadi cucu kecil yang manja, yang sering dipangku Kakek saat kecil sambil bercerita tentang padi dan burung pipit.

    Perlahan, tangan Kakek yang keriput bergerak lemah, membelai rambut Sinta dengan gerakan pelan. Senyum tipis terukir di wajahnya meski matanya basah.

    “Sinta… cucu kesayangan Kakek…” bisik Kakek dengan suara hampir hanyut bersama suara mesin monitor di samping ranjang.

    “Ya, Kek…” Sinta mengangguk cepat, menahan tangis.

    Kakek menatap Sinta lama, seperti berusaha merekam wajah cucunya dalam ingatannya.

    “Kakek hanya punya satu keinginan… sebelum Kakek pergi…” suara Kakek semakin lemah, matanya menatap langit-langit dengan napas yang terengah.

    “Kakek akan sehat lagi, jangan bilang seperti itu… Sinta sayang Kakek…” balas Sinta, memeluk tubuh Kakek dengan hati-hati, takut tulang rapuh itu retak oleh dekapannya.

    Kakek batuk pelan, wajahnya menahan sakit. Tapi senyum tipis tetap bertahan di wajahnya.

    “Kamu… menikahlah dengan Rama, ya…”
    Suara itu parau, hampir hanya seperti desir angin.
    “Kakek yakin… dia akan jadi suami yang bisa menjaga kamu…”

    Sinta terdiam. Air matanya mengalir makin deras. Rama? Rama yang mana? Yang selama ini dikenalnya hanya Rama, atasannya. Namun semua pertanyaan itu tak sempat terjawab, tenggelam dalam sesak dan rasa takut kehilangan.

    Yang ada di kepalanya hanya satu hal: menebus semua rasa bersalah setelah dua tahun menjauh dari rumah, menjauh dari Kakek.

    “Iya, Kek… Sinta akan lakukan apa saja yang Kakek mau…” Suara Sinta bergetar.

    “Tapi Kakek janji harus sehat lagi…” tambahnya, menatap wajah Kakek yang tampak semakin pucat.

    Sebuah senyum tipis sekali lagi terbit di bibir Kakek, matanya masih menatap wajah Sinta penuh kasih. Tangan keriput itu bergerak pelan, seolah ingin mengusap pipi cucunya sekali lagi.

    Lalu, dengan lirih, bibir Kakek bergerak,
    “La ilaha illallah…”

    Perlahan, napas terakhir itu terhembus dari paru-parunya yang telah lama menua. Suara mesin monitor mendadak berubah menjadi garis lurus.

    “Tuuuuuutttt…”

    “Kakeeeeekkk…!”
    Suara Sinta pecah, tangannya mengguncang tubuh Kakek yang sudah tak lagi bernyawa. Tangisnya meledak, isaknya memecah keheningan ruangan.

    Ilham sigap menekan bel panggil.
    “Suster, tolong Kakek saya…!” serunya panik.

    Tak lama, seorang dokter muda dan beberapa perawat masuk tergesa.

    “Permisi, izinkan kami memeriksa pasien,” ujar salah satu perawat dengan lembut.

    Sinta mundur dengan tubuh limbung, langsung disambut pelukan ayahnya yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangnya. Tangis Sinta semakin deras dalam pelukan itu, tubuhnya bergetar, napasnya terisak tak beraturan.

    Dokter memeriksa denyut nadi dan menoleh pada monitor yang kini menampilkan garis lurus. Wajahnya tetap tenang, tapi tatapannya menunjukkan iba.

    “Mohon maaf… pasien sudah tiada,” ucapnya pelan.

    “Waktu kematian tercatat pukul 11.45 WIB.”

    “Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…”
    Suara ayah, ibu, dan Ilham terdengar hampir bersamaan.

    Sinta hanya menangis, lututnya lemas, tak mampu menahan beban penyesalan yang menindih dadanya.

    “Bapak, kami akan melepas semua alat medis, lalu memindahkan jenazah ke ruang pemulasaran,” ujar dokter pelan.

    Ayah Sinta mengangguk, suaranya parau,
    “Terima kasih, Dok, atas semua bantuannya…”

    Dokter menepuk bahu ayah Sinta pelan,
    “Setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada-Nya, Pak. Kami turut berduka.”

    **

    Semua berjalan cepat hari itu. Administrasi diselesaikan Ilham, Mang Ujang diberi kabar untuk mempersiapkan rumah, kain kafan, dan keranda. Kakek akan dimakamkan hari itu juga.

    Sinta hanya duduk di kursi ruang tunggu, matanya kosong menatap lantai, tangannya memegang tas kecil yang sejak pagi ia bawa, masih tak percaya bahwa ia baru saja kehilangan seseorang yang selama ini mencintainya tanpa syarat.

    **

    Menjelang Ashar, jenazah Kakek Teguh dibawa pulang. Mang Ujang sudah menunggu di rumah dengan beberapa tetangga yang membantu persiapan. Rumah itu ramai dengan orang-orang yang datang melayat, membaca Yasin, dan membantu prosesi pemulasaran.

    Wajah Kakek terlihat tenang dalam balutan kain kafan putih. Aroma kapur barus dan air mawar memenuhi ruang tengah rumah yang sejak pagi sunyi.

    Sinta hanya bisa menangis di samping jasad Kakek, sementara ibunya memeluknya erat.

    **

    Menjelang Magrib, Kakek dimakamkan di pemakaman keluarga di belakang masjid tua dekat rumah.

    Sinta berdiri di tepi makam, tanah merah masih basah, taburan bunga kenanga dan melati berhamburan di atasnya. Angin sore berhembus dingin, membawa aroma tanah dan wangi bunga yang samar.

    Matanya bengkak, pipinya masih basah, dadanya sesak oleh penyesalan yang tak terucap.

    Dalam hatinya, ia berjanji akan memenuhi permintaan terakhir Kakek, apa pun itu.

    **

    Tiba-tiba, suara yang sangat dikenalnya memanggilnya dari belakang, memecah lamunannya.

    “Sinta…”

    Sinta menoleh cepat. Matanya menangkap sosok Rama berdiri beberapa langkah darinya. Jaket hitam masih melekat di tubuhnya, wajahnya letih tapi matanya tetap teduh.

    “Pak Rama? Kenapa Bapak ada di sini?” tanyanya lirih.

    Rama mendekat, menatap nisan bertuliskan “Teguh Pranoto”. Nafasnya dihembuskan perlahan, seperti menahan emosi.

    “Aku ikut kehilangan atas kepergian Kakekmu,” ucapnya pelan.

    Sinta hanya diam, matanya kembali panas. Kata-kata Kakek terngiang di kepalanya: “Menikahlah dengan Rama…”

    “Ja… jadi… Rama yang Kakek maksud itu…”
    Suara Sinta gemetar.

    “Iya, Ta. Aku Rama yang dimaksud Kakek,” jawab Rama dengan lembut.

    Sinta memandang Rama, matanya menelusuri wajah lelaki itu. Untuk pertama kalinya, ia melihat Rama bukan sebagai atasannya, tapi sebagai seseorang yang ternyata diam-diam telah dipercaya Kakeknya.

    “Aku langsung ke sini begitu tahu kondisi Kakek kritis, tapi aku ingin Kakek sendiri yang bicara padamu,” kata Rama, menunduk.

    Ia lalu berjongkok, menatap nisan Kakek dengan mata yang mulai memerah.

    “Kek… aku akan tepati janji yang pernah aku ucapkan. Aku akan menjaga Sinta, seperti menjaga diriku sendiri. Kakek tenanglah di sana…”

    Sinta hanya terdiam, air matanya kembali jatuh, membasahi pipi yang sudah kering.

    Langit perlahan gelap. Satu per satu keluarga dan pelayat mulai meninggalkan pemakaman, menyisakan angin sore yang makin dingin.

    Sinta masih berdiri di sana, menatap tanah merah yang perlahan gelap, menahan isak.

    “Kakek… maafkan Sinta…” bisiknya, suara itu terbang bersama hembusan angin yang lewat, membawa serta doa yang hanya bisa ia titipkan pada langit.

    Air matanya kembali jatuh, membasahi tanah yang masih lembap, seolah mengukir janji yang belum sempat ia ucapkan saat Kakek masih ada.

    **

    Bab 4. Persiapan Takziah

    Sore itu, saat semua orang bersiap kembali ke rumah Kakek untuk tahlilan, Ayah Sinta menoleh ke arah Rama.

    “Sinta temani Rama, ya. Ayah, Ibu, Ilham, dan Mang Ujang naik mobil belakang saja,” ujar Ayah sambil menyerahkan kunci mobil kepada Rama.

    Ayah memberinya kesempatan jika mereka perlu bicara tentang semua yang terjadi hari ini.

    “Baik, Yah…” sahut Sinta pelan, suaranya nyaris hilang, matanya masih sembab.

    Rama melirik padanya, lembut. “Yok, keburu Maghrib nanti,” ajaknya singkat.

    Sinta menurut, berjalan perlahan mengekori Rama menuju mobil.

    Perjalanan dari pemakaman ke rumah Kakek hanya sekitar sepuluh menit, tapi terasa begitu panjang sore itu.

    Sinta duduk di kursi depan, menatap kosong ke luar jendela, dadanya sesak, sesekali menghela napas panjang. Suasana di dalam mobil begitu hening, hingga akhirnya Rama memecah keheningan.

    “Menangislah, kalau masih ingin menangis.”

    Sinta tak menjawab. Matanya berkaca-kaca.

    “Keluarkan semua rasa sesakmu, Ta. Tapi ingat, apa yang terjadi ini… bukan salahmu. Ini adalah takdir yang Allah tetapkan untuk semua makhluk-Nya,” lanjut Rama, pelan.

    Air mata Sinta menetes perlahan, membasahi pipinya.

    “Saya merasa jahat… saya merasa sangat egois, Pak. Saya bahkan tidak tahu Kakek sakit. Saya tidak ada saat beliau merindukan saya…”

    Suara Sinta parau, sesekali terputus oleh sesegukan.

    Rama menarik napas dalam, menoleh sekilas sebelum kembali menatap jalan di depannya.

    “Kamu tahu, Ta… Kakek tidak ingin kamu mengubur mimpimu hanya karena sakit beliau. Kakek ingin kamu bahagia, ingin kamu tetap mengejar cita-citamu,” ujar Rama lembut.

    “Kakek sangat sayang sama kamu, Ta. Beliau tidak ingin kamu menyalahkan dirimu sendiri seperti ini,” tambahnya.

    Sinta terdiam. Air matanya mengalir.

    “Sekarang… kita doakan Kakek, ya. Semoga Allah memberikan tempat terbaik untuk beliau. Kakek orang baik, insya Allah kuburnya dilapangkan, dosanya diampuni, dan amal baiknya diterima,” kata Rama.

    Sinta mengangguk pelan, mengusap matanya dengan tisu.

    Dalam hatinya, ia tahu Rama benar. Allah tidak menghendaki ratapan berlebihan. Yang harus ia lakukan kini adalah mendoakan dan memperbaiki diri, agar Kakek bangga padanya kelak.

    “Terima kasih, Pak… sudah mengingatkan saya. Terima kasih…,” ucap Sinta, masih bergetar namun lebih tenang.

    Rama menoleh, tersenyum kecil untuk menenangkannya. “Sama-sama, Ta.”

    Tak lama kemudian, mobil mereka memasuki halaman rumah Kakek. Rumah itu masih ramai oleh para tetangga yang membantu persiapan tahlilan dan membaca Yasin selepas Maghrib.

    Sinta memandangi rumah itu lama, rumah yang penuh kenangan bersama Kakek. Dalam hatinya, Sinta berbisik,

    Sinta merindukan kakek di rumah ini…

    Rama dan Sinta keluar dari mobil hampir bersamaan. Sinta masih diam setelah percakapan mereka terakhir.

    “Nak Rama, silakan masuk, menginap saja disini, nanti, pakai saja kamar tamu, ya, sambil mau bersih-bersih dulu sebelum salat Maghrib” ucap Ibu Sinta ramah.

    Mereka berjalan ke ruang tamu. Rumah Kakek bergaya klasik, dengan dinding kayu yang sudah direnovasi sebagian. 

    Aroma kayu dan wangi pandan dari dapur bercampur dengan sayup suara bacaan Al-Qur’an dari masjid yang terbawa angin.

    Rumah ini memiliki tujuh kamar: lima di bangunan utama, ada kamar Kakek, kamar ayah dan ibu, Kamar Ilham, kamar Sinta dan satu kamar tamu. Dua lagi di belakang untuk Mang Ujang dan Bik Lastri yang membantu di rumah.

    “Iya, Bu. Oh ya, kalau tidak merepotkan, saya boleh pinjam baju Bang Ilham? Tadi saya buru-buru, tidak sempat membawa baju ganti,” tanya Rama sopan.

    Sinta hanya mendengar percakapan itu, memperhatikan interaksi yang tampak begitu wajar, seperti mereka sudah sering berbicara.

    “Oh, boleh, Nak. Nanti Ibu bilang Ilham biar diantar ke kamar tamu,” jawab Ibu Sinta.

    “Terima kasih, Bu. Kalau begitu, saya ke kamar dulu, ya, mau bersiap salat Maghrib,” pamit Rama, menunduk sopan sebelum berlalu.

    Sinta masih di ruang tamu bersama ibunya.

    “Kamu juga, Ta, bersih-bersih dulu, ya. Kamu dan Rama pasti lelah, baru tiba langsung mengurus pemakaman Kakek,” ucap Ibu Sinta lembut.

    Sinta ingin bertanya tentang perjodohan itu pada ibunya, tapi ia urungkan. Lebih baik nanti, setelah tahlilan selesai, saat suasana lebih tenang.

    “Nanti setelah tahlilan, kita ngobrol sebentar, ya,” ucap Ibu, seolah memahami kegelisahan putrinya.

    “Iya, Bu,” sahut Sinta.

    “Sinta ke kamar dulu, ya, Bu,” lanjutnya, perlahan berjalan menuju kamarnya sambil menenteng ransel yang tadi digeletakkannya begitu saja.

    Langkahnya terasa berat, seperti mimpi, ia baru tiba hari ini dan langsung mengantarkan kakek ke pemakaman, seolah kakek memang menunggu dirinya.

    Di dalam kamar, Sinta duduk di tepi ranjang, memandang keluar jendela. Langit mulai gelap, azan Maghrib berkumandang.

    Dalam hati, ia berdoa,

    “Ya Allah… lapangkan kubur Kakek. Ampuni dosanya. Terima amal baiknya. Tempatkan beliau di sisi-Mu dengan penuh kasih sayang…”

    Air matanya kembali jatuh, hatinya masih terasa begitu sesak.

    Tapi ia tahu, yang bisa ia lakukan sekarang hanyalah mendoakan Kakek, menjalankan amanah beliau, dan melanjutkan hidup dengan menjadi perempuan yang Kakek banggakan.

     

    POV Sinta

    Hati ini terasa seperti diremas. Sakit sekali.

    Sesal yang tak bisa kuungkapkan dengan kata. Aku bukan cucu yang baik.

    Bagaimana aku bisa marah pada Kakek, sosok yang selalu menyayangi dan memanjakanku sejak kecil? Kakek hanya mengkhawatirkanku, seperti biasanya. 

    Aku merasa bersalah, karena aku tak bisa merawat Kakek, walau hanya sebentar, tak bisa lebih lama berada di dekatnya saat beliau sakit.

    Aku egois.

    Dan ironisnya, kepulanganku justru menghantarkan Kakek ke pemakaman.

    Satu hal lagi yang mengganjal: Pinta Kakek dan cerita Pak Rama tentang perjodohan itu. Aku masih bingung dan rasanya belum siap memikirkan semua ini. Nanti… mungkin nanti, aku akan tanyakan pada Ibu.

    Untuk sekarang… hatiku Lelah dengan rasa sesalku sendiri.

    POV Rama

    Hati ini perih melihat Sinta yang begitu terpukul.

    Entah sejak kapan aku mulai memiliki rasa padanya. Mungkin awalnya hanya kagum dengan caranya bekerja: cekatan, rapi, dan tak pernah berusaha menarik perhatianku seperti sekretarisku sebelum-sebelumnya.

    Tapi lama-lama, aku merasa Sinta berbeda. Dia menjaga kehormatannya, caranya berpakaian selalu sopan dan longgar walaupun belum berhijab, caranya berbicara, caranya menjaga batas. Sikapnya membuatku ingin melindungi dan menjaganya.

    Di depan makam Kakek, aku sudah berjanji akan menjaga Sinta seperti aku menjaga diriku sendiri.

    Malam itu, takziah pertama untuk mendoakan Kakek. Kebiasaan di daerah ini adalah membaca Yasin selama tiga hari berturut-turut sejak jenazah dimakamkan, warga datang sukarela untuk ikut berduka dan mendoakan.

    Beberapa tetangga juga menyiapkan makanan kecil dan minum. Hal positif yang masih ada di daerah ini adalah rasa kekeluargaan dan saling tolong menolong yang tak ditemukan lagi di Kota besar seperti Jakarta.

    Setelah semua tamu pulang, tinggalah keluarga inti, mereka lalu berkumpul di ruang tamu.

    Sinta duduk di samping ibunya, sementara ayahnya duduk di kursi single yang agak tinggi. Ilham dan Rama duduk berhadapan dengan Sinta dan ibunya.

    “Ada yang ingin Ayah dan Ibu sampaikan,” buka Ayah Sinta, sambil melirik ke arah istrinya.

    **

     

     

    Kreator : Dian Puspita (Puspa Raito)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Sesal Yang Tak Menjadi Sesal

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021