KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Sesal Yang Tak Menjadi Sesal_Bagian 2

    Sesal Yang Tak Menjadi Sesal_Bagian 2

    BY 02 Jan 2026 Dilihat: 72 kali
    Sesal Yang Tak Menjadi Sesal_Bagian 2_alineaku

    Tentang dua hati yang belajar saling mendekat tanpa tergesa, menjaga jarak bukan karena ragu — tapi karena ingin melangkah dengan benar.

     

    Bab 5. Kejelasan dan Janji

    POV Sinta

    “Ada yang ingin Ayah dan Ibu sampaikan,” buka Ayah, menoleh pada Ibu yang duduk di sampingnya.

    Aku merangkul lengan Ibu, menyandarkan kepalaku di bahu beliau. Ada rasa takut, ada rasa cemas, tentang apa yang akan mereka bicarakan malam ini.

    “Sinta, kami minta maaf karena telah menyembunyikan sakit Kakek darimu. Ini semua permintaan Kakek. Ayah harap kamu tidak berpikiran yang macam-macam, ini semua karena kami menyayangimu,” lanjut Ayah, suaranya pelan.

    Aku menghela napas, menahan sesak yang kembali menghimpit dada.

    “Kakek mengidap gagal ginjal sejak setahun lalu dan harus cuci darah. Kamu tahu kan, rumah sakit di kota kita tidak ada fasilitas itu, dan Kakek menolak dibawa ke rumah sakit besar. Sehingga penyakitnya cepat menggerogoti tubuhnya. Dokter bilang, Kakek termasuk kuat karena bisa bertahan sejauh ini,” jelas Ayah.

    Aku mendengarkan dengan mata berkaca-kaca, membayangkan bagaimana Kakek melewati sakitnya dalam diam, tanpa keluh, dan tanpa membiarkanku tahu.

    Air mataku jatuh.

    “Lalu tentang Rama…” Ayah melanjutkan, melirik Ibu yang mengangguk pelan.

    “Ya, benar, Rama adalah cucu sahabat Kakek semasa mereka sama-sama membangun perusahaan dulu, sebelum Kakek memutuskan kembali ke sini setelah Nenekmu meninggal,” ujar Ayah.

    Aku menoleh pada Ayah, mendengarkan dengan saksama.

    “Perusahaan itu akhirnya dikelola oleh Kakek Praja, dan sekarang diteruskan oleh ayahnya Rama, Pak Pranata setelah Kakek Praja meninggal,” jelas Ayah.

    “Kakek Teguh dan Kakek Praja sepakat menjodohkan anak-anak mereka kelak. Tapi Allah belum mengizinkan karena anak-anak mereka sama-sama perempuan. Mereka tidak putus asa, lalu muncul kesepakatan, jika salah satu cucu mereka perempuan dan satunya laki-laki, mereka akan dijodohkan,” lanjut Ayah.

    Aku terdiam. Semua pertanyaan yang berputar-putar di kepalaku perlahan menemukan jawaban.

    “Ayah harap kamu ikhlas menerima amanah Kakek ini. Ayah yakin kamu sudah mengenal Rama selama dua tahun ini, kan?” tanya Ayah lembut.

    Aku menunduk, masih bingung harus berkata apa.

    “Sebetulnya, kalian sudah sering bertemu waktu kecil. Saat itu Rama berusia sepuluh tahun, kamu empat tahun. Rama sering diajak Kakek Praja ke sini untuk mengunjungi Kakek Teguh,” ujar Ayah, tersenyum kecil mengenang masa lalu.

    “Karena Rama anak tunggal, dia senang bermain denganmu, seperti punya adik,” tambahnya.

    Aku mengerjap, terkejut. Benarkah itu? Kenangan itu sama sekali tak kupunya, tapi kulirik Rama yang hanya tersenyum tipis.

    “Rama sudah tahu tentang perjodohan ini sejak kamu wisuda dan memutuskan tidak mau kembali ke rumah. Akhirnya, Kakek menitipkan kamu ke Rama dan mengatur supaya kamu bekerja di perusahaan yang dulu Kakek bangun dan kini dikelola oleh ayah Rama,” jelas Ayah.

    Aku tertegun. Jadi selama ini, Kakek mendukung mimpiku. Beliau tidak menentang keinginanku untuk bekerja, malah memfasilitasinya.

    “Kakek memintamu menikah setelah wisuda bukan karena beliau melarangmu bekerja, tapi karena beliau tidak ingin ada yang melamarmu sebelum Rama. Kakek ingin kalian saling mengenal lebih dulu,” tambah Ayah.

    Aku masih diam. Sementara Rama tampak lebih tenang, mungkin karena dia sudah tahu semua ini sejak lama.

    “Saat ini, Ayah kembalikan pada kalian berdua bagaimana akan menyikapi perjodohan ini. Yang jelas, kalian telah berjanji pada Kakek,” ucap Ayah sambil menatap Rama dan aku bergantian.

    “Sebaiknya kalian bicarakan dulu. Kami sebagai orang tua hanya mendoakan yang terbaik,” ujar Ayah.

    “Yah, boleh Rama bicara?” tanya Rama sopan.

    “Ya, Nak. Silakan,” jawab Ayah.

    “Soal perjodohan ini, Kalo Rama pribadi sudah memahami dan menyetujuinya. Tapi mungkin Sinta perlu waktu untuk menyikapi kelanjutan hubungan ini, Yah. Dia pasti masih kaget,” ujar Rama, melirik padaku dengan tatapan tenang.

    Aku hanya menoleh sebentar, lalu kembali menunduk.

    “Biarkan kami memantapkan hati dulu, ya, Yah, Bu,” lanjut Rama.

    Aku menarik napas. “Ya, Ayah, Ibu. Sekarang Sinta masih kaget, tapi Sinta janji akan memenuhi keinginan Kakek,” sahutku pelan.

    “Sinta setuju dengan usul Pak Rama, Yah. Lagi pula, Sinta tidak mau melangkahi Abang,” lanjutku.

    “Eh, kok Abang dibawa-bawa, Dek?” sela Bang Ilham, tertawa kecil.

    “Yah, masa’ Adek mau nikah duluan dari Abang, kan gak lucu,” balasku cepat.

    “Ehm, kamu tenang saja. Abang sudah punya calon kok. Doakan saja lamaran Abang diterima,” jawabnya.

    “Sudah…sudah. Kenapa jadi membahas Abangmu, Ta? Jodoh itu tidak melihat urutan lahir. Jika sudah dekat, maka disegerakan,” ujar Ayah sambil tersenyum.

    Aku terdiam lagi. Sebenarnya, aku hanya ingin mengulur waktu agar tidak terburu-buru.

    “Bagaimana, Rama, kamu setuju?” tanya Ayah.

    “Iya, Ayah. Kalau Rama, tergantung Sinta. Biarkan semua mengalir, agar pernikahan tidak menjadi beban untuk Sinta,” jawab Rama, sopan.

    Ayah mengangguk, tersenyum puas dengan jawaban Rama.

    “Baiklah kalau begitu. Ayo kita istirahat dulu, sudah malam. Kalau ada yang mau ditanyakan lagi, besok kita ngobrol lagi,” tutup Ayah.

    “Ya, Ayah,” jawab kami hampir bersamaan.

    Bang Ilham langsung menuju kamarnya, begitu pula Ibu yang mengikuti Ayah. Aku melirik Rama sejenak sebelum cepat-cepat masuk ke kamarku.

    Rama pun demikian.

    Semua penjelasan malam ini membuatku lega, meski tetap menyisakan satu pertanyaan di hatiku.

    Apakah Bisa Bahagia Tanpa Cinta?

    Aku merebahkan diri di atas kasur kamarku. Kamar ini saksi tangis, tawa, dan mimpiku sejak remaja.

    Malam terasa sunyi, hanya suara jangkrik dari luar jendela dan lantunan Al-Qur’an selesai Isya dari masjid kampung yang menenangkan.

    Mataku masih sembab, dadaku masih sesak setiap mengingat senyum terakhir Kakek sebelum napasnya terhenti.

    “Kakek…, “Kenapa semua terasa berat, Kek…” bisikku lirih.

    Aku teringat janji yang terucap pada Kakek.
    Tapi… apakah janji itu berarti aku harus menyerahkan masa depanku pada perjodohan tanpa cinta?

    Sejak kecil, aku ingin menjadi wanita mandiri. Aku ingin menjadi wanita yang bermanfaat, membantu banyak, berdiri di atas kakiku sendiri.

    Aku menikmati pekerjaanku, meski lelah. Aku merasa berguna, karena bisa membelikan Ibu kerudung baru, mentraktir Bang Ilham makan, membelikan barang koleksi kesukaan Ayah.

    Aku bahagia, karena tidak bergantung pada siapa pun.

    “Apakah menikah akan menghapus semua mimpiku?” tanyaku pada diri sendiri.

    Aku tidak pernah menolak pernikahan, tapi aku ingin menikah dengan cinta. Dengan seseorang yang mendukungku, bukan mengekang langkahku.

    Sekarang, Pak Rama hadir membawa janji Kakek. Lelaki yang selama ini kuhormati sebagai atasan.  Dia orang baik, aku tahu itu. 

    Tadi kulihat Pak Rama tak memaksaku, malah memintaku untuk memantapkan hati.

    Tapi… apakah kebaikan Rama cukup membuat hatiku luluh?

    Aku duduk, memeluk lututku sendiri.

    “Ya Allah…,“Bantu aku menepati janji pada Kakek tanpa mengkhianati diriku sendiri…”

    “Bantu aku agar tetap bisa membahagiakan Kakek dengan tetap menjadi diriku, wanita yang ingin mandiri dan bermanfaat…”

    Tangisku pecah lagi. Aku menangis berharap bisa melepaskan rasa sesak luruh bersama air mata.

    Sampai akhirnya aku teringat pesan Kakek saat ulang tahunku dulu,

    “Sinta, hidup itu bukan hanya tentang apa yang kamu inginkan, tapi tentang bagaimana kamu menjalaninya dengan ikhlas. Pilihlah jalan yang membuatmu tetap dekat pada Allah dan tetap menjadi dirimu sendiri.”

    Aku mengusap air mataku.

    Mungkin janji itu bukan tentang mematikan mimpiku. Mungkin itu tentang mempercayai takdir Allah yang telah Kakek titipkan padaku.

    **

    Bab 6. Silaturahmi yang Tertunda

    POV Sinta

    Kabut tipis masih menggantung di halaman rumah Kakek pagi itu. Embun di ujung rumput memantulkan sinar matahari yang mulai hangat, menambah aroma tanah basah yang menenangkan.

    Aku berdiri di teras, menatap jalan kampung yang masih sepi. Hanya kokok ayam yang terdengar bersahutan di kejauhan, mengiringi lamunanku yang belum mau lepas dari bayang Kakek.

    “Mau ke makam Kakek?”

    Suara Rama muncul dari belakang, lembut, tidak mengagetkanku.

    Aku menoleh, mengangguk pelan.
    “Iya, Pak… aku masih kangen Kakek…”

    Kami berjalan beriringan menuju makam Kakek Teguh. Tidak jauh, hanya sekitar dua puluh menit berjalan kaki melewati jalan kampung yang masih asri.

    Sepanjang jalan, Rama sesekali menyapa warga yang lewat. Beberapa orang tua tersenyum mengenalinya sebagai tamu di rumah Kakek Teguh. 

    Aku hanya diam, menatap sawah yang membentang di sisi jalan, membiarkan angin pagi menyapu wajahku.

    Sesampainya di makam, aku bersimpuh di samping pusara Kakek, menatap batu nisan dengan nama “Teguh Pranoto” yang terpahat rapi.

    “Assalamualaikum, Kek… Sinta datang lagi…” bisikku pelan.

    Kepalaku tertunduk, membaca Al-Fatihah, lalu melanjutkan dengan Yasin pendek. Angin pagi menggerakkan rambutku yang belum sempat kuikat.

    Rama berdiri beberapa langkah di belakang, memberiku ruang untuk berbicara dengan Kakek.

    Setelah cukup lama diam, aku berdiri, menoleh pada Rama.

    “Makasih ya, Pak, sudah nemenin…” kataku singkat.

    “Sama-sama, Ta,” jawab Rama, dengan senyum tipis.

    Kami berjalan pulang melewati jalan kecil di pinggir sawah, jalur yang sering kulewati semasa kecil.

    “Dulu aku sering lari-lari di sini, Pak. Main layangan sama anak-anak kampung,” ucapku sambil tersenyum kecil.

    “Kamu tomboy juga ya dulu,” balas Rama, terkekeh.

    “Banget, Pak. Kakek suka marah kalau aku pulang maghrib dengan kaki penuh lumpur,” lanjutku, mataku menerawang.

    Rama hanya mendengarkan, sesekali mengangguk sambil tersenyum kecil.

    Kami berjalan perlahan, menikmati suara burung dan semilir angin yang membawa aroma padi.

    “Kamu tau nggak, dulu umur empat tahun kamu suka narik tangan aku kalau mau pulang sama Kakek,” ujar Rama tiba-tiba.

    Aku menoleh, mengerutkan dahi.
    “Serius? Kok aku nggak ingat…”

    “Iya, kamu bilang jangan pulang, nemenin main boneka,” Rama tertawa kecil.

    Aku ikut tertawa, “Ya ampun, jadi malu, Pak.”

    Kami berjalan lagi dalam diam. Hanya suara alam yang menemani.

    Siang itu, kami tiba kembali di rumah, membantu Ibu menyiapkan keperluan untuk takziah malam kedua.

    Seperti malam sebelumnya, warga berdatangan untuk membaca Yasin dan doa bersama. Aku duduk di samping Ibu, mataku masih sembab, tapi sudah bisa tersenyum pada para tetangga yang datang.

    Rama membantu Ayah menerima tamu laki-laki, sesekali membantu Mang Ujang merapikan sandal di teras.

    Selesai pembacaan yasin dan doa, setelah tamu pulang, keluarga kembali berkumpul. Rama tampak serius, meski tetap sopan.

    “Ayah, Ibu, Bang Ilham… saya mau pamit besok pagi kembali ke Jakarta,” ucap Rama.

    Aku menoleh, terkejut.

    “Ada rapat penting yang harus saya hadiri pagi sekali, Ta… maaf ya…” Rama menjelaskan dengan lembut.

    Ayah menepuk pundaknya, “InsyaAllah perjalananmu lancar, Nak. Terima kasih sudah menemani kami di sini.”

    “Terima kasih juga, Rama,” sambung Ibu, tersenyum hangat.

    Rama mengangguk, “Sama-sama, Yah, Bu.”

    “Oh ya, besok Papa dan Mama akan datang. Maaf baru bisa hadir hari ketiga, karena baru tiba dari Turki,” tambah Rama.

    “Masya Allah, sampaikan salam kami pada Papa Mamamu,” jawab Ayah.

    “Tidak usah dipaksa langsung kemari kalau lelah,” sambung Ibu.

    “Papa memang sudah berniat kemari begitu mendengar Kakek Teguh meninggal, tapi apa daya, baru bisa sekarang,” jelas Rama.

    Ayah hanya mengangguk mengerti.

    “Semoga perjalanan mereka lancar,” sahut Ibu.

    Aku hanya menunduk. Hati kembali sesak, memikirkan perasaan yang masih belum selesai. Namun dalam hati, aku bersyukur, Rama selalu membuatku merasa tidak tertekan. Rama tidak pernah memaksa. Rama hanya hadir.

    Dan mungkin, kehadiran itu adalah awal dari segalanya.

    Pagi itu, Rama pamit kembali ke Jakarta. Aku hanya mengantarnya sampai teras bersama Ayah, Ibu, dan Bang Ilham.

    “Pak Rama, hati-hati di jalan, ya…” ucapku singkat.

    “Terima kasih, Ta. Kamu juga jaga kesehatan, ya. Kalau sudah siap ke Jakarta, kabari aku,” jawab Rama dengan senyum tipis.

    Ayah menepuk pundak Rama, “Terima kasih sudah menemani kami, Nak.”

    “Terima kasih, Yah, Ibu, Bang Ilham… saya pamit,” ucap Rama, menundukkan badan sopan sebelum menuju mobil yang menjemputnya.

    Aku hanya menatap punggung Rama hingga hilang dalam mobil, dadaku terasa kosong, meski tak terucapkan.

    Hari itu, aku membantu Ibu membereskan rumah, menyiapkan makanan untuk takziah malam ketiga.

    Sesekali aku terduduk termenung, memandangi foto Kakek di meja kecil. Perlahan, aku mulai berdamai dengan takdir. Air mataku tak lagi deras seperti hari pertama, hanya sesekali jatuh diam-diam, segera kuseka sendiri.

    Aku selalu teringat janji pada Kakek, tapi belum memikirkan langkah berikutnya. Ah biarlah mengalir apa adanya, batinku.

    Menjelang sore, Mang Ujang datang tergopoh-gopoh.

    “Bu, Nak Sinta, ada tamu, Orang tua Pak Rama sudah tiba.”

    Aku menoleh cepat, jantungku berdebar.

    Ayah dan Ibu Pak Rama datang…? pikirku, membantu Ibu memeriksa ruang tamu.

    Sebuah mobil hitam berhenti di depan rumah.

    Seorang pria dengan rambut separuh beruban dan seorang wanita dengan kerudung abu-abu elegan turun dari mobil, tersenyum hangat saat melihat Ayah berdiri menyambut.

    “Pranata, Ani…” sapa Ayah, menyalami mereka.

    “Bagaskara, lama sekali kita tak bertemu,” jawab Pak Pranata dengan suara tenang.

    Ibu Rama memeluk Ibu dengan hangat.
    “Alhamdulillah akhirnya bisa takziah, maaf baru bisa hadir,” ucapnya.

    “Tidak apa, Ani. Kami senang bisa bertemu kalian. Kalau Ayah Teguh masih ada, pasti beliau senang,” jawab Ibu.

    Suasana hening sesaat.

    Aku berdiri di samping Ibu, sedikit canggung.

    “Ini pasti Sinta…”

    “Ya Allah, sudah dewasa, cantik sekali…” ujar Ibu Rama sambil memelukku.

    Aku menunduk sopan, “Assalamualaikum, Ibu, Bapak… mohon maaf baru bisa menyambut sekarang.”

    “Waalaikumsalam, Nak, senang akhirnya bisa bertemu,” jawab Pak Pranata sambil menepuk pundakku pelan.

    “Panggil kami Papa dan Mama saja, sama seperti Rama,” sambungnya.

    Aku hanya mengangguk dengan senyum tipis. Dalam hati, terasa masih asing.

    Kami duduk di ruang tamu, berbincang mengenang Kakek. Pak Pranata bercerita tentang persahabatan Kakek Praja dengan Kakek Teguh, tentang kesederhanaan Kakek meski sudah sukses, cerita Kakek tentang aku sejak kecil.

    Aku mendengarkan dengan seksama, sesekali tersenyum, hatiku hangat mendengar betapa Kakek selalu membanggakan aku.

    Malamnya, takziah ketiga berlangsung dengan khusyuk. Warga kembali memenuhi rumah, membacakan Yasin dan doa bersama.

    Pak Pranata duduk di samping Ayah, membaca dengan suara pelan namun jelas.

    Ibu Rama duduk di samping Ibu dan aku, sesekali menatapku dengan senyum penuh kasih, membuatku merasa dihargai meski masih ada rasa canggung.

    Selesai rangkaian takziah, warga mulai pulang. Pak Pranata dan Ibu Pak Rama juga bersiap kembali ke penginapan.

    “Sinta, terima kasih sudah membantu Ibu dan Ayahmu,” ujar Ibu Pak Rama sambil memelukku.

    Aku membalas pelukannya, “Terima kasih sudah datang, Ma.”

    Pak Pranata menepuk pundakku pelan, “Nak, apapun yang terjadi ke depan, ketahuilah kami akan selalu mendukungmu.”

    Aku hanya mengangguk, “Terima kasih, Pa…” suaraku nyaris tak terdengar.

    Malam itu, aku duduk di teras rumah setelah semuanya tenang. Angin malam membawa wangi tanah basah, suara jangkrik bersahut-sahutan.

    Aku menatap langit gelap, beberapa bintang tampak di sela awan. 

    Dalam diamku, aku berbisik pada diri sendiri,

    “Kakek… Sinta akan berusaha menjalani semua ini dengan baik..”

    Aku menarik napas panjang, memejamkan mata, membiarkan angin malam menenangkan pikiranku.

    **

    Bab 7. Ibu Yang Menenangkan

    Pov Sinta

    Hari keempat setelah kepergian Kakek, rumah terasa lebih lengang. Tiga malam tahlilan telah usai, para tetangga kembali pada kesibukan masing-masing, menyisakan keheningan yang membuatku semakin merasa bahwa Kakek benar-benar telah tiada.

    Aku duduk di teras samping rumah, menatap halaman luas peninggalan Kakek yang dulu sering menjadi tempatku berlarian. Angin pagi membawa wangi bunga kamboja dari makam Kakek di ujung kampung.

    Besok, aku akan kembali ke Jakarta.

    Namun hati kecilku masih resah, belum siap meninggalkan semua kenangan ini.

    Ibu datang membawa dua gelas teh hangat, duduk di sampingku.

    “Dari tadi melamun terus, Ta…” suara Ibu lembut.

    Aku menoleh dengan mata yang masih lelah.
    “Besok Sinta pulang ke Jakarta ya, Bu…” kataku lirih, seperti bertanya pada diri sendiri.

    Ibu mengangguk, “Iya, Nak, sudah waktunya kamu kembali.”

    Aku terdiam, menatap teh hangat di tanganku, jari-jariku menggenggam gelas erat-erat.

    “Bu…” suaraku bergetar, “Apa yang harus Sinta lakukan sekarang…?”

    Ibu menoleh penuh perhatian, “Maksudmu, Nak?”

    Air mataku menetes, cepat kuusap sendiri.

    “Sinta janji sama Kakek untuk memenuhi keinginannya… tapi Sinta juga masih ingin bekerja, Bu. Sinta belum pernah membicarakan ini dengan Pak Rama… Sinta takut… bisa nggak ya Bu, hidup sama seseorang tanpa cinta… hanya karena janji…?”

    Akhirnya kata-kata itu terucap, beban yang lama kupendam sedikit terangkat.

    Ibu menghela napas, lalu meraih tanganku.
    “Nak, Ibu mengerti perasaanmu…”

    “Kakekmu hanya ingin memastikan kamu dijaga oleh laki-laki yang menghormatimu. Tapi Kakek juga ingin kamu bahagia, bukan terpaksa.”

    Aku diam, mendengarkan dengan mata masih basah.

    “Ibu tahu kamu ingin mandiri, ingin bekerja, ingin belajar banyak hal sebelum berumah tangga. Ibu bangga denganmu…”

    Ibu tersenyum lembut, mengusap rambutku seperti saat aku masih kecil.

    “Nak, menikah itu bukan hanya soal memenuhi janji, tapi kesiapan hati. Kesiapan untuk beribadah bersama, berjuang bersama, saling menguatkan.”

    “Kalau kamu belum siap, bicarakan baik-baik dengan Nak Rama. Dari yang Ibu lihat, dia orang yang bisa diajak diskusi, yang menghargaimu…”

    “Kamu masih bisa mengejar mimpimu, sambil mengenal hati Nak Rama. Tidak perlu terburu-buru…”

    Suara Ibu tenang, seperti menenangkan badai di dadaku.

    Aku menunduk, pikiranku berusaha mencerna ucapan ibu. 

    “Terima kasih, Bu… Sinta takut mengecewakan Kakek…”

    Ibu mengusap punggung tanganku.
    “Nak, kamu sudah melakukan yang terbaik. Kakek pasti bangga padamu.”

    “Sekarang jalani dengan ikhlas, minta petunjuk pada Allah, minta dikuatkan hati dan langkahmu. Jika Nak Rama memang jodohmu, Allah akan mempermudah jalanmu. Jika tidak, Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik.”

    Aku mengangguk perlahan, merasakan ketenangan mengalir dalam dadaku.

    Aku memandang langit biru yang cerah, angin pagi menenangkan wajahku yang masih basah oleh air mata.

    “Terima kasih, Bu… Sinta akan jalani perlahan, tanpa memaksakan diri… dan akan belajar mengenal perasaan sendiri sebelum mengambil keputusan…”

    Ibu memelukku, hangat dan menenangkan, seolah memindahkan keteguhan hatinya padaku.

    Pagi itu, aku menemukan pijakan untuk kembali ke Jakarta esok hari. Bukan dengan hati penuh ketakutan, tapi dengan hati yang perlahan belajar berdamai dengan takdir, sambil tetap menjaga mimpiku untuk menjadi perempuan mandiri.

    Dalam hati, aku berbisik:

    “Kakek, Sinta akan tetap menjadi Sinta, yang mandiri dan mau belajar… tapi juga akan belajar membuka hati.”

    Angin kembali berhembus lembut, membawa wangi bunga kamboja seperti restu dari Kakek di sana.

    Kembali ke Jakarta

    Pagi itu, udara masih dingin saat aku berdiri di depan rumah Kakek. Aku menatap halaman luas itu sekali lagi, meresapi setiap sudutnya, setiap kenangan bersama Kakek.

    “Assalamualaikum, Kek… Sinta pamit ya…” bisikku pelan sebelum melangkah ke mobil yang akan membawaku ke bandara.

    Ibu memelukku erat, Ayah menepuk bahuku lembut.

    “Hati-hati di jalan, dek… Setelah ini sering-sering pulang,” pesan Bang Ilham

    Aku mengangguk, bibirku berusaha tersenyum sambil menahan air mata yang hampir jatuh lagi.

    Perjalanan menuju Jakarta terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku memandangi awan dari balik jendela pesawat, memikirkan percakapanku dengan Ibu kemarin.

    Aku bertekad: menjaga mimpi, tapi juga belajar membuka hati secara perlahan. Tidak memaksa diri, tidak menutup kemungkinan.

    Jika memang Pak Rama adalah takdirku, aku ingin memulainya dengan cara yang baik, bukan sekadar janji yang membebani.

    Jakarta, Senin Pagi

    Aku kembali memasuki gedung PT. Cahaya Cemerlang, mengenakan blazer berwana cream dan scarf warna terang agar hatiku ikut beranjak dari kesedihan.

    Beberapa pegawai menoleh, menyapa dengan hangat. 

    “Selamat pagi, Mbak Sinta…”

    “Turut berduka cita ya, Mbak…”

    Aku membalas dengan senyum kecil, meski masih terasa sesak di dada.

    Aku menata kembali berkas-berkas di meja kerjaku, aroma kopi pagi bercampur wangi parfum rekan-rekan yang lalu lalang.

    Menjelang pukul 09.00, sebuah pesan masuk di ponselku.

    Pak Rama: “Ta, gimana kabarmu?, jika kamu sudah bisa, nanti jam sepuluh kita bahas bahan evaluasi marketing ya, di ruanganku. Tidak perlu tegang, kamu cukup siapkan bahan seperti biasa saja.”

    Aku membaca pesan itu, menarik napas.
    Aku membalas:

    “Alhamdulillah baik, Pak. Terima kasih. Saya bisa, Pak, akan saya siapkan bahan evaluasinya.”

    Pukul 10.00 tepat, aku mengetuk pintu ruang Pak Rama. 

    “Masuk…” suara Pak Rama terdengar dari dalam.

    Aku melangkah masuk dengan catatan dan laptop di tangan. Rama duduk di meja kerjanya, mengenakan kemeja biru langit, wajahnya lebih tenang dibanding saat terakhir kami bertemu di kampung.

    “Silakan duduk, Ta…” ucapnya, nada hangat tapi tetap profesional.

    Kami memulai diskusi seperti biasa, membahas evaluasi pemasaran bulan lalu, strategi sosial media untuk produk remaja, dan persiapan promo lebaran yang akan segera datang.

    Aku menjelaskan dengan tenang, fokus pada pekerjaan, mencoba tidak membiarkan pikiran tentang janji dan masa depan kami mengganggu konsentrasi.

    Sesekali Rama menatapku, mengangguk saat aku menjelaskan dengan lancar.

    Tidak ada pembicaraan pribadi.
    Tidak ada kata tentang perjodohan.
    Hanya dua rekan kerja yang kembali menjalankan tanggung jawab mereka.

    Diskusi selesai dalam satu jam, Pak Rama menutup laptopnya, lalu menatapku.

    “Ta, terima kasih sudah kembali, meskipun aku tahu hatimu masih bersedih,” ucapnya pelan.

    Aku menoleh, mencoba tersenyum.
    “Terima kasih juga sudah memberikan izin tambahan pada saya, Pak…”

    Kami saling menatap beberapa detik, lalu sama-sama mengalihkan pandangan.

    Saat aku akan keluar ruangan, Rama memanggilku pelan. 

    “Ta…”

    Aku berhenti, menoleh.

    “Jaga kesehatan ya. Kalau ada yang kamu butuhkan, jangan ragu bilang ke saya…”

    Aku menatapnya sejenak, lalu mengangguk.
    “Baik, Pak…”

    Aku berjalan keluar, kembali ke meja kerjaku, menata napas, menata hati.

    Setelah jam istirahat, aku masih fokus pada pekerjaanku. Tiba-tiba seorang perempuan cantik berpenampilan eksekutif muda berdiri di depanku.

    “Siang, Mbak, Ramanya ada?” tanyanya.

    “Oh, ada Bu. Maaf, dengan Ibu siapa? Apakah sudah ada janji” tanyaku sopan.

    “Saya belum janji, tapi bilang saja, ada Mira mau ketemu,” jawabnya.

    **

    Bab 8. Ada Apa?

    POV Sinta

    Aku masih duduk di meja kerjaku ketika Bu Mira berdiri menunggu menghubungi Pak Rama.

    Aku mengangkat intercom dan menekan kode ke ruangan Pak Rama. Tak lama sambungan diangkat

    “Permisi, Pak. Ada Bu Mira ingin bertemu,” kataku, berusaha menjaga nada tetap sopan.

    Hening sejenak.

    “Mira, dia sendirian?” tanyanya

    Aku agak aneh, tapi cepat menjawab. 

    “Iya, Pak’

    “Oh, Silakan dia masuk., tapi kamu ikut juga ke ruangan saya.”

    Aku menoleh pada Bu Mira yang masih memperhatikanku, sedikit terkejut, tapi segera mengangguk. 

    “Baik, Pak.”

    Kami bertiga duduk di sofa tamu yang ada di ruangan Pak Rama. Satu buah sofa panjang dan dua buah sofa kecil dengan meja bundar. Pak Rama duduk di sofa Panjang dan diikuti dengan Bu Mira. 

    Aku duduk berseberangan dengan Rama dan Mira, membuka buku catatanku.

    Bu Mira duduk dengan elegan, aroma parfumnya memenuhi ruangan, membuatku sedikit pusing.

    “Ram, kamu masih suka sofa ini ya,” ucap Mira dengan senyum tipis, menatap Rama seperti hanya mereka berdua yang ada di ruangan ini.

    Rama hanya menangguk kecil, membuka laptopnya. 

    “Kita mulai saja ya, Mir.”

    Mira menghela napas panjang, menyilangkan kaki, menatap Rama lekat

    “Aku sudah baca proposal kerjasama event promo remaja dari PT Cahaya Cemerlang, bagus… tapi aku ingin diskusi langsung dengan kamu, Ram.”

    Aku mencatat kalimatnya, berusaha tidak memedulikan cara Mira memanggil “Ram” yang terdengar begitu dekat.

    Rama mengangguk. 

    “Terima kasih. Ada poin yang perlu diklarifikasi?”

    “Ada. Aku mau tanya, apa kamu yang akan handle langsung kerjasama ini?” tanya Mira, matanya menatap Rama intens.

    Rama melirikku sebentar sebelum kembali menatap Mira. “Secara keseluruhan aku memonitor, tapi eksekusi lapangan dipegang oleh Sinta sebagai penanggung jawab divisi marketing, dia juga sekretarisku.”

    Mira menoleh padaku, matanya menilai dari atas ke bawah. 

    “Oh, jadi kamu yang akan handle langsung ya, Mbak Sinta?”

    Aku tersenyum sopan. 

    “Iya, Bu. Nanti semua laporan akan tetap saya koordinasikan ke Pak Rama.”

    Mira menghela napas pelan, menoleh lagi ke Rama. 

    “Kamu percaya banget sama dia, ya?”

    Suasana jadi hening sesaat.

    Rama menatap Mira dengan tenang. 

    “Aku percaya sama Sinta. Dia pekerja keras.”

    Aku menunduk pura-pura menulis, tapi jantungku berdetak keras mendengar kata-kata Rama.

    “Baiklah kalo begitu, nanti aku minta stafku berkoordinasi langsung dengan mbak Sinta, ya” jawab Bu Mira.

    Aku hanya tersenyum sopan sambil mengangguk.

    Mira mendesah, mengubah posisi duduknya. 

    “Ram, aku ingin bicara empat mata setelah ini. Bisa kan?”

    Aku langsung menghentikan tanganku.

    Rama mengerutkan dahi. 

    “Bicara apa, Mir? Kita bisa diskusi di sini.”

    “Bukan tentang kerjaan. Tentang kita…” kata Mira pelan, tapi tegas.

    Aku menatap Mira, lalu ke Rama. Suasana mendadak dingin.

    Rama menarik napas panjang. 

    “Mir, aku pikir kita sudah cukup jelas soal masa lalu kita.”

    Mira menatapnya, matanya bergetar. 

    “Ram, aku cuma butuh penjelasan terakhir. Dua tahun lalu kamu pergi begitu saja setelah bilang kita nggak cocok. Sekarang kamu kelihatan baik-baik saja… aku hanya…”

    Suara Mira pecah sedikit, matanya berkaca.

    Aku menunduk, merasa tidak seharusnya ada di ruangan ini, tapi Rama berkata, 

    “Sinta, tetap di sini.”

    Mira terdiam, menatap Rama dengan tatapan campuran marah dan terluka. 

    “Ram, apa kamu sudah ada yang lain? Apa kamu sama dia?” tanyanya, menunjuk ke arahku.

    Aku tersentak. 

    “Maaf, Bu… saya …”

    “Dia calon istriku,” potong Pak Rama

    Bu Mira terkejut, begitu pula aku. 

    Apa-apaan Pak Rama mengaku seperti itu padahal belum ada pembicaraan lagi sejak aku kembali dari rumah.

    Rama menghela napas, menatap Mira dengan wajah yang lebih dingin dari biasanya. 

    “Mir, aku menghargai kamu. Tapi cerita kita sudah berakhir dua tahun lalu. Dan aku sudah menjelaskan padamu alasannya.”

    Mira tertawa kecil, pahit. 

    “Alasanmu dulu karena aku terlalu manja dan kamu tak bisa cocok denganku.”

    “Aku sudah berubah, Ram. Aku nggak manja lagi. Aku bisa mandiri sekarang, aku bisa…”

    Suara Mira bergetar lagi, tangannya mengepal di atas meja.

    Rama menatapnya dengan tatapan lembut, tapi tegas. 

    “Aku menghargai usahamu berubah, Mir. Tapi kamu nggak perlu berubah untuk aku”.

    “Kita memang nggak cocok. Aku nggak mau menyakiti kamu dengan menjanjikan sesuatu yang nggak bisa aku tepati.”

    Mira menatapnya lama, matanya berkaca, lalu mengalihkan pandangan padaku dengan sorot mata yang sulit kumaknai.

    Aku menelan ludah, berusaha tetap tenang.

    “Baiklah, jika tak ada lagi aku di hatimu, aku mengerti, tapi aku ingin kamu tahu, Ram, aku masih mencintaimu, aku rela melepaskan semua fasilitas ayahku agar aku bisa membuktikan padamu bahwa aku bisa mandiri.”

    Aku merasa terlalu jauh mendengar pembicaraan mereka, cepat aku potong.

    “Maaf Bu Mira, untuk kerjasama event ini, saya akan kirim detail breakdown sponsorship ke email Ibu hari ini,” kataku pelan.

    “Pak Rama sebaiknya saya ke meja saya dulu, masih ada yang harus saya kerjakan, permisi, pak.”

    Mira menoleh, tersenyum tipis. 

    “Terima kasih, Mbak Sinta…”

    Rama menatapku dan ingin mengatakan sesuatu, tapi gegas aku berdiri dan keluar dari ruangan.

    Aku duduk di mejaku sambil memegang dadaku. Ada rasa yang tak ku mengerti. Aku kembali fokus pada pekerjaan yang sempat kutinggalkan tadi dan segera fokus pada materi sponsorship yang harus kukirim ke Bu Mira.

    Tapi pikiranku tidak bisa berhenti memutar kejadian barusan. Tatapan Mira pada Rama, suara Mira saat memohon untuk makan malam, tatapan Rama padaku.

    Tak lama pintu ruangan Rama terbuka. Ku lihat Bu Mira keluar dengan mata yang masih memerah. Ia sekali lagi melihat ke arahku dengan tatapan yang tajam, beda sekali ketika di depan Rama tadi.

    Aku hanya tersenyum sopan, dan mengangguk.

    “Aku ingin tahu, apa yang membuat Rama menyukaimu,” tiba-tiba dia berkata di depanku dan berlalu pergi.

    Aku masih duduk dengan buku catatan di tanganku, tapi entah apa yang kucatat barusan. Tanganku gemetar, jantungku masih berdetak cepat.

    Suara intercom berdering, Rama memintaku ke ruangannya.

    Rama mengusap wajahnya, menutup matanya sesaat sebelum menatapku.

    “Maaf, Ta, kamu harus melihat semua ini.”

    Aku menggeleng pelan. 

    “Tidak apa-apa, Pak.”

    Dia menatapku, matanya lelah. 

    “Kamu nggak perlu takut, Mira hanya masa lalu.”

    Aku hanya mengangguk, tapi hatiku sesak entah kenapa.

    “Tapi seharusnya Bapak tidak mengatakan itu pada Bu Mira, karena kita memang belum ada pembicaraan setelah beberapa hari lalu, Pak.” Ucapku.

    Rama menatapku, lalu berkata, 

    “Aku hanya tak ingin memberi ruang padanya, Sinta. Bagiku cerita kami sudah selesai, dan aku ingin memulainya kembali bersamamu, seperti janjiku di makam kakek.”

    “Aku tahu kamu belum bisa menerima ini, aku tak akan memaksa. Tapi izinkan aku untuk menunjukkan kepadamu bahwa aku menghormatimu dan mari kita pelan-pelan belajar menerima ini, Ta.” 

    Aku menghela nafas, 

    “Baiklah, Pak. Aku akan mencoba menerima ini, nanti kita bicarakan lagi ya, Pak” jawabku. 

    “Sekarang, saya permisi menyelesaikan tugas saya yang tertunda” 

    “Terima Kasih, Ta” ucapnya

    Tak lama kemudian, notifikasi email masuk. Dari Rama.

    Subject: Detail kerjasama dengan Bu Mira
    “Ta, terima kasih sudah membantu handle pertemuan tadi. Kirimkan breakdown sponsorship ke Bu Mira setelah kamu siap. Take your time.”

    Aku menghela napas pelan. Dia masih memanggilku “Ta”, dengan nada yang membuat hatiku tenang, tapi juga bingung.

    Kupaksa diriku tersenyum tipis, lalu membalas:

    “Baik Pak, akan segera saya kirim siang ini.”

    Di layar laptopku, nama “Mira” masih tertera sebagai penerima email, namun jemariku berhenti di atas keyboard. 

    Kenapa hati ini merasa aneh?

    Kenapa aku merasa takut?

    Apakah aku takut Rama kembali pada Mira?
    Atau aku takut pada diriku sendiri.

    Aku tidak ingin jatuh pada perasaan yang tidak seharusnya…” Bisikku dalam hati.

    Tapi saat aku ingat bagaimana Rama menatapku tadi, dan bagaimana dia menolak Mira, hatiku bergetar pelan, dengan rasa yang bahkan aku sendiri belum berani aku namai.

    **

     

     

    Kreator : Dian Puspita (Puspa Raito)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Sesal Yang Tak Menjadi Sesal_Bagian 2

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021