KATEGORI
  • Adat & Budaya
  • Agrikultur
  • Aksi
  • Arsitektur
  • Artikel
  • Asmara
  • Autobiografi
  • autobiography
  • Bahasa & Sastra
  • basedonmyrealitylife
  • Berita Alineaku
  • betonredofficial.com
  • billybets.ch
  • Bisnis
  • Branding
  • Buku
  • Catatan Harian
  • Cerita Anak
  • Cerita Bersambung
  • Cerita Pendek
  • Cerita Rakyat
  • Cerpen
  • Cinta
  • Cita – Cita dan Harapan
  • Dongeng
  • Drama
  • Ekonomi
  • Epos
  • Event
  • Fabel
  • Fantasi
  • Fiksi
  • Gaya Hidup
  • ggbetofficial.de
  • gullybetofficial.com
  • Hiburan
  • Hobi
  • Hubungan Antarpribadi
  • Hukum
  • Humanis
  • Humor
  • Ilmu Manajemen
  • Inspirasi
  • Istri
  • Kampus
  • Karir dan Kewirausahaan
  • Keagamaan
  • Keluarga
  • Kesehatan & Kecantikan
  • Kesehatan Mental
  • Ketenagakerjaan
  • Kisa Masa Kecil
  • Kisah Inspiratif
  • Kritik Media
  • Kuliner
  • Legenda
  • Lifestyle
  • Lingkungan Hidup
  • Madhoe Retna
  • Manajemen
  • mengelola toko
  • Mental Health
  • Metafisika
  • montecryptoscasinos.com
  • Moralitas
  • Motivasi
  • mrpachocasino.ch
  • Nonfiksi Dokumenter
  • Novel
  • novos-casinos
  • Nutrisi
  • Nutrition
  • okrogslovenije
  • Opini
  • Organisasi
  • Otomotif
  • Pablic
  • Parenting
  • Pemerintahan
  • Pendidikan
  • Pendidikan Karir
  • Pendidikan Keuangan
  • pengalaman hidup
  • Pengembangan Diri
  • Perjalanan Hidup
  • Pernikahan
  • Persahabatan
  • Pertemanan
  • Petualangan
  • Petualangan Alam
  • Pilih Kategori
  • Pilih Menu
  • Pin-Up oyunu
  • Pin-UP VCH
  • Pin-Up yukle
  • Politik
  • Post
  • Psikologi
  • Psikologi Sosial
  • Public
  • Puisi
  • Romansa
  • Romantisme kehidupan
  • Rumah Tangga
  • Satir
  • SDM
  • Sejarah
  • Self-Acceptance
  • Self-Awareness
  • Seni & Budaya
  • Sosial
  • spiritual journey
  • Strategi
  • Teknologi
  • Tempat Wisata
  • Traveling
  • Uncategorized
  • Wanita
  • Beranda » Artikel » Sesal Yang Tak Menjadi Sesal_Bagian 3

    Sesal Yang Tak Menjadi Sesal_Bagian 3

    BY 02 Jan 2026 Dilihat: 72 kali
    Sesal Yang Tak Menjadi Sesal_Bagian 2_alineaku

    Tentang dua hati yang belajar saling mendekat tanpa tergesa, menjaga jarak bukan karena ragu — tapi karena ingin melangkah dengan benar.

     

    Bab 9. Meminta Dengan Benar

    Hari itu aku baru saja selesai menutup laptop setelah meeting online dengan tim sosial media. Rasanya masih lelah, tapi entah kenapa hatiku lebih tenang dibanding kemarin.

    Aku berusaha fokus pada pekerjaan, walau sesekali pikiranku masih terbayang saat Rama menatapku dan berkata dia ingin memulai bersamaku, perlahan.

    Aku masih belum berani menjawab dengan pasti. Tapi aku juga tidak lagi menolak kehadirannya.

    Siang itu, Rama mengetuk meja kerjaku pelan.

    “Ta, jam 2 siang nanti, kamu ikut aku ya ke kantor pusat untuk rapat dengan Papa.”

    Aku mendongak, terkejut.

    “Papa Bapak?” tanyaku.

    “Iya, Papa ingin mendengar langsung progres marketing produk remaja ini. Kamu yang paling tahu detailnya, jadi aku butuh kamu dampingi.”

    Aku mengangguk perlahan.

    “Baik, Pak.”

    Sebenarnya, aku gugup. Aku baru sekali bertemu Pak Pranata itupun bukan dalam suasana pekerjaan seperti ini. 

    Yang aku tahu, beliau adalah sosok yang tegas tapi adil dan sangat menjaga nama baik perusahaan.

    Tepat jam dua siang, kami sudah di lobby kantor pusat, menunggu lift. Rama mengenakan jas abu gelap dengan dasi navy, terlihat sangat profesional dan rapi.

    Sesekali dia menoleh padaku, memastikan aku baik-baik saja.

    “Kamu gugup ya?” tanyanya sambil tersenyum tipis.

    Aku menarik napas, “Sedikit.”

    “Tenang aja, Ta. Kamu hanya perlu menjelaskan apa yang sudah kamu kerjakan dengan baik, seperti biasanya,” katanya, nada suaranya lembut.

    Aku hanya mengangguk. Tapi ada rasa hangat di dada saat dia menatapku seperti itu. Bukan seperti atasan ke bawahan. Tapi seperti seorang laki-laki yang benar-benar ingin mendukungku.

    Saat kami tiba di ruang rapat, Pak Pranata sudah duduk di kursi utama, membaca berkas yang tampaknya sudah dikirimkan Rama sebelumnya.

    Aku menunduk sopan, 

    “Assalamualaikum, Pa.”

    “Waalaikumsalam, Sinta. Silakan duduk,” jawab Pak Pranata dengan suara tenang, tapi tegas.

    Kami mulai rapat, aku mempresentasikan progres digital campaign, engagement yang meningkat, serta rencana kolaborasi dengan beberapa influencer remaja untuk menyasar target market dengan lebih tepat.

    Pak Pranata sesekali mengangguk, matanya memperhatikan setiap detail grafik yang kutampilkan.

    Saat aku selesai menjelaskan, beliau tersenyum tipis.

    “Kerjamu rapi sekali, Sinta. Terima kasih sudah membantu Rama menjaga kualitas brand ini.”

    Aku merasa lega, dan sedikit terharu mendengar pujian itu.

    “Terima kasih, Pa, atas kesempatannya,” jawabku.

    Saat rapat hampir selesai, tiba-tiba pintu diketuk dan terbuka perlahan. Seorang wanita elegan dengan blazer putih, celana bahan krem, dan heels nude masuk sambil membawa map hitam.

    Mira.

    Dia tersenyum anggun pada Pak Pranata dan Rama.

    “Permisi Pak, saya titipkan revisi kontrak sponsor event minggu depan.”

    Pak Pranata mengangguk. “Terima kasih, Mira.”

    Mira menoleh padaku, menatapku dengan sorot mata yang sulit kutebak, lalu tersenyum tipis.

    “Hai, Mbak Sinta. Terima kasih sudah membantu handle sponsorship kemarin,” katanya dengan suara lembut.

    Aku membalas senyum, “Sama-sama, Bu Mira.”

    Dia lalu menoleh pada Rama, sorot matanya berubah lebih dalam.

    “Ram, nanti malam, kamu ada waktu? Aku ingin membicarakan detail event yang lebih personal, supaya sinkron.”

    Aku menahan napas, menoleh ke arah Rama.

    Rama menatap Mira dengan ekspresi datar, lalu berkata pelan, 

    “Untuk hal detail event, kamu bisa diskusi dulu dengan Sinta. Kalau masih perlu aku, kita jadwalkan meeting resmi saja.”

    Sekilas, wajah Mira menegang, tapi dia segera menutupi dengan senyum.

    “Baiklah, Ram,” jawabnya, lalu ia pamit keluar.

    Aku menarik napas panjang setelah Mira pergi. Rapat pun segera selesai, dan Papa Rama berdiri sambil menepuk bahu Rama pelan.

    “Rama, Papa senang kamu serius dengan projek ini. Oh ya, soal yang Papa minta kemarin, sudah kamu lakukan?” tanya Papa.

    Aku tidak tahu maksudnya, jadi aku hanya merapikan berkas presentasi.

    Rama mengangguk, “Sudah, Pa. Saya sudah bertemu langsung dengan Ayah dan Ibu Sinta minggu lalu di rumah Kakek”.

    “Saya minta izin pada mereka untuk mendekati Sinta secara baik, untuk saling mengenal lebih dekat. Bukan untuk melamar, Pa, tapi untuk memastikan semuanya berjalan dalam ridho mereka.”

    Aku membeku.

    Mataku terbelalak, menatap Rama dengan campuran kaget dan gugup. Kenapa aku baru tahu?

    Pak Pranata tersenyum tipis. 

    “Bagus, Nak. Papa mendukungmu. Jangan terburu-buru, tapi jalani dengan serius.”

    Aku menunduk, pipiku terasa panas. Hatiku berdegup lebih cepat daripada biasanya.

    Dalam perjalanan pulang, suasana di mobil terasa hening.

    Aku menoleh pada Rama, suaraku pelan.

    “Pak… kenapa saya baru tahu kalau Bapak sudah menemui Ayah dan Ibu saya?”

    Rama menoleh, matanya teduh tapi tegas.

    “Karena aku ingin melakukannya dengan cara yang benar, Ta. Aku tidak ingin kamu merasa tertekan. Aku hanya ingin izin untuk mengenalmu lebih baik, dengan ridho orang tuamu, sebelum aku benar-benar melangkah lebih jauh.”

    Aku menggigit bibir bawahku, menunduk, menahan air mata yang tiba-tiba terasa hangat di pelupuk.

    “Tapi kenapa Bapak tidak bicara dulu dengan saya?” tanyaku lagi.

    Rama menghela napas, “Aku takut kamu akan menolak jika aku bicara sebelum izin pada orang tuamu. Aku hanya ingin kamu tahu, aku serius, tapi aku tidak akan memaksamu.”

    Aku terdiam, memandang keluar jendela mobil. Langit sore terlihat biru pucat, dengan awan tipis menggantung.

    Ada rasa hangat dan lega, tapi juga rasa takut. Aku takut membuka hati, takut jika semua ini hanya akan berakhir dengan luka.

    Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku sendiri, bahwa perhatian Rama sudah mulai membuatku merasa aman.

    Saat kami sampai di kantor, Rama menoleh padaku sebelum aku turun.

    “Terima kasih sudah mendampingiku hari ini, Ta.”

    Aku mengangguk pelan, “Sama-sama, Pak.”

    Aku hendak membuka pintu mobil, tapi sebelum itu, Rama memanggil lagi dengan suara lembut.

    “Ta…”

    Aku menoleh, mata kami bertemu.

    “Aku tidak akan memaksa, tapi aku akan tetap ada, kalau kamu siap nanti.”

    “Mari kita belajar memantapkan hati bersama, Pak” jawabku pelan sebelum turun dari mobil.

    Saat aku kembali ke meja kerjaku, aku duduk sambil menekan dadaku.

    Aku mulai mengakui pada diriku sendiri, bahwa perasaan ini tidak bisa kuabaikan lagi.

    Aku belum berani memanggilnya lebih dari “Pak”, tapi hatiku sudah memanggilnya dengan cara yang berbeda.

    Aku akan belajar perlahan, membuka hati, sambil tetap menjaga mimpiku untuk mandiri.

    Karena mungkin, inilah cara Allah menjawab doa-doaku selama ini.

    Dan aku tidak ingin lagi bersembunyi dari perasaan yang mulai tumbuh ini.

    Menjelang pulang, notifikasi WA di HP ku berbunyi.

    Pak Rama: “Ta, ucapanmu di mobil tadi, apakah artinya kamu mau membuka hati untukku”

    Aku terdiam sejenak, lalu kuketik jawaban : 

    “Iya, Pak. Mari kita belajar memantapkan hati bersama, bukan hanya janji pada Kakek tapi lebih dari itu, untuk kita berdua. Dan kita perlu membicarakan kelanjutannya”

    Pak Rama: “Alhamdulillah, aku senang mendengarnya, satu Langkah hubungan kita berjalan. Bagaimana kalo besok malam aku jemput kamu di Kost-an, kita makan malam bersama, Kamu bersedia?”

    Aku menimbang apakah menyetujui, lalu aku jawab: “hem…nanti saja ya, Pak, biarkan semuanya mengalir, tak perlu buru buru”.

    Pak Rama: “Baiklah, sampai ketemu besok, ya”

    Kututup HP ku dan Bersiap pulang. Ada rasa sedikit lega, paling tidak aku sudah mau membuka diri.

    Hanya saja masih banyak yang perlu aku pastikan lagi, tentang mimpiku.

    **

    Bab 10. Percakapan-Percakapan Kecil

    Siang itu, Sinta duduk di halte bus kantor setelah meeting luar yang selesai lebih cepat. Rambutnya diikat sederhana, wajahnya tampak lelah tapi matanya tetap bersemangat.

    Notifikasi WA berbunyi. Nama “Pak Rama” muncul di layar.

    Pak Rama: “Ta, sudah selesai meetingnya?”

    Sinta mengetik cepat.

    Sinta: “Sudah Pak, lagi nunggu bus ke kantor.”

    Pak Rama: “Mau saya jemput?”

    Sinta: “Enggak usah Pak, saya naik bus saja.”

    Pak Rama: “Baik. Kalau sudah sampai kantor kabari ya.”

    Sinta menatap layar ponselnya, lalu menarik napas pelan. Ia merasakan hangat kecil di dadanya. Perhatian Rama tidak membuatnya tertekan, tapi juga belum bisa ia artikan sebagai rasa cinta.

    Malamnya, Sinta menyiapkan laporan mingguan di kamar kosnya. Handphone bergetar, panggilan dari Rama.

    “Assalamu’alaikum, Pak,” sapa Sinta hati-hati.

    “Wa’alaikum salam, Ta. Maaf ganggu malam-malam,” suara Rama terdengar hangat.

    “gak apa-apa, Pak,” jawab Sinta.

    “Kamu sudah makan malam?”

    “Alhamdulillah sudah.” jawab Sinta

    Hening beberapa detik, hanya terdengar suara kipas angin berputar di kamar Sinta.

    “Sinta…kita boleh bicara serius ya?” Rama memulai dengan nada pelan,

    “Saya cuma ingin bilang, kamu enggak perlu terburu-buru memikirkan semuanya sekarang. Tentang perasaanmu, tentang pernikahan, tentang masa depan.”

    Sinta terdiam, memegang ponselnya erat.

    “Saya tahu kamu perempuan mandiri, punya mimpi, dan ingin terus berkembang. Kamu gak perlu takut kalau hal itu akan hilang kalau nanti kita bersama.”

    Sinta menarik napas.

    “Pak… saya jujur ada rasa takut, takut kalau semua akan berubah. Saya takut menikah akan membuat saya berhenti mengejar mimpi saya…”

    Rama tertawa kecil.

    “Kamu tahu, takut itu wajar. Tapi takut pada sesuatu yang belum tentu terjadi hanya akan membuatmu lelah, Ta.”

    Sinta diam, menatap lampu kamar yang menggantung.

    “Kita punya Allah, Ta. Kita jalani saja langkah demi langkah, serahkan pada Allah urusan takdirnya. Kalau memang ini jalan kita, Allah pasti akan menuntun. Kalau bukan, Allah akan berikan yang terbaik,” ucap Rama dengan tenang.

    Ada jeda panjang sebelum Sinta menjawab.

    “Pak, saya terima itu. Terima kasih sudah menenangkan saya,” kata Sinta, suaranya nyaris bergetar.

    “Sama-sama, Ta. Kita tetap berproses sebagai teman ya, meskipun nanti Allah menuliskan takdir kita seperti apa.”

    Sinta tersenyum kecil.

    “Iya Pak.”

    “Kamu istirahat ya, jangan terlalu larut kerjanya.”

    “Baik Pak, Assalamu’alaikum.”

    “Wa’alaikum salam.”

    Malam itu, Sinta menutup laptopnya lebih cepat. Ia duduk di tepi ranjang, memeluk lututnya.

    “Takut itu wajar, Sin,” gumamnya pada diri sendiri.
    “Tapi aku tidak ingin ketakutanku menghalangi takdir baikku.”

    Ia memejamkan mata, membisikkan doa dalam hati:

    “Ya Allah, jika memang Rama adalah jalan yang Engkau ridai untukku, mudahkanlah. Jika bukan, maka jauhkanlah dengan cara yang baik.”

    Untuk pertama kalinya, Sinta membiarkan dirinya merasa nyaman dengan perasaan yang baru mulai tumbuh.

    Bukan cinta yang tiba-tiba menggebu, tapi rasa nyaman dan aman, yang perlahan mengetuk hatinya.

    Keesokan harinya, Sinta kembali bekerja dengan hati yang sedikit lebih ringan. Ia tahu masih ada perjalanan panjang, tapi ia memilih menjalani satu hari demi satu hari, dengan tetap menjadi dirinya sendiri.

    Dan untuk pertama kalinya, saat nama “Pak Rama” muncul di layar ponselnya, senyum kecil terukir di wajah Sinta.

    Waktu yang Dipilih

    Lebih sebulan dari percakapan terakhir tentang keseriusan saling membuka diri.

    Hari Sabtu, Sinta masih sibuk dengan laporan progres iklan untuk klien besar. Siang menjelang sore, WA dari Rama masuk:

    Pak Rama: “Ta, besok Minggu ada waktu luang? Kita ketemu sebentar, makan siang saja, gak lama.”

    Sinta menatap layar cukup lama sebelum membalas.

    Sinta: “Baik Pak, Insya Allah saya luangkan waktu.”

    Pak Rama: “Makasih, Ta. Nanti saya kabari tempatnya.”

    Sinta menghela napas panjang, lalu menutup laptopnya, menatap pantulan dirinya di layar hitam yang mati. Perlahan ia berkata dalam hati:

    “Bismillah, ini hanya makan siang. Tidak perlu takut.”

    Esoknya, mereka bertemu di sebuah kafe kecil dekat taman kota. Tempatnya sederhana, tidak terlalu ramai, dengan jendela lebar yang menampilkan pohon-pohon rindang di luar.

    Rama datang lebih dulu, memakai kemeja putih dengan jam tangan hitam kesayangannya. Sinta datang dengan blouse longgar warna krem dan celana kain hitam, rambutnya diikat rapi, tanpa riasan tebal seperti biasanya.

    “Assalamu’alaikum, Pak,” sapa Sinta dengan senyum kecil.

    “Wa’alaikum salam, duduk Ta,” balas Rama, berdiri dan membenarkan kursinya.

    Mereka memesan makan siang menu favorit di restoran itu. Beberapa menit pertama hanya diisi obrolan ringan soal pekerjaan.

    “Ta, saya senang kamu mau meluangkan waktu,” ucap Rama, menatap Sinta dengan hangat namun tetap menjaga batas.

    Sinta mengangguk, memutar cangkir tehnya perlahan.

    “Pak, kenapa memilih saya?” akhirnya Sinta memberanikan diri bertanya, suaranya pelan.

    Rama menghela napas, lalu tersenyum.

    “Awalnya karena amanah Kakekmu, juga Kakek saya. Tapi setelah mengenalmu selama ini, saya kagum dengan kerja kerasmu, cara kamu menjaga dirimu, dan bagaimana kamu menghargai orang lain. Saya merasa nyaman Ta, dan saya ingin kita menjalani ini dengan baik.”

    Sinta menunduk, hatinya berdebar. Ia memikirkan apa yang akan diucapkan.

    “Pak, saya ingin jujur. Saya masih belum bisa menjanjikan apa-apa, bahkan rasa cinta saja saya masih belajar memahaminya.”

    Rama tersenyum.

    “Ta, kamu gak perlu memaksa diri untuk cinta. Rasa itu bisa tumbuh perlahan, yang penting kita sama-sama niat baik, saling mengenal, dan saling menghargai.”

    Sinta mendongak, menatap Rama. Untuk pertama kalinya ia merasa lega karena tak dituntut segera jatuh cinta atau segera mengambil keputusan besar.

    “Saya ingin tetap menjadi diri saya, Pak. Saya ingin tetap bekerja, mengejar mimpi saya, tanpa takut kehilangan diri saya sendiri,” lanjut Sinta, suaranya mantap.

    Rama mengangguk.

    “Saya mendukung semua mimpimu, Ta. Kalau memang kita berjodoh, saya ingin menjadi pendamping yang mendukungmu, bukan mengekangmu.”

    Sinta tersenyum, matanya sedikit berkaca-kaca.

    “Terima kasih. Lalu bagaimana dengan Bu Mira, Pak?” tanyanya pelan.

    “Tentang Mira, tak perlu kamu risaukan, aku benar-benar tak memiliki rasa lagi dengannya” jawab Pak Rama.

    Aku melihat ke matanya, mencari kejujuran di sana. Lalu aku tersenyum dan mengangguk.

    “Mari kita mulai dengan niat baik dan dengan kejujuran ya, Pak”

    Mereka pun melanjutkan obrolan ringan, membahas masa kecil mereka, tentang Kakek Teguh yang sering bercerita dengan semangat, tentang keisengan Ilham saat kecil, dan tentang Sinta yang ternyata suka sekali memelihara kelinci saat kecil hingga cerita lucu tentang Rama yang dulu takut naik sepeda saat kecil.

    Sinta sesekali tersenyum kecil, perlahan rasa canggungnya menipis.

    “Ternyata Pak Rama takut naik sepeda juga ya waktu kecil,” goda Sinta, suaranya agak pelan namun terdengar geli.

    “Jangan dibocorkan ke orang kantor ya,” balas Rama sambil tertawa kecil.

    Sinta mengangguk, menyimpan tawa di balik gelas jusnya.

    Setelah selesai makan, Rama menawarkan untuk mengantar Sinta pulang ke Kostnya. 

    gak apa-apa, Pak. Saya bisa naik taksi online,” seperti biasa tolak Sinta dengan sopan.

    “Ta, makasih sudah mau ngobrol hari ini,” ucap Rama sebelum berpisah.

    Sinta mengangguk sambil tersenyum, “Terima kasih juga, Pak, sudah mengizinkan saya menjadi diri saya sendiri.”

    Saat taksi online tiba, Sinta menoleh ke Rama dan melambaikan tangan sebelum naik. Dalam hatinya, ia berkata:

    “Ya Allah, jika ini jalanku, tuntunlah aku. Jika bukan, maka kuatkan aku.”

    Ia belum jatuh cinta, tapi ia sudah mulai nyaman.

    Dan untuk saat ini, itu sudah cukup.

     

    Bab 11. Mengalir Seperti Air

    Sejak makan siang bersama minggu lalu, Rama semakin sering mengajak Sinta ngobrol walau hanya lewat aplikasi chat

    Sinta juga selalu membalas, ada rasa senang dihatinya ketika bisa mengobrol dengan Rama.

    Pagi itu…

    Saat Sinta hendak berangkat kerja, ia mendapat chat dari Rama:

    Pak Rama (06:45):  Selamat pagi Ta. Semoga hari ini lancar dan menyenangkan ya..Jangan lupa sarapan.

    Sinta tersenyum, mengetik pelan: 

    Sinta (06:48): Pagi Pak… Terima kasih. 😊

    Hari-hari berikutnya mereka tetap menjaga batas, tapi perlahan rasa nyaman itu tumbuh.

    Tanpa mereka sadari, mereka mulai belajar saling mengenal lebih dalam:

    Rama bercerita tentang keinginannya membuka usaha sosial untuk membantu anak-anak putus sekolah. Sinta bercerita tentang cita-citanya memiliki rumah baca suatu hari nanti.

    Mereka saling bertukar cerita tentang film kesukaan, makanan favorit, sampai tempat impian untuk berlibur.

    Tidak terburu-buru, tidak saling menuntut, hanya saling menggenggam hati dengan doa.

    Mereka tetap dekat tapi tidak ada komitmen pacaran.

    Mereka sudah sama-sama dewasa, paham bahwa cinta bukan alasan untuk melanggar batas yang Allah tetapkan. Mereka bersepakat menjaga komunikasi seperlunya, tetap hangat, tapi tidak melewati batas syariat.

    “Kita ingin saling mengenal, tapi dengan cara yang Allah ridhoi ya, Ta,” pesan Rama suatu malam.

    “Iya Pak… bukan masanya lagi untuk pacaran…,”
    balas Sinta dengan emot senyum.

    Menghadiri Kajian Pranikah

    Minggu pagi, Rama menjemput Sinta untuk menghadiri kajian pranikah di Masjid dekat kantor mereka.

    Sinta mengenakan tunik biru muda dengan jilbab pashmina abu-abu yang sederhana. 

    Rama memakai kemeja putih dan celana kain hitam, tampak rapi seperti biasanya.

    Kajian itu mengangkat tema:

    “Pernikahan: Antara Cinta dan Ibadah.”

    Sinta mencatat setiap poin penting:

    • Pernikahan bukan untuk menggantungkan kebahagiaan pada pasangan, tapi untuk bersama-sama memperjuangkan ketakwaan.
    • Cinta adalah anugerah, tapi pernikahan membutuhkan ilmu, komitmen, dan saling pengertian.
    • Jangan menikah karena terpaksa, menikahlah karena ingin mencari ridha Allah bersama.
    • Tak perlu takut jika belum “cinta sepenuhnya” karena cinta bisa tumbuh setelah akad dengan usaha bersama.

    Sinta merasa lega. Hatinya lebih ringan. Ia tahu cinta itu tidak melulu degup jantung yang cepat, tapi juga ketenangan yang dirasakan saat bersamanya.

    Rama menoleh ke arah Sinta saat ustadz menjelaskan bahwa cinta setelah akad lebih menenangkan dan lebih berkah.

    Sinta hanya tersenyum kecil, menunduk, tak berani membalas tatapan Rama terlalu lama.

    Catatan Jurnal Sinta

    Malam itu, sebelum tidur, Sinta membuka jurnal cokelat polos miliknya.

    Ia menuliskan:

    Hari ini aku belajar bahwa cinta bukan hanya tentang suka atau nyaman. Cinta yang benar adalah saat kita saling mendoakan, saling mendukung dalam kebaikan, dan saling menjaga batas sampai tiba waktunya halal.

    Aku ingin mencintai seseorang yang mencintaiku karena Allah, bukan karena penampilan atau kepintaranku. Aku ingin tetap menjadi diriku sendiri, menjalani mimpiku, sambil tetap berjuang bersama dia dalam kebaikan.

    Aku tidak tahu bagaimana masa depan dengan Rama, tapi aku tahu Allah selalu punya rencana terbaik.”

     

    Sinta menutup jurnalnya sambil tersenyum kecil.

     

    Suatu hari, Rama tidak mengirim chat seperti biasanya karena ia sibuk rapat luar kota.

    Awalnya Sinta tidak masalah, tapi saat makan siang, ia memeriksa ponsel berkali-kali, menunggu pesan dari Rama.

    Hingga akhirnya, ia tertawa pada dirinya sendiri.

    “Sinta… kamu kenapa sih…,” katanya pada pantulan dirinya di layar ponsel.

    Sore harinya, Rama akhirnya mengirim pesan:

    Pak Rama (16:21): Maaf ya Ta, hari ini hectic banget, baru sempat pegang HP. Kamu sehat kan?

    Sinta (16:22): Alhamdulillah sehat Mas… hehe.

    Pak Rama (16:22): Mas?

    Sinta (16:23): Ups, Maaf Pak. (emoticon menutup wajah)

    Sinta malu sendiri kenapa dia bisa typo, belum sempat dihapus sudah terbaca.

    Pak Rama (16:23): Eh kok diganti Pak lagi, aku senang jika kamu panggil aku Mas, Ta. Kalo bisa seterusnya jangan panggil aku Pak lagi ya, berasa aku tua banget loh, Ta.

    Aku tersenyum membaca chatnya.

    Sinta (16:24): Baiklah Mas Rama, aku membiasakan tidak memanggil dengan Pak lagi ya (emoticon senyum)

    Percakapan sore itu membuatnya merasa lega. Bukan karena Rama harus menghubunginya setiap waktu, tapi ia belajar mengakui bahwa ia mulai nyaman dengan kehadiran Rama dalam hidupnya.

    Tapi ia juga belajar bahwa rindu bukan untuk diumbar, melainkan cukup dijaga dalam doa.

    “Ya Allah, jika memang dia adalah yang terbaik untukku, maka dekatkanlah dengan cara yang Engkau ridhoi.” Sinta memeluk dirinya sendiri, merasa damai.

    Ia tahu, tidak perlu takut dengan ketakutan yang belum tentu terjadi. Yang perlu ia lakukan hanyalah menyerahkan takdir pada Allah, sambil tetap menjaga dirinya, impiannya, dan mimpinya sebagai wanita yang ingin bermanfaat untuk banyak orang.

    Mereka serius terus belajar, mengikuti kelas pra nikah, mendatangi guru mengaji. Saling menyampaikan keinginan masing-masing. Mereka ingin benar benar siap jika harus melangkah ke jenjang berikutnya.

    Sabtu sore, Sinta duduk di balkon kost usai membereskan cucian. Angin sore menenangkan pikirannya setelah seminggu padat kerja.

    Sebuah chat masuk.

    🩵 Mas Rama: “Ta, Mas ada waktu 15 menit untuk call sekarang, mau bahas hal ringan saja. Kalau kamu luang.”

    💙 Sinta: “Boleh Mas, sebentar ya aku pindah ke tempat yang tenang.”

    Sinta mengambil headset dan duduk di dekat jendela.

    🩵 “Ta, Mas mau ngobrol hal ringan saja. Kamu pernah kepikiran pengen punya rumah kayak apa nanti?”

    Sinta tersenyum tipis.

    💙 “Hmm… pengen yang nggak besar, tapi punya banyak cahaya, ada tanaman, dan dekat masjid.”

    🩵 “Mas juga kepikiran gitu, supaya rumah bukan cuma tempat tinggal, tapi tempat kita istirahat jiwa juga.”

    Sinta hanya mengangguk kecil.

    💙 “Mas, aku masih pelan-pelan ya memproses ini semua.”

    🩵 “Iya Ta, nggak usah dipaksa. Mas cuma ingin kita saling tahu cara pandang satu sama lain, supaya nanti tidak banyak salah paham.”

    Malamnya, Sinta duduk menulis di jurnal.

    “Hari ini aku belajar bahwa komunikasi itu bukan hanya tentang bicara, tapi juga mendengar. Aku bersyukur diberi kesempatan mengenal seseorang dengan cara yang tenang, tanpa drama.”

    “Aku juga menyadari bahwa rasa nyaman itu perlahan hadir, bukan tiba-tiba.”

    Keesokan harinya, Rama mengirim pesan:

    🩵 Mas Rama: “Ta, insyaAllah Jumat depan Mas ada waktu untuk menemui guru ngaji kita, mau ikut? Nggak harus jawab sekarang.”

    Sinta membaca pesan itu sambil tersenyum kecil.

    Ia membalas:

    💙 Sinta: “Boleh Mas, insyaAllah. Terima kasih sudah ngajak diskusi dengan cara yang baik.”

    Hari itu, Sinta merasa lebih ringan, karena langkah mereka berjalan perlahan, bukan dipaksa. Bukan sekadar tentang “rasa”, tapi tentang memantaskan diri untuk ibadah bersama.

    Jumat sore, Sinta menanti di teras masjid kecil dekat kantornya. Rama tiba, menuntun langkahnya dengan tenang. Mereka akan bertemu guru ngaji yang selama ini Rama datangi untuk meminta nasihat sebelum melanjutkan langkah serius.

    Guru mereka tidak banyak bicara, hanya mengingatkan:

    “Menikah bukan tentang siapa cepat, siapa lambat. Tapi tentang kesiapan memperbaiki diri dan saling menguatkan.”

    Sinta mencatat dalam hati.

    Usai pertemuan, mereka duduk di warung teh pinggir jalan. Rama memesan dua gelas teh panas dan gorengan.

    “Tehnya panas ya, hati-hati,” kata Rama sambil menyerahkan gelas ke Sinta.

    “Terima kasih, Mas,” balas Sinta, pelan tapi mulai terbiasa dengan panggilan itu.

    Rama menatap Sinta dengan senyum tipis.

    “Ta, aku kepikiran satu hal. Gimana kalau kita sama-sama nulis tiga hal yang kita harapkan nanti dalam rumah tangga?” ucap Rama.

    Sinta mengerutkan kening, lalu tersenyum kecil. “Tiga hal? Oke, tapi jangan ketawain aku ya kalau aneh.”

    Rama terkekeh pelan. “Gak bakal, Mas janji.”

    Mereka mengambil ponsel masing-masing, mengetik poin sederhana.

    Sinta:

    1. Ingin rumah yang tenang dan dekat masjid.
    2. Ingin tetap bisa berkarya, tapi tetap mendahulukan keluarga.
    3. Ingin bisa saling ngobrol tanpa takut dihakimi.

    Rama:

    1. Ingin rumah yang jadi tempat pulang dengan tenang.
    2. Ingin punya waktu untuk saling belajar agama bersama.
    3. Ingin istri yang bisa jadi teman cerita tentang apa saja.

    Sinta membaca pesan Rama, lalu menoleh padanya sambil menahan senyum.

    “Kita mirip ya, Mas,” katanya.

    “Iya, Ta. Nggak perlu buru-buru kok, tapi Mas pengen kita sama-sama paham apa yang penting buat kita,” balas Rama santai.

    Sinta menyeruput teh pelan, dadanya terasa hangat. Ia merasa dihargai, bukan dipaksa, bukan ditarik-tarik dalam sebuah janji yang belum ia pahami.

    Malam itu, Sinta kembali menulis di jurnal:

    “Aku belajar hari ini, bahwa cinta bukan sekadar rasa, tapi kemauan untuk saling mendengar. Aku juga belajar untuk perlahan tidak takut pada masa depan.”

    “Aku ingin pernikahan bukan hanya status, tapi perjalanan ibadah. Dan mungkin, Allah sedang mengizinkan aku belajar tentang itu bersama Rama.”

    Ia menutup jurnalnya dengan senyum kecil, sebelum beranjak tidur, menyerahkan segalanya kepada Allah, sang Pemilik takdir.

    **

     

     

    Kreator : Dian Puspita (Puspa Raito)

    Bagikan ke

    Comment Closed: Sesal Yang Tak Menjadi Sesal_Bagian 3

    Sorry, comment are closed for this post.

    Popular News

    • Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]

      Des 02, 2024
    • Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]

      Okt 02, 2024
    • Part 15: Warung Kopi Klotok  Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]

      Okt 01, 2024
    • Part 16 : Alun – Alun  Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]

      Okt 16, 2024
    • Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]

      Okt 21, 2024

    Latest News

    Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]

    Jun 21, 2021

    Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]

    Des 07, 2021

    Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,,  begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]

    Des 07, 2021

    Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]

    Des 07, 2021

    Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]

    Des 07, 2021