
“Tentang dua hati yang belajar saling mendekat tanpa tergesa, menjaga jarak bukan karena ragu — tapi karena ingin melangkah dengan benar.”
Malam itu, setelah kajian pranikah terakhir yang mereka hadiri bersama, Rama duduk sendirian di dalam mobilnya sebelum pulang. Ditatapnya dashboard, sejenak menutup mata, lalu tersenyum kecil.
“Bismillah,” bisiknya.
Ia semakin yakin. Semua proses belajar, diskusi dengan guru, dan saling mengenal dengan Sinta telah membulatkan niatnya. Ia ingin melamar Sinta dengan cara terhormat, bukan sekadar menepati janji pada Kakek Teguh, tapi karena kini hatinya memang ingin menjadikan Sinta bagian dari hidupnya.
Di tempat berbeda, Sinta baru saja selesai sholat istikharah. Ia masih duduk di atas sajadah, memegang mushaf di dadanya. Tangisnya mengalir pelan, bukan karena takut, tapi karena rasa syukur dan lega.
Dalam hening doanya, Sinta berkata lirih:
“Ya Allah, jika ini baik untuk dunia dan akhiratku, maka mantapkan hatiku untuk menerima dia.”
Beberapa malam setelahnya, Sinta merasakan ketenangan yang tak ia pahami sebelumnya setiap berinteraksi dengan Rama. Tidak ada lagi rasa ragu seperti awal, tidak juga ketakutan akan kehilangan dirinya sendiri.
Yang ada hanyalah rasa nyaman, rasa dihargai, dan rasa ingin saling mendukung dalam kebaikan.
Suatu sore setelah mereka selesai kajian daring, Rama mengirim pesan singkat pada Sinta.
🩵 Mas Rama: “Ta, boleh ngobrol sebentar?”
🩵 Sinta: “Boleh, Mas. Ada apa?”
🩵 “Mas nggak bisa janji jadi sempurna. Tapi Mas janji mau belajar bareng kamu, supaya kita sama-sama sampai ke SurgaNya, Ta. Boleh Mas melamar kamu secara resmi ke Ayah dan Ibu?”
Sinta terdiam membaca pesan itu. Tangannya bergetar, tapi hatinya tenang. Ditatapnya ponsel, lalu ia membalas:
🩵 “Insya Allah, Mas. Sinta sudah minta petunjuk Allah, dan Sinta siap untuk langkah selanjutnya.”
🩵 “Alhamdulillah… terima kasih Ta, sudah mau membuka hati.”
🩵 “Sama-sama, Mas. Kita sama-sama belajar ya nanti.”
Malam itu, Sinta kembali menulis di jurnalnya:
“Aku selalu takut pada pernikahan karena kupikir akan membuatku kehilangan diriku. Tapi hari ini aku paham, jika bersama orang yang tepat, pernikahan justru membuatku menjadi diriku yang lebih baik.”
“Ini bukan hanya tentang cinta, tapi tentang ibadah.”
Ia menutup jurnalnya dengan senyum lega, mengucap syukur dalam hati.
Sementara itu, Rama duduk di tepi ranjang, menunduk dan meneteskan air mata syukur. Ia sadar, ini bukan sekadar janji pada Kakek Teguh, tapi janji pada dirinya sendiri untuk menjaga perempuan yang ia cintai dengan cara yang Allah ridhoi.
Hari Sabtu pagi, Rama datang bersama kedua orang tuanya ke rumah keluarga Sinta. Mereka membawa beberapa bingkisan sederhana: buah, kue, dan sekotak kecil berisi cincin.
Tidak ada dekorasi mewah, hanya ruang tamu rumah Kakek yang kini menjadi saksi pertemuan dua keluarga, dengan aroma teh panas dan kue basah yang disiapkan Ibu Sinta.
Rama duduk dengan rapi di samping ayahnya, menatap Ayah Sinta dengan wajah serius namun tetap tenang.
“Ayah, Ibu, terima kasih sudah menerima kedatangan kami. Hari ini, dengan izin Allah dan restu keluarga, saya ingin melamar Sinta untuk menjadi istri saya,” ucap Rama tegas, namun tetap lembut.
Ayah Sinta menatap Rama dengan senyum lega, lalu melirik ke arah Sinta yang duduk di samping Ibunya, menunduk sambil menggenggam jemari Ibunya erat-erat.
“Kami sudah melihat keseriusanmu selama ini, Nak Rama. Insya Allah, kami merestui, dan menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada Sinta,” jawab Ayah Sinta.
Ruangan hening sejenak.
Sinta mengangkat wajahnya, menatap Ayahnya, lalu Ibunya, dan akhirnya Rama. Matanya berkaca-kaca, tapi senyum kecilnya hadir.
“Insya Allah, Sinta siap, Yah, Bu,” jawabnya pelan, tapi jelas.
Ibu Rama yang duduk di samping Rama tersenyum, matanya berkaca-kaca. Ayah Rama mengangguk penuh syukur. Mereka semua menundukkan kepala bersama, mengucap Alhamdulillah.
Setelah pembacaan doa bersama untuk kelancaran niat baik ini, Rama menyerahkan kotak cincin kecil itu kepada Sinta.
“Ini hanya simbol, Ta,” kata Rama pelan, “Tanda bahwa Mas ingin menjaga kamu dengan cara yang Allah ridhoi.”
Sinta menerimanya dengan tangan gemetar, lalu berbisik,
“Terima kasih, Mas.”
Untuk pertama kalinya, Sinta mengucapkan kata “Mas” dengan tulus, tanpa rasa canggung, membuat wajah Rama memerah tipis.
Hari itu mereka menetapkan waktu pernikahan secara sederhana, beberapa bulan ke depan, agar mereka dapat mempersiapkan hati, ilmu, dan mental mereka dengan baik.
Tidak ada foto prewedding mewah, tidak ada pesta besar, hanya rencana sederhana agar ijab kabul dapat berjalan lancar, sah, dan penuh keberkahan.
Malamnya, Sinta kembali menulis di jurnalnya:
“Hari ini aku resmi menerima lamaran seorang lelaki baik. Hatiku tenang, bukan karena semuanya pasti akan mudah, tapi karena aku tahu aku tidak sendiri. Pernikahan bukan tentang kesempurnaan, tapi tentang saling menguatkan.”
Ia menutup jurnalnya dengan senyum, lalu mematikan lampu kamarnya.
Di tempat lain,
Rama duduk di tepi tempat tidur, menatap langit malam dari jendela, berbisik dalam doanya:
“Ya Allah, bimbing kami agar mampu menjadi pasangan yang saling mendekatkan kepada-Mu.”
Dan malam itu, mereka sama-sama tertidur dengan hati yang damai.
Hari-hari setelah lamaran berjalan lebih cepat dari yang Sinta bayangkan.
Tidak ada euforia berlebihan, hanya percakapan praktis antara keluarga, pengecekan dokumen KUA, persiapan mahar, dan pembicaraan tentang tempat akad. Akad akan dilakukan sederhana di rumah keluarga Sinta, sesuai keinginan almarhum Kakek Teguh.
Sinta masih bekerja seperti biasa, pulang kerja ia sempatkan bertanya pada Ibu tentang persiapan hal-hal kecil: mengecek daftar undangan keluarga inti, memesan katering prasmanan sederhana, dan memilih kebaya akad dengan model simpel, tanpa payet berlebihan.
Rama juga tetap bekerja, namun ia mengirim pesan sesekali untuk memastikan semua berjalan baik.
Rama: “Ta, kalau perlu bantuan, kabari ya.”
Sinta: “Insya Allah Mas, terima kasih.”
Suatu malam, Sinta duduk sendiri di kamarnya, membuka jurnalnya. Ia menulis:
“Beberapa bulan lalu aku takut mendengar kata pernikahan. Sekarang, aku masih takut, tapi rasanya berbeda. Bukan takut kehilangan diriku, tapi takut apakah aku bisa menjadi istri yang baik. Aku hanya ingin rumah tangga kami kelak menjadi tempat pulang yang membuat kami semakin dekat pada Allah.”
Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan tangis ragu, melainkan rasa syukur.
Di lain waktu, Rama mengajaknya berbicara di telepon, membahas hal-hal sederhana.
“Mas, kita akan tinggal di mana setelah menikah?” tanya Sinta.
“Mas sudah siapkan apartemen dekat kantor, biar kamu tetap bisa kerja tanpa capek di jalan. Tapi Mas gak maksa, nanti kita atur bareng,” jawab Rama.
“Mas, aku takut Mas kecewa, karena aku nggak seperti perempuan lain yang setelah menikah langsung siap urus rumah,” kata Sinta.
“Ta, Mas gak minta kamu berubah jadi orang lain. Kita belajar bareng, yuk. Kamu gak sendiri kok,” jawab Rama, suaranya lembut.
Sinta diam lama, lalu menghela napas.
“Iya, Mas. Terima kasih,” balasnya pelan.
Dan itu menjadi salah satu momen di mana Sinta merasa perlahan rasa takutnya hilang, digantikan rasa tenang.
Menjelang akad, Sinta lebih banyak berdoa, melakukan shalat sunnah, dan berdzikir sebelum tidur, memohon keteguhan hati dan keberkahan pernikahan mereka.
Di satu sore menjelang akad, saat membantu Ibu di dapur, Ibu berkata sambil tersenyum,
“Kamu akan baik-baik saja, Nak. Ibu yakin. Kakekmu pasti bahagia melihatmu akan memulai babak baru ini.”
Sinta hanya mengangguk sambil memeluk Ibunya, air matanya menetes pelan.
“Doakan Sinta ya, Bu.”
“Selalu, Nak.”
Dan hari itu, mereka semua menanti akad yang akan segera datang, bukan dengan gelisah, tetapi dengan hati yang mulai tenang dan siap menghadapi perjalanan baru yang penuh perjuangan namun Insya Allah penuh keberkahan
Pagi itu, Sabtu yang cerah, rumah keluarga Sinta penuh dengan aroma wangi bunga melati dan harum teh panas yang disajikan untuk tamu-tamu keluarga dekat.
Hanya keluarga inti dan beberapa sahabat dekat yang hadir. Sesuai pesan almarhum Kakek Teguh, pernikahan ini digelar sederhana, hangat, tanpa hiruk pikuk pesta besar.
Sinta duduk di kamar, mengenakan kebaya putih sederhana. Tangannya dingin, namun matanya lembut, lebih tenang daripada saat-saat sebelumnya.
“Masih deg-degan ya?” bisik Ibu sambil membenarkan hijab Sinta.
“Iya Bu…” jawab Sinta sambil menunduk, menahan air mata yang hendak jatuh.
“Bismillah ya, Nak. Ini langkah baik. Semua akan baik-baik saja.”
Sinta menarik napas dalam, berbisik dalam hati:
“Bismillah, Kakek, doakan Sinta…”
Di ruang depan, Rama duduk berhadapan dengan Ayah Sinta, saksi, penghulu, dan keluarga. Wajahnya terlihat tegang namun matanya berbinar, sesekali mengusap telapak tangannya ke celana.
“Nak Rama, ijab kabul akan segera dimulai,” ujar penghulu dengan tenang.
“Siap, Pak,” jawab Rama.
Semua terdiam. Ayah Sinta mengucapkan kalimat ijab dengan suara mantap, menahan haru.
Rama menjawab dengan satu tarikan napas:
“Saya terima nikahnya Sinta binti Bagaskara dengan mas kawin seperangkat alat salat dan satu set perhiasan emas seberat 10 gram dibayar tunai.”
Hening sejenak, lalu diikuti ucapan “Sah, sah…” dari saksi dan hadirin.
Senyum lega muncul di wajah Rama, tangannya mengepal kecil seperti mengucap syukur dalam diam.
Dari dalam kamar, Sinta mendengar kata “sah” itu, air matanya tumpah bersama senyumnya yang mengembang.
Usai akad, mereka duduk bersama untuk doa bersama, membaca surat Al-Fatihah untuk almarhum Kakek Teguh. Sinta menunduk, menahan isak, merasa Kakek hadir memeluknya dengan doa.
“Kakek, Sinta sudah menepati janji…”
Siang itu, setelah semua tamu pulang, Sinta duduk di teras, masih mengenakan kebayanya. Rama menghampirinya, duduk berjarak, keduanya saling diam.
“Ta…” panggil Rama pelan.
Sinta menoleh, sedikit malu, lalu menjawab pelan, “Iya… Mas.”
Rama tersenyum, bahagia mendengar panggilan itu.
“Terima kasih, sudah mau menerima Mas…” katanya lirih.
Sinta menatap Rama, tersenyum kecil, lalu menunduk.
“Terima kasih juga, Mas…” jawab Sinta.
Rama mengangguk pelan.
Hari itu, Sinta menyadari, pernikahan bukan akhir dari segalanya, melainkan awal perjalanan yang akan mereka jalani bersama. Rasa takut, ragu, dan segala sesal yang pernah ia rasakan perlahan tergantikan oleh keyakinan:
Bahwa Allah akan cukupkan segalanya untuk mereka yang berniat baik, berjalan dengan cara baik, dan mengikhlaskan takdir dengan penuh tawakal.
Dan akhirnya, Sinta tidak lagi hanya memproses takdir, tetapi memilih untuk menghidupi takdirnya dengan rasa syukur.
Malam itu, di rumah yang masih wangi bunga melati sisa akad, Rama memimpin sholat Maghrib berjamaah untuk pertama kalinya dengan Sinta sebagai makmum di belakangnya.
Tangis Sinta tumpah dalam sujudnya, berdoa dengan tulus, meminta Allah membimbing langkah baru ini, menuntunnya agar tetap teguh pada mimpi dan tetap lembut sebagai seorang istri.
Usai sholat, Rama berbalik menatap Sinta, senyumnya lembut.
“Makasih sudah mau bareng Mas mulai dari langkah ini,” ucap Rama.
Sinta mengangguk, tersenyum dengan mata masih sembab.
“Bismillah ya, Mas… semoga kita bisa saling membimbing sampai Jannah,” balas Sinta.
Malam itu, mereka duduk berdua di teras, menyeruput teh hangat sambil memandang langit, tanpa banyak kata.
Tak perlu banyak kata, karena keduanya sama-sama tahu:
Cinta bukan hanya rasa, tapi tentang tanggung jawab, membimbing dan dibimbing, untuk saling menjaga diri dalam ridha Allah.
Dan Sinta tahu, perlahan, ia akan belajar untuk mencintai Rama dengan cara yang Allah ridai—bukan sekadar jatuh cinta, tetapi tumbuh dalam cinta.
Keesokan harinya, di ruang tamu, Rama duduk menunggu. Ia membawa sebuah tas kertas kecil berwarna krem, di dalamnya berisi beberapa lembar gamis syar’i berwarna pastel.
Saat Sinta keluar dengan baju rumah yang nyaman, Rama berdiri, lalu menyerahkan tas itu dengan senyum hangat.
“Ini… buat istri mas,” ujar Rama pelan.
Sinta menatap tas itu, lalu menatap Rama, hatinya terasa hangat dengan sebutan Istri.
“Apa ini, Mas?” tanyanya pelan.
“Gamis dan kerudung. Bukan maksain, Ta… Mas cuma ingin, kita memulai ini dengan baik, dengan sama-sama memperbaiki diri,” kata Rama sambil mengusap belakang lehernya, sedikit gugup.
Sinta terdiam, menatap tas itu dengan jemari gemetar.
“Sinta… Mas pengin kamu lebih terjaga. Bukan karena Mas aja, tapi biar kamu lebih tenang juga… Insya Allah, langkah kecil ini akan menambah keberkahan rumah tangga kita.”
Sinta mengangguk pelan, matanya panas.
“Aku tahu, ini juga keinginan Kakek kan, Mas…” gumam Sinta.
Rama tersenyum, mengangguk.
“Iya, Ta… dan Mas di sini untuk bimbing kamu pelan-pelan. Kita sama-sama belajar ya… Mas juga masih belajar, tapi kita niatkan ibadah bareng.”
Sinta menghela napas panjang, lalu tersenyum kecil.
“Bismillah, Mas… terima kasih sudah mengingatkan aku dengan cara yang baik.”
Rama menatapnya dengan lega, mengucap syukur dalam hati.
“Alhamdulillah…”
Sinta memeluk tas berisi gamis dan kerudung itu erat, seolah memeluk doa Kakek, doa ibunya, dan ketulusan Rama yang ingin membimbingnya dengan cinta.
Akhirnya mereka kembali ke Jakarta setelah satu minggu di rumah orangtua Sinta. Sesuai keinginan Rama mereka tinggal di apartemen Rama karena dekat dengan Kantor, sebelum mereka memiliki rumah sendiri.
Tak ada bulan madu, mereka akan langsung bekerja, hanya saja Rama berniat mengajak Sinta Umroh bersama setelah pekerjaan mereka selesai.
Pagi itu, Sinta berdiri di depan cermin kamarnya. Gamis hijau sage yang Rama belikan sudah ia kenakan, hijab pashmina berwarna senada membingkai wajahnya.
Tangannya sedikit gemetar, tapi hatinya tenang.
“Bismillah…” bisiknya, menarik napas dalam.
Ia keluar, menemukan Rama sudah menunggu di mobil dengan senyum menenangkan.
“Masya Allah, cantik banget…” ucap Rama pelan, tulus.
Sinta tersipu, membalas dengan senyum kecil.
“Ayo, Mas, nanti terlambat,” jawabnya, berusaha menenangkan degup jantungnya sendiri.
Hari itu, Sinta melangkah ke kantor dengan langkah mantap, menunduk saat bertemu rekan kerja, menyalami satu per satu dengan senyum hangat.
Semua karyawan menoleh, menatap kagum, lalu bertepuk tangan pelan saat Rama mempersilakan semua berkumpul di ruang serbaguna kantor.
Ada kue sederhana, nasi tumpeng kecil, dan minuman yang sudah disiapkan.
“Teman-teman, terima kasih sudah hadir. Hari ini adalah momen syukuran kecil atas pernikahan saya dengan Sinta…,” Rama membuka sambutan, menoleh pada Sinta yang berdiri di sampingnya.
“Kami sepakat tidak mengadakan pesta besar. Cukup doa dan syukur sederhana, bersama kalian yang sudah seperti keluarga di kantor ini.”
Para karyawan tersenyum, beberapa menitikkan air mata haru.
Rama melanjutkan,
“Hari ini juga menjadi hari terakhir Sinta sebagai sekretaris saya, karena setelah ini, dia akan memulai perjalanan baru… yang sesuai dengan mimpinya bisa bermanfaat untuk banyak orang”
“Istri saya akan mengurus Yayasan Praja, yang selama ini menjadi amanah keluarga.”
Sinta menghela napas, lalu maju selangkah.
“Terima kasih atas semua kebersamaan selama ini. Terima kasih sudah mengajarkan saya banyak hal. Mohon maaf jika ada kesalahan selama saya bekerja di sini,” ucap Sinta dengan suara yang bergetar, matanya berkaca-kaca. Semua bertepuk tangan, memberikan pelukan hangat.
Setelah acara kecil itu selesai, Sinta menatap kantor tempat ia belajar banyak hal dengan haru.
“Ternyata benar kata Kakek… hidup ini bukan tentang seberapa keras kita berlari, tapi tentang seberapa ikhlas kita menyerahkan langkah pada Allah…” gumamnya dalam hati.
Ia melirik Rama yang sedang berbicara dengan beberapa karyawan sebelum mereka pulang.
Di sana, Sinta melihat sosok seorang suami yang siap membimbingnya dengan sabar, seorang sahabat untuk diskusi mimpi-mimpi, dan seorang partner dalam ibadah.
Di matanya, rasa sesal yang dulu pernah menyiksanya kini telah berubah menjadi rasa syukur.
Melalui penyesalan dan bersalah pada Kakek Teguh, Allah membawanya menuju kebahagiaan.
“Kakek, terima kasih… Sesal itu kini tak menjadi sesal lagi. Karena lewat Kakek, Allah mempertemukan aku dengan takdir terindah ini.”
Sinta menunduk, berbisik dalam hati:
“Alhamdulillah… Terima kasih ya Allah, atas jalan hidup yang Kau takdirkan, atas cinta yang Kau ajarkan… dan atas semua kebahagiaan yang Kau tulis untukku, setelah ujian yang Kau berikan.”
Sinta menggenggam tangan Rama, menatap ke depan, siap memulai peran barunya untuk bermanfaat bagi lebih banyak orang, tanpa kehilangan dirinya sendiri, dengan cinta yang bersemi dalam ridha Allah.
Tamat.
Epilog
Pelangi Setelah Hujan
Beberapa bulan telah berlalu.
Pagi itu, Sinta duduk di teras Yayasan Praja yang kini ia kelola. Anak-anak SD dan SMP berlarian di halaman, membawa buku bacaan yang Sinta ajarkan dalam kelas literasi sederhana setiap Sabtu pagi.
Angin pagi membelai jilbabnya, membawa aroma tanah basah setelah hujan semalam.
“Alhamdulillah…” bisiknya, saat melihat anak-anak tertawa.
Ia baru saja selesai mengajar tentang cita-cita, mengajak mereka menulis mimpi-mimpi sederhana di kertas warna-warni.
Ada yang ingin menjadi guru, dokter, penulis, ada juga yang ingin membahagiakan ibunya.
Sinta merasa seolah dirinya sedang melihat pantulan masa kecilnya sendiri.
Sore harinya, Rama menjemputnya, turun dari mobil dengan membawa dua gelas kopi hangat.
“Capek?” tanya Rama dengan senyum kecil.
“Capek yang bikin bahagia,” jawab Sinta sambil tersenyum, menerima kopi yang disodorkan Rama.
Mereka duduk bersama di bangku taman yayasan, memandangi anak-anak yang pulang satu per satu dijemput orang tuanya.
“Mas,” panggil Sinta pelan.
“Hm?”
“Terima kasih sudah membiarkan aku tetap menjadi diriku sendiri… dan membimbingku semakin dekat dengan Allah,” ucap Sinta.
Rama menoleh, menatap lembut.
“Aku juga yang terima kasih, karena kamu mau belajar bersamaku… Kita sama-sama belajar ya, sampai tua nanti,” jawab Rama, menepuk punggung tangan Sinta.
Malam itu, Sinta menuliskan kembali di jurnalnya:
“Ternyata, cinta bukan tentang kehilangan diri, tapi tentang menemukan diri dalam ridha Allah.”
“Dan pernikahan bukan hanya tentang dua orang, tapi tentang ibadah, saling membantu menuju surga.”
“Kakek… terima kasih telah membuka jalanku pada kebahagiaan ini. Sesalku padamu telah menjadi sesal yang tak menjadi sesal, karena dari penyesalan itu Allah pertemukan aku pada takdir yang indah.”
“Hari ini, aku benar-benar bahagia…”
Di halaman rumah, Sinta memandang langit senja yang keemasan, menggenggam tangan Rama yang berdiri di sampingnya.
“Mas, kita akan baik-baik saja, kan?” tanya Sinta pelan.
Rama tersenyum, menatap langit bersamanya.
“InsyaAllah, kita akan baik-baik saja. Karena kita berjalan bersama, bukan hanya berdua, tapi bersama Allah,” jawab Rama.
Sinta mengangguk, menatap ke depan dengan senyum tulus.
Dan di sanalah, kebahagiaan itu akhirnya berlabuh.
Catatan Penulis — Tentang Makna Sebuah Pernikahan
Pernikahan bukan sekadar dua orang yang saling mencintai lalu hidup bersama.
Ia bukan hanya dua yang menjadi satu, tetapi dua pribadi yang memilih berjalan dalam arah yang sama, dengan langkah yang disepakati sejak awal.
Karena cinta saja tidak cukup.
Perasaan bisa naik turun, bisa lelah, bisa terluka.
Yang menjaga pernikahan tetap berdiri bukanlah romantika semata, tetapi komitmen yang disepakati dengan sadar, di awal perjalanan.
Komitmen untuk saling jujur.
Komitmen untuk saling terbuka tentang tujuan hidup.
Komitmen untuk bertumbuh bersama — bukan saling menuntut, tetapi saling menyesuaikan.
Pernikahan adalah ibadah terpanjang yang akan kita jalani.
Ia bukan hanya tentang bahagia, tetapi tentang sabar.
Bukan hanya tentang tawa, tetapi juga tentang air mata yang harus diseka bersama.
Bukan hanya tentang keberhasilan, tetapi tentang kegagalan yang harus dihadapi berdua.
Dan karena ia panjang, maka ia membutuhkan pondasi yang kokoh.
Pondasi itu bernama niat yang lurus, komitmen yang jujur, dan kesediaan untuk terus belajar mencintai — bahkan ketika perasaan sedang tidak hangat-hangatnya.
Rumah tangga yang kuat bukan rumah tangga tanpa masalah.
Rumah tangga yang kuat adalah rumah tangga yang siap menghadapi masalah, tanpa saling meninggalkan.
Siap berdialog, bukan saling menghindar.
Siap menguatkan, bukan saling melemahkan.
Siap memeluk, bahkan ketika hati sedang tidak nyaman.
Maka untuk siapa pun yang berencana menikah:
Jangan hanya bertanya, “Apakah aku mencintainya?”
Tapi bertanyalah juga,
“Apakah aku siap berkomitmen dengannya?”
“Apakah kami siap berjalan dalam visi yang sama?”
“Apakah kami siap beribadah bersama, bukan hanya berbahagia bersama?”
Karena pernikahan bukan tujuan akhir.
Ia adalah jalan panjang.
Dan jalan panjang hanya bisa ditempuh oleh dua orang yang sepakat untuk tidak menyerah di tengah.
Semoga setiap pernikahan yang dibangun, dibangun bukan di atas rasa yang rapuh,
tetapi di atas komitmen yang kokoh —
yang mampu bertahan di segala musim kehidupan.
🌿
Kreator : Dian Puspita (Puspa Raito)
Pancasila sebagai dasar negara Indonesia tidak lahir begitu saja. Di balik perumusan lima sila yang menjadi pondasi bangsa ini, ada pemikiran mendalam dari para tokoh pendiri bangsa, salah satunya adalah Soekarno. Pemikiran Soekarno dalam merumuskan Pancasila sebagai dasar negara menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah Indonesia. Lalu, apa saja pemikiran Soekarno tentang dasar negara […]
Dalam dunia pendidikan modern, pendekatan sosial emosional semakin banyak dibahas. Salah satu model yang mendapatkan perhatian khusus adalah **EMC2 sosial emosional**. Namun, apa sebenarnya yang dimaksud dengan Definisi EMC2 sosial emosional? Mengapa pendekatan ini penting dalam pembelajaran? Mari kita bahas lebih lanjut untuk memahami bagaimana EMC2 berperan dalam perkembangan siswa secara keseluruhan. Definisi EMC2 Sosial […]
Part 15: Warung Kopi Klotok Sesampainya di tempat tujuan, Rama mencari tempat ternyaman untuk parkir. Bude langsung mengajak Rani dan Rama segera masuk ke warung Kopi Klotok. Rama sudah reservasi tempat terlebih dahulu karena tempat ini selalu banyak pengunjung dan saling berebut tempat yang ternyaman dan posisi view yang pas bagi pengunjung. Bude langsung memesan […]
Part 16 : Alun – Alun Kidul Keesokan paginya seperti biasa Bude sudah bangun dan melaksanakan ibadah sholat subuh. Begitupun dengan Rani yang juga melaksanakan sholat subuh. Rani langsung ke dapur setelah menunaikan ibadah sholat subuh. Tidak lama disusul oleh Bude dan langsung mengambil bahan masakan serta mengiris bahan untuk memasak. Rani dan Bude sangat […]
Rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Mr. Soepomo memiliki peran sangat penting dalam pembentukan dasar negara Indonesia. Dalam sidang BPUPKI, Mr. Soepomo menjelaskan gagasan ini dengan jelas, menekankan pentingnya persatuan dan keadilan sosial. Dengan demikian, fokusnya pada teori negara integralistik membantu menyatukan pemerintah dan rakyat dalam satu kesatuan. Lebih lanjut, gagasan ini tidak hanya membentuk […]
Buy Pin Up Calendar E-book On-line At Low Prices In India After the installation is complete, you’ll have the flexibility […]
Karya Nurlaili Alumni KMO Alineaku Hampir 10 bulan, Pandemi Covid -19 telah melanda dunia dengan cepat dan secara tiba-tiba. Hal […]
Karya Lailatul Muniroh, S.Pd Alumni KMO Alineaku Rania akhirnya menikah juga kamu,,, begitu kata teman2nya menggoda, Yaa,,,Rania bukan anak.yang cantik […]
Karya Marsella. Mangangantung Alumni KMO Alineaku Banyak anak perempuan mengatakan bahwa sosok pria yang menjadi cinta pertama mereka adalah Ayah. […]
Karya Any Mewa Alumni KMO Alineaku Bukankah sepasang sejoli memutuskan bersatu dalam ikatan pernikahan demi menciptakan damai bersama? Tetapi bagaimana […]
Comment Closed: Sesal Yang Tak Menjadi Sesal_Bagian 4 (Tamat)
Sorry, comment are closed for this post.